Author Archive

March 30th, 2011 | Author:

Teaching Games for Understanding (TGfU) adalah suatu pendekatan pembelajaran pendidikan jasmani untuk memperkenalkan bagaimana anak mengerti olahraga melalui bentuk konsep dasar bermain. TGfU tidak memfokuskan pembelajaran pada teknik bermain olahraga sehingga pembelajaran akan lebih dinamis dan sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Pendekatan TGfU merupakan salah satu pendekatan yang mengakomodir kebutuhan anak dalam bermain. Guru penjas sebagai pengelola kelas lebih berperan sebagai fasilitator pembelajaran dan tidak menjadi dominan dengan memberikan contoh-contoh seperti yang terjadi pada pembelajaran yang berbasis teknik. Pendekatan TGfU juga dapat dijadikan sebagai sebuah inovasi yang menuju pada perbaikan pembelajaran penjas di sekolah.

TGfU berkaitan erat dengan pengajaran kognitif, ketika model itu terangkum dalam model pembelajaran permainan taktikal dalam pengajaran penjas. Pada model pembelajaran permaianan taktikal, guru merencanakan urutan tugas mengajar dalam konteks pengembangan keterampilan dan taktis bermain siswa,mengarah pada permainan yang sebenarnya. Tugas-tugas belajar menyerupai permainan dan modifikasi bermain sering disebut sebagai ‘bentuk-bentuk permainan’. Sebagaimana namanya, permainan taktikal, maka guru harus mampu mengundang siswa untuk memecahkan masalah taktis bermain.guru harus mampu menunjukan masalah-masalh taktik yang diperlukan dalam situasi bermain. Sedangkan siswa sangat penting untuk mengenali posisi bermain di lapangan secara benar, pilihan-pilihan gerak yang mungkin dilakukan,dan situasi-situasi bermain yang dihadapi siswa.

Menurut Mitchell, Oslin dan Griffin (2003) TGfU memiliki ciri khas dalam pengelolaan permainannya yang setiap bentuk permainan memiliki ciri khas dan karakteristik tersendiri yang tentunya memberikan rasa kesenangan berbeda pada para pemainnya dan yang membedakan permainan dalam 4 kelompok bentuk permainan, yaitu:

1.      Target games (permainan target),

2.      Net/wall games (permainan net),

3.      Striking/fielding games (permainan pukul-tangkap-lari),

4.      Invasion games (permainan serangan/invasi).

September 03rd, 2010 | Author:

Olahraga dapat menjadi salah satu alat untuk mencapai kejayaan bangsa. Kejayaan olahraga nasional yang pernah ditorehkan Indonesia yaitu pada Asian Games IV tahun 1962 di Jakarta dengan  menduduki peringkat kedua setelah Jepang. Namun beberapa tahun belakang ini, prestasi olahraga Indonesia mengalami keterpurukan. Bahkan di tingkat Asia Tenggara, prestasi Indonesia kurang menggembirakan. Prestasi olahraga Indonesia bukan semakin meningkat, tetapi justru sebaliknya semakin merosot. Merosotnya prestasi olahraga nasional tercermin dari peringkat Indonesia di ajang SEA Games. Terakhir kali Indonesia menjadi Juara umum SEA Games pada tahun 1997 di Jakarta.  Tahun 2011 kita kembali menjadi tuan rumah pesta olahraga terbesar se-Asia Tenggara. Menjelang peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) inilah momentum yang tepat untuk kebangkitan olahraga nasional!

UU No. 3 Tahun 2005

Lahirnya UU No 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) yang disahkan dan diundangkan pada tanggal 23 September 2005 merupakan jaminan kepastian hukum yang  harapannya terjadi pembenahan yang meliputi prinsip penyelenggaraan keolahragaan, ruang lingkup, pembinaan dan pengembangan olahraga, pengelolaan keolahragaan, penyelenggaraan kejuaraan, sarana dan prasarana olahraga hingga pendanaan kegiatan olahraga. Penetapan hukum olahraga nasional yang sudah berusia hampir lima tahun ini membawa kabar yang menggembirakan bagi arah pembangunan olahraga yang jelas, terkoordinasi, terstruktur dan memberikan peluang pada masyarakat untuk berperan aktif dalam pengembangan olahraga nasional. Namun, setelah hampir lima tahun diundangkan nasib UU KSN seperti tidak ada terdengar gaungnya dan masih menemui banyak tantangan dalam implementasinya.

Membangun strategi pembinaan olahraga secara nasional memerlukan keberanian untuk melakukan terobosan yang berkaitan dengan penentuan kebijakan dari pemerintah pusat maupun daerah. Kebijakan yang diambil harus dapat menggelorakan pembinaan dan pengembangan olahraga dengan memberikan kesempatan pada masyarakat untuk berolahraga secara aktif, kontinyu, dan sistematis.

Upaya untuk membangkitkan kembali bangunan olahraga nasional bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, tetapi juga menjadi tanggung jawab pemerintah daerah maupun masyarakat harus terlibat secara aktif dengan porsi yang lebih adil dengan memperhatikan potensi daerah. Prioritas Pemda dalam memberikan perhatian yang lebih (dalam hal dana) pada salah satu cabang olahraga bukan merupakan langkah yang bijak. Biaya milyaran rupiah yang sebagian besar diambil dari pos APBD habis hanya untuk mengangkat prestise daerah di tingkat nasional dengan menganaktirikan cabang olahraga yang lain. Sudah saatnya pola dan kebijakan tersebut perlu ditinjau ulang. Mengapa Pemda tidak mulai memperhatikan cabang olahraga yang memiliki nomor-nomor perlombaan yang cukup banyak sehingga bisa mendulang banyak medali, misalnya cabang renang, atletik, panahan dll.

Peran Pendidikan Jasmani

Ruang Lingkup Olahraga menurut Pasal 17 UU No. 3 SKN meliputi domain: olahraga pendidikan, olahraga rekreasi dan olahraga prestasi. Kompleksitas permasalahan keolahragaan masih ditambah dengan pandangan negatif pada sebagian pihak termasuk dari institusi pendidikan. Misalnya, mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga belum dapat memposisikan dirinya pada tempat yang terhormat, bahkan masih sering dilecehkan dan dianggap tidak penting apalagi pada masa-masa menjelang ujian akhir, mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga dihapuskan dengan alasan agar para siswa dalam belajarnya untuk menghadapi ujian akhir nasional  “tidak terganggu”.

Sungguh ironis apabila melihat pasal 25 UU SKN yang menyebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan olahraga pendidikan dilaksanakan dan diarahkan sebagai suatu kesatuan yang sistematis dan berkesinambungan dengan Sistem Pendidikan Nasional. Mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga di sekolah merupakan tumpuan yang sangat vital dalam pembangunan sistem olahraga nasional, karena dari sekolah tersebut akan muncul bibit-bibit atlet potensial yang pada gilirannya akan menuju pada olahraga prestasi. Krisis pendidikan jasmani di tingkat institusi pendidikan ada hubungannya dengan krisis prestasi olahraga nasional. Peran penyelenggaraan pendidikan jasmani di sekolah harus mendapat perhatian yang serius, mulai dari olahraga usia dini.

Walau pendidikan jasmani di sekolah bukanlah bertujuan menelurkan olahragawan prestasi, di lembaga itulah dibentuk dasar olahraga, yaitu pengajaran keterampilan gerak yang benar, motivasi berolahraga yang tinggi, dan identifikasi bakat sedini mungkin. Melalui peningkatan peran pendidikan jasmani yang dilaksanakan di sekolah, pola pembinaan dan pembibitan dalam olahraga dimulai. Pembinaan dan pengembangan olahraga perlu dilakukan secara komprehensif dan melibatkan IPTEK dalam pelaksanaannya.

Upaya mencapai efektivitas pembinaan olahraga juga dapat dilakukan dengan jalan pemassalan olahraga di masyarakat, serta adanya komitmen dari seluruh pihak baik pemerintah maupun masyarakat untuk mensukseskan gerakan nasional olahraga dan tentunya mengimplementasikan UU SKN itu sendiri sebagai dasar sekaligus payung hukum pelaksanaan pembangunan olahraga nasional. Semoga uraian ini dapat menjadi bahan renungan yang harus diperhatikan oleh seluruh stakeholder olahraga, sekaligus menjadi tantangan ke depan dalam pembangunan olahraga nasional. Semoga..

August 30th, 2010 | Author:

Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan

nasional secara umum. Bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa

melalui instrumen pembangunan nasional di bidang keolahragaan

merupakan upaya meningkatkan kualitas hidup manusia

Indonesia secara jasmaniah, rohaniah, dan sosial dalam mewujudkan

masyarakat yang maju, adil, makmur, sejahtera, dan demokratis

berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945;

Menurut UU No 3 tahun 2005 tentang SKN dijelaskan bahwa

ruang lingkup olahraga dibagi dalam tiga bagian yaitu:

1. Olahraga pendidikan adalah pendidikan jasmani dan olahraga yang

dilaksanakan sebagai bagian proses pendidikan yang teratur dan

berkelanjutan untuk memperoleh pengetahuan, kepribadian,

keterampilan, kesehatan, dan kebugaran jasmani.

2. Olahraga rekreasi adalah olahraga yang dilakukan oleh masyarakat

dengan kegemaran dan kemampuan yang tumbuh dan berkembang

sesuai dengan kondisi dan nilai budaya masyarakat setempat untuk

kesehatan, kebugaran, dan kegembiraan.

3. Olahraga prestasi adalah olahraga yang membina dan

mengembangkan olahragawan secara terencana, berjenjang, dan

berkelanjutan melalui kompetisi untuk mencapai prestasi dengan

dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan.

selain itu dalam pengembangan olahraga perlu dilakukan

sebuah pendekatan keilmuan yang menyeluruh dengan jalan

pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

keolahragaan adalah peningkatan kualitas dan kuantitas

pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan

kaedah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti

kebenarannya untuk peningkatan fungsi, manfaat, dan

aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada

atau menghasilkan teknologi baru bagi kegiatan

keolahragaan.

August 30th, 2010 | Author:

Manfaat_Mnjmn_Kurikulum_PendidikanWelcome to Blog.uny.ac.id. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Category: Uncategorized  | One Comment