MENSTRUAL DISORDER PADA ATLET

Secara anatomi-fisiologis, sistem reproduksi wanita memiliki mekanisme yamg lebih rumit dibandingkan pria. Fungsi reproduksi wanita secara umum dibagi menjadi dua tahapan utama, yaitu: persiapan untuk menerima pembuahan dan kehamilan, dan masa kehamilan itu sendiri. Organ-organ utama dari traktus reproduksi wanita adalah ovarium, tuba fallopi, uterus dan vagina (Guyton dan Hall, 1997).

Menstruasi adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita, ditandai dengan adanya pendarahan yang diakibatkan oleh pelepasan dinding rahim (endometrium) dan terjadi secara berkala setiap bulannya yang dipengaruhi olah hormon reproduksi, kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi yang terjadi terus menerus setiap bulannya disebut sebagai siklus menstruasi. menstruasi biasanya terjadi pada usia 11 – 16 tahun dan berlangsung hingga anda menopause (biasanya terjadi sekitar usia 45 – 55 tahun). Normalnya, menstruasi berlangsung selama 3 – 7 hari. Siklus menstruasi bervariasi pada tiap wanita dan hampir 90% wanita memiliki siklus 25 – 35 hari dan hanya 10 – 15% yang memiliki panjang siklus 28 hari, namun beberapa wanita memiliki siklus yang tidak teratur yang mungkin mengindikasikan adanya masalah kesuburan. Panjang siklus menstruasi dihitung dari hari pertama periode menstruasi – hari dimana pendarahan dimulai disebut sebagai hari pertama yang kemudian dihitung sampai dengan hari terakhir yaitu satu hari sebelum perdarahan menstruasi bulan berikutnya dimulai (Astrand dan Rodahl, 2003).

 

Gambar 1. Organ reproduksi wanita

Tidak sedikit atlet wanita yang terlibat dalam program latihan intensif di usia muda, terkait dengan hal tersebut terdapat tiga isu utama yang seringkali dihubungkan dengan kesehatan atlet wanita yang beberapa waktu belakangan menjadi perhatian. Yaitu ‘eating disorder’, disfungsi menstruasi, dan osteoporosis, dianggap sebagai sindrom yang berpotensi terjadi pada seorang wanita yang aktif secara fisik seperti atlet. Eating disorder mengacu pada pola dan perilaku makan yang dilakukan untuk menurunkan berat badan atau mencapai bentuk tubuh yang ideal. Pola menstruasi yang tidak normal telah terbukti memiliki efek negatif terhadap mineralisasi tulang dengan demikian memberikan konsekuensi untuk jangka pendek maupun jangka panjang, termasuk peningkatan insiden patah tulang akibat tekanan dan osteoporosis. Faktor gizi juga dikaitkan dengan keterlambatan dalam pertumbuhan dan pematangan infertilitas seksual dan bahkan pesenam ritmis dengan intensitas latihan tinggi memiliki indeks massa tubuh dan persentase lemak tubuh lebih rendah dibandingkan anak perempuan non-atlet pada usia yang sama. Pelatihan fisik yang intens tersebut dikaitkan dengan terganggunya siklus menstruasi normal, dengan penundaan menarche selama 1,5-2,0 tahun (P. Klentrou and M. Plyley: 2003).

HORMON REPRODUKSI PADA WANITA

Sistem hormon wanita, terdiri dari tiga hierarki hormon yaitu:

  1. Hormon yang dikeluarkan hipotalamus, hormon pelepas gonadotropin (GnRH), yang disebut juga sebagai hormon pelepas-hormon lutein.
  2. Hormon hipofisis anterior, follicle stimulating hormon (FSH) dan luitein hormon (LH), keduanya disekresi sebagai respons terhadap pelepasan hormon GnRH dari hipotalamus.
  3. Hormon-hormon ovarium, estrogen dan progesteron, yang disekresi oleh ovarium sebagai respons terhadap kedua hormon dari kelenjar hipofisis anterior (Guyton dan Hall, 1996).

Seperti yang terliha pada gambar 1, Seorang wanita memiliki dua ovarium yang masing-masing menyimpan sekitar 200,000 hingga 400,000 telur yang belum matang/folikel (follicles). Normalnya, hanya satu atau beberapa sel telur yang tumbuh setiap periode menstruasi dan sekitar hari ke 14 sebelum menstruasi berikutnya, ketika sel telur tersebut telah matang maka sel telur tersebut akan dilepaskan dari ovarium dan kemudian berjalan menuju tuba falopi untuk kemudian dibuahi. Proses pelepasan ini disebut dengan “ovulasi”.

Pada permulaan siklus menstruasi, sebuah kelenjar didalam otak melepaskan hormon yang disebut Follicle Stimulating Hormone (FSH) kedalam aliran darah sehingga membuat sel-sel telur tersebut tumbuh didalam ovarium. Salah satu atau beberapa sel telur kemudian tumbuh lebih cepat daripada sel telur lainnya dan menjadi dominan hingga kemudian mulai memproduksi hormon yang disebut estrogen yang dilepaskan kedalam aliran darah. Hormon estrogen bekerjasama dengan hormon FSH membantu sel telur yang dominan tersebut tumbuh dan kemudian memberi signal kepada rahim agar mempersiapkan diri untuk menerima sel telur tersebut. Hormon estrogen tersebut juga menghasilkan lendir yang lebih banyak di vagina untuk membantu kelangsungan hidup sperma setelah berhubungan intim.

Ketika sel telur telah matang, sebuah hormon dilepaskan dari dalam otak yang disebut dengan Luteinizing Hormone (LH). Hormon ini dilepas dalam jumlah banyak dan memicu terjadinya pelepasan sel telur yang telah matang dari dalam ovarium menuju tuba falopi. Jika pada saat ini, sperma yang sehat masuk kedalam tuba falopi tersebut, maka sel telur memiliki kesempatan yang besar untuk dibuahi. Sel telur yang telah dibuahi memerlukan beberapa hari untuk berjalan menuju tuba fallopi, mencapai rahim dan pada akhirnya “menanamkan diri” didalam rahim. Kemudian, sel telur tersebut akan membelah diri dan memproduksi hormon Human Chorionic Gonadotrophin (HCG). Hormon tersebut membantu pertumbuhan embrio didalam rahim. Jika sel telur yang telah dilepaskan tersebut tidak dibuahi, maka endometrium akan meluruh dan terjadinya proses menstruasi berikutnya (Guyton dan Hall, 1997).

Pada gambar berikut dipaparkan secara skematis, hormon yang dihasilkan, fluktuasi hormon, dan pengaruhnya terhadap terjadinya suatu siklus menstruasi:

Simak

d.Baca secara fonetik

Simak

Baca secara fonetik

Gambar 2. Perubahan level hormon selama siklus menstruasi

 

Terkait pengaruh aktivitas fisik terhadap mekanisme hormonal seseorang, berkembang suatu konsensus bahwa hormon ovarium: estrogen dan progesteron, memiliki peran penting dalam mengatur metabolisme energi selama latihan. Pada suatu penelitian in vivo dengan subjek hewan coba, hasilnya menunjukkan bahwa hormon estrogen dapat meningkatkan lipolisis dan ketersediaan asam lemak, sehingga terjadi penurunan laju glukoneogenesis dan sparing penggunaan glikoken otot dan hati sebagai sumber energi untuk aktivitas fisik. Peningkatan progesteron dilaporkan memiliki peran yang berkebalikan dalam efek lipolisis estrogen dan mengurangi ketersediaan asam lemak.  Peningkatan progesteron juga  menunjukkan adanya mekanisme penghematan penggunaan karbohidrat melalui suatu mekanisme yang menurunkan glikogenolisis hati (D’Eon, Tara M., dkk, 2002).

 

 

SIKLUS MENSTRUASI

Siklus menstruasi merupakan proses regulasi internal dimana tubuh mengalami perubahan fisiologis dan hormonal. Seperti yang sudah di paparkan sebelumnya, siklus menstruasi diatur oleh dua hormon yang disekresi dari kelenjar hipofisis, follicle-stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH), yang mengendalikan produksi hormon estrogen dan progesteron yang diproduksi di ovarium. Seorang wanita memulai siklus menstruasi selama pubertas pada awal menarche atau menstruasi pertama mereka. Dalam kondisi normal wanita terus mendapatkan menstruasi sepanjang hidup sampai menopause yang terjadi antara usia 40 sampai 60 tahun. Siklus menstruasi rata-rata berlangsung sekitar 28 hari, namun dapat berlangsung 24 – 42 hari. Ada tiga tahap utama dari siklus haid: fase menstruasi, fase proliferatif (follicular), dan fase sekretori (luteal) (Astrand dan Rodahl, 2003).

 

Fase Menstruasi

Fase menstruasi adalah fase dimana lapisan dinding rahim yang disebut endometrium, melepaskan bagian darinya sebagai suatu aliran menstruasi yang keluar dari serviks dan vagina. Proses ini dialami wanita selama periode menstruasi, aliran menstruasi terdiri dari darah, lendir, dan jaringan. Hari pertama menstruasi juga didefinisikan sebagai hari pertama dari siklus haid berikutnya. Menstruasi berlangsung selama sekitar 3 sampai 7 hari, meskipun beberapa wanita memiliki periode yang lebih pendek atau lebih panjang. Menstruasi dipicu oleh menurunnya tingkat hormon estrogen dan progesteron, pada akhir siklus menstruasi sebelumnya. Permulaan periode menstruasi baru menunjukkan bahwa wanita tidak hamil. Namun, ini tidak berarti bahwa wanita tidak dapat hamil selama periode tersebut; wanita bisa hamil pada setiap waktu sepanjang siklus menstruasi mereka. Selama fase menstruasi, kelenjar pituitari mulai mengeluarkan follicle-stimulating hormone (FSH). Meningkatnya FSH memicu awal tahap selanjutnya, disebut fase proliferasi.

 

Fase Proliferatif (Follicular)

Fase proliferatif atau juga disebut sebagai fase folikuler, adalah bagian dari siklus menstruasi selama folikel di dalam ovarium berkembang dan matang dalam persiapan untuk ovulasi. Tingkat kenaikan FSH dalam aliran darah selama fase proliferatif, merangsang pematangan folikel. Setiap folikel berisi sel telur, atau telur. Meskipun banyak folikel dapat tumbuh dan bertambah besar selama fase ini, hanya satu yang akan mencapai pertumbuhan lengkap dan melepaskan ovum pada saat ovulasi. Selama fase proliferatif, ovarium juga memproduksi estrogen. Peningkatan volume estrogen menyebabkan terjadinya penebalan pada dinding rahim. Setelah tingkat estrogen berada di puncaknya, kelenjar pituitari memperlambat sekresi FSH, dan sebaliknya mulai mengeluarkan hormon luteinizing (LH). Sebagai akibat dari peningkatan LH, folikel yang sudah matang pecah dan melepaskan ovum dari dalam. Setelah dilepaskan dari indung telur, sel telur kemudian akan melakukan perjalanan ke tuba fallopi. Pelepasan telur yang matang dari folikel ini disebut ovulasi. Ovulasi terjadi 14 hari sebelum awal periode menstruasi berikutnya. Ovulasi adalah waktu yang paling subur selama siklus menstruasi.

 

Fase Secretory (Luteal)

Setelah terjadi ovulasi, LH menyebabkan folikel pecah untuk berkembang menjadi struktur yang disebut korpus luteum. Corpus luteum adalah struktur kuning kecil pada ovarium yang mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron. Progesteron dan estrogen berada pada tingkat tinggi selama fase sekresi, dan membantu menyiapkan endometrium untuk mensekresikan nutrisi yang akan memelihara konsepsi jika telur dibuahi. Jika konsepsi dan implantasi tidak terjadi, kelenjar pituitari akan mengurangi produksi LH dan FSH. Tanpa kehadiran LH, korpus luteum terdegradasi kemudian terjadi penurunan kadar estrogen dan progesteron. Penurunan kadar estrogen dan progesteron memicu pelepasan endometirum, menyebabkan menstruasi untuk memulai siklus baru kembali.

 

GANGGUAN PADA PROSES MENSTRUASISimakBaca secara fonetik

Sejak awal periode menstruasi, saat pubertas dan berlanjut sampai periode menopause, kemungkinan terjadi terhentinya menstruasi sebelum masa menopause banyak terjadi pada wanita. Untuk sebagian orang, siklus menstruasi mengingatkan mereka bahwa seorang wanita memiliki kemampuan untuk melahirkan anak, sementara yang lain hanya menganggap hal tersebut sebagai sebuah mekanisme tubuh yang menjengkelkan. Terlepas dari pandangan pribadi kita pada fenomena yang terjadi terkait sistem reproduksi wanita, tetap akan terasa membingungkan dan membuat frustrasi bila ada sesuatu yang salah. Tubuh kita bukan tanpa cacat, dan sistem reproduksi wanita merupakan struktur yang sangat rapuh, dan rentan terhadap masalah. Berikut dipaparkan masalah-masalah yang sering timbul terkait siklus menstruasi wanita (Greene JW, 1993).

 

Premenstrual Syndrome (PMS)

PMS pada dasarnya tidak dianggap sebagai suatu permasalahan yang berarti, keberadaannya masih diperdebatkan sebagai “gangguan menstruasi” yang timbul baik ditinjau dari segi psikologis maupun fisiologis siklus haid. Suatu studi menunjukkan bahwa, bahkan seorang pria pun terdiagnosis dapat mengalami sindrom seperti yang dirasakan wanita saat PMS (Tavris, 1992). Oleh karenanya, PMS tidak hanya banyak dikeluhkan oleh para wanita, tapi juga terkadang berpengaruh terhadap hubungan sosial dengan orang-orang sekitarnya.

PMS mungkin merupakan masalah haid yang paling umum. Diperkirakan sejumlah 30% sampai 90% wanita mengalami ketidaknyamanan ringan pada saat pramenstruasi dan hanya 5% perempuan tidak mengalami gejala PMS. Bahkan studi lintas-budaya, menunjukkan bahwa saat menstruasi seorang wanita biasanya memiliki gangguan emosi dan psikologis yang cukup serius. Terdaftar lebih dari 200 macam keluhan yang sering dialami pada saat PMS, mulai dari gejala yang khas (kembung, payudara bengkak, lekas marah, ketegangan, dll) sampai gejala yang lebih berat yang dapat mengganggu keseimbangan fungsi tubuh (epilepsi, kurangnya koordinasi, depresi , spontan memar) dan masih banyak lagi gejala lainnya. Terdapat sebuah teori tentang penyebab terjadinya PMS, diperkirakan karena terjadi  kerusakan dalam produksi progesteron yang mengganggu kerja normal dari siklus, akan tetapi teori ini merupakan spekulasi saja, penyebab pasti masih menjadi kontroversi.

Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD)

Tidak seperti PMS, PMDD memiliki gejala yang lebih spesifik  dan gangguan ini dapat terdiagnosis. Hanya 5% perempuan mengalami gejala-gejala yang cukup berat dan terganggunya aktivitas sehari-hari untuk diagnosis PMDD. Gangguan PMDD secara spesifik memiliki gejala fisik yang berbeda dari gangguan depresi, dianggap sebagi suatu gejala PMDD pada wanita, ketika sudah terjadi berulang sedikitnya 5 dari 11 gejala selama seminggu sebelum menstruasi. Gejala-gejala tersebut adalah: 1) perasaan sedih atau putus asa 2) tegang atau perasaan cemas 3) perubahan mood yang fluktuatif 4) mudah marah dan terjadi peningkatan konflik interpersonal 5) motivasi menurun 6) kurang konsentrasi 7) kekurangan energi/ lesu 8) berkurangnya nafsu makan 9) insomnia atau sebaliknya, mudah mengantuk 10) perasaan subyektif menjadi kewalahan atau di luar kendali 11) gejala fisik lainnya, seperti: payudara bengkak, sakit kepala, nyeri otot, adanya “sensasi” kembung atau meningkatnya berat badan. Sama seperti PMS, penyebab pasti PMDD belum diketahui dan masih menjadi kontroversi.Simak

Baca secara fonetik

Amenorrhea/ Amenore

Amenore atau terhentinya menstruasi, sebenarnya juga merupakan masalah yang cukup umum bagi perempuan. Ada dua tipe dasar amenore: amenore primer, ketika seorang gadis gagal menstruasi pada pubertas (belum mengalami onset menstruasi setelah usia 16 tahun), dan amenore sekunder merupakan jenis yang lebih umum, sebagai gangguan siklus menstruasi yang ditandai dengan tidak hadirnya menstruasi selama 3 bulan atau lebih. Amenore primer disebabkan oleh berbagai faktor, seperti ketidakseimbangan hormon, kesehatan yang buruk, atau terdapat masalah pada organ reproduksi. Amenore sekunder sebenarnya merupakan kondisi normal selama dan setelah kehamilan (Amenore postpartum) dan selama menyusui (Amenore laktasi). Amenorrhe sekunder juga umum bagi wanita yang baru mulai menstruasi atau menjelang menopause. Kadang-kadang amenore sekunder dapat dianggap sebagai suatu gejala patologis. Selain amenore primer dan sekunder, juga terdapat gangguan menstruasi oligomenore, didefinisikan sebagai terjadinya durasi menstruasi yang lebih dari 36 hari.

Amenore sekunder merupakan keluhan yang sering dialami oleh atlet wanita yang menjalankan program latihan intensif dengan intensitas yang cukup berat, oleh karenanya sering juga disebut atletic amenorrhea yang dalam suatu survey dilaporkan terjadi pada 44% atlet wanita. Senada dengan pendapat sebelumnya, Frisch dkk (1981) dalam penelitiannya melaporkan bahwa  atlet wanita setingkat perguruan tinggi yang memulai program latihan sebelum onset menarche lebih rentan terhadap tertundanya menarche dan terjadinya amenorea sekunder daripada mereka yang memulai program latihan setelah menarche. Begitu pula hasil studi Georgopoulus dkk (1999), menunjukkan atlet yang memulai latihan sebelum menarche, berarti menunda onset menstruasi selama hampir satu tahun, bertentangan dengan atlet yang sudah memiliki periode menstruasi ketika mereka mulai pelatihan. Temuan ini menunjukkan bahwa latihan olahraga intensif sebelum menarche menyebabkan penundaan onset menarche. Kemungkinan alasannya adalah pada atlet rasio dan komposisi jaringan lemak yang sangat rendah, serta adanya stres baik fisik maupun mental yang atlet yang dialami oleh atlet.

Terkait pemaparan di atas, faktor penting yang terkait dengan onset menarche dan keteraturan siklus menstruasi seseorang adalah umur. Rentang usai menstruasi pada wanita adalah pada usia di bawah 19 tahun sampai 50 tahun. Selain faktor umur, faktor kecukupan gizi juga sangat penting untuk kesehatan reproduksi wanita. Kekurangan gizi yang ekstrim, baik ditimbulkan sendiri oleh gangguan makan atau sebagai akibat dari lingkungan (kelaparan), dapat menghasilkan amenore sekunder. Setelah meningkatkan asupan energi, tubuh perempuan memiliki potensi untuk kembali pulih dari keadaan gizi buruk. Akan tetapi terdapat potensi pada kemudian hari yang dapat terjadi, seperti aborsi spontan, proses melahirkan yang sulit, amenore postpartum lebih lama, dan subfecundity.

Faktor penyakit juga dapat menghentikan periode siklus menstruasi wanita. Beberapa penyakit yang tidak ditularkan melalui hubungan seks yang dapat menghentikan menstruasi diantaranya tuberkulosis, filariasis, schistosomiasis, penyakit mental seperti skizofrenia dan psikosis manic-depressive, dan bahkan diabetes melitus. Selain itu, kondisi psikologis seorang wanita juga mempengaruhi siklus menstruasi, stres dan ketakutan adalah dua penyebab utama terhentinya menstruasi pada seseorang. Berbagai tingkat gangguan psikologis, mulai dari trauma psikis ataupun stres kronis yang relatif kecil tegangannya seperti stres saat akan menghadapi ujian, dapat menyebabkan gangguan pada siklus menstruasi  wanita. Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan terjadinya amenore juga bisa disebabkan oleh “keinginan untuk menghindari peran seksual wanita dewasa dan kehamilan”. Biasanya yang menjadi perhatian utama terkait amenore adalah ketakutan seseorang tidak mampu memiliki keturunan (hamil). Amenore tidak secara langsung berkorelasi dengan kemandulan. Namun hal itu berdampak pada kesuburan, tetapi penelitian belum sepenuhnya menjelaskan hubungan diantara keduanya.

Faktor lainnya yang tidak kalah penting terkait amenore sekunder adalah aktivitas fisik. Tubuh wanita memiliki mekanisme adaptif yang dapat berpengaruh terhadap siklus menstruasi dalam kondisi stres fisik yang berat, yang merupakan kejadian umum untuk atlet wanita. Athletic amenorrhea memiliki hubungan yang signifikan dengan aktivitas fisik intensitas tinggi, stres emosional terhadap adanya persaingan, penurunan berat badan, dan tingkat estrogen yang rendah. Tina Dušek (2001) dalam penelitiannya, mengemukakan bahwa kasus amenore sekunder lebih banyak terjadi pada atlet pelari jarak jauh daripada pelari jarak pendek, meskipun tidak ada perbedaan beban pelatihan antara kedua sub kelompok yang signifikan. Program latihan yang dilakukan oleh pelari jarak pendek memiliki beberapa karakteristik yaitu: intensif, cepat, latihan bersifat anaerobik (lap) durasi pendek dengan banyak pengulangan dan interval yang panjang antar sesi latihan, peregangan otot dan latihan beban lain adalah komponen penting dari pelatihan mereka. Program latihan untuk pelari jarak jauh ditandai dengan durasi latihan yang lebih panjang, kontinyu, latihan aerobik dengan intensitas lebih rendah. Secara postural jika dibandingkan antara keduanya, pelari jarak pendek biasanya tampak lebih berotot dan lebih berat, sedangkan pelari jarak jauh memiliki struktur otot yang lebih landai dan berat badan yang lebih rendah. Perbedaan konstitusional, perbedaan rasio berat badan, dan perbedaan program latihan, dapat menjelaskan perbedaan dalam prevalensi amenore sekunder pada pelari jarak jauh dan jarak pendek.

Dysmenorrhea/ Dismenore

Seperti halnya amenore, dismenore atau yang sering kita sebut nyeri haid juga di bagi menjadi dua tipe, primer dan sekunder. Perbedaan utama antara keduanya adalah penyebab terjadinya. Dismenore primer disebabkan oleh produksi lebih dari prostaglandin, suatu hormon yang menyebabkan otot-otot rahim berkontraksi, gejala yang terlihat adalah kram perut, mual, muntah, diare, sakit kepala, pusing, kelelahan, dan lekas marah. Dismenore sekunder disebabkan oleh berbagai faktor, seperti adanya penghalang IUD, PID, tumor rahim, pembukaan serviks, atau endometriosis (suatu kondisi dimana jaringan rahim tumbuh di berbagai bagian rongga perut). Sebelum dan selama menstruasi, dismenore sekunder menunjukkan beberapa gejala umum: rasa sakit pada perut bagian bawah (seperti kram), nyeri di punggung dan paha, dan hubungan seksual yang menyakitkan. Terjadinya dismenore dianggap sebagai sebuah spekulasi, bahwa wanita memiliki toleransi yang lebih tinggi untuk rasa sakit daripada pria. Hal itu terjadi karena para wanita bertanggung jawab untuk melahirkan generasi masa depan, yang merupakan pengalaman yang paling berat bagi tubuh seorang wanita.

Meskipun secara fisiologis tubuh sudah mengatur mekanisme yang terjadi untuk siklus menstruasi, akan tetapi ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu lebih meringankan ketidaknyamanan yang terjadi pada periode tersebut. Olahraga ringan dan latihan yang tepat membantu baik tubuh dan pikiran, mengurangi konsumsi garam membantu retensi air dan kembung, dan mengkonsumsi banyak vitamin dan mineral seringkali membantu mencegah terjadinya kram. Terdapat hasil studi yang dilakukan oleh Greene JW (1993), mengevaluasi faktor dismenore (nyeri haid) sebagai parameter. Subjek penelitian terdiri atas dua kelompok, kelompok pertama adalah atlet wanita dan kelompok kedua adalah kelompok non-atlet sebagai kontrol. Kebanyakan wanita pada kelompok kontrol (non-atlet) dilaporkan mengalami masalah dengan nyeri haid. Berbeda dengan kelompok atlet, yang hanya kurang dari sepertiganya menderita kondisi yang sama. Meskipun evaluasi nyeri haid dianggap subyektif dan pengaruhnya secara klinis sangat sedikit, hasil studi menunjukkan keuntungan dari latihan fisik secara teratur sebagai salah satu cara yang mungkin menghilangkan fenomena nyeri haid yang mempengaruhi kebanyakan wanita.

Sebaiknya setiap kita memiliki catatan periode menstruasi, sehingga dapat diketahui gejala, panjang siklus, stres yang terjadi, dan gejala lain yang mengiringi. Mungkin akan ditemukan pola yang terkait antara gangguan menstruasi yang terjadi dan aspek kehidupan. Jika siklus haid menyebabkan rasa ketidaknyamanan yang cukup besar mungkin lebih baik untuk melakukan konsultasi kepada dokter, karena bila diperlukan dapat dibantu untuk membantu mengurangi nyeri haid dan mengatur siklus dengan obat-obatan spesifik. Jadi meskipun topik ini terkadang dianggap tabu dan agak tidak nyaman untuk dibicarakan, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan dokter Anda.

KESIMPULAN

Atlet wanita memiliki kecenderungan mengalami permasalahan dengan onset menstruasi dan regulasi siklus menstruasi yang tidak normal. Atlet yang mengikuti program latihan intensif dengan intensitas tinggi pada usia dini sebelum datangnya onset menarche, memiliki kecenderungan tertundanya onset menarche rata-rata selama 1,5 sampai 2 tahun. Selain penundaan onset menarche, atlet wanita juga biasanya memiliki gangguan menstruasi. Yang umum terjadi adalah amenore sekunder, disebabkan oleh beberapa faktor yang saling terkait satu sama lain sebagai suatu lingkaran sebab-akibat. untuk meraih prestasi optimal, seorang atlet harus mengikuti program latihan yang sesuai, komposisi dan postur tubuh ideal  merupakan faktor pendukung keberhasilan pelaksanaan program latihan. Oleh karena itu, pada beberapa cabang olahraga, atletnya melakukan diet yang sangat ketat sehingga memungkinan terjadinya intake nutrisi yang tidak mencukupi kebutuhan demi mencapai berat badan atau bentuk tubuh yang ideal. Sedangkan program latihan terus dijalankan, menyebabkan rasio lemak tubuh menjadi sangat terbatas. Ketersediaan lemak mempengaruhi kinerja fisiologis tubuh, terutama untuk mekanisme yang melibatkan banyak hormon, termasuk menstruasi pada atlet wanita. Sebagai akibatnya, terjadi siklus menstruasi yang tidak normal, terlebih dengan adanya stress psikis maupun fisik yang dialami oleh atlet. Pola menstruasi yang tidak normal juga terbukti memiliki efek negatif terhadap mineralisasi tulang yang memberikan konsekuensi jangka pendek maupun jangka panjang, termasuk peningkatan insiden patah tulang akibat tekanan dan osteoporosis. Akan tetapi aktivitas fisik ringan yang dilakukan secara teratur memberikan keuntungan dapat mengurangi fenomena nyeri haid yang terjadi pada kebanyakan wanita.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Astrand, P.O & Kaare Rodahl. 2003. Textbook of Work Physiology, Physiological Bases of Exercise. New York: Mc.Graw-Hill.

D’Eon, Tara M., Carrie Sharoff, Stuart R. Chipkin, Dan Grow, Brent C. Ruby, and Barry Braun. Regulation of Exercise Carbohydrate Metabolism by Estrogen and Progesterone in Women. Am J Physiol Endocrinol Metab 283: E1046–E1055, 2002.

Frisch R, Gotz-Welbergen AV, McArthur JW. Delayed Menarche and Amenore of College Athletes in Relation to Age of Onset of Training. JAMA 1981;246:1559–63.

Georgopoulos N, Markou K, Theodoropoulou A, Paraskevopoulou P, Varaki L, Kazantzi Z, et al. Growth and Pubertal Development in Elite Female Rhythmic Gymnasts. J Clin Endocrinol Metabol 1999; 84:4525-30.

Greene JW. Exercise-Induced Menstrual Irregularities. Compr Ther 1993;19:116-20.

Guyton, Arthur C & Hall, John E. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Editor: Irawati Setiawan. Jakarta: EGC

Klentrou, P.,  dan M. Plyley. Onset of Puberty, Menstrual Frequency, and Body Fat in Elite Rhythmic Gymnasts Compared With Normal Control. Br. J. Sports Med. 2003;37;490-494.

Tina Dušek . Influence of High Intensity Training on Menstrual Cycle Disorders in Athletes.

Zagreb University School of Medicine, Zagreb, Croatian Medical Journal. 42(1):79-82, 2001.

KONTRIBUSI LATIHAN PADA METABOLISME LEMAK

Kondisi fisik yang baik salah satunya didukung oleh penyediaan energi, karena dengan penyediaan energi yang memadai akan menyebabkan kontraksi otot lebih baik. Penyediaan energi dalam aktivitas fisik baik secara aerobik maupun anaerobik berasal dari pemecahan sumber bahan makanan yang berupa karbohidrat, protein, dan lemak. Latihan fisik yang dilakukan dalam jangka waktu yang lama pemecahan energi yang digunakan berasal dari pemecahan lemak.

Lemak adalah sekumpulan senyawa di dalam tubuh yang memiliki ciri-ciri serupa dengan gemuk dan minyak. Lemak bersifat hidrofobik, golongan senyawa ini dapat dipakai tubuh sebagai sarana yang bermanfaat untuk berbagai keperluan, misalnya trigliserida berfungsi sebagai bahan bakar. Lemak merupakan unsur makanan yang penting, tidak hanya karena nilai energinya yang tinggi, tetapi juga karena vitamin yang larut dalam lemak dan asam lemak essensial yang didukung dalam lemak makanan alam.

Lemak merupakan sumber energi penting bagi berbagai jaringan tubuh, beberapa jaringan bahkan lebih cenderung memakai lemak daripada glukosa untuk memenuhi kebutuhan energinya. Pada keadaan puasa dan kelaparan dengan pasokan glukosa yang makin lama makin menurun, peran lemak yang berasal dari penguraian gliserol di jaringan adipose sebagai sumber energi menjadi menonjol, sehingga secara kauntitatif senyawa ini berangsur-angsur menjadi bahan penghasil energi utama. Setiap satu gram lemak mampu menghasilkan sembilan kalori, sedangkan karbohidrat dan protein yang setiap gramnya hanya menghasilkan empat kalori.

Latihan fisik berpengaruh terhadap fungsi jantung, akibat dari latihan, akan dapat meningkatkan kerja jantung sehingga sirkulasi darah akan lebih lancar. Darah merupakan alat transportasi tubuh, darah mengangkut oksigen dan karbondioksida hasil pembakaran atau metabolisme, bahan-bahan makanan (sumber energi) dan sisa-sisa metabolisme. Salah satu hal yang penting dari latihan adalah dapat meningkatkan efisiensi respon jantung terhadap kegiatan dan juga dapat diharapkan bahwa individu terlatih dapat bekerja lebih produktif dan efisien daripada individu yang tidak terlatih.

Latihan, juga dapat meningkatkan metabolisme lemak sehingga dapat digunakan sebagai salah satu metode program penurunan berat badan dan dengan latihan fisik dapat membantu mengatasi jumlah lemak tubuh dan memelihara stabilitas komposisi tubuh dan berat badan.

Berdasarkan uraian di atas, latihan fisik (olahraga) memiliki peran penting terhadap metabolisme lemak, untuk mengetahui  bagaimana peran latihan fisik terhadap metabolisme maka dalam tulisan ini akan diuraikan tentang apa dan bagaimana lemak dan metabolisme lemak serta peran latihan fisik terhadap metabolisme lemak.

DEFINISI LEMAK

Dalam kehidupan sehari-hari lemak dikenal dalam bentuk padat dan minyak berbentuk cair pada suhu ruang, contoh lemak adalah lemak kambing yang digunakan dalam pembuatan sate,  atau minyak goreng. Tempat yang bersuhu di bawah 200C, minyak berbentuk setengah padat pada suhu ruang. Lemak merupakan sumber penyimpanan tenaga (kalori), terutama yang terbakar selama aktivitas yang ringan. Lemak hewan cenderung jenuh dan dapat menyebabkan berbagai penyakit (kanker, dan jantung), sedangkan lemak pada sayur (minyak jagung, kacang tanah) pada umumnya bukan lemak jenuh dan memberikan resiko yang lebih kecil (Nancy Clark, 2001:3). Definisi lain dari lemak menurut Djoko Pekik Irianto (2007: 9) lemak adalah garam yang terbentuk dari penyatuan asam lemak dengan alkohol organik yang disebut gliserol atau gliserin.

KLASIFIKASI LEMAK

Menurut struktur kimianya lemak terdiri atas gliserol dan asam lemak, asam lemak merupakan bagian terbesar dari lipida. Lipida alami umumnya mengandung tiga asam lemak yang berbeda. Lemak dalam tubuh manusia, terutama dijumpai dalam bentuk lemak netral (trigliserida), fosolipid, dan kolesterol (Guyton, 1995: 21). Trigliserida dapat berupa 95%-98% dari seluruh bentuk lemak terkonsumsi pada semua bentuk makanan dan prosentasenya sama dengan dalam tubuh manusia. Fosfolipid dan kolesterol dikonsumsi dalam jumlah sedikit dan merupakan komponen utama dinding sel (membran sel). Komposisi diet dengan gizi yang berlebihan dapat mempengaruhi kelaparan, kekenyangan, jumlah bahan makanan, berat badan dan komposisi tubuh. Lemak merupakan gizi dalam jumlah yang besar berhubungan langsung dengan kelebihan berat badan atau kegemukan. Diet rendah lemak dianjurkan untuk mengatasi hyperlipidemia dan kelebihan berat badan serta untuk mengurangi resiko penyakit jantung koroner.

Secara kimiawi lemak dasar dari trigliserida dan fosfolipid adalah asam lemak yang merupakan asam organik hidrokarbon sederhana yang berantai panjang. Asam lemak disimpan di dalam sel sebagai lemak (trigliserida) yang kemudian dibebaskan dan diangkut melalui peredaran darah untuk memenuhi kebutuhan berabgai jaringan tubuh terutama otot. Lemak mempunyai kegunaan asam di dalam tubuh yaitu asam lemak bebas (free fatty acid). Lemak diambil melalui diet yang dicerna disebut gliserol, setelah asam lemak larut dalam sel intestinal, diubah ke trigliserida. Trigliserida mengandung senyawa molekul yang disebut gliserol dan tiga senyawa molekul dari asam lemak.

Lemak dalam tubuh manusia dapat berasal dari makanan yang dicerna kaya lemak yang diabsorbsi oleh usus, modifikasi susunan kimia, dan biosintesa karbohidrat dan protein. Dalam darah, lemak bergabung dengan protein sebagai lipoproterin yang bersifat larut dalam air, sekaligus sebagai alat pengangkut lemak lain yang tidak larut dalam air.

ABSORBSI LEMAK

Penyerapan lemak cukup berbeda daripada penyerapan karbohidrat dan protein, karena lemak tidak larut dalam air. Lemak harus dipindahkan dari kimus yang cair melalui cairan tubuh yang mengandung banyak air walaupun lemak tidak larut dalam air. Lemak mengalami serangkaian proses transformasi untuk mengatasi masalah selama pencernaan dan penyerapan (Brahm U. Pendit, 2001: 578). Hasil akhir penceranaan lemak berupa asam lemak dan monogliserida yang sudah dalam bentuk misel akan ditransportke permukaan membrane brush border microvilli. Pada waktu berhubungan dengan permukaan membrane monogliserida dan asam lemak berdifusi dengan mudah dapat masuk ke sel epitel karena keduanya sangan larut dalam membrane, sedangkan misel asam empedu akan  tertinggal dan kembali lagi untuk mengabsorbsi monogliserida dan asam lemak.

Lemak trigliserida dan digliserida yang tidak dicerna juga sangat larut dalam membrane, tetapi misel asam empedu akan tetap melarutkannya sehingga dapat mentransport ke permukaan membrane dan berdifusi masuk sel. Di dalam sel asam lemak dan monogliserida mengalami esterifikasi menjadi trigliserida baru di retikulum endoplasma halus. Sebagian kecil monogliserida akan diubah menjadi asam lemak dan gliserol oleh lipase usus, asam lemaknya akan disintesa kembali oleh retikulum endoplasma halus menjadi trigliserida. Sedangkan gliserol digunakan dalam sintesa dinova dari α-gliserofosfat. Selanjutnya trigliserida bergabung dengan kolesterol dan fosfolipid yang diabsorbsi dan disintesa membentuk globul bersama dengan β-lipoprotein yang menutup permukaan globul, bentuk ini disebut kilomikron. Kilomikron berdifusi ke sisi sel epitel dan dikeluarkan dengan cara eksositosis seluler ke dalam ruang interstitial dan masuk lactel sentral villi. Kemudian ditransport oleh pembuluh limfatik ke duktus dan masuk ke sistem kardiovaskuler pada vena subclavia kiri, dan akhirnya sampai ke hati.

METABOLISME LEMAK (BETA OKSIDASI)

Beta oksidasi merupakan proses kimiawi yang mengubah lemak (asam lemak) menjadi ATP (Adenosin Triphospat), banyak ATP yang dihasilkan bergantung pada banyaknya atom C (Carbon) dari jenis lemak tertentu. Misalnya asam lemak mengandung 6 atom C akan menghasilkan 45 ATP, asam palmitat memiliki 16 atom C akan menghasilkan 130 ATP, sedangkan asam stearat yang mengandung 20 atom C akan menghasilkan 164 ATP (Djoko Pekik Irianto, 2007: 39). Lemak merupakan bentuk persediaan energi yang terbanyak dibandingkan dengan persediaan karbohidrat sebagai sumber energi, besarnya persediaan elmak kira-kira 40 kali lebih banyak. Lemak akan dapat menghasilkan energi bila O2 cukup. Lemak dapat menghasilkan energi hanya pada olahraga yang bersifat aerobik, seperti lari marathon (Soekarman, 1987: 42).

Asam lemak merupakan sumber enrgi penting bagi berbagai jaringan tubuh, beberapa jaringan bahkan lebih cenderung memakai asam lemak daripada glukose untuk memenuhi kebutuhan energinya. Pada keadaan puasa dan kelaparan dengan pasokan glukosa yang makin lama makin menurun, pemanasan lemak sebagai sumber energi menjadi semakin menonjol sehingga secara kuantitatif senyawa ini berangsur-angsur bergeser menjadi bahan penghasil energi utama. Namun demikian, asam lemak memiliki keterbatasan dalam perannya sebagai bahan penghasil energi. Misalnya sawar otak  dan saraf tidak dapat ditembus lemak sehingga tidak mungkin memperoleh bahan sumber energi ini dari darah. Eritrosit (sel darah merah), walaupun dapat mengambil asam lemak dari darah, namun tidak memiliki mitokondria, tempat berlangsungnya metabolisme untuk mendapatkan energi dari asam lemak. Akibatnya, jaringan-jaringan tersebut sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi.

Asam lemak merupakan bahan bakar utama yang dapat diperoleh secara langsung dari diet maupun dibentuk dari zat lain yang terdapat dalam makanan. Asam lemak disimpan di dalam sel sebagai lemak (tirgliserida) yang kemudian dibebaskan dan diangkut melalui peredaran darah untuk memenuhi kebutuhan energi berbagai jaringan tubuh, terutama otot. Oksidai asam lemak tidak hanya penting bagi individu yang memiliki kelebihan berat badan maupun yang mengkonsumsi lemak secara berlebihan. Tetapi juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari metabolisme secara keseluruhan pada setiap individu.

Pembakaran asam lemak menjadi CO2 dan H2O terjadi di dalam mitokondria. Pemindahan elektron dari asam lemak ke oksigen pada mitokondria menghasilkan ATP. Pembakaran tersebut terjadi melalui dua tahap, tahap pertama asam lemak dioksidasi secara berturut-turut sehingga seluruh atom karbonnya berubah menjadi asetil KoA. Asetil KoA kemudian diokidasi pada daur asam piruvat. Pada tahap kedua terbentuknya ATP dengan cara fosforilasi oksidatif. Penyesuain oksidasi asam lemak terhadap bahan yang dimakan terjadi karena kesalahan komulatif dalam keseimbangan lemak yang akan merubah jaringan adipose, konsentrasi asam lemak bebas, sensitivitas insulin, dan oksidasi asam lemak. Jumlah lemak yang dimakan akan konsentrasi glikogen merupakan hal yang penting dalam menentukan lemak dalam tubuh seseorang yang dioksidasi sebanyak lemak yang dimakan.

LATIHAN

Definisi latihan olahraga yang dimodifikasi oleh Dietrich Herre (1971) yang dikuti M. Furqon (1995: 3), menyatakan bahwa latihan adalah suatu proses penyempurnaan olahraga yang diatur dengan prinsip-prinsip yang bersifat ilmiah, khususnya prinsip-prinip paedagogis. Proses ini direncanakan dan sistematis, yang meningkatkan kesiapan untuk melakukan dan kapasitas penampilan atlet. Menurut Dietrich Martin, latihan olahraga adalah suatu proses yang direncanakan untuk mengembangkan penampilan olahraga yang komplek dengan memakai isi latihan, tindakan-tindakan organisasi yang sesuai dengan maksud dan tujuan latihan, adalah suatu proses berlatih secara sistematis yang dilakuka secara berulang-ulang dengan beban latihan yang kian bertambah (Harsono, 1996: 17). Hal senada juga dikemukakan oleh Moston (1992: 9) bahwa latihan merupakan pelaksanaan gerak secara berurutan dan berulang-ulang. Pada prinsipnya dapat disimpulkan bahwa latihan adalah pemberian tekanan fisik secara teratur, sistematik, berkesinambungan sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan kemampuan fisik dalam melakukan suatu aktivitas (Fox et all, 1993: 69).

Latihan fisik sebaiknya dilakukan sesuai dengan kemampuan tubuh dalam menanggapi stress fisik yang diberikan, bila tubuh diberikan beban latihan yang terlalu ringan, maka tidak akan terjadi proses adaptasi (Sugiharto, 2003: 4). Sebaliknya, jika tubuh diberi beban yang berlebihan dan tubuh tidak mampu memberikan toleransi terhadapnya, maka akan menyebabkan proses terjadinya homeostasis pada system tubuh yang dapat mengakibatkan kerusakan jairngan. Setiap latihan fisik akan menimbulkan respon atau tanggapan dari organ-organ tubuh terhadap beban latihan yang diberikan, hal ini merupakan usaha penyesuaian tubuh dalam rangka menjaga keseimbangan lingkungan yang stabil atau disebut homeostasis (Sugiharto, 2003: 7).

Latihan merupakan salah satu stressor fisik yang dapat mengganggu keseimbangan homeostasis. Oleh sebab itu, pemanfaatan latihan yang dikemas dalam bentuk latihan fisik memerlukan pengukuran dosis yang tepat, sehingga membeerikan peluang untuk membentuk mekanisme penyakit (coping) yang mampu mengubah stressor menjadi stimulator. Tetapi bila dosis latihan yang diberikan tidak tepat, maka stressor tersebut akan mengganggu homeostasis tubuh dan mengakibatkan terjadinya masalah atau kelainan biologis/ patologis (Sugiharto, 2003: 1).

LATIHAN ANAEROBIK

Prinsip latihan untuk ketahanan dan kekuatan anaerobik adalah pemberian beban maksimum yang dikerjakan untuk waktu yang pendek dan diulang beberapa kali. Maksud latihan ini adalah untuk meningkatkan persediaan ATP-PC dalam otot, peningkatan kadar glikogen maupun meningkatkan nilai ambang anaerobic dengan cara pembentukan asam laktat yang lebih sedikit pada beban yang sama maupun ketahanan terhadap keasaman yang disebabkam asam laktat (Soekarman, 1987: 58).

LATIHAN AEROBIK

Untuk ketahanan aerobik selain diperlukan kemampuan jantung dan paru untuk mengangkut oksigen yang banyak, maka kemampuan sel untuk menggunakan oksigen juga lebih tinggi. Apabila kita berlari 20 Km, maka energi yang dibutuhkan tidak dapat dipenuhi hanya dengan pembakaan karbohidrat, tetapi juga dengan simpanan lemak. Jadi persediaan lemak di otot hanya dapat ditingkatkan dengan latihan aerobik, yaitu dengan beban ringan untuk jangka waktu yang lama (Soekarman, 1987: 58).

SISTEM ENERGI

Energi diartikan sebagai kemampuan untuk melakuka kerja. Satuan besaran energinya adalah kilokalori. Energi yang diperlukan untuk kerja otot diperoleh dari makanan yang dikonsumsi setiap hari, yang terdiri atas gizi makro berupa karbohidrat, protein dan lemak. Terdapat dua jenis sistem energi yaitu sistem energi anaerobik (tidak memerlukan oksigen), yang lebih lanjut dibedakan menjadi dua, yaitu anaerobik  alaktik (tidak menghasilkan laktat) dan anaerobik laktik (menghasilkan samapah metabolisme berupa laktat). Sistem energi yang kedua adalah sistem aerobik (membutuhkan oksigen).

Sistem Energi Anaerobik

  1. Sistem Energi Anaerobik Alaktik (phospagen system)

Sistem ini menyediakan energi siap pakai yang diperlukan untuk permulaan aktivitas fisik dengan intensitas tinggi. Sumber energi diperoleh dari pemecahan simpanan ATP dan PC yang tersedia di dalam otot. Pada aktivitas maksimum, sistem ini hanya dapat dipertahankan selama 6-8 detik karena simpanan ATP dan PC sangat sedikit. Cabang olahraga yang dominan menggunakan sistem energi ini antara lain lari cepat 100 meter, renag 25 meter, dan cabang olahraga angkat besi.

  1. Sistem Energi Anaerobik Laktik (Lactic Acid System)

Apabila aktivitas fisik terus berlanjut, sedangkan penyediaan energi dari sistem anaerobik alaktik sudah tidak mencukupi lagi, maka energi akan disediakan dengan cara pemecahan glikogen otot dan glukosa darah melalui sistem glikolisis anaerobik (tanpa bantuan oksigen). Glikolisis anaerobik menghasilkan energi 2-3 ATP, juga menghasilkan asam laktat. Asam laktat yang terbentuk dan menumpuk menyebabkan sel menjadi asam yan gakan mempengaruhi efisiensi kerja otot, nyeri otot dan kelelahan. Asam laktat dapat diolah menjadi energi kembali dalam bentuk glukosa melalui siklus corry. Cabang olahraga yang energi predominan berasal dari sistem ini diantaranya adalah, sepakbola, bola voli, dan bolabasket.

Sistem Energi Aerobik

Untuk aktivitas dengan intensitas rendah yang dilakukan dalam waktu lama (lebih dari 2 menit), energi disediakan melalui sistem aerobik, yaitu pemecahan nutrion bahan bakar (karbohidrat, lemak, dan protein) dengan bantuan oksigen. ATP yang dihasilkan oleh sistem ini 20 kali lebih banyak daripada yang ATP yang dihasilkan oleh sistem anaerobik, yaitu sejumlah 38-39 ATP.

Kemampuan tubuh menggunakan oksigen secara maksimal (VO2maks) merupaka cara efisien guna menyediakan energi, yang menjadi tuntutan bagi setiap olahragawan untuk berprestasi. Semakin lama dan keras berlatih, akan semakin meningkatkan kebutuhan oksigen untuk mensintesa energi. Tubuh mempunyai keterbatasan kemampuan untuk mengambil oksigen, dan setiap individu memiliki kapasitas maksimal mengambil oksigen yang berbeda. Intensitas kerja saat latihan biasanya digambarkan dengan persentase VO2maks, pada tingkat kerja 60-65% VO2maks. Sumbangan karbohidrat dan lemak seimbang dan pada tingkat kerja di atas 65% sumber energi utama berasal dari karbohidrat (Djoko Pekik Irianto, 2007: 45).

Pedoman Praktis Menentukan Sistem Energi Utama

Sistem energi utama yang digunakan pada jenis olahraga yang mempunyai banyak variasi gerakan, sulit ditentukan dengan tepat. Menentukan sistem energi predominan pada cabor bolabasket tidaklah semudah menentukan sistem energi utama pada perlombaan lari dan renang. Pada permainan olahraga tim akan lebih sulit lagi, karena karakteristik gerakan dari masing-masing pemain relatif berbeda berdasarka tugas dan posisinya dalam permainan tersebut. Olah karena itu, diperlukan suatu pedoman yang lebih praktis untuk menentukannya.

Salah satu pedoman praktis yang dapat digunakan adalah waktu kinerja (performance time) dari suatu aktivitas. Waktu kinerja dari setiap aktivitas lebih baik daripada aktivitas itu sendiri sebagai dasar telaah. Adapun waktu kinerja didefinisikan sebagai waktu yang diperlukan untuk melakukan suatu keterampilan dalam suatu perlombaan, permainan, dan pertandingan (Ilhamjaya Patellongi, 2000: 22).

Metabolisme Energi Saat Latihan

Metabolisme tubuh secara umum dapat dibagi menjadi dua keadaan, yaitu: (1) keadaan absorbsi, yaitu saat dimana glukosa (karbohidrat), asam amino (protein), asam-asam lemak (lemak) diabsorbsi ke dalam aliran darah setelah makanan mengalami proses pencernaan. (2) keadaan setelah absorbsi, saat dimana substrat nutrisi tidak masuk ke dalam darah dari sistem saluran pencernaan dan energi harus disuplai dari simpanan tubuh (Ilhamjaya Patellongi, 2000: 49).

Semua aktivitas fisik memerlukan energi, adapun jumlah kebutuhannya tergantung pada berat ringannya latihan yang dilakukan. Latihan dengan intensitas tingga dan jangka waktu yang panjang pengadaan energinya diperoleh dari beberapa sumber energi di dalam sel antara lain dari long term energy system. Latihan yang frekuensinya teratur juga merupakan aktivitas fisik yang menggunakan long term energy system. Pada latihan yang menggunakan long term energy system  dan dilakukan secara berkesinambungan akan menyebabkan terjadinya adaptasi pada mitokondria sehingga metabolisme energi menjadi lebih baik.

Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa pengadaan energi di dalam sel dapat berlangsung melalui fenomena sebagai berikut, yaitu:

  1. Energi yang siap pakai dan proses pengubahan keratin fosfat menjadi ATP melalui fosforilasi ADP oleh keratin fosfat dengan bantuan enzim keratin kinase. Prosesnya berlangsung sangat cepat melalui reaksi enzimatik dan terjadi saat persiapan kerja akan dimulai.
  2. Energi yang diperoleh dari proses glikolisis yaitu pemecahan glukosa atau glikogen. Fenomena pengadaan energi ini dikenal sebagai short term energy system.
  3. Energi yang diperoleh dari proses fosforilasi oksidatif. Prosesnya berlangsung di dalam mitokondria. Sumber materi yang diproses berasal dari glukosa darah melalui glikolisis terlebih dahulu, asam lemak, dan asam amino. Prosesnya memerlukan banyak oksigen untuk membakar asam laktat, asam lemak, dan kalau mungkin juga asam amino yang berasal dari protein. Fenomena ini dikenal sebagai long term energy system. Pada fase selanjutnya pengadaan energi dan pembakaran asam lemak lebih banyak sedangkan proses glikolisis meningkat bersamaan dengan meningkatnya jumlah enzim untuk proses glikolisis (Mas’ud, 2000: 18).

PERUBAHAN PROFIL LEMAK AKIBAT LATIHAN

Sebagaimana karbohidrat, lemak juga mempunyai bentuk dasar yang digunakan dalam tubuh, yaitu: asam lemak. Lemak diperoleh dari diet yang dicerna, memproduksi asam lemak dan sebuah substansi yang disebut gliserol. Setelah asam lemak diabsorbsi melalui sel saluran cerna, selanjutnya akan dirubah menjadi trigliserida. Trigliserida terdiri dari 1 mol gliserol dan 3 mol asam lemak. Trigliserida dapat dipecah menjadi gliserol dan asam lemak.

Asam lemak disimpan sebagai trigliserida. Simpanan trigliserida ditemukan dalam jaringan lemak dan di dalam sel otot rangka. Ketika dibutuhkan oleh otot, asam lemak dari jaringan lemak dilepaskan dari trigliserida dan menuju otot melalui darah. Mobilisasi asam lemak dari cadangan lemak tubuh ke otot merupakan suatu hal penting untuk mengurangi berat badan melalui pembuangan lemak tubuh. Ada dua bentuk utama dari bahan bakar yang disediakan untuk otot selama latihan: (1) asam lemak yang ditransportasi melalui darah dari jaringan lemak, dan (2) simpanan trigliserida yang terdapat di dalam sel otot sendiri (Ilhamjaya Patellongi, 2000: 41).

Dalam melakukan aktivitas fisik dibutuhkan energi yang berasal dari pembakaran karbohidrat, lemak dan protein yang disesuaikan dengan tipe kerja otot dan intensitas latihan. Pembakaran karbohidrat sebagai sumber energi digunakan pada aktivitas yang berat dengan jangka waktu latihan yang pendek, sedangkan pembakaran lemak sebagai sumber energi  digunakan untuk aktivitas atau latihan yang berat denga jangka waktu yang lama. Latihan yang berat akan tetapi durasinya pendek penyediaan energinya melalui sistem anaerobik, sehingga disebut latihan anaerobik.

Latihan anaerobik dapat meningkatkan kapasitas sistem ATP-PC, yaitu dengan meningkatnya simpanan ATP-PC pada sel otot dan meningktkan enzim-enzim pemecah ATP. Sedangkan latihan berat dengan durasi yang lama penyediaan energinya melalui sistem energi aerobik, atau yang kita kenal dengan latihan aerobik. Latihan ini dapat meningkatkan kapasitas metabolisme aerobik dengan meningkatkan oksidasi lemak dan penyediaan lemak sebagai sumber energi serta meningkatkan aktivitas enzim-enzim termasuk aktifasi, transportasi, dan pemecahan lemak.

Diet karbohidrat yang tinggi akan meningkatkan insulin darah, sedangkan insulin yang tinggi akan menghambat mobilisasi asam lemak bebas (FFA/ free fatty acyd). Ada beberapa faktor yang menentukan tingkat FFA darah diantaranya: norepinefrin, asam laktat, dan insulin. Norepinefrin yang disekresi saat latihan fisik merupakan perangsang yang kuat untuk terjadinya mobilisasi FFA, sebaliknya adanya penumpukan asam laktat dan tingginya insulin dalam darah akan merusak mobilisasi FFA dari jaringan adiposa.

 

KESIMPULAN

Dalam kehidupan sehari-hari lemak dikenal dalam bentuk padat dan minyak berbentuk cair pada suhu ruang. Lemak merupakan sumber energi penting bagi berbagai jaringan tubuh, beberapa jaringan bahkan lebih cenderung memakai lemak daripada glukosa untuk memenuhi kebutuhan energinya. Latihan dapat meningkatkan metabolisme lemak sehingga dapat digunakan sebagai salah satu metode yang efektif dan aman bagi program penurunan berat badan, dan dengan melakukan latihan secara teratur dapat membantu mengatasi jumlah lemak tubuh dan memelihara kestabilan komposisi tubuh dan berat badan sehingga tetap dalam kondisi ideal. Lemak merupakan bentuk persediaan energi yang terbanyak dibandingkan dengan persediaan karbohidrat sebagai sumber energi, besarnya persediaan lemak kira-kira 40 kalinya. Lemak hanya dapat menghasilkan energi bila O2 cukup. Jadi lemak dapat menghasilkan energi hanya pada olahraga yang bersifat aerobik.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Brahm U. Pendit. (2000). Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC.
  2. Djoko Pekik Irianto. (2007). Panduan Gizi Lengkap utnuk Keluarga dan Olahragawan. Yogyakarta: Andi Offset
  3. Fox E. L., Bowers R. W., and Foss M. L. (1993). The Physiological Basis of Exercise and Sport. USA: Wim Brown Publisher.
  4. Furqon, M. (1995). Teori Umum Latihan. Surakarta: Univ. Sebelas Maret Press.
  5. Guyton. (1995). Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta: EGC.
  6. Harsono. (1996). Manusia dan Latihan. Bandung: ITB
  7. Ilhamjaya Patellongi. (2000). Fisiologi Olahraga. Makasar: FK UNHAS
  8. Mas’ud, Ibnu. (2000). Sinopsis Faal Sistem Pengantar Faal Psikologi. Malang: Univ. Brawijaya
  9. Moston, Muska. (1992). Teaching Physical Education. Ohio: CEM Publishing Comp.
  10. Nancy Clark. (2001). Petunjuk Gizi untuk Setiap Cabang Olahraga. Jakarta: PT. Raja Gravindo Persada.
  11. Soekarman. (1987). Dasar Olahraga untuk Pembina, Pelatih, dan Atlet. Jakarta:Inti Idayu Press.
  12. Sugiharto. (2003). Adaptasi Fisiologis Tubuh terhadap Dosis Latihan Fisik. Makalah: Univ. Negeri Malang.
Happy Ied 1431 H

HAppy Ied 1431 HMelihat segalanya dengan hati yang bersih, tanpa mengharap pujian manusia. Semoga menjadi Ramadhan yang berkah,dan berdo’a mengharap istiqamah di jalan-NYA.Taqabalallahu Minna Waminkum…

Komunikasi Efektif dalam Tim Olahraga

Dalam beberapa waktu, konsep ini belum mendapat tempat yang pasti dalam psikologi olah raga. Hal ini dikarenakan kurangnya dasar teori dan pengukuran yang tidak berimbang sehingga menjadikan konstruk tersebut dipahami secara salah dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sullivan & Feltz (2003) mengembangkan skala komunikasi efektif dalam timolah raga dengan melibatkan 681 atlet dalam serangkaian studi.

Sebelumnya mereka mengemukakan bahwa lingkungan olah raga adalah lingkungan yang kaya, unik dan mengandung konteks yang penting untuk mempelajari kondisi alami dan mendasar dari suatu dinamika sosial. Lingkungan ini tidak lepas dari isu semacam kepemimpinan, efikasi kolektif, kohesi tim, juga pencanangan target kelompok.

Menggunakan Independent exploratory factor analysis (EFA) dan subsequent confirmatory factor analysis (CFA), Sullivan & Feltz menemukan empat faktor dalam komunikasi efektif tim olah raga, yakni  distinctiveness, acceptance, positive conflict dan negative conflict;

1. Acceptance is defined as the communication of consideration and appreciation between teammates. Aspek penerimaan ini melebihi faktor yang diunggulkan yaitu Suport. Hal menarik lainnya, faktor yang tereliminasi dalam Support adalah faktor yang merujuk pada perilaku non verbal. Dalam hal ini, penerimaan meruapakan bentuk komunikasi yang bersumber lebih pada bentuk verbal.

2. Distinctiveness is defined as the communication of a shared, but unique identity. Keunikan dalam komunikasi ini salah satunya dapat berupa nama panggilan yang unik antar anggota tim. Nama panggilan tidak melulu pada julukan, tetapi bisa juga nama kecil, yang secara tidak langsung menunjukkan keakraban yang terjalin. Faktor ini juga bisa dipenuhi dalam pertukaran non verbal seperti sikap dan perilaku antar anggota tim.

3. Positive conflict is defined as communication regarding intra-team conflict that expresses constructive and interactive ways of dealing with disruption. Perselisihan sudah jamak terjadi dalam setiap interaksi manusia, namun ekspresi yang konstruktif dan interaktif lah yang pada akhirnya diperlukan, begitu pula dalam sebuah tim olah raga.

4. Negative conflict. Berlawanan dengan konflik positif, konflik negatif lebih mengacu pada konflik intra tim yang mengedepandak emosi, personal dan konfrontasi.

Studi di atas memang tidak melibatkan komponen lain seperti pelatih atau manajemen. Studi tersebut lebih mengungkap komunikasi di antara anggota tim. Pada sisi lain, di antara sekian faktor yang dihasilkan oleh komunitas efektif, kohesivitas menempati rangking utama di atas penampilan tim dan kepuasan. Mengapa kohesivitas? Berikut alasan yang mengikutinya;

1.         Kohesivitas adalah atribut tim yang terbangun dengan begitu baik melebihi faktor penampilan yang ditunjukkan.

2.         Pengukuran kohesivitas lebih bisa diaplikasikan ketimbang penampilan tim yang justru sering menimbulkan keingungan, baik dalam pelatihan dan interaksi tim itu sendiri.

3.         Lebih lanjut, kohesivitas dapat digeneralisir ke dalam interaksi di luar tim olah raga.

Alasan ini yang menjadikan kohesivitas sebagai penyangga utama bagi efektivitas komunikasi efektif. Meski masih dibutuhkan studi lebih lanjut antara kohesivitas dan penampilan tim.

Kohesivitas & Penampilan Tim

Buah dari komunikasi efektif berdasarkan studi Sullivan & Feltz mungkin menimbulkan tanda tanya bagi kita. Meski tidak kaku, namun kohesivitas tetap diunggulkan daripada  penampilan sebuah tim. Melihat penjelasan yang dikemukakan, mungkin gambaran ini bisa melengkapi studi itu. Komunikasi yang efektif antar anggota kelompok mengantarkan ikatan kuat sebuah tim, kohesivitas. Sementara, hal itu tidak berarti penampilan tim akan memuncak.

Mungkin, hal ini dikarenakan penampilan suatu tim tidak bisa dilepaskan dari interaksi antara anggota tim dengan pelatih bahkan jajaran ofisial. Sementara studi tersebut hanya menggali pada tataran anggota tim. Tim yang kohesif adalah tim yang individu-individu di dalamnya memiliki keterikatan kuat. Karenanya ada penerimaan di sana, ada keunikan/ keakraban serta konflik positif dalam dinamika timnya. Inilah hasil yang dapat dipetik dari komunikasi tim yang berjalan efektif. Mereka memiliki pemahaman dan kedekatan personal. Namun, jika berbicara tentang penampilan tim, komunikasi yang terbangun tidak hanya melibatkan antar anggota tim. Mungkin Beckham memiliki komunikasi efektif dengan rekan-rekan di Real Madrid, sehingga ia memiliki kedekatan dengan tim tersebut. Namun hengkangnya pemilik tendangan pisang ini ke Galaxy, USA, lebih pada kekecewaan terhadap kepemimpinan Fabio Capello yang sering menempatkannya di bangku cadangan. Pers juga menduga sebagai kekecewaan tidak dipanggilnya mantan kapten timnas Inggris ini jajaran di timnas Inggris sekarang. Maka, komunikasi yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini adalah komunikasi antara pemain dengan pelatih, pemain dengan manajemen tim.

Bagaimana dengan timnas kita?

Saya curiga, apakah justru tim kita terlalu dekat sehingga wasit pun akan dilawan ketika memberi kartu merah pada rekan satu tim. Bukankah di liga luar sana, keputusan wasit sekontroversial apapun sangat jarang mengakibatkan wasit tersebut terluka karena dikejar-kejar pemain yang marah? Pemain menyerahkan hal itu pada otoritas yang lebih tinggi, federasi. Bukan hal aneh jika keputusan wasit kemudian berubah karena terbukti tidak benar. Silahkan kecurigaan ini diolah dalam bingkai ilmiah, sehingga menjadi sumbangan bagi kemajuan olah raga di negeri ini.

Scale for Effective Communication in Team Sports (SECTS) dari Sullivan & Feltz ini mampu menjadi landasan teoretis dan pengukuran data efektivitas komunikasi tim dalam dunia olah raga. Satu sumbangan berarti dari dunia psikologi untuk dunia olah raga. Semoga bermanfaat.

Sumber:

Sullivan, Philip & Feltz, Deborah L. (2003) The preliminary development of the scale for effetive communication in team sports (SECTS). Journal of Applied Social Psychology,2003,33,8,pp.1693-1715


My litle cute doughter..

What a great life with her besides me..PIC_0010

AKTIVITAS HORMONAL SAAT LATIHAN (1)

Pada dasarnya, fungsi tubuh diatur olah dua sistem utama. Sistem saraf dan sistem endokrin, atau yang sering disebut sistem neuroendocrine. Hampir setiap orang mungkin sudah mengetahui bahwa sistem saraf-lah yang mengatur dan melakukan kontrol atas semua proses fisiologis yang terjadi. Tapi tidak dengan sistem endokrin, atau yang lebih dikenal dengan sistem hormon, banyak dari kita yang terkadang melupakan, atau bahkan tidak mengetahui bahwa sistem hormon memiliki peranan yang tidak kalah penting dibandingkan sistem tubuh lainnya, bahkan mungkin lebih. Mari kita coba sedikit menjelajah lebih dalam, dengan tidak hanya membicarakan kecepatan gerak, kekuatan otot, dan daya tahan kardiovaskuler, tapi kita akan bahas mengenai fungsi dan aktivitas hormonal yang terjadi saat kita melakukan olahraga.
Manusia sebagai suatu organisme, secara fisiologis terdiri dari beberapa sistem yang bekerja sinergis sehingga kita dapat berjalan, bekerja, makan, berolahraga, atau bahkan tidur sekalipun. Sistem-sistem tersebut adalah, sistem kardiovaskuler, sistem respirasi, sistem perncernaan, sistem saraf, sistem otot dan rangka, sistem endokrin, dan sistem integumentari. Dalam tulisan ini, akan dibatasi hanya akan fokus melakukan kajian dan pembahasan pada sistem endokrin saja, yaitu bagaimana sistem endokrin dapat mempertahankan homeostasis sehingga kita kita dapat bertahan menerima beban yang diberikan pada saat melakukan aktivitas fisik.
Pada saat kita melakukan aktvitas fisik, tubuh kita mendapatkan beban lebih daripada saat kita melakukan aktivitas harian. Banyak terjadi perubahan fisiologis, diantaranya adalah; meningkatnya kebutuhan energi untuk digunakan, meningkatnya intensitas denyut jantung, volume pernafasan bertambah, dan terbentuknya sampah metabolisme (eks: laktat). Untuk dapat bertahan dari kondisi tersebut, tubuh dibekali dengan kemampuan untuk melakukan homeostasis. Homeostasis adalah mekanisme yang dilakukan tubuh dalam rangka menghasilkan suatu kondisi yang seimbang sehingga kita dapat bertahan terhadap stress baik itu dari luar maupun dalam tubuh. Untuk mencapai suatu kondisi homeostasis diperlukan adanya koordinasi dan komunikasi di tingkat selular. Media komunikasi antar sel tersebut kita kenal dengan sebutan ‘hormon’. Hampir semua proses fisiologis yang terjadi dalam tubuh kita melibatkan kerja hormon, oleh karena itu hormon sangat relevan dengan aktivita fisik. Hormon dihasilkan oleh beberapa kelenjar, yang terkoordinasi menjadi sistem endokrin.
Sistem endokrin meliputi suatu sistem dalam tubuh manusia yang terdiri dari sejumlah kelenjar penghasil zat yang dinamakan hormon. Kelenjar ini dinamakan ‘endokrin’ karena tidak mempunyai saluran keluar untuk zat yang dihasilkannya. Hormon yang dihasilkan dalam jumlah sedikit pada saat dibutuhkan dan dialirkan ke organ sasaran melalui pembuluh darah bercampur dengan darah. Kelenjar yang produknya disalurkan melalui pembuluh khusus (seperti kelenjar ludah) dinamakan kelenjar eksokrin. Kelenjar endokrin (endocrineglarul) terdiri dari (1) kelenjar hipofise atau pituitari (hypophysisor pituitary glanrl) yang terletak di dalam rongga kepala dekat dasar otak; (2) kelenjar tiroid (thyroid gland) atau kelenjar gondok yang terletak di leher bagian depan; (3) kelenjar paratiroid (parathyroidglanrl) dekat kelenjar tiroid; (4) kelenjar suprarenal (suprarenalglanrl) yang terletak di kutub atas ginjal kiri-kanan; (5) pulau Langerhans (islets of langerhans) di dalam jaringan kelenjar pankreas; (6) kelenjar kelamin (gonarl) laki di testis dan indung telur pada wanita. Placenta dapat juga dikategorikan sebagai kelenjar endokrin karena menghasilkan hormon.

Be a good organizer

karena:
“gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan…”

Hello world!

Welcome to Blog.uny.ac.id. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!