UNY vs. UGM
Sungguh-sungguh terjadi siang ini di kantin kopma, sebelah utara FMIPA. Dua orang mahasiswi sedang membicarakan temannya yang pinter, tapi sering nyontek waktu ujian. Katakan saja mereka mahasiswi A dan B. Terlepas dari pendapat mereka tentang kasus menyontek, ada sepenggal pembicaraan yang terdengar dan masuk ke working memory saya, kira-kira seperti ini:
Mahasiswi A: Kowe ki yo pinter loh…
Mahasiswi B: Wah, nek aku pinter yo ora kuliah ning UNY no, mesti kuliah ning UGM
Yang saya pikir, benarkah mahasiswa UGM selalu lebih pintar dari mahasiswa UNY? Mungkin benar, jika perbandingannya didasarkan pada hasil Ujian Akhir SMA. Tetapi, apakah lulusan UGM selalu lebih bagus dibandingkan UNY? Jawabannya, menurut saya, tidak bisa digeneralisasikan. Karena setelah sekian tahun kuliah, long-term memory mahasiswa sudah dispesialisasikan sesuai jurusan yang diambil. Yang calon dokter bukan bearti lebih pinter dari yang calon guru SMP. Masing-masing punya keahlian sendiri. Pembandingannya mungkin tidak bisa secara general di tingkat universitas, mestinya per-jurusan yang sama.
Jadi, tidak perlu merendahkan diri sebagai mahasiswa UNY, bukan UGM. Karena masuk UNY atau UGM adalah untuk spesialisasi di jurusan tertentu. Milih universitas kan harusnya karena jurusan yang akan dipilih ada di universitas itu dan mau jadi ahli apa setelah lulus. Masa mau jadi ahli pendidikan milih UGM di jurusan kedokteran, hanya karena SMA nya pinter? Demikian pula sebaliknya.
