Banyak yang berpendapat bahwa metode umpan balik dalam memanajemen kelas perlu diterapkan. Seperti yang diungkapkan dalam teori Thorndike atau Skinner, bahwa tingkah laku dapat berubah setelah adanya feedback (umpan balik) atau reinforcement (penguatan). Namun, dengan mudah pendapat ini dapat disangkal oleh pengikut aliran kognitif, yang berpendapat bahwa tanpa mengubah umpan balik atau penguatan menjadi informasi yang diolah secara kognitif, untuk dipahami dan diintepretasikan, tingkah laku seseorang tidak semudah itu berubah. Baca lagi di sini.
Dalam memanajemen kelas, umpan balik dapat diberikan dalam bentuk hukuman atau hadiah. Hukuman dapat berupa bentakan, pengurangan nilai, pengurangan waktu istirahat, tambahan tugas, atau sangsi akademik lainnya. Hadiah dapat berupa senyuman, tepuk tangan, tambahan nilai, keringanan tugas, sertifikat, medali, buku, alat tulis, voucher, atau token.
Pada umumnya, guru membuat peraturan di kelas dengan tujuan menertibkan siswa untuk mengikuti pembelajaran atau memotivasi siswa untuk lebih intensif mengikuti pembelajaran. Siswa yang tidak rajin, bertindak disruptive atau mengganggu jalannya pembelajaran akan mendapatkan hukuman dan sebaliknya siswa yang baik atau berpartisipasi aktif dalam pembelajaran akan mendapatkan hadiah.
Pada umumnya siswa akan merespon peraturan tersebut dengan mengurangi tindakan yang menghasilkan hukuman dan berlomba-lomba mendapatkan hadiah. Namun, setelah peraturan ini dicabut, apakah ada jaminan siswa tetap berpartisipasi dengan baik dalam pembelajaran? Is the classroom still manageable?
Mungkin saja tidak! Tingkah laku adalah suatu pengetahuan mengenai tindakan yang dilakukan dalam suatu situasi. Pengetahuan seseorang tentang tingkah laku (Biologically primary knowledge) ini dibangun sejak lahir, terus berkembang dan dipengaruhi oleh contoh-contoh di lingkungan siswa. Pengetahuan ini juga di-konstrak sebagaimana pengetahuan matematika, misalnya, di-konstrak. Untuk mengubahnya, tentu saja perlu proses kognitif untuk merekonstruksi kembali pengetahuan tingkah laku tersebut.
Jadi, tanpa adanya instruksi, himbauan atau saran kepada siswa untuk mengintepretasikan informasi tentang pemberian umpan balik -mengapa hukuman atau hadiah diberikan-, maka tingkah laku siswa akan kembali ke keadaan semula ketika peraturan belum diterapkan. Dengan kata lain, umpan balik hanya efektif jika siswa memahami dan mengkonstrak pengetahuan mengenai tingkah laku yang menjadi efek dari umpan balik tersebut.

You must be logged in to post a comment.