My Official Site

Endah Retnowati

Action or Design Research?

Written by Endah Retnowati on May 7th, 2009 | Filed under: Uncategorized

Ada berbagai jenis penelitian yang dapat dilakukan… Untuk guru atau yang tertarik dengan proses pembelajaran di kelas, penelitian tindakan kelas (action research) atau penelitian desain pembelajaran (research design) mungkin dapat menjadi pilihan. Pilihan mana yang tepat?

Keduanya sama-sama bersifat naturalistik… sehingga analisa datanya lebih cenderung deskriptif. Mungkin orientasi atau spesifikasinya yang beda, meskipun ujung-ujungnya ya sama yaitu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Action research berawal dengan adanya masalah di suatu kelas. Masalah ini bisa berupa prestasi siswa yang kurang, siswa kurang termotivasi, siswa tidak semangat, siswa sangat bergantung pada guru dan sebagainya. Sehingga, diperlukan suatu tindakan untuk menyelesaikannya. Nah, dengan adanya action research, tindakan yang akan dierikan dapat lebih terencana, sehingga implementasinya dapat dimonitor, dievaluasi dan direfleksi dengan lebih optimal. Ada kalanya tindakan yang telah dipilih tidak serta merta mengatasi masalah, sehingga perlu mengambil tindakan lagi. Dengan adanya action research (perencanaan, implementasi dengan monitoring, evaluasi dan refleksi) tindakan yang akan diambil untuk memberbaiki keadaan akan lebih dipertimbangkan…

Satu kali tindakan yang meliputi: perencanaan, implementasi, monitoring, evaluasi dan refleksi dikatakan satu siklus… sehingga tindakan berikutknya yang direncanakan berdasarkan hasil siklus satu akan membentuk siklus dua dan seterusnya sampai masalah tuntas diatasi. Kriteria masalah sudah tuntas atau belum, tentu saja dilihat dari indikator keberhasilan yang diharapkan. Action research dapat berhenti setelah indikator tercapai atau masalah telah teratasi. Namun, tentu saja masih boleh melakukan action research, karena naturally, masalah biasanya datang silih berganti dan kadang2 berbarengan.

Action research yang dilaksanakan di kelas dikenal dengan Classroom Action Research (Penelitian Tindakan Kelas), dan action research sering juga dipakai di bidang industri.

Now about design research. Mirip-mirip dengan research and development, tapi lebih spesifik untuk mengembangkan local instruction theory (see Koeno Gravemeijer&Dolly van Eerde, 2009). Jadi, tujuan design reaserch spesifik untuk mengembangkan teori pembelajaran. Namun, penelitian ini lebih bersifat naturalistik, bukan eksperimental, meskipun tujuannya untuk membangun sebuah teori. Namun demikian, teori ini memungkinkan guru untuk membentuk teorinya sendiri terhadap kegiatan pembelajaran di kelasnya. Mungkin karena ini, Gravemeijer dan Van Eerde menamainya “local” instruction theory, CMIIW.

Contohnya begini. Guru di SD ingin siswa yang diajarnya enjoy mathematics. Guru mendengar dari para ahli bahwa menggunakan konteks real dapat membuat siswa senang belajar matematika. Pada siklus pertama guru tersebut menggunakan konteks real untuk mengawali pembelajaran matematika. Selama pelaksanaan, dia mendapatkan bahwa siswa sering kesulitan dalam menyampaikan jawabannya. Sehingga guru penasaran, bagaimana membantu siswa menyampaikan jawabannya.

Pada siklus berikutnya, guru merencanakan untuk memberi tugas presentasi kepada siswa. Pada pelaksanaannya, guru membagi siswa dalam kelompok kecil dan meminta secara acak siswa untuk presentasi penyelesaian masalah yg diperolehnya. Dari hasil pengamatan, guru menemukan bahwa siswa sudah mulai bisa menyampaikan jawabannya namun kebanyakan siswa sulit mengikuti presentasi dari siswa yang maju. Guru ingin tau, bagaimana caranya agar presentasi bisa berjalan lebih baik? Pada siklus ketiga, guru merencanakan untuk membawa kertas poster yang lebar dan spidol. Kemudian, setiap kelompok diminta untuk menuliskan jawabannya di kertas kemudian ditempel di papan tulis. Sehingga siswa yang maju cukup mempresentasikan posternya dan menjelaskan proses penyelesaian masalah yang diperolehnya. Guru mengamati presentasi ini menarik siswa. Namun, guru mendapati bahwa waktu pembelajaran menjadi kurang karena ada kelompok yang belum kebagian jatah presentasi.

Sehingga pada siklus keempat, guru merencanakan untuk menunjuk salah satu kelompok saja yang maju mempresentasikan posternya dan kemudian siswa diminta untuk berkeliling saling melihat poster dari kelompok yang lain. sehingga semua mendapat kesempatan mempresentasikan poster secara paralel. Guru mengamati siswa senang dengan kegiatan presentasi ini, namun juga siswa memahami matematika yang disampaikan melalui kegiatan penyelesaian masalah.

Siklus dapat terus dilanjutkan karena pertanyaan-pertanyaan penelitian dapat terus dimunculkan, asal cermat dan kritis! Tapi, setelah keempat siklus ini, guru dapat menyimpulkan sebuah teori yang dapat membuat siswa enjoy belajar matematika (menjawab pertanyaan awal penelitian), yaitu menggunakan konteks real, presentasi menggunakan poster, dan presentasi paralel. Teori ini dapat digunakan oleh guru lain. Meskipun kebaikan teori ini tidak diuji secara eksperimen bahwa lebih baik dari teori yang lain, misalnya, namun teori ini telah mengatakan kebaikannya dengan sendirinya melalui proses siklik yang digunakan untuk membangun teori ini.

Anyway, mau action or design research atau resesearch designs yang lain adalah pilihan… menurut saya, yang penting dalam pelaksanaanya harus taat kaidah ilmiah… terutama jujur dan objektif… jangan ada mal-research… :P



Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.