Written by Endah Retnowati on Apr 19th, 2009 | Filed under:
Uncategorized
Paling mudah cari informasi memang dengan menggunakan search-engine, seperti google, yahoosearch, askjeeves, dll. Namun, untuk kajian pustaka atau kajian teori untuk suatu karya ilmiah (penelitian, skripsi, thesis, dll) tidaklah etis hanya dengan comot sana comot sini informasi yang ada di internet, apalagi kalo ngutip dari blog. Mengambil kutipan dari wikipedia pun banyak yang tidak menyarankan.
Masalahnya sederhana. Informasi yang ditampilkan di blog atau sebagian wikipedia atau halaman di sebagian website lainnya tidak didasarkan pada kajian pustaka, dan yang pasti, tidak selalu di-review oleh pihak kedua sebelum di-publish di internet. Apalagi blog, semuanya bisa nulis di blog dan bisa asal tulis. Keakuratannya harus diragukan. Meskipun kedengaran benar.
Penelitian sebaiknya mengacu pada penelitian sebelumnya. Jadi lebih baik gunakan referensi hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal atau dirangkum di buku. Mengapa, karena jurnal dan buku mempunyai editor, ada yang meyeleksi karya yang ditulis. Dengan adanya internet, memberikan kemudahan akses jurnal atau buku karena sekarang banyak e-journal dan e-book.
Tulisan ini semoga menjadi teguran, terutama untuk mahasiswa yang mengerjakan skripsi dengan saya. Bahwa informasi yang ada di internet harus dipilah-pilah dan diseleksi dengan hati-hati. Jangan asal copy-paste!!
Written by Endah Retnowati on Apr 19th, 2009 | Filed under:
Uncategorized
Cooperative Learning atau pembelajaran kooperatif tidak mudah diimplementasikan dan dilihat hasilnya. Pada awalnya, pencetus cooperative learning adalah Slavin atau Jonhson bersaudara. Ide dasarnya adalah bahwa siswa perlu dilatih untuk bekerja sama di dalam kelompok, karena keterampilan ini sangat diperlukan dalam kehidupan nyata. Namun, keterampilan ini tidak mudah untuk diperoleh dan dikembangkan. Johnson cs menyarankan ‘training’ atau pelatihan khusus keterampilan berkolaborasi yang berkelanjutan.
Filosofi pembelajaran kooperatif adalah sosio-konstruktivisme, yang sangat dipengaruhi oleh teori scaffolding-nya Vygotsky. Sehingga, belajar dalam kelompok tidak sekedar duduk berkelompok untuk mengerjakan tugas, tetapi (more…)
Written by Endah Retnowati on Mar 30th, 2009 | Filed under:
Uncategorized
Lesson Plan in Indonesia is widely called “Rencana Pelaksanaan Pembelajaran” and shorten as RPP. Indonesian’s style of lesson plan may be different to overseas’, but substancially should be similar. Basically, lesson plan involves a detailed description of the learning instructions in one lesson time. The broad accepted format of RPP follows. (more…)
Written by Endah Retnowati on Mar 24th, 2009 | Filed under:
learning method
Worked Examples adalah alat yang efektif sebagai media instruksional, terutama bagi pembelajar awam. Pembelajar awam atau novices learners adalah seseorang yang belum mempunyai pengetahuan awal yang cukup memadai di domain atau topik atau permasalahan yang sedang dihadapi.
Worked example memuat contoh penyelesaian suatu masalah atau contoh penerapan suatu prosedur. Pembelajar awam akan terbantu mempelajari suatu materi dengan adanya contoh. Bukan karena pembelajar itu yang tidak kreatif, tapi memang secara natural, sistem kognitif akan bekerja secara efektif (lebih singkat cepat dan tepat) dengan adanya contoh tersebut. Baik ketika mempelajari pengetahuan primer (bahasa, gerak tubuh, interaksi sosial) maupun pengetahuan sekunder (materi pelajaran di sekolah). Meniru adalah proses alami, terutama bagi seseorang yang awam.
Tetapi, penyusunan worked example sebaiknya (more…)
Written by Endah Retnowati on Mar 19th, 2009 | Filed under:
learning method,
memory
Mungkin sudah banyak yang mendengar, tau bahkan meneliti mengenai pembelajaran realistik. Pertanyaan saya, mengapa sih kita menjadi lebih mudah memahami masalah dengan pendekatan realistik?
Sudah pernah saya tulis di sini kalau pengetahuan baru yang sedang diproses memerlukan prior knowledge (pengetahuan prasyarat) untuk mengenali dan mengorganisirnya dengan baik dan tepat, serta menyimpannya di memori jangka panjang dengan bentuk jaringan atau peta pengetahuan yang baik pula. Sehingga, apabila siswa dalam mempelajari suatu permasalahan matematika tidak mempunyai prior knowledge yang cukup, maka perlu ada suatu pendekatan yang memudahkan siswa mengenali informasi yang sedang dihadapi, misalnya dengan menggunakan permasalahan realistik.
Permasalahan realistik akan membantu siswa memahami permasalahan matematika karena konteks real yang dihadirkan sudah dikenali oleh siswa, meskipun secara informal. Konteks awal yang secara informal diperoleh dari kehidupan nyata oleh siswa ini dapat berfungsi sebagai prior knowledge, yang membantu siswa memahami what on the problem solving is.
Namun, tentu saja konteks real itu harus konteks yang benar-benar realistis untuk siswa. Misalnya permasalahan: Harga 1 kg apel adalah $2.5, berapa harga 1,5 kg apel? menggunakan konteks real yaitu jual beli, tetapi dengan mata uang dollar. Permasalahan realistik ini menjadi tidak realistis untuk siswa di Indonesia, karena meta uang di Indonesia adalah Rupiah dan representasinya sangat berbeda. Yang realistis di Indonesia 1 kg apel adalah Rp 15.000,00, dengan kata lain orang Indonesia sudah terbiasa dengan banyak nol. Kalo diberikan harga 1 kg apel hanya 2.5, mungkin siswa akan memaksakan diri dalam memahami permasalahan tersebut, karena pada masa sekarang, memang kenyataannya (dalam kehidupan sehari-hari) tidak ada jual beli dengan mata uang rupiah sebesar 2.5.
Written by Endah Retnowati on Jan 28th, 2009 | Filed under:
Uncategorized
Why some material are difficult to learn while the others are not? This question may be answered using the approach of cognitive load (beban kognitif).
Before hand, we need to define these terms. The term ‘difficult to learn’ is defined how material cannot be easily held in working memory and altered into long term memory. Otherwise, ‘difficult to understand’ refers to how material cannot be easily rationalised. This difficulty is related to the limitation of working memory and the nature of the material itself. By definition, element interactivity is an interaction between elements of material which are being processed in working memory.
Some materials have natural difficulty because they consist of a set of concepts that must be processed simultaneously in working memory to be understood. Cognitive load caused by these materials is categorised intrinsic cognitive load. For example, the mental calculation of 5+4 has lower intrinsic cognitive load than the 19 + 27. The last addition contains concepts of numbers, addition properties, place value of numbers which need to be simultaneously connected to understand and accomplish the task of the material. It cannot be understood in a sequence manner because learners need to consider about concept of place value as together as they think about the addition.
Intrinsic cognitive load cannot be modified by instructional learning, because material which is high element interactivity presented by any instructional learning will remain high element interactivity.
However, Cognitive load theorists suggest that material which is intrinsic high in element interactivity should be initially thought in isolated elements and learn the relevant interaction afterwards. Although understanding is not obtained at the first stage, by this way learning can be advanced because learners already acquire the conditional knowledge of the interacted elements. Thus, learning two digit addition like 19 + 27 should be started by learning single digit addition, tens concept and commutative property of addition. This might be underlying why mathematics is hierarchical structured.
Written by Endah Retnowati on Jan 20th, 2009 | Filed under:
general,
learning method
Currently, I am doing a research on instructional learning designs, based on cognitive load theory. Here is the abstract.
It is argued that a productive thinking is as a consequence of having a well defined knowledge and therefore learning process should encourage an effective knowledge acquisition. Research has shown that knowledge acquisition is assisted when learners think in forward direction from the given information to the goal of a problem solving. However, novel learners often think backward or use means ends analysis. Using means ends analysis, problem solvers try to reduce the distance between the given information and the problem goal by creating sub-sub goals and then examining them individually to find the solution. This strategy might be beneficial for solving some problems but it requires a heavy cognitive load. According to a Cognitive Load Theory, an excessive cognitive load in working memory impairs knowledge construction. The cognitive load theory has suggested the use of goal-free problems that can eliminate the use of means ends analysis. Goal free problems discourage students from creating sub-goals and separate the problem state and the problem goal because the problem goal is not given. Nevertheless, most research on goal-free effect has only been conducted in individualised learning environments, despite a large body of literature indicating that learning can be effective in small-groups.
.
A controlled experiment is proposed to engage students in a group work activity using goal-free or goal problems in Geometry learning (Determining angle measures when a pair of parallel lines is cut by a transversal) and compare the effect of two approaches (goal-free problem and goal-given problem) on numeric and reasoning abilities using both near and far transfer tests. Whether learning in a group work setting is beneficial compared with individual setting is particularly examined. One hundred and one Year 7 students are randomly allocated into four experimental groups:
(1) goal-given problems in an individual setting;
(2) goal-free problems in an individual setting;
(3) goal-given problems during group work;
(4) goal-free problems during group work.
Each group receives two consecutive instructional learning stages: group work skill induction and an acquisition stage. In the group work skill induction, students are given a set of routine problems and in the acquisition stage, students are given a set of non-routine problems. Numeric and reasoning abilities of all groups using both near and far transfer tests are measured and analysed by 2 x 2 MANOVAs. A questionnaire is distributed to obtain information on students’ interaction intensity and their impression of the learning activities. Data is still being analysed in January 2009 and will be presented in an International Conference on Thinking, Malaysia.
Written by Endah Retnowati on Jan 15th, 2009 | Filed under:
general
Mengapa hasil penelitian di skripsi-skripsi mahasiswa dan penelitian dosen di Indonesia yang pernah saya baca, selalu mengatakan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan efektif? Mengapa selalu menghasilkan keefektivan? Apakah hasil yang diperoleh benar-benar dapat dipertanggung jawabkan? Diperoleh dengan objektif? Atau semata-mata supaya nulis pembahasannya mudah -efektif bearti sudah sesuai dengan teori-?
Kalo semata-mata biar nulis laporannya mudah, wah picik sekali pemikirannya!
Sebenarnya, kalo penelitiannya telah dilakukan dengan prosedur yang ketat apapun haslnya harus diakui. Kalo memang hasilnya tidak sesuai dengan teori, justru itu adalah kesempatan untuk melakukan perbaikan teori. Teori pembelajaran kan yang membuat manusia, manusia kan berkembang, berevolusi pemikirannya, sudah sewajarnya kan kalo teori pembelajaran juga perlu berkembang -diperbaiki, ditambah, dikurangi-
Jika mendapati hasil penelitian suatu metode pembelajaran tidak efektif seperti yang dikatakan oleh teorinya, di pembahasan penelitian bisa diulas penyebabnya -cari referensi lagi- kemudian dilakukan eksperimen lagi sesuai dengan refleksi yang diperoleh. Dengan demikian, teori pembelajaran akan berkembang sesuai kenyataan yang terjadi, dengan catatan prosedur eksperimennya sudah benar. Memang sih, tambah kerjaan… tapi kan hidup serasa lebih bernurani dan produktif.
Sehingga, teori pembelajaran tidak itu-itu saja ngikut tren dari negara lain. Sudah saatnya mahasiswa dan dosen meningkatkan kualitas penelitiannya. Lebih bagus lagi kalo bisa membentuk research centre yang mengembangkan suatu teori dan ekspertis (keahlian) kita orang Indonesia, tidak sekedar menerapkan teori dan mengatakan lagi bahwa teori pembelajaran dari negara ini atau itu yang efektif!
Written by Endah Retnowati on Jan 12th, 2009 | Filed under:
Uncategorized
Problem solving atau Pemecahan Masalah dapat digambarkan sebagai aktivitas untuk mendapatkan suatu solusi atau penyelesaian yang tepat dari suatu permasalahan. Suatu pertanyaan dikatakan sebagai masalah jika tidak dapat dijawab secara langsung oleh seseorang menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. Problem solving memerlukan identifikasi informasi yang diberikan terlebih dahulu sebelum proses penyelesaiannya dilakukan.
Contoh pertanyaan: jika lima hari setelah hari kemarin adalah hari Jumat, hari apakah besok? Untuk saya, pertanyaan ini adalah suatu masalah, karena saya tidak dapat menyelesaikannya secara langsung meskipun saya punya pengetahuan tentang hari dan konsep tambah kurang. Untuk menyelesaikan masalah ini saya perlu mengidentifikasi informasi apa saja yang diberikan (mungkin dengan membacanya berulang-ulang untuk mencatat informasi kunci dan menghiraukan informasi yang tidak dipakai), sebelum proses penyelesaian selanjutnya dilakukan. Dalam proses identifikasi ini, memori bekerja akan dibebani oleh muatan kognitif intrinsik (kerumitan masalah) dan penyejian informasi (struktur kalimat). Selanjutnya, saya perlu muatan kognitif germane yang mendorong saya untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Polya mungkin adalah seseorang yang sering dirujuk dalam penyelesaian masalah. Selain Polya, sebenarnya ada ahli pendidikan lainnya yang membahas bagaimana proses problem solving dan apakah problem solving bisa diajarkan, seperti Schoenfeld, Kantowski, Bransford, Sweller, Mayer, dan lain-lain.
Written by Endah Retnowati on Jan 12th, 2009 | Filed under:
Uncategorized
Ujian akhir semester gasal telah dimulai hari ini. Salah satu mata kuliah yang saya ampu adalah Metode Pembelajaran Matematika (MPM). Salah satu tujuan perkuliahan ini adalah mahasiswa mampu menrancang suatu metode pembelajaran. Sehingga, pada ujian MPM kali ini, saya akan menguji apakah mahasiswa mampu merancanag suatu metode berikut menguraikan langkah-langkah pembelajaran suatu topik.
Yang esensi dari suatu perancangan pembelajaran adalah bagaimana menyajikan materi dan memanajemen kelas agar siswa dapat memahami suatu pelajaran dengan baik. Untuk itu, pendesain metode pembelajaran perlu pengetahuan mengenai bagaimana sistem memori kita bekerja untuk memproses informasi yang disajikan dalam pembelajaran sehingga dapat mengkonstraknya menjadi pengetahuan yang tersimpan dengan baik. Selain itu, bagaimana seting kelas dapat berpengaruh baik dalam meminimalkan beban (muatan) kognitif di memori bekerja sehingga tidak terjadi cognitive over load!
Selamat belajar!