E-Learning Adaptif Tingkatkan Hasil Belajar

Collection of articles from the media
shopify analytics toolView MyStats
Sumber: http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/e-learning-adaptif-tingkatkan-hasil-belajar

E-Learning Adaptif Tingkatkan Hasil Belajar

6 April 2015 0:01 WIB

SISTEM pembelajaran e-learning yang ada sekarang ini umumnya memberikan presentasi materi pembelajaran yang sama untuk setiap pengguna karena mengasumsikan bahwa karakteristik semua penggunanya homogen.

Kenyataannya, setiap pengguna mempunyai karakteristik yang berbeda-beda baik dalam hal tingkat kemampuan, gaya belajar, latar belakang maupun yang lainnya. Guru Besar Ilmu Pembelajaran Teknologi Informasi pada Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta, Prof Herman Dwi Surjono MSc MTPhD mengungkapkan pandangannya pada pidato pengukuhannya di ruang sidang rektorat, kemarin.

”Karena itu, seorang pengguna e-learning belum tentu mendapatkan materi pembelajaran yang tepat dan akibatnya efektivitas pembelajaran tidak optimal,” tandasnya.

Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan menggunakan e-learning adaptif karena sistem ini dapat menampilkan halaman web sesuai dengan karakteristik individu, berorientasi pada kelompok pengguna yang lebih luas, dan memberikan navigasi untuk membatasi keleluasaan pengguna dalam mencari informasi.

Komponen Utama

Ia menyatakan, untuk dapat berfungsi seperti itu, sistem e-learning adaptif memiliki komponen utama antara lain domain model, usermodel, dan adaptationmodel. Elearning yang adaptif terhadap berbagai variasi latar belakang peserta didik menjadi sangat penting untuk diimplementasikan dalam pendidikan jarak jauh utamanya dalam situasi sumber belajar digital sangat berlimpah di dunia maya.

Doktor dari Information Technology Southern Cross University Australia tersebut menuturkan, elearning adaptif terbukti efektif meningkatkan hasil belajar mahasiswa jurusan Pendidikan Teknik Elektronika FTUNY. Dalam hal ini telah dikembangkan e-learning adaptif berbasis gaya belajar, pengetahuan, dan multimedia dengan materi Elektronika Analog untuk satu semester.

”Pada penelitian eksperimen selama sembilan minggu dan melibatkan 67 mahasiswa, diperoleh kesimpulan bahwa hasil belajar mahasiswa pengguna e-learningadaptif terbukti lebih baik dibandingkan dengan nonadaptif. Adaptasi berbasis pengetahuan, gaya belajar dan multimedia dalam e-learning adaptif terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan mahasiswa.

Penelitian lanjutan terbukti pula bahwa hasil belajar menjadi lebih baik apabila gaya belajar dan kesukaan multimedia seseorang secara nyata sesuai dengan apa yang disajikan dalam e-learning adaptif,” papar laki-laki kelahiran Sidoarjo, 5 Februari 1964 itu.

Penelitiannya tersebut berlatar belakang kecilnya Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan. Angka tersebut adalah perbandingan jumlah peserta didik pada jenjang tertentu dengan jumlah penduduk pada kelompok usia yang sesuai. (Agung PW-78)


Sumber: http://www.koran-sindo.com/read/985060/151/pjj-berperan-tingkatkan-apk-1428122193

PJJ Berperan Tingkatkan APK

Koran SINDO
Sabtu, 4 April 2015 − 11:41 WIB

YOGYAKARTA – Banyaknya persentase penduduk yang mengenyam pendidikan menjadi salah satu indikator keberhasilan suatu bangsa dalam pembangunan di bidang pendidikan.

Salah satu cara yang bisa dilakukan ialah dengan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Hal ini diungkapkan oleh Prof Herman Dwi Surjono MSc MT PhD dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Pembelajaran Teknologi Informasi pada Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Pada pidatonya yang berjudul Adaptive and Engaging E-learning: Inovasi Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pendidikan Jarak Jauh, Herman menuturkan angka partisipasi kasar (APK) untuk pendidikan tinggi di Indonesia menurut data BPS masih termasuk kecil yakni 23.06% pada 2013.

“Karena itu, pemerintah melalui Kemendikbud berusaha meningkatkan APK tersebut paling tidak hingga 35% tahun 2015 ini dan 60% pada 2045 nanti. Solusi yang memungkinkan untuk meningkatkan APK adalah penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ),” katanya kemarin.

Herman mengungkapkan, sistem PJJ memiliki fleksibilitas tinggi dan daya jangkau luas melintasi ruang, waktu, budaya, dan sosioekonomi. Sistem ini juga memberikan akses pendidikan bagi siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Saat ini perguruan tinggi yang secara resmi ditunjuk oleh pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan jarak jauh adalah Universitas Terbuka (UT).

“Pemerintah melalui berbagai program di beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta pernah juga menyelenggarakan PJJ yang dikenal dengan Hylite dan PJJ PGSD serta yang terbaru adalah Kuliah Dalam Jaringan Indonesia Terbuka Terpadu.” Pria kelahiran Sidoarjo 5 Februari 1964 tersebut mengatakan, sejak 2006 di UNY telah dikembangkan portal e-learning yang disebut BESMART.

Saat itu BESMART telah digunakan oleh dosen dan mahasiswa secara bertahap untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Meski pemanfaatan BESMART hingga kini masih belum optimal, portal ini telah memperoleh penghargaan dari Depdiknas Republik Indonesia pada 2009 dan 2010 sebagai portal e-learning terbaik tingkat nasional.

“Sistem elearning yang ada sekarang ini umumnya memberikan presentasi materi pembelajaran yang sama untuk setiap pengguna,” papar Herman. (Ratih keswara)


Sumber: http://krjogja.com/read/254709/herman-ds-guru-besar-uny.kr

Herman DS, Guru Besar UNY

Rabu, 1 April 2015 | 12:08 WIB | Dibaca: 454

YOGYA (KRjogja.com) – Prof Herman Dwi Surjono MSc MT PhD dikukuhkan sebagai Buru Besar Bidang Ilmu Pembelajaran Teknologi Informasi Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dalam Rapat Terbuka Senat UNY di Rektorat, Rabu (01/04/2015).

Rapat senat dipimpin Ketua Senat UNY Prof Dr H Achmad Dardiri MHum dan dihadiri Rektor UNY Prof Dr H Rochmat Wahab MPd MA. Lelaki kelahiran Sidoarjo 5 Februari 1964  ini membawakan pidato gubes berjudul
‘Adaptive and Engaging E-Learning ; Inovasi Pemanfaatan Teknologi Informasi Dalam Pendidikan Jarak Jauh’.

Herman DS, panggilan akrab dari Herman Dwi Surjono ini, sebelumnya pernah mengenyam pendidikan S3 di Southern Cross University AU (2006), S2 di Lowa State University USA (1994), S2 di UGM (2000) dan S1 di
IKIP Yogya (1986), yang kini bernama UNY.

Melanjutkan dan meningkatkan kualitas kegiatan Tri Darma untuk kemajuan UNY menuju World Class University, begitulah tekad Herman DS setelah dikukuhkan. Suami dari Dra Chamidah dan ayah dari Taufiq El Rahman ST ini juga bertekad akan terus mendorong kemajuan pendidikan vokasi, sesuai dengan bidang ilmu keahliannya. (Asa)


Sumber: http://uny.ac.id/berita/pengukuhan-guru-besar-pembelajaran-teknologi-informasi.html

PENGUKUHAN GURU BESAR PEMBELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI

Web UNY, Thu, 2015-04-02 05:54

Salah satu indikator keberhasilan suatu bangsa dalam pembangunan di bidang pendidikan terlihat dari seberapa banyak persentase penduduknya yang mengenyam pendidikan. Perbandingan jumlah peserta didik pada jenjang tertentu dengan jumlah penduduk pada kelompok usia yang sesuai disebut dengan Angka Partisipasi Kasar (APK). APK untuk pendidikan tinggi di Indonesia menurut data BPS masih termasuk kecil yakni 23.06 % pada tahun 2013. Pemerintah melalui Kemendikbud berusaha untuk meningkatkan APK tersebut paling tidak hingga 35% di tahun 2015 ini dan 60% pada tahun 2045 nanti. Solusi yang memungkinkan untuk meningkatkan APK adalah penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Sistem PJJ memiliki fleksibilitas tinggi dan daya jangkau luas melintasi ruang, waktu, budaya, dan sosioekonomi.

Sistem ini memberikan akses pendidikan bagi siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Saat ini perguruan tinggi yang secara resmi ditunjuk oleh pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan jarak jauh adalah Universitas Terbuka (UT). Pemerintah melalui berbagai program di beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta pernah juga menyelenggarakan PJJ yang dikenal dengan Hylite dan PJJ PGSD serta yang terbaru adalah Kuliah Dalam Jaringan Indonesia Terbuka Terpadu (PDITT).

Demikian diungkapkan Prof. Herman Dwi Surjono, M.Sc., M.T., Ph.D. dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam Ilmu Pembelajaran Teknologi Informasi pada Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Pidato berjudul “Adaptive and Engaging E-learning: Inovasi Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pendidikan Jarak Jauh” itu dibacakan dihadapan rapat terbuka Senat UNY di Ruang Sidang Utama Rektorat UNY, Rabu, 1 April 2015. Prof. Herman Dwi Surjono, M.Sc., M.T., Ph.D. merupakan guru besar UNY ke-128.

Pria kelahiran Sidoarjo 5 Februari 1964 tersebut mengatakan bahwa sejak tahun 2006, di UNY telah dikembangkan portal e-learning yang disebut BESMART dan mulai saat itu BESMART telah digunakan oleh dosen dan mahasiswa secara bertahap untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Meski pemanfaatannya hingga kini masih belum optimal, BESMART ini telah memperoleh penghargaan dari Depdiknas Republik Indonesia pada tahun 2009 dan 2010 sebagai portal e-learning terbaik tingkat nasional.

“Sistem e-learning yang ada sekarang ini umumnya memberikan presentasi materi pembelajaran yang sama untuk setiap pengguna karena mengasumsikan bahwa karakteristik semua pengguna adalah homogeny,” ungkap Prof. Herman Dwi Surjono, M.Sc., M.T., Ph.D. “Dalam kenyataannya, setiap pengguna mempunyai karakteristik yang berbeda-beda baik dalam hal tingkat kemampuan, gaya belajar, latar belakang maupun yang lainnya.”

Oleh karena itu, menurut warga Perum Jambusari Indah, Sleman, Yogyakarta tersebut, seorang pengguna e-learning ini belum tentu mendapatkan materi pembelajaran yang tepat dan akibatnya efektivitas pembelajaran tidak optimal. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan menggunakan e-learning adaptif karena sistem ini dapat menampilkan halaman web sesuai dengan karakteristik individu, berorientasi pada kelompok pengguna yang lebih luas, dan memberikan navigasi untuk membatasi keleluasaan pengguna dalam mencari informasi.

Untuk dapat berfungsi seperti itu, sistem e-learning adaptif memiliki komponen utama antara lain domain model, user model, dan adaptation model. E-learning yang adaptif terhadap berbagai variasi latar belakang peserta didik menjadi sangat penting untuk diimplementasikan dalam pendidikan jarak jauh utamanya dalam situasi di mana sumber belajar digital sangat berlimpah di dunia maya.

Menurut doktor dari Information Technology Southern Cross University Australia tersebut, e-learning adaptif terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar mahasiswa jurusan Pendidikan Teknik Elektronika FT UNY. “Dalam hal ini telah dikembangkan e-learning adaptif berbasis gaya belajar, pengetahuan, dan multimedia dengan materi Elektronika Analog untuk satu semester” ungkapnya.

Dalam penelitian eksperimen selama 9 minggu dan melibatkan 67 mahasiswa, diperoleh kesimpulan bahwa hasil belajar mahasiswa pengguna e-learning adaptif terbukti lebih baik dibanding non-adaptif. Adaptasi berbasis pengetahuan, gaya belajar dan multimedia dalam e-learning adaptif terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan mahasiswa. Dalam penelitian lanjutan terbukti pula bahwa hasil belajar menjadi lebih baik apabila gaya belajar dan kesukaan multimedia seseorang secara nyata sesuai dengan apa yang disajikan dalam e-learning adaptif. (Dedy)


Sumber: http://uny.ac.id/rubrik-tokoh/prof-herman-dwi-surjono-phd.html

Web UNY, Tue, 2015-04-07

ADAPTIVE AND ENGAGING E-LEARNING:

INOVASI PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENDIDIKAN JARAK JAUH

Pendahuluan

Salah satu indikator keberhasilan suatu bangsa dalam pembangunan di bidang pendidikan terlihat dari seberapa banyak persentase penduduknya yang mengenyam pendidikan. Perbandingan jumlah peserta didik pada jenjang tertentu dengan jumlah penduduk pada kelompok usia yang sesuai disebut dengan Angka Partisipasi Kasar (APK). APK untuk pendidikan tinggi di Indonesia menurut data BPS masih termasuk kecil yakni 23.06 % pada tahun 2013 (BPS, 2015). Pemerintah melalui Kemendikbud berusaha untuk meningkatkan APK tersebut paling tidak hingga 35% di tahun 2015 ini dan 60% pada tahun 2045 nanti (Kemendikbud, 2014).

Beberapa cara yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan APK pendidikan tinggi antara lain peningkatan daya tampung perguruan tinggi, penambahan jumlah PTN, dan pemberian beasiswa bagi calon mahasiswa yang tidak mampu. Usaha peningkatan APK tersebut tentunya tidak mudah karena daya tampung perguruan tinggi sendiri juga terbatas. Jumlah lulusan SMA dan SMK pada tahun 2014 adalah 2.804.664, sedangkan daya tampung perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia hanyalah sekitar 50% dari jumlah lulusan tersebut (Kemendikbud, 2014). Dengan demikian, akumulasi lulusan SMA dan SMK yang tidak tertampung di perguruan tinggi tiap tahun semakin bertambah.

Solusi yang memungkinkan untuk meningkatkan APK adalah penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Sistem PJJ memiliki fleksibilitas tinggi dan daya jangkau luas melintasi ruang, waktu, budaya, dan sosioekonomi. Sistem PJJ memberikan akses pendidikan bagi siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Pemerintah sudah menganggap Sistem PJJ sebagai bagian dari sistem pendidikan di Indonesia melalui berbagai produk hukum yang berlaku.

Saat ini perguruan tinggi yang secara resmi ditunjuk oleh pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan jarak jauh adalah Universitas Terbuka (UT). Pemerintah melalui berbagai program di beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta pernah juga menyelenggarakan PJJ yang dikenal dengan Hylite dan PJJ PGSD serta yang terbaru adalah Kuliah Dalam Jaringan Indonesia Terbuka Terpadu (PDITT).

Sejak tahun 2006, di UNY telah dikembangkan portal e-learning yang disebut BESMART dan mulai saat itu BESMART telah digunakan oleh dosen dan mahasiswa secara bertahap untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Meski pemanfaatannya hingga kini masih belum optimal, BESMART ini telah memperoleh penghargaan dari Depdiknas Republik Indonesia pada tahun 2009 dan 2010 sebagai portal e-learning terbaik tingkat nasional.

Maraknya aplikasi jejaring dan media sosial belakangan ini turut berperan dalam mendorong penerapan konsep PJJ oleh masyarakat. Terlebih lagi dengan merajalelanya perangkat bergerak yang berupa smartphones di berbagai kalangan masyarakat, kini tiap orang dengan mudah dapat mengakses informasi dari internet. Sayangnya, tidak semua informasi tersebut mengandung konten pembelajaran yang bermanfaat. Bahkan, dalam kenyataannya justru konten yang bersifat hiburanlah yang sangat disukai oleh masyarakat. E-learning masih belum mempunyai daya tarik bagi pengguna pada umumnya dibanding aplikasi berbasis web lainnya seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain. Ini merupakan salah satu tantangan yang dihadapi para pengembang PJJ untuk membuat engaging e-learning, yakni e-learning yang menarik dan memikat pengguna untuk selalu datang.

Umumnya sistem e-learning yang ada sekarang hanya mampu menyajikan bahan ajar yang sama untuk semua pengguna tanpa mempertimbangkan karakteristik mereka. Mahasiswa dengan gaya belajar dan pengetahuan awal yang berbeda-beda tidak bisa belajar secara optimal melalui e-learning tersebut karena materi yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhannya. Dengan demikian mereka memerlukan e-learning yang bersifat adaptif yaitu suatu e-learning yang bisa menyesuaikan dengan latar belakang pengguna.

Dalam naskah pidato ini akan dibahas bagaimana pemanfaatan teknologi informasi secara inovatif dalam pendidikan jarak jauh melalui pengembangan sistem e-learning yang adaptif dan engaging. Dengan e-learning ini diharapkan dapat mengatasi persoalan dan tantangan yang dihadapi oleh perguruan tinggi dalam penyelenggaraan PJJ yang berkualitas. Selanjutnya melalui penyelenggaraan PJJ yang baik diharapkan dapat meningkatkan perluasan dan pemerataan akses pendidikan secara nasional serta meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan.

Sistem Pendidikan Jarak Jauh (PJJ)

Dalam PP No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan pasal 118 dinyatakan bahwa Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) bertujuan untuk meningkatkan perluasan dan pemerataan akses pendidikan, serta meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan. Oleh karena itu, karakteristik Sistem PJJ sebagaimana dijelaskan dalam pasal 3 dari Permendikbud No 109 Tahun 2013 bersifat terbuka, mandiri, tuntas, terpadu, serta menggunakan teknologi informasi dan teknologi pendidikan. Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) adalah proses pembelajaran yang terencana, terdapat keterpisahan antara pendidik dan peserta didik, memerlukan rancangan instruksional khusus, menggunakan teknologi untuk berkomunikasi, dan memerlukan administrasi khusus (Moore & Kearsley, 2012). Teknologi yang digunakan di sini akan terus berkembang sejalan dengan perkembangan zaman, mulai dari cetak, audio, video, dan kini web. Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, saat ini sistem PJJ diterapkan secara luas di berbagai negara. Salah satu bentuk PJJ yang sangat populer di dunia adalah Massive Open Online Course (MOOC).

Dua kata kunci dalam sistem PJJ adalah keterpisahan dan teknologi. Sebagai akibat adanya keterpisahan itu, maka diperlukan teknologi agar semua pihak dapat berinteraksi. Lebih dari itu, pendidik perlu merancang bahan ajar secara khusus agar sesuai dengan teknologi yang digunakan. Kata “jauh” yang berarti keterpisahan tersebut pada umumnya menunjuk pada keterpisahan secara fisik dimana terdapat jarak antara pendidik dan peserta didik. Hal ini untuk mengontradiksikan dengan pembelajaran secara tatap muka (face-to-face instruction) di mana pendidik dan peserta didik berada dalam satu kelas atau ruang kuliah. Akan tetapi, kata keterpisahan bisa bermakna lebih dari itu. Heydenrych & Prinsloo (2010) mengemukakan bahwa istilah “jauh” dalam PJJ mengandung makna multidimensi, yang dapat berarti keterpisahan dalam hal waktu, sosial, ekonomi, pedagogi, epistemologi, dan komunikasi.

Pemaknaan istilah keterpisahan dalam hal lain misalnya landasan pedagogi dan epistemologi akan memberikan dampak pada penentuan strategi pengajaran yang efektif untuk PJJ. Dalam hal keterpisahan waktu, mode komunikasi antara pendidik dan peserta didik dalam PJJ ada dua macam, yakni synchronous dan asynchronous. Komunikasi synchronous adalah komunikasi yang dilakukan secara bersamaan atau serentak, sedangkan asynchronous dilakukan secara tidak bersamaan atau tidak serentak.

Seberapa banyak proporsi online dibanding dengan tatap muka menentukan jenis pembelajaran yang berlangsung. Allen & Seaman (2010) membagi jenis pembelajaran online menjadi empat klasifikasi tergantung banyaknya proporsi online dibanding dengan tatap muka. Klasifikasi pertama adalah pembelajaran tradisional, yakni pembelajaran di mana proporsi onlinenya adalah 0% atau tanpa aktivitas online. Klasifikasi kedua adalah pembelajaran yang difasilitasi internet yakni pembelajaran di mana proporsi onlinenya adalah antara 1 % s.d. 29 %.

Klasifikasi ketiga adalah blended learning yakni pembelajaran dimana proporsi onlinenya adalah antara 30 % s.d. 79%. Klasifikasi keempat adalah pembelajaran online dimana proporsi onlinenya adalah 80 % s.d. 100%. Dalam pelaksanaan pendidikan jarak jauh, klasifikasi ini sering digunakan sebagai acuan. Perkembangan PJJ dapat dilihat melalui sejarah yang panjang mulai dari generasi pertama yang disebut dengan PJJ koresponden hingga generasi kelima di era internet sekarang ini (Moore & Kearsley, 2012; Taylor, 2001). PJJ generasi pertama dikenal ketika tahun 1880-an di USA orang mulai belajar dari guru yang tempatnya jauh dengan mengirimkan bahan ajar yang berupa teks melalui jasa pos. Generasi kedua muncul ketika ditemukan radio dan televisi. Generasi ketiga dimulai dengan cara baru dalam mengorganisasikan pendidikan melalui sistem universitas terbuka, dalam hal ini mulai didirikan Open University di Inggris. Generasi keempat ditandai dengan dimanfaatkannya teknologi teleconference audio pada tahun 1980-an. Saat ini PJJ generasi kelima sedang kita alami dimana teknologi internet menjadi tulang punggungnya.

Di Indonesia, perjalanan panjang penerapan PJJ telah dimulai sejak tahun 1950 ketika Balai Kursus Tertulis Pendidikan Guru memberikan layanan bermacam-macam kursus tertulis bagi guru atau calon guru melalui jasa pos atau jasa pengiriman lainnya (Hasan, 2007). Pada tahun 1952 pendidikan jarak jauh dalam bentuk siaran radio pendidikan mulai diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia dan kemudian diikuti pula oleh radio swasta lainnya. Universitas Terbuka (UT) mulai mempelopori penyelenggaraan pendidikan jarak jauh sejak tahun 1984. Direktorat Pendidikan Tinggi bekerja sama dengan SEAMOLEC pada tahun 2007 meluncurkan program pilot untuk pendidikan jarak jauh bagi guru-guru dalam jabatan untuk memperoleh jenjang Sarjana. Program pilot yang diselenggarakan oleh 23 LPTK di seluruh Indonesia ini disebut dengan Hylite (Hybrid Learning for Indonesian Teachers) dan sepenuhnya memanfaatkan teknologi informasi (Pannen, 2007). Seiiring dengan program itu, Dikti di tahun 2007 melaksanakan pula program PJJ PGSD. Pemerintah RI terus berupaya menerapkan pendidikan jarak jauh sehingga pada Oktober 2014 Wakil Presiden RI meresmikan program Kuliah Dalam Jaringan Indonesia Terbuka Terpadu (PDITT) (Tempo, 15 Oktober 2014). Program PDITT ini masih bersifat rintisan di mana enam perguruan tinggi di Indonesia menawarkan mata kuliah secara online yang tentunya di masa mendatang akan diikuti oleh perguruan tinggi lain.

E-learning dan Blended Learning dalam PJJ

Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat dewasa ini mendorong berbagai lembaga pendidikan menyelenggarakan PJJ. Seiring dengan itu, kini dijumpai banyak istilah yang maknanya hampir sama dengan pendidikan jarak jauh atau distance education, yakni: e-learning, online learning, virtual learning, distance learning, web-based learning (Conrad, 2006).

Distance Education (DE) memang sudah ada sejak dua abad yang lalu di mana sejak waktu itu banyak perubahan yang signifikan dalam hal proses pembelajaran, komunikasi antar-pendidik dan peserta didik serta pengiriman bahan ajar kepada peserta didik (Spector, Merrill, Elen, & Bishop, 2014). DE pun berkembang melalui beberapa tahapan sesuai dengan perkembangan teknologi. Istilah e-learning menunjuk pada pengiriman materi pembelajaran kepada siapa pun, di mana pun, dan kapan pun dengan menggunakan teknologi informasi dalam lingkungan pembelajaran yang terbuka, fleksibel, dan terdistribusi (Khan, 2005). Lebih jauh, istilah pembelajaran terbuka dan fleksibel merujuk pada kebebasan peserta didik dalam hal waktu, tempat, kecepatan, isi materi, gaya belajar, jenis evaluasi, belajar kolaborasi atau mandiri.

Kini e-learning menjadi tulang punggung penyelenggaraan PJJ di dunia. Bahkan, e-learning tidak hanya digunakan oleh perguruan tinggi yang secara formal melayani PJJ seperti UT, tetapi juga digunakan oleh hampir semua perguruan tinggi lainnya. Penggunaan e-learning di perguruan tinggi ini tidak secara eksklusif terpisah dengan pembelajaran tatap muka, akan tetapi keduanya dipakai secara bersama-sama untuk mendapatkan pembelajaran yang optimal. Istilah kombinasi pembelajaran online dengan pembelajaran tatap muka ini disebut dengan blended learning. Blended learning ini merupakan pembelajaran yang menggabungkan aspek-aspek terbaik dari pembelajaran tatap muka dengan keunggulan pembelajaran online dan diprediksi menjadi model pembelajaran di masa depan (Yen & Lee, 2011).

Meski secara teoretis konsep PJJ dan pembelajaran tatap muka sudah jelas perbedaanya, dengan maraknya penyelenggaraan blended learning di berbagai perguruan tinggi dan penerapan mode komunikasi synchronous dan asynchronous kini dalam kenyataannya batas keduanya menjadi kabur. Saat ini perguruan tinggi mempunyai portal e-learning yang berisi berbagai mata kuliah untuk memperkaya kegiatan perkuliahan tatap muka. Beberapa dosen pengampu mata kuliah juga menerapkan komunikasi synchronous berupa video conference pada saat mereka tidak bisa melakukan perkuliahan tatap muka. Sebaliknya, pada perguruan tinggi penyelenggara PJJ secara formal, pelaksanaan perkuliahan online untuk sebagian besar mata kuliah juga memerlukan tutorial atau ujian berupa tatap muka. Jadi, blended learning dengan komunikasi synchronous dan asynchronous diterapkan baik pada penyelenggaraan perkuliahan konvensional (klasikal) maupun pada pendidikan jarak jauh.

Blended learning merupakan model pembelajaran yang cocok untuk kondisi perguruan tinggi di Indonesia. Implementasi blended learning di UNY terbukti efektif untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas pembelajaran. Di UNY, dosen didorong untuk melaksanakan bended learning dalam kegiatan perkuliahan dengan memanfatkan e-learning di BESMART. BESMART juga dilengkapi dengan fasilitas video conference berbasis web browser sehingga dosen dapat melakukan komunikasi synchronous dengan para mahasiswa melalui laptop masing-masing. Komunikasi dosen dan mahasiswa dapat dilakukan juga melalui Facebook sehingga informasi bisa cepat sampai tujuan karena hampir semua mahasiswa mempunyai akun Facebook. Kombinasi perkuliahan dan praktikum secara tatap muka dengan e-learning secara online serta digabung dengan Facebook akan menjamin terlaksananya pendidikan karakter untuk para mahasiswa karena dosen masih bisa memberi contoh perilaku yang baik dalam kelas dan menjalin hubungan sosial. Di samping itu, beberapa mata kuliah yang bersifat praktik tentunya tidak bisa sepenuhnya menggantungkan pada pembelajaran online. Untuk menguasai kompetensi psikomotorik, mahasiswa harus tetap melakukan aktivitas praktikum secara nyata, bukan melalui simulasi di komputer.

 

Inovasi Pemanfaatan TI dalam PJJ

Sistem PJJ telah menunjukkan perkembangan yang pesat selama beberapa tahun terakhir ini karena keunikan fiturnya yang sangat user-friendly (Das, Kumari & Saini, 2009). Dalam sistem ini pengguna bebas memilih mata kuliah, waktu, dan kecepatan sesuai dengan kebutuhan tiap individu sementara mereka berada pada tempat yang jauh dari lembaga penyelenggara PJJ. Namun, sampai saat ini masih saja dijumpai permasalahan dalam sistem dan penyelenggaraan PJJ yakni yang berkaitan dengan kualitas, pemerataan akses, efesiensi, dan efektivitas.

Agar sistem dan penyelenggaraan PJJ menjadi semakin baik perlu dilakukan inovasi. Inovasi bisa dilakukan ter