DESKRIPSI DIRI

Author: masmar
12, 02, 10

 

 

INSTRUMEN SERTIFIKASI DOSEN

Deskripsi Diri

 

 

IDENTITAS DOSEN

 

1. Nama Dosen yang Diusulkan

:

Drs. Margono, M.Pd.
2. NIP/NIK/NRP

:

19610830 198601 1 001
3. Perguruan Tinggi Pengusul

:

Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
4. Nomor Peserta

:

091103817610164
5. Rumpun/Bidang Ilmu yang Disertifikasi

:

Sejarah Olahraga

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

2009


BAGIAN I

 

Deskripsikan dengan jelas apa saja yang telah Anda lakukan yang dapat dianggap sebagai prestasi dan/atau kontribusi bagi pelaksanaan dan pengembangan Tridharma Perguruan Tinggi, yang berkenaan dengan hal-hal berikut. Deskripsi ini perlu dilengkapi dengan contoh nyata yang Saudara alami/lakukan dalam kehidupan profesional sebagai dosen.

 

 

 

  1. A.   Pengembangan Kualitas Pembelajaran (usaha dan dampak perubahan)

 

Jelaskan usaha-usaha Saudara dalam usaha meningkatkan kualitas pembelajaran dan bagaimana dampaknya! Berikan contoh nyata yang Saudara alami dalam kehidupan profesional sebagai dosen

 

Deskripsi: 

 

Mata kuliah teori yang sejak awal saya ampu adalah Sejarah Olahraga. Sejarah bermakna peristiwa masa lampau yang benar-benar terjadi, dan sangat biasa disajikan secara kronologis. Bermula dari peristiwa yang sangat lampau dan semakin ke depan, ke masa yang semakin kini. Pada masa awal sebagai dosen, pada masa awal menjadi pengampu mata kuliah Sejarah Olahraga, maka metode ceramah sangat saya kedepankan. Bak seorang pendongeng profesional, saya hapalkan semua nama orang, semua tempat, saya ceritakan alur kisah dari awal hingga akhir, hingga jam kuliah berakhir. Saya, pada masa itu sangat bangga, karena merasa menjadi pencerita yang handal, yang mempesona para mahasiswa. Saya merasa hebat, karena tidak ada bagian kisah yang tercecer. Tibalah masa ujian. Hasil atau nilai yang diperoleh para mahasiswa, jauh dari harapan. Nilai A relatif sedikit diraih mahasiswa. Apa yang salah??

Ternyata para mahasiswa saat kuliah saya berikan, menjadi pendengar, tetapi sebagian besar tidak dapat memahami dengan baik. Hal ini terbukti, hasil akhir yang tidak sesuai dengan harapan saya.

Maka kiranya perlu langkah-langkah nyata untuk meningkatkan pemahaman para mahasiswa, yang akan berdampak pada peningkatan nilai akhir.

Upaya tersebut adalah pembuatan buku pegangan kuliah dan pemanfaatan media (laptop dan LCD). Dua langkah tersebut saya lakukan, dalam waktu hampir bersamaan. Artinya saat saya mulai menyusun buku, maka LCD juga sudah saya manfaatkan.

Dalam perkuliahan pun ada perubahan. Sebelumnya saya mendominasi kelas, maka sekarang para mahasiswa saya paksa untuk aktif di kelas. Ada diskusi kelompok, ada presentasi secara periodik, sehingga memaksa para mahasiswa senantiasa siap.

Strategi perkuliahan pun berkembang. Yang semula dominan kronologis, sekarang lebih bervariasi, misalnya dengan strategi tematik saat ada event penting diselenggarakan. Juga penggunaan strategi atau model regresif, maupun strategi garis perkembangan khusus. Berbagai macam strategi saya gunakan sesuai dengan keperluan.

Dampaknya adalah, para mahasiswa menjadi lebih aktif di kelas. Mahasiswa memiliki bekal saat di dalam ruang kelas, karena sudah diberikan kewajiban membaca buku pada bab yang akan dibicarakan. Ada plus lagi, mahasiswa ‘terpaksa’ harus belajar menulis (berupa resume) apa yang sudah dipelajari. Khusus untuk tugas membuat resume, hanya pada topik tertentu saja.     

Kelas menjadi lebih hidup, karena terjadi dialog yang positif. Mahasiswa seringkali sudah dapat memecahkan masalah yang didiskusikan di kelas. Dengan kondisi kelas yang semacam ini, maka saya selaku dosen, juga harus senantiasa meningkatkan atau memperkaya pengetahuan. Tentunya hal ini karena mudahnya mengakses pengetahuan lewat internet. Hasil akhir setelah ujian semester, banyak mahasiswa yang mampu meraih nilai A. Hal ini bermakna, mahasiswa semakin memiliki pemahaman yang baik. Harapan lebih jauh, mahasiswa tidak akan melupakan hakekat belajar sejarah, yaitu menjadi insan yang ‘wise’ atau bijaksana.

 

 

 

 

  1. B.   Pengembangan Keilmuan/Keahlian Pokok (produktivitas dan makna karya ilmiah)

 

Jelaskan produk karya-karya ilmiah yang telah Saudara hasilkan, baik dalam bentuk buku, penelitian, jurnal ilmiah, makalah yang dipresentasikan (dalam forum ilmiah), hak paten, hak cipta, artikel dalam media masa dan bagaimana keterkaitannya (makna karya) dengan pengembangan keilmuan Saudara! Berikan judul karya ilmiah Saudara dan yang menerbitkan/mempublikasikannya!

 

Deskripsi:

 

Tahun 2000 saya lulus S-2 program studi Pendidikan Olahraga. Pilihan prodi ini sangat tepat sesuai dengan S-1 saya di prodi Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, dan sekarang di Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UNY. Pada saat kuliah dulu, maka membaca banyak menjadi wajib, dan menulis banyak juga menjadi wajib. Kuliah menjadi seperti langkah me-recharge aktivitas yang memang saya senangi, membaca dan menulis. Dengan menulis, saya berkeyakinan sudah ikut sedikit mencerdaskan masyarakat pembaca.  

Sejak tahun-tahun awal menjadi dosen, tahun 1980-an, saya sudah mulai menulis. Ada majalah ilmiah populer terbitan IKIP Yogyakarta (sekarang UNY), namanya “Warta IKIP Yogyakarta” yang menjadi langganan tulisan saya. Beberapa tahun saya sempat dipilih menjadi salah seorang anggota dewan redaksi.

Tahun 1987, tulisan saya berjudul “Olahraga Lari sebagai Alternatif Mencapai Tingkat Kesegaran Jasmani yang Memadai” dimuat di Jurnal Ilmiah “Cakrawala Pendidikan” terbitan IKIP Yogyakarta. Jurnal ini terbit setiap catur wulan. Setelah dimuat yang pertama tersebut, saya hampir setiap tahun menulis di Jurnal ini. Pada tahun 2000-an, jurnal ini terakreditasi, dan saya menjadi salah seorang anggota dewan penyunting, selama beberapa tahun.

Pada tahun 1990-an (khususnya tahun 1991-1993), saya aktif menulis di majalah “Media KORPRI” diterbikan Pemda propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang terbit setiap catur wulan. Tulisan pertama di media ini adalah “Self Medication: Suatu Tindakan yang Perlu Kehati-hatian.”

Tahun 1995, fakultas mulai menerbitkan jurnal dengan nama “Olahraga”. Mulai tahun tersebut saya sudah menjadi salah seorang anggota dewan penyunting. Sejak tahun 2007, saya dipercaya menjadi sekretaris penyunting. Di awal kehidupan jurnal ini, sebagian besar tulisan dihasilkan oleh para penyunting, yang nota bene dosen FIK UNY. Sekarang sudah banyak penulis dari luar FIK UNY yang menyumbangkan karyanya. Tulisan saya yang pertama di jurnal ini, pada tahun 1995 berjudul “Olympiade: Pekan Olahraga Multi Event Terbesar Bermula Dari Satu Nomor.” Setelah tahun tersebut, paling tidak satu atau dua tahun sekali saya tetap mengisi.

Tahun 2005, jurusan PKR FIK UNY, tempat saya berada, menerbitkan jurnal ilmiah bernama “MEDIKORA”. Saya menjadi salah seorang anggota dewan penyunting. Tulisan saya yang pertama di media ini berjudul “Lari Gawang: Sebuah Kajian Teknik.”

Tahun yang sama, jurusan POR FIK UNY juga menerbitkan jurnal ilmiah dengan nama “Jurnal Pendidikan Jasmani Indonsia”. Tulisan pertama saya di media ini berupa tinjauan buku dengan judul “Tinjauan Buku: Pendidikan Jasmani untuk Kehidupan.””

Di samping itu saya juga pernah menulis beberapa kali di Mingguan “Minggu Pagi” yang merupakan group harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta. Tulisan pertama saya dimuat tahun 1990-an, berjudul “Biarkan Anak Anda Berlari, Melompat, dan Memanjat.”

Untuk buku yang sudah saya tulis, terutama adalah buku pegangan mahasiswa untuk mata kuliah yang hingga saat ini masih saya ampu, yaitu: Sejarah Olahraga, Azas dan Landasan Pendidikan Jasmani, Dasar-dasar Atletik, serta Filsafat Olahraga yang masih dalam tahap penyempurnaan. Khusus buku Filsafat Olahraga, ditulis bersama-sama oleh sebuah tim. Buku terakhir yang baru saja saya selesaikan (bersama dua rekan sejawat) adalah buku pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan untuk tingkat SD (jilid 1-6) dan untuk SMP (jilid 1-3). Di samping itu ada dua buku (dikerjakan secara tim) yang dibiayai oleh Ditjen Pemuda dan Olahaga serta Kemenegpora, yaitu Pedoman Festival Olahraga Anak, Pedoman Penggunaan Peralatan Olahraga Anak, serta Pedoman Pembuatan Peralatan Olahraga Anak. 

Beberapa penelitian yang pernah saya lakukan, berkaitan dengan masalah fair play (baik dalam hal pemahaman guru maupun penerapannya di berbagai tingkat pendidikan SD-SMA), fungsi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Penjasorkes, strategi dan metode pembelajaran mata kuliah tertentu, kesegaran jasmani, gizi. Penelitian tersebut dibiayai oleh UNY. Pernah menjadi anggota tim dalam penelitian pengembangan peralatan olahraga anak, yang dibiayai oleh Kemenegpora. Penelitian yang paling akhir, Juni 2009, membantu pengambilan data (dengan observasi dan wawancara) tentang dampak FIPOB di Sumatera Utara. FIPOB adalah Festival Internasional Pemuda Olahraga Bahari. Penelitian ini dibiayai oleh Kemenegpora.

Beberapa makalah yang saya nilai penting untuk disampaikan yaitu saat konferensi internasional di Bandung dan Yogyakarta. Judulnya masing-masing adalah: “Comic as an Effective Media for Teaching Fair Play among Children” dan “The Ladder-Snake Game and Physical Education.” Kedua makalah tersebut merupakan makalah pendamping dalam International Conference on Sport and Sustainable Development, tahun 2003 di Yogyakarta; serta The Third International Conference of Asian Society for Physical Education and Sport (ASPES).  

Di samping karya dalam bentuk tulisan, saya dan beberapa rekan sejawat, juga pernah membuat rekaman dalam bentuk VCD, yaitu: Cara Pelaksanaan Festival Olahraga Anak, Cara Pembuatan Peralatan Olahraga Anak, serta Cara Penggunaan Peralatan Olahraga Anak. Recording VCD ini dibiayai oleh Kemenegpora. Berbagai VCD tersebut didistribusikan, bersama dengan buku, kepada para guru Penjasorkes SD saat diadakan sosialisasi (sesuai dengan topik) di berbagai daerah.

 

Berbagai hasil tulisan tersebut, baik berupa artikel, buku, penelitian, makalah senantiasa mendapat tanggapan dari berbagai pihak, terutama rekan se profesi. Hal ini akan memacu diri saya untuk senantiasa berusaha tidak ketinggalan informasi. Dan, senantiasa membuka diri untuk diajak berdialog berkaitan dengan bidang keilmuan yang ditulis. Dan, tentunya akan memperkaya khasanah keilmuan serta sangat mendukung dalam melaksanakan tugas perkuliahan.

  

 

 

 

  1. C.   Peningkatan Kualitas Manajemen/Pengelolaan Institusi (pengelolaan, implementasi kebijakan, dan dukungan institusi)

 

Jelaskan upaya-upaya keterlibatan Saudara dalam pengembangan manajemen (pengelolaan) pada unit kerja di perguruan tinggi Saudara, bagaimana implementasi dan dukungan institusi Sdr! Berikan contoh nyata yang Saudara lakukan dalam kehidupan profesional sebagai dosen!

 

Deskripsi:

Di tingkat universitas, saya sebagai salah satu anggota tim inti KKN Masyarakat senantiasa harus melakukan berbagai upaya, baik keluar maupun ke dalam. Upaya keluar misalnya adalah menjaga agar ikatan yang baik dengan pihak Desa, Kecamatan, atau Kabupaten/Kota tetap terjaga dengan harmonis. Mengapa? Supaya penerjunan mahasiswa KKN dapat berjalan dengan baik sesuai rencana, dan dapat diterima secara formal, yang nantinya akan berdampak pada pelaksanaan KKN di masyarakat. Upaya ke dalam, senantiasa memperbaiki administrasi agar pelaksanaan KKN di masyarakat berlangsung sesuai dengan rencana. Secara periodik, tim KKN mengadakan kunjungan/monitoring di lokasi KKN. Selanjutnya mengadakan evaluasi untuk perbaikan KKN yang akan datang. Evaluasi dilakukan secara internal dan eksternal. Evaluasi eksternal dengan mengundang pihak yang ditempati KKN, yaitu Pemerintah Desa, Kecamatan, serta Kabupaten atau Kota.

Tim Inti KKN harus mampu bertindak mewakili lembaga, yaitu Universitas, dalam praktek KKN di masyarakat. Misalnya saat KKN Mandiri dilaksanakan di Kabupaten Banyumas, Tim Inti KKN mempersiapkan dari awal hingga akhir. Persiapan awal, yaitu pembekalan (tempat, waktu, pembicara, dsb), sampai penentuan lokasi, penerjunan, kunjungan DPL KKN, pemantauan atau monitoring tim inti KKN. Sedangkan yang akhir adalah penarikan,  ujian KKN, serta penilaian. Semua hal tersebut harus dipersiapkan oleh tim inti KKN.

Di tingkat fakultas, saya sebagai sekretaris jurnal ilmiah “Olahraga” merupakan ujung tombak untuk keberlangsungan penerbitan. Langkah yang selama ini saya lakukan adalah menjaga tetap terjaga komunikasi yang baik dengan berbagai pihak yang merupakan partner. Partner dalam hal ini adalah sebagai bisa sejawat/seprofesi yang menjadi penulis artikel, penerbit atau percetakan, juga rekan-rekan di dewan penyunting. Penulis artikel berasal dari berbagai lembaga, baik perguruan tinggi maupun sekolah-sekolah.

Di tingkat jurusan, saya menjadi salah satu Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) PKL. PKL atau Praktek Kerja Lapangan merupakan mata kuliah dimana mahasiswa harus berhubungan dengan pihak luar, sesuai dengan bidang konsentrasi yang dipilih. Tempat PKL yang selama ini digunakan adalah Fitness centre, hotel, SLB, sekolah anak berkebutuhan khusus. Saya harus ikut berusaha untuk tetap menjaga hubungan baik dengan pihak yang ditempati, agar kerja sama dapat berlangsung selama waktu yang dibutuhkan. Di samping itu dimungkinkan ada kerja sama dalam berbagai aktivitas yang berkaitan dengan lembaga.   

 

 

 

  1. D.   Peningkatan Kualitas Kegiatan Mahasiswa (perubahan pengelolaan, implementasi kebijakan, dan dukungan institusi)

 

 

 

Jelaskan upaya-upaya keterlibatan Saudara dalam kegiatan kemahasiswaan, bagaimana implementasinya dan dukungan institusi Sdr! Berikan contoh nyata keterlibatan Saudara dalam kehidupan profesional sebagai dosen.

 

 

Deskripsi:

 

Saya sering melibatkan mahasiswa dalam kegiatan PPM, penelitian, kejuaraan, atau kegiatan lain. Dalam kegiatan PPM yang melibatkan banyak peserta, saya (atau tepatnya kami, tim) selalu melibatkan mahasiswa untuk membantu. Bentuk bantuan dari mahasiswa berupa: sebagai panitia yang mempersiapkan segala keperluan, menjadi moderator, membantu sebagai tutor dalam hal peragaan. Dalam kegiatan penelitian, para mahasiswa dapat membantu dalam hal penyebaran angket, rekapitulasi hasil, dan yang berhubungan dengan administrasi. Dalam kegiatan kejuaraan (cabang Atletik), para mahasiswa dapat membantu menjadi panitia, juri. Mahasiswa dapat membantu kejuaraan Atletik di berbagai tingkat, dari antar siswa SD hingga SMA, bahkan antar mahasiswa. Pada waktu stadion Atletik UNY dijadikan ajang kejuaraan Atletik Yunior, banyak mahasiswa ditugaskan menjadi panitia. Pada waktu saya dipercaya untuk mengkoordinir rekaman VCD tentang penggunaan peralatan olahraga anak dan pembuatan peralatan olahraga anak, saya melibatkan banyak mahasiswa untuk ikut berperan serta. Bentuk bantuan para mahasiswa adalah menjadi model, memberi contoh atau demonstrasi gerakan, membimbing anak-anak SD yang menjadi model, mengatur susunan alat-perlengkapan yang diperlukan, dan sebagainya.   

Saya sebagai dosen pembimbing akademik senantiasa membuka diri untuk menerima permasalahan yang dialami mahasiswa. Waktu bimbingan dapat saya katakan tidak terbatas. Dimana pun dan kapan pun mahasiswa dapat mengajak dialog. Tentunya selama saya sendiri tidak ada aktivitas yang harus dilakukan segera. Bahkan, dialog lewat media seperti hp atau e-mail pun dapat mereka lakukan. Permasalahan yang muncul bisa tak terbatas. Kedekatan hubungan yang saya bangun dengan para mahasiswa, harapannya memberikan dampak yang positif untuk kelancaran studi mereka, dan, nilai plus yang lain.  

Sebagai pembimbing skripsi, hubungan yang saya bangun tidak beda dengan sebagai pembimbing akademik. Hanya, memang seringkali lebih spesifik ke arah penyelesaian penyusunan skripsi. Pemberian motivasi untuk terus berusaha dan maju, dalam kedua hal tersebut sama-sama diperlukan. Penekanan pada penegakan kejujuran akademik sangat saya tekankan pada para mahasiswa. Hal ini mengingat pula jiwa dari olahraga ialah penegakan fair play, yang harus dimulai sejak dini.

 

 

 

 

  1. E.    Peningkatan Pengabdian kepada Masyarakat (kegiatan dan implementasi perubahan, serta dukungan masyarakat)

 

 

Jelaskan upaya-upaya keterlibatan Saudara dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, bagaimana implementasi, dan dukungan masyarakat! Berikan contoh nyata keterlibatan Saudara dalam kehidupan profesional sebagai dosen.

 

Deskripsi:

 

Saya bersama tim, mengadakan kegiatan pengabdian pada masyarakat tentang bolabasket mini kepada guru penjasorkes SD se-kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, D I Yogyakarta. Jumlah peserta lebih dari 60 orang, dilakukan selama 3 hari. Para peserta tidak dipungut biaya sepeser pun. Biaya kegiatan dari dana LPM UNY.

Saya bersama tim, mengadakan kejuaraan atletik siswa SMP se-kecamatan Naggulan, Kabupaten Kulonprogo.

Saya dan teman-teman sejawat beberapa kali mengadakan Kejuaraan Trilomba Atletik antar siswa SD tingkat kecamatan. Nomor yang dilombakan, yaitu lari 60 meter, lompat jauh, dan tolak peluru. Dalam pelaksanaannya, petugas pertandingan dan juri adalah para guru sendiri. Para guru diberi pelatihan terlebih dahulu supaya mereka terampil. Isi pelatihan berupa hal-hal administrasi maupun cara penjurian.

Dengan diberikan pelatihan terlebih dahulu, para guru penjasorkes nantinya akan memiliki bekal menyelenggarakan sendiri apabila diperlukan.

Saya beberapa kali menjadi koordinator bersama beberapa teman sejawat, dalam acara Lomba Gerak Jalan dalam rangka musim giling PG Madukismo Yogyakarta. Lomba dilakukan secara beregu, melibatkan seluruh latihan masyarakat umum dan lembaga. Jumlah peserta lomba seringkali lebih dari 100 regu. Lomba biasanya menempuh jarak antara 5 – 7 km, start dan finish di pabrik gula Madukismo. Peserta dibedakan antara tim putra dan putri.

Saya beberapa kali menjadi tutor untuk kegiatan pengenalan Festival Olahraga Anak SD, di beberapa kabupaten.

Saya bebeapa kali menjadi tutor dalam kegiatan Pelatihan Cara Pembuatan Peralatan Olahraga Anak dan  Cara Penggunaan Peralatan Olahraga Anak. Kegiatan semacam ini dilakukan selama beberapa hari pada waktu-waktu guru agak senggang dari kegiatan rutin mengajar. Pelatihan ini menurut saya cukup penting. Mengapa? Karena keterbatasan dana di sekolah untuk membeli peralatan olahraga anak, yang harganya relatif mahal. Maka, sedikit kreatif dan mau berusaha akan dapat meningkatkan mutu pembelajaran penjasor di sekolah. 

 

 


BAGIAN II

 

Sebagai anggota komunitas sosial, berikan deskripsi diri Anda sendiri pada aspek-aspek berikut.

 

 

 

  1. F.    Karakter pribadi dalam berbagai situasi dan kondisi (kendali diri, kesabaran, ekspresi perasaan, rasionalitas)

 

 

Jelaskan karakter/kepribadian Saudara yang menggambarkan kemampuan pengendalian diri, kesabaran, empati, dan rasionalitas pada berbagai situasi! Berikan contoh nyata yang Saudara alami dalam kehidupan profesional sebagai dosen!

 

 

Deskripsi:

 

Bapak saya (almarhum), seorang pekerja tangguh, tanpa kenal mengeluh. Sosok yang tidak pernah marah untuk hal-hal sepele. Ibu saya, seorang yang sangat bersahaja, tidak mengenal pemakaian lipstick dari muda hingga sekarang.

Pesan beliau berdua sangat simpel, “Yen wis oleh gawean, sing temen lan jujur.” Sebuah pesan sederhana, dari orangtua yang sederhana. Maka, saya tidak akan menjabarkan dengan panjang lebar. Artinya, ya simpel juga, bekerja harus dilandasi dengan kesungguhan dan kejujuran.

Saya sebagai anak ketiga dari enam bersaudara, dari keluarga sederhana. Maka mudah ditangkap makna keseharian hidup waktu itu, selalu antri. Antri untuk mandi, antri untuk makan, antri untuk cuci piring, antri untuk seterika pakaian, antri untuk yang lain-lain. Bersedia antri itu artinya belajar kesabaran dan mengendalikan diri.

Cara berpikir rasional secara simpel pun telah ditanamkan sejak awal. Kalau bangun kesiangan, maka mandi paling akhir, atau bahkan tidak mandi, sarapan tergesa-gesa, atau tidak sarapan, sekolah terlambat.

Menjadi dosen di FIK, ternyata dituntut untuk memiliki kesabaran, kemampuan mengendalikan diri, dan tentu saja berpikir rasional. Mahasiswa yang jago olahraga atau olahragawan seringkali ‘nakal’ atau ‘ngetes’ dosennya. Nah, disinilah ilmu sabar dan kemampuan mengendalikan diri serta rasional itu sangat berguna. Selama menjadi dosen, baik saat mengajar teori di kelas maupun praktek di lapangan, saya tidak pernah marah sampai tidak terkendali.

Saya pernah juga marah di hadapan mahasiswa atau para mahasiswa yang sangat bandel atau sangat mengganggu perkuliahan, tetapi masih di bawah kendali. Kemarahan saya ekspresikan, masih dalam kesadaran utuh. 

Pernah suatu ketika, memiliki kelas yang luar biasa susah untuk diatur dalam perkuliahan praktek Atletik. Ini terjadi pada tahun 2001. Artinya saat itu saya sudah menjadi dosen memasuki tahun ke-15. Lapangan dan alat-perlengkapan sudah saya siapkan, para mahasiswa saya minta siap. Tetapi apa yang terjadi? Mereka tetap kacau, semaunya sendiri. Perlu diketahui, ini pertemuan yang ke-5. Saya marah, karena mereka sangat mengecewakan. Tetapi saya tidak meledakkan kemarahan di lapangan. Kelas praktek saya bubarkan, mereka saya suruh masuk ruang kelas. Selama hampir 80 menit, saya menjadi juru nasehat. Tidak ada materi atletik hari itu. Yang ada hanya nasehat dan nasehat, dari orangtua yang sayang kepada anak-anaknya, yang saat itu baru bandel-bandelnya. 

Pertemuan minggu berikutnya, sungguh ada perubahan yang sangat membahagiakan. Mereka menjadi kelas yang kondusif untuk pembelajaran. Tidak ada marah lagi. Tidak ada dendam antara saya dan mahasiswa.

Saya tinggal di Perumahan sudah lebih dari 10 tahun, di wilayah Sleman, Yogyakarta. Sejak menempati rumah baru, saya menjadi seksi olahraga di tingkat RW. Sebagai orang yang mengetahui apa itu olahraga, maka sudah sepantasnya meluruskan warga yang memiliki pengertian salah tentang olahraga. Mencegah perselisihan di lapangan olahraga, mencegah perkelahian di arena olahraga, dan menenangkan teman-teman yang tegang siap ‘tempur’ dalam arti berkelahi adalah kewajiban saya. Sungguh, yang demikian dapat saya lakukan selama saya menjadi seksi olahraga di wilayah saya. Perselisihan tidak sampai merembet ke perkelahian atau permusuhan antar wilayah. Semua dapat diselesaikan dengan cara membangun komunikasi yang baik dan seimbang.

 

 

 

  1. G.   Etos kerja (semangat, target kerja, disiplin, ketangguhan)

 

Jelaskan etos kerja yang meliputi semangat, target kerja, disiplin, dan ketangguhan Saudara menghadapi masalah! Berikan contoh nyata yang Saudara lakukan/alami dalam kehidupan profesional sebagai dosen!

 

Deskripsi:

 

Pada saat saya kuliah S-2 di UNNES Semarang, tahun 1998, sekolah tiga anak kami secara berurutan adalah SMP, SD, dan TK nol kecil. Di rumah kami tidak ada pembantu rumah tangga. Artinya? Semua pekerjaan kami lakukan bersama-sama. Jam kuliah mulai dari siang atau sore hari sampai malam pk. 21.00 wib., apabila diisi penuh.

Anak bungsu kami tidak dapat saya tinggal lama, maka pukul berapa pun kuliah selesai, saya pasti pulang ke Yogya. Naik motor sendiri, atau naik kendaraan umum. Sampai rumah lebih sering sudah ganti hari, artinya, sudah lewat tengah malam. Pagi hari mengantar dua anak ke sekolah. Agak siang mengantar anak bungsu yang TK nol kecil. Setelah anak bungsu pulang sekolah, barulah saya siap untuk berangkat kuliah ke UNNES. Demikian berlangsung tiga semester.

Niat yang saya tanamkan pada diri sendiri, semua harus berjalan dengan baik, keluarga dan kuliah. Juga dalam hidup bermasyarakat.

Anak-anak sekolahnya lancar, keluarga tetap sehat. Dan, kuliah S-2 saya pun selesai dalam waktu yang tidak lama.

Pada saat kuliah sudah di penghujung selesai, ada undangan untuk mengikuti sertifikasi pelatih atletik tingkat dasar PB PASI, dan dilanjutkan level I IAAF (bila lulus yang tingkat dasar). Ini kesempatan besar, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dengan ilmu-ilmu terbaru, dan yang paling penting, sesuai dengan mata kuliah yang saya ampu, Atletik. Dan, bila dapat lulus artinya adalah pengakuan akan kemampuan saya di dunia atletik. Tetapi waktunya bertabrakan dengan saat-saat akhir kuliah S-2, tesis hampir selesai. Padahal waktu sertifikasi bersambung menjadi lebih dari 3 minggu. Berpikir, dan saya putuskan, ikut dengan segenap hati. Target, harus lulus sampai level I. Tidak boleh tanggung-tanggung. Artinya, tesis terganggu sejenak. Mengapa? Karena jadwal sertifikasi dari pagi hingga sore. Berjalanlah semua dengan kehendakMU. Sertifikasi saya ikuti dengan niat utuh. Sabtu dan Minggu libur, saya pergunakan untuk meneruskan penulisan tesis, bila perlu konsultasi ke dosen pembimbing. Dua dosen pembimbing saya, satu di Solo-Jawa Tengah, dan di Semarang-Jawa Tengah.

Waktu berlalu dengan pasti. Tibalah pengumuman sertifikasi, saat upacara penutupan. Langsung diumumkan oleh Mr. Gunther Lange wakil dari IAAF, yang sekaligus sebagai tutor. Hasil, Margono, saya, dinyatakan lulus. Dan, yang membanggakan, saya berada di peringkat pertama mengungguli teman-teman dosen dari berbagai daerah.

Kemudian hanya selang bulan, saya ujian tesis, dan lulus. 

Pada waktu hari krida, saya sempatkan bermain tenis di kampus. Pada waktu hari agak luang saya sempatkan bermain bulutangkis di perumahan. Hal ini wajib saya lakukan untuk menjaga kondisi fisik agar tetap terjaga kebugarannya.

Alhamdullilah, hingga saat ini saya tetap diberi kesehatan. Masih dapat bermain tenis dua atau tiga kali seminggu. Kalau mengajar praktek Atletik, saya masih dapat memberi contoh atau demonstrasi teknik-teknik gerakan.

Dalam memberi kuliah, jumlah pertemuan minimal harus dapat saya lampaui. Tugas yang saya berikan kepada para mahasiswa, mid semester, ujian semester, harus saya koreksi. Saya harus mematok target, pengumpulan nilai tidak boleh terlambat. Dan, itu semua hingga hari ini dapat saya lakukan.

 

 

 

 

  1. H.   Integritas Diri (kejujuran, keteguhan pada prinsip, konsistensi, tanggung jawab dan keteladanan)

 

 

Jelaskan integritas Saudara dalam kaitannya dengan kejujuran, keteguhan prinsip, konsistensi, tanggung jawab, dan keteladanan yang dapat ditunjukkan di lingkungan Saudara! Berikan contoh nyata yang Saudara alami dalam kehidupan profesional sebagai dosen!

 

Deskripsi:

 

Satu kata, satu perbuatan. Sesuatu yang sangat mudah diucapkan, tetapi seringkali sangat sulit untuk dikerjakan.

Peristiwa ini berawal dari kesanggupan menjadi dosen pembimbing lapangan (DPL) KKN Mandiri di Kabupaten Banyumas-Jawa Tengah, yang diselenggarakan pada semester genap tahun 2009 ini. Kesanggupan itu muncul karena posisi saya sebagai salah satu tim inti KKN UNY. Mengapa? Karena sebagian teman tim inti keberatan kalau harus membimbing di luar propinsi. Jarak yang jauh, sehingga harus berkorban banyak  waktu dan tenaga. Saya menyanggupi, dengan pertimbangan, bahwa harus ada yang bersedia diantara anggota tim inti KKN. Di samping itu, karena masih punya hari Sabtu dan Minggu yang tidak ada jadwal reguler, maka menurut perhitungan masih bisa melakukan kunjungan setiap bulan sekali.

Sesaat setelah memberikan materi pembekalan, menjelang penerjunan di lokasi, saya sampaikan kontrak kerja sebagai DPL KKN Mandiri kepada para mahasiswa. Saya akan datang saat penerjunan ke lokasi di kantor kecamatan. Saya akan mengadakan kunjungan setiap bulan sekali, minimal. Saya akan mengadakan ujian saat mahasiswa masih di lokasi KKN, sehingga setelah penarikan, mahasiswa sudah tidak ada masalah lagi dengan KKN. Saya akan hadir di kantor kelurahan atau kecamatan saat upacara penarikan mahasiswa dari lokasi.

Janji pertama dapat saya penuhi dengan nyaman. Janji kedua, kunjungan setiap bulan sekali dapat saya penuhi. Tibalah janji ketiga dan keempat, saya akan menguji dan upacara penarikan mahasiswa dari lokasi.

Ada tugas lain yang juga sudah saya sanggupi harus dilaksanakan. Pergi ke Medan-Sumatera Utara selama 10 hari. Artinya? Saya hanya punya waktu sangat singkat sampai di Yogyakarta menjelang penarikan KKN di Banyumas-Jawa Tengah. Bagaimana harus saya lakukan? Perhitungannya begini, upacara penarikan hari Sabtu, 20 Juni 2009 (bersamaan pengambilan hasil kelulusan anak saya yang  SMP). Saya pulang dari Medan sampai Yogyakarta hari Jumat pagi. Untuk dapat menguji dan upacara penarikan, saya harus sampai Banyumas Jumat sore atau malam. Jumat malam begadangan membaca laporan KKN, untuk diujikan Sabtu pagi sebelum upacara penarikan. Artinya, saya sangat kurang istirahat.

Dan, saya putuskan, itulah yang akan saya lakukan.

Hari Jumat pukul 09.00 wib. saya sampai di Yogyakarta.  Siang harinya, pukul 14.00 berangkat ke Banyumas, naik bus. Sampai di Banyumas kira-kira pukul 18.00. Istirahat sebentar, makan malam. Dilanjutkan membaca laporan KKN sebanyak 20 buah, membuat daftar pertanyaan untuk diujikan, hingga pukul 02.30 wib. Tidur sebentar. Pukul 05.30 bangun. Sarapan dan pukul 07.30 sampai di posko KKN untuk menguji para mahasiswa yang telah siap menunggu. Pukul 11.30 dilaksanakan upacara penarikan KKN di kantor kelurahan.

Apa yang telah saya katakan kepada para mahasiswa, telah saya laksanakan dengan maksimal usaha saya. Padahal, aturan dimungkinkan, mahasiswa diuji seminggu setelah penarikan di kampus UNY. Hanya kalau langkah ini saya lakukan, maka saya merasa menjadi orang yang egois. Mengubah apa yang telah saya katakan, dengan alasan sangat pribadi.

 

 

  1. I.    Keterbukaan terhadap kritik, saran, dan pendapat orang lain (penyikapan, penerimaan)

 

 

 

Bagaimana Saudara menyikapi kritik, saran dan pendapat orang lain? Berikan contoh nyata yang Saudara alami dalam kehidupan profesional sebagai dosen!

 

Deskripsi:

 

Dengan kesadaran, bahwa manusia tidak ada yang sempurna, maka sudah selayaknya jika bersedia menerima kritik, saran dan pendapat dari orang lain. Saya sebagai dosen, dituntut harus dapat mengembangkan sikap yang objektif. Kritik, saran dan pendapat dari orang lain harus menjadi pertimbangan apabila memang objektif dan mengandung kebenaran. Yang dimaksud dengan orang lain disini termasuk dari mahasiswa, yang nota bene, adalah murid saya.

Kritik, saran dan pendapat yang disampaikan secara langsung dan santun cara penyampaiannya akan sangat saya pertimbangkan. Karena yang demikian ini, bagi saya, adalah bukti yang bersangkutan adalah benar-benar sahabat yang baik. Sebagai sahabat, tentunya menginginkan sahabatnya menjadi orang yang baik. Tetapi kalau sampai ke telinga saya dari kasak-kusuk, maka yang demikian tidak akan saya tanggapi dengan serius.

Saya sulit untuk marah apalagi memarahi mahasiswa. Pada suatu ketika seorang mahasiswa datang menghampiri saya, setelah selesai memberi kuliah. “Bapak, mestinya bapak menegur atau menasehati dia yang sering datang terlambat. Karena akan menimbulkan rasa yang tidak enak, bagi kami, kalau bapak membiarkannya saja,” katanya dengan pelan tetapi jelas.

Saya mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Saya renungkan beberapa saat. Dan, saya putuskan untuk mengikuti apa yang dikatakan mahasiswa tersebut, pada pertemuan yang berikutnya. Mengapa? Karena saya merasakan benarnya apa yang disampaikan mahasiswa tersebut.   

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. J.    Peran sosial (kemampuan kerja sama, kemampuan komunikasi)

 

 

Bagaimana kemampuan Saudara dalam menjalin kerjasama dan berkomunikasi dengan teman sejawat, staf administrasi, atasan, mahasiswa, dan masyarakat? Berikan contoh nyata yang Saudara alami dalam kehidupan profesional sebagai dosen!

 

Deskripsi:

 

Di lingkungan masyarakat, dari awal tahun 1990-an hingga 2000 menjadi sekretaris Pengda PELTI D I Yogyakarta, kiranya menjadi indikator, bahwa saya dapat diterima di organisasi tenis tingkat daerah ini. Saat masih menjadi pengurus, di Yogyakarta, kegiatan pertenisan cukup sibuk. (Sekarang pun dunia pertenisan di Yogyakartya, juga masih sibuk). Setiap ada event, dari tingkat propinsi maupun kabupaten seringkali ikut berperan serta. Juga event untuk anak-anak hingga veteran.

Setiap event diselenggarakan, selalu terjadi komunikasi dengan sesama pengurus, pemerintah, sponsor, dan tentunya dengan para petenis. Waktu hampir 10 tahun, kiranya waktu yang cukup panjang, dan, saya dapat diterima oleh lingkungan pertenisan di Yogyakarta. Artinya, saya menilai diri saya dapat bekerja sama, dan memiliki kemampuan komunikasi yang memadai.

Di tingkat Universitas, selama satu periode (4 tahun) menjadi atau terpilih menjadi anggota Badan Pemeriksa Koperasi Universitas. Badan Pemeriksa jumlahnya hanya 3 (tiga) orang. Asumsi saya, saya dipilih karena dinilai dapat dipercaya oleh anggota koperasi. Di samping itu, pilihan itu disetujui oleh pimpinan atau atasan.

Saat menjadi anggota badan pemeriksa koperasi, senantiasa berkomunikasi dan bekerja sama dengan anggota tim yang lain. Juga dengan para pengurus koperasi. Bahkan, komunikasi dengan para anggota biasa. Hal ini sangat perlu karena posisi sebagai pemeriksa seringkali riskan untuk ‘bermusuhan’ dengan pengurus koperasi, atau dengan anggota biasa.

Di tingkat fakultas, pernah dua kali menjadi pengurus inti koperasi fakultas. Artinya apa? Saya merasa dipercaya dapat mengerjakan tugas sosial, dan dinilai mampu berhubungan baik dengan segala lapisan. Baik dosen maupun karyawan.

Masih di tingkat fakultas, tahun 2003-2008 menjadi sekretaris klub tenis fakultas. Tugas klub mengkoordinir latihan, pertandingan antar fakultas, pertandingan antar perguruan tinggi, juga pertandingan-pertandingan persahabatan. Dalam melaksanakan tugas, senantiasa harus berhubungan/berkomunikasi dengan banyak pihak. Baik di lingkungan fakultas, universitas, baik dosen maupun karyawan, juga para mahasiswa yang membantu kegiatan pertenisan. Juga, berhubungan dengan masyarakat sekitar, misalnya catering, keamanan, parkir, jasa transportasi, jasa hotel, dan sebagainya.    

 

 

 

 

  1. K.   Orisinalitas (kreativitas dan inovasi)

 

 

Jelaskan kemampuan Saudara dalam menemukan dan menerjemahkan ide-ide baru untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas dalam berbagai aspek pekerjaan Saudara! Berikan contoh nyata yang Saudara alami dalam kehidupan profesional sebagai dosen!

 

Deskripsi:

 

Saat menyusun tesis, permasalahan yang saya angkat belum pernah ada peneliti lain yang pernah menggarapnya. Sejauh upaya yang saya lakukan lewat perpustakaan dan internet, tidak saya temukan. Hal ini sesuai dengan niat awal saya, untuk tidak mengikuti hal-hal klasik atau permasalahan yang terlalu umum untuk digarap. Bagi saya hal semacam ini merupakan bentuk kreativitas dan langkah inovasi, karena saya harus berpikir keras menggarapnya.

Dalam mengajar saya berusaha untuk tetap kreatif dan inovatif. Kreativitas itu misalnya dalam hal memilih metode agar tidak membosankan mahasiswa, tentu saja dengan  mempertimbangkan situasi, kondisi, karakterisitik mahasiswa, media pembelajaran yang ada, serta hal-hal lain yang mempengaruhi. Dengan materi yang sama, apabila disajikan di kelas yang berbeda, bisa jadimemerlukan metode yang berbeda. Hal semacam inilah yang senanatiasa harus dipahami.

Sumber-sumber belajar yang relevan, baru, menarik, dan dinilai berguna, harus senantiasa diusahakan. Penilaian secara objektif merupakan hal yang wajib diusahakan. Kriteria penilaian yang jelas dan harus benar-benar dipahami oleh para mahasiswa.

Orisinalitas dapat diajarkan kepada mahasiswa, misalnya dengan tugas mendadak yang harus diselesaikan di kelas. Bisa secara individual maupun kelompok. Bentuk tugas misalnya mahasiswa atau kelompok mahasiswa diberi permasalahan atau kasus, dan mereka harus memberikan solusinya, dalam waktu tertentu. Dengan demikian mereka akan berpikir keras, karena tidak sempat mencari sumber di luar.

—–

 

Deskripsi diri ini saya buat dengan sesungguhnya dan jika diperlukan saya bersedia untuk menyampaikan bukti-bukti terkait.

 

 

Yogyakarta,    Juni 2009

 

                                                                                Dosen Yang Diusulkan,

 

 

 

 

                                                                                 Drs. Margono, M.Pd.

                                                                                NIP. 19610830 198601 1 001

 

——



CURRICULUM VITAE

Author: masmar
12, 02, 10

CURRICULUM VITAE

 

 

 

IDENTITAS DIRI

 

Nama                                              : Drs. Margono, M.Pd.

Nomor Peserta                           : 091103817610164

NIP                                                  : 19610830 198601 1 001

Tempat dan Tanggal Lahir     : Surakarta – Jawa Tengah, 30 Agustus 1961

Jenis Kelamin                              : Laki-laki

Status Perkawinan                     : Kawin

Agama                                            : Islam

Golongan/Pangkat                    : IV-b / Pembina Tk. I

Jabatan Fungsional Akad.     : Lektor Kepala (700)

Perguruan Tinggi                       : Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Alamat                                           : Jl. Kolombo no. 1, Yogyakarta

Telpon/Faks.                               : (0274) 586168 / (0274) 542185

Alamat Rumah                            : Jatimas Permai C-17, Kec. Gamping, Kab. Sleman, D I Yogyakarta.

Telpon/Faks.                               : 085292397778

Alamat e-mail                             : margono.mm@gmail.com

 

 

RIWAYAT PENDIDIKAN PERGURUAN TINGGI

Thn Lulus

Jenjang

Perguruan Tinggi

Jurusan/Bidang Studi

2000

S-2

Universitas Negeri Semarang

Pendidikan Olahraga

1985

S-1

Universitas Sebelas Maret

Pendidikan Olahraga dan Kesehatan

 

PELATIHAN PROFESIONAL

Tahun

Pelatihan

Penyelenggara

2010

 

2010

 

2006

Pelatihan e-Journal se-UNY (sebagai wakil dari  jurnal Fakultas “MAJORA”)

 

Pelatihan membuat blog dan web

 

Pelatihan Pelatih Atletik Nomor Sprint

UPT Perpustakaan UNY

 

Lembaga Penelitian UNY

 

 

PB PASI + IAAF

2000

Pelatihan Pelatih Atletik Level I IAAF (hasil: Lulus, mendapatkan sertifikat dari IAAF)

IAAF

2000

Pelatihan Pelatih Atletik Tingkat Dasar (hasil: Lulus, mendapatkan sertifikatdari PB PASI)

PB PASI

2001

Pelatihan Penulisan Buku Ajar/Kuliah

Ditjen Dikti Depdiknas & Pusat Pembinaan Bahasa

 

Pelatihan Penelitian Meta Analisis

Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta / UNY

 

Pelatihan Penelitian Kebijakan

Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta / UNY

 

Pelatihan Classroom Action Research

Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta / UNY

 

Pelatihan Analisis Data dengan SPSS

Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta / UNY kerja sama dengan UGM

 

Pelatihan Penelitian Dasar

Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta / UNY

 

Pelatihan DPL KKN Masyarakat

Lembaga Pengabdian pada Masyarakat IKIP Yogyakarta / UNY

 

PENGALAMAN JABATAN

Jabatan

Institusi

Tahun … sd. …

Sekretaris

Unit Pengembangan Sumber Belajar (UPSB) UNY

2006 – 2007

Sekretaris

Pusat Pembinaan dan Peningkatan Aktivitas Instruksional (P3AI) UNY

2008

Anggota Tim Inti KKN

Lembaga Pengabdian pada Masyarakat (LPM) UNY

2006 – sekarang

Sekretaris

Majalah Ilmiah “OLAHRAGA” FIK UNY

2007 – sekarang

Anggota Penyunting

Majalah Ilmiah “OLAHRAGA” FIK UNY

1995 – 2007  

Anggota Penyunting

Majalah Ilmiah “MEDIKORA” IKORA FIK UNY

2006 – sekarang

Anggota Penyunting

Jurnal Kependidikan “CAKRAWALA PENDIDIKAN” UNY

2006 – 2008

Anggota Redaksi

Majalah Ilmiah Populer “Warta IKIP Yogyakarta”

1997 – 1999

Sekretaris

Pengurus Daerah (Pengda) PELTI  Daerah Istimewa Yogyakarta

1990 – 2000

 

 

PENGALAMAN MENGAJAR

Mata Kuliah

Jenjng

Institusi/Jur./Prog.

Tahun … sd. …

Sejarah Olahraga

S-1

FIK UNY (IKORA + PJKR)

1987 – sekarang

Filsafat Olahraga

S-1

FIK UNY (IKORA + PJKR)

2000 – sekarang

Dasar Gerak Atletik

S-1

FIK UNY (IKORA + PJKR)

1987 – sekarang

Metodik Atletik

S-1

FIK UNY (PJKR)

1987 – sekarang

Azas dan Landasan Pendidikan Jasmani

D-2

FIK UNY (PGSD)

2001 – sekarang

Dasar-dasar Atletik

D-2

FIK UNY (PGSD)

2001 – sekarang

Dasar-dasar Atletik II (Metodik)

D-2

FIK UNY (PGSD)

2001 – sekarang

Dasar Gerak Hockey

S-1

FPOK IKIP Yogykarta/UNY

1988 – 1990

Dasar Gerak Bola Basket

S-1

FPOK IKIP Yogykarta/UNY

1989 – 1992

Dasar Gerak Bola Voli

S-1

FPOK IKIP Yogykarta/UNY

1990 – 1991

Dasar Gerak Renang

S-1

FPOK IKIP Yogykarta/UNY

1994 – 1996

Olahraga Pilihan Golf

S-1

FPOK IKIP Yogykarta/UNY

1994 – 1997

Perencanaan Pengajaran

S-1

FIP UNY (Program Kelanjutan Studi)

2005 – 2006

Pengembangan Media Pembelajaran

S-1

FIP UNY (Program Kelanjutan Studi)

2006 – 2007

 

PENGALAMAN MEMBIMBING MAHASISWA

Tahun

Pembimbingan/Pembinaan

 

2009

Membimbing Pelaksanaan Penggunaan Peralatan Olahraga Anak di Medan, Sumatera Utara (dilanjutkan dengan Mahasiswa mengaplikasikan dengan para siswa di hadapan para Guru Penjasorkes)

 

2009

Membimbing para Mahasiswa untuk menjadi Penjaga Stand Produk Peralatan Olahraga Anak (dengan tugas: menjelaskan, memberi contoh/memperagakan 11 macam alat kepada para pengunjung); dalam rangka FIPOB (Festival Internasional Pemuda, Olahraga Bahari) 2009 di Medan, Sumatera Utara 

 

2003 – 2005

Membimbing para Mahasiswa untuk “Persiapan dan Pelaksanaan Festival Olahaga Anak se-propinsi D I Yogyakata serta  se-Jawa dan Bali, dan khusus di DKI Jakarta” (beberapa kali dilakukan)

 

2001 – sekarang

Membimbing Penulisan Karya Ilmiah Mahasiswa untuk Memperoleh Beasiswa dari Institusi/Perusahaan

 

2001 – sekarang

Dosen Pembimbing Praktik Kerja Lapangan (PKL) Prodi IKORA FIK UNY

 

2000 – sekarang

Membimbing Tugas Akhir / Skripsi Mahasiswa S-1 FIK UNY

 

2000 – sekarang

Membimbing Penulisan Mahasiswa Peserta Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) FIK UNY

 

1989 – sekarang

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN IKIP Yogykarta/UNY

 

1988 – sekarang

Pembimbing Akademik (PA) Mahasiswa S-1 FPOK / IKIP Yogyakarta / FIK UNY

 

 

PENGALAMAN PENELITIAN

Tahun

Judul Penelitian

Jabatan

Sumber Dana

2009

Pembuatan Alat-Perlengkapan Olahraga Anak Usia Sekolah Dasar

Anggota Tim

Kemenegpora

2009

Dampak Pelaksanaan Festival Internasional Pemuda, Olahraga Bahari di Sumatera Utara

Anggota Tim (Pengambil Data)

Kemenegpora

2008

Pelaksanaan Penanaman Fair Play pada Siswa oleh Guru Penjasorkes SD di Sleman – D I Yogyakarta

Ketua

UNY

2006

Pemahaman Tentang Fair Play Guru Penjas SMA N I Sedayu Bantul

Ketua

UNY

2005

Pemahaman Tentang Fair Play Guru Kelas SD Pengajar Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani

Ketua

UNY

 

Pengembangan Strategi Pengajaran Mata Kuliah Sejarah olahraga

Ketua

Due-Like

2005

Hubungan Status Gizi dan Kesegaran Jasmani terhadap Prestasi Belajar Anak

Anggota Tim

UNY

2004

Pengaruh Latihan Kontinyu dan Interval terhadap Kapasitas Aerobik

Anggota Tim

UNY

2003

Pelaksanaan Fungsi Khusus Organisasi MGMP Penjaskes SLTP di Kabupaten Sleman – D I Yogyakarta

Ketua

UNY

2002

Pelaksanaan Fungsi Umum Organisasi MGMP Penjaskes SLTP di Kabupaten Sleman – D I Yogyakarta

Ketua

UNY

 

KARYA TULIS ILMIAH

  1. A.   Buku/Bab/Jurnal

Tahun

Judul

Penerbit/Jurnal

2010

 

 

2008 – 2009

Buku Kuliah “Atletik: Teknik dan Peraturan Perlombaan”

 

Buku Pelajaran “Penjasorkes SD” (6 jilid)

Penerbit Fakultas Ilmu Keolahragaan – UNY

 

Penerbit Insan Madani, Yogyakarta (Ketua Tim Penulis)

2008 – 2009

Buku Pelajaran “Penjasorkes SMP” (3 jilid)

Penerbit Insan Madani, Yogyakarta

(Anggota Tim)

2008

Buku “Peralatan Olahraga Anak (POA): untuk Pengembangan Multilateral”

Kemenegpora

(Anggota Tim)

2005

Buku “Pedoman Penyelenggaraan Festival Olahraga Anak”

 Ditjen Dikdasmen & Ditjen Olahraga (Anggota Tim)

2007

Buku “Sejarah Olahraga” (edisi revisi)

UNY Press (Individu)

2007

Buku “Azas dan Landasan Pendidikan Jasmani” (edisi revisi)

UNY Press (Individu)

2006

Buku “Dasar-dasar Atletik”

UNY Press (Individu)

2006

Buku “Memperkenalkan Atletik kepada Anak melalui Permainan”

FIK UNY

2006

Jurnal: Lari Marathon (Mengapa Jarak Tempuhnya Berubah-ubah?)

Majalah Ilmiah “Olahraga” FIK UNY.

2006

Jurnal: Kompetensi Pengembangan Kepribadian dan Keprofesionalan pada Guru pendidikan Jasmani (Kompetensi Penting yang Masih Terlupakan)

Majalah Ilmiah “Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia” FIK UNY

2006

Jurnal: Lari Gawang (Sebuah Tinjauan Teknik)

Majalah Ilmiah “Medikora” FIK UNY

2005

Jurnal: Pemilihan Strategi Mengajar Sejarah Olahraga untuk Penanaman Fair Play

Majalah Ilmiah “Olahraga” FIK UNY.

2004

Guru penjaskes Sekolah Dasar tentang Fair Play

Majalah Ilmiah “Olahraga” FIK UNY.

2001

Jurnal: Komik Jepang sebuah Media untuk Belajar Fair Play

Majalah Ilmiah “Olahraga” FIK UNY.

2001

Jurnal: Urun Rembug untuk Organisasi MGMP Penjaskes

Majalah Ilmiah “Olahraga” FIK UNY.

2000

Jurnal: Fair Play (Guru Penjaskes SD sebagai Ujung Tombak)

Majalah Ilmiah “Olahraga” FIK UNY.

1995

Jurnal: Pelaksanaan Pengajaran Mikro di FPOK (Sebuah Sumbang Saran)

Majalah Ilmiah “Cakrawala Pendidikan” IKIP Yogyakarta/UNY

1995

Jurnal: Olympiade (Pekan Olahraga Terbesar yang Bermula dari Lomba Satu Nomor)

Majalah Ilmiah “Olahraga” FIK UNY.

1992

Jurnal: Lari Marathon (Bermula dari Pertempuruan antara Persia versus Yunani)

Majalah Ilmiah “Cakrawala Pendidikan” IKIP Yogyakarta/UNY

1991

Jurnal: Masalah Cedera pada Olahraga Tenis Lapangan (Suatu Upaya Pencegahan)

Majalah Ilmiah “Cakrawala Pendidikan” IKIP Yogyakarta/UNY

1991

Jurnal: Pherenice dan Belisiche (Wanita-wanita Perkasa dalam Sejarah Pekan Olympiade Kuno)

Majalah Ilmiah “Cakrawala Pendidikan” IKIP Yogyakarta/UNY

1987

Jurnal: Olahraga Lari sebagai Alternatif Mencapai Tingkat Kesegaran Jasmani yang Memadai

Majalah Ilmiah “Cakrawala Pendidikan” IKIP Yogyakarta/UNY

 

  1. B.   Makalah/Poster

Tahun

Judul

Penyelenggara

2009

Makalah: “KKN dan Masalahnya” (Sebagai Pemakalah, dalam Refreshing Dosen Pembimbing Lapangan KKN UNY)

Lembaga Pengabdian pada Masyarakat (LPM) UNY

2007

Makalah: ”Pembuatan Peralatan Olahraga Anak” (Sebagai Pemakalah, dalam Lokakarya Guru Penjasorkes di Yogyakarta)

FIK UNY bekerja sama dengan Kemenegpora RI

2006

Makalah: “Film sebagai Media Pembelajaran Mata Kuliah Praktek Olahraga” (Sebagai Pemakalah, dalam seminar Dosen jurusan Kepelatihan Olahraga FIK UNY)

FIK UNY bekerja sama dengan Unit Pengembangan Sumber Blajar (UPSB) UNY

 

  1. C.   Penyunting/Editor/Reviewer/Resensi

Tahun

Judul

Penerbit/Jurnal

2007

Resensi Buku: Taekwondo (Poomse Tae Geuk)

Majalah Ilmiah “Olahraga”, FIK UNY

2006

Resensi Buku: Perkembangan Olahraga Terkini (Kajian Para Pakar)

Majalah Ilmiah “Cakrawala Pendidikan”, LPM UNY

2005

Resensi Buku: Pendidikan Jasmani untuk Kehidupan

Majalah Ilmiah “Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia”, FIK UNY

2000

Resensi Buku: Foundation of Physical Education and Sport

Majalah Ilmiah “Cakrawala Pendidikan”, LPM UNY

 

PESERTA KONFERENSI/SEMINAR/LOKAKARYA/SIMPOSIUM

Tahun

Judul Kegiatan

Penyelenggara

2010

 

 

 

2009

Kegiatan “Workshop Pengembangan Manajemen Industri Olahraga”, di Bogor, Jawa Barat, Maret 2010; sebagai anggota Tim Perumus.

 

Seminar: “Temu Pengusaha Produsen Alat-alat Olahraga” (Di Hotel Dharma Deli Medan – Sumatera Utara; Presentasi sebagai wakil CV POA Multi Sarana-Jakarta)

Deputi Bidang Kewirausahaan Pemuda dan Industri Olahraga, Kemenpora RI.

 

Kemenegpora RI

2004

Konferensi: “The Third International Conference of Asian Society for Physical Education and Sport”, di hotel Panghegar Bandung. Sebagai pemakalah pendamping, dengan judul makalah “The Ladder-Snake Game and Physical Education.”

FIK UNY dan Ditjen Olahraga Depdiknas RI

2003

Konferensi: “International Conference Sport and Sustainable Development”, di Yogya Expo Center, Yogyakarta. Sebagai pemakalah pendamping, dengan judul makalah “Comic as an Effective Media for Teaching Fair Play among Children.”

FIK UNY dan Ditjen Olahraga Depdiknas RI

 

KEGIATAN PROFESIONAL/PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

Tahun

Kegiatan

 

2010

 

 

2010

 

2010

 

 

2009

Sebagai Nara Sumber dan Pendamping dalam kegiatan “Workshop dan Pendampingan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di Sekolah Inklusi            se-D I Yogyakarta”, Mei-Juni 2010

 

Sebagai Tutor Sosialisasi Penggunaan Peralatan Olahraga Anak (Kids Sport Equipment) kepada Guru-Guru Penjasorkes SD di kota Yogyakarta, D I Yogyakarta (di dua tempat, Kota Yogyakarta wilayah Barat dan Utara).

Sebagai Marketing dari CV POA Multi Sarana, Mempromosikan Peralatan Olahraga Anak (Kids Sport Equipment) kepada para Kepala Sekolah SD di berbagai Musyawarah Kepala Sekolah (MKS) di wilayah D I Yogyakarta.

Sebagai Tutor dalam Sosialisasi Penggunaan Peralatan Olahraga Anak (Kids Sport Equipment) kepada Guru-Guru Penjasorkes SD di Pati, Jawa Tengah.

 

2009

Sebagai Tutor Sosialisasi Penggunaan Peralatan Olahraga Anak (Kids Sport Equipment) kepada Guru-Guru Penjasorkes SD di Medan, Sumatera Utara.

 

2008

Sebagai Tutor Pelatihan Pembuatan Peralatan Olahrga Anak (Kids Sport Equipment) kepada Guru-Guru Penjasorkes SD di kabupaten Kulonprogo, D I Yogyakarta.

 

2008

Sebagai Tutor cabang Olahraga Atletik kepada Guru-guru Penjasorkes SD di kabupaten Bantul dan Sleman, D I Yogyakarta dalam rangka menghadapi OOSN (Olympiade Olahraga dan Seni Nasional) tingkat Propinsi.

 

2008

Sebagai Koordinator Pelaksanaan Tes Pemanduan Bakat Olahraga siswa Sekolah Dasar dengan menggunakan “Sport Search” Siswa Sekolah Dasar se-Kabupaten Sleman, D I Yogyakarta.

 

2008

Sebagai Tutor dalam Sosialisasi Permainan Bolabasket Mini sebagai Upaya Peningkatan Profesionalisme bagi Guru Penjasorkes SD di Kecamatan Kasihan Kabupaten Bantul.

 

2007

Sebagai Tim Pemantau Independen (TPI) Ujian Nasional tingkat SMA di Kabupaten Sleman, D I Yogyakarta.

 

2002 – 2007

Sebagai Tutor Sosialisasi Festival Olahraga Anak Sekolah Dasar kepada Guru-Guru Penjasorkes (Di Jakarta, Bandung, Medan, Merauke, Papua, Yogyakarta).

 

2006

Sebagai Koordinator Pelaksanaan dalam “Festival Olahraga Anak Sekolah Dasar dalam Rangka Pemulihan Trauma Akibat Gempa Bumi” di Kecamatan Wonokromo, Kabupaten Bantul, D I Yogyakarta.

 

2005 – 2007 

Sebagai Koordinator dan Juri “Kejuaraan Atletik tingkat Siswa SMP di beberapa Kabupaten, yaitu: Kabupaten Bantul, Sleman, Kulonprogo”, D I Yogyakarta.

 

2002

Sebagai Anggota Tim Pelaksanaan Tes dan Pengukuran untuk Mengetahui Tingkat Kebugaran Jasmani Siswa SMP di Kecamatan Galur, Kabupaten Kulonprogo, D I Yogyakarta.

 

1989 – 1994

Sebagai Sekretaris Direktur (angkatan I – VIII) dalam kegiatan “Pendidikan Pelatih Tenis Tingkat Dasar diakui PELTI”, bertempat  di Yogyakarta, Jakarta, Ciloto-Jawa Barat. 

 

 

Sebagai Yuri Kedatangan pada “Kejuaraan Internasional Lari 10 Kilometer di Borobudur / Borobudur 10 K”, di Borobudur – Propinsi Jawa Tengah                            (dua kali bertugas).

 

 

Sebagai Juri/Petugas Lapangan Berbagai “Kejuaraan Atletik tingkat Kecamatan, Kabupaten Sleman, Propinsi D I Yogyakarta, Nasional” ; Kategori/kelompok Senior, Yunior, Mahasiswa, Pelajar, Siswa berkebutuhan Khusus (tempat kejuaraan di D I Yogyakarta).

 

 

Sebagai Panitia Pelaksana Berbagai “Kejuaraan Tenis tingkat Kabupaten Sleman, Propinsi DI Yogyakarta, Nasional; Kategori/kelompok Umum, Veteran, Yunior, Mahasiswa, Dosen/Karyawan (tempat kejuaraan/turnamen di D I Yogyakarta)”, khususnya saat masih akif  menjadi pengurus (Sekretaris) Pengda PELTI DIY periode tahun 1980-an sampai 1990-an serta saat masih menjadi pengurus (Sekretaris) Klub Tenis FIK UNY periode tahun 2004 – 2009.

 

1991 – 1993

Aktif Sebagai Penulis Karya Ilmiah Populer di Majalah “Media KORPRI” diterbitkan oleh Pemda propinsi D I Yogyakarta (terbit setiap tiga bulan).

 

 

PENGHARGAAN/PIAGAM

Tahun

Bentuk Penghargaan

Pemberi

2000

Peringkat I Pelatihan Pelatih Atletik Level I IAAF (Peserta Dosen-dosen Perwakilan PTN yang memiliki Fakultas Ilmu Keolahragaan atau Jurusan Olahraga se-Indonesia)

IAAF

1998

Dosen Teladan peringkat II se-Universitas Negeri Yogyakarta

IKIP Yogyakarta / UNY

1998

Dosen Teladan peringkat I se-Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY

IKIP Yogyakarta / FIK UNY

 

Bintang Jasa sebagai Dosen / PNS pengabdian selama 10 tahun

Pemerintah RI

 

Bintang Jasa sebagai Dosen / PNS pengabdian selama 15 tahun

Pemerintah RI

 

Bintang Jasa sebagai Dosen / PNS pengabdian selama 20 tahun

Pemerintah RI

 

ORGANISASI PROFESI/ILMIAH

Tahun

Organisasi

Jabatan

2009 – sekarang (akan segera di launching)

ISSA (Indonesian Sport Science Association) / AIKI (Asosiasi Ilmu Keolahragaan Indonesia)

Sekretaris II

1985 – sekarang

 Ikatan Sarjana Olahraga Indonesia (ISORI) propinsi D I Yogyakarta

Anggota

1986 – sekarang 

Ikatan Keluarga Alumni (IKA) IKIP Yogyakarta / UNY

Anggota

1985 – sekarang

Ikatan Alumni Universitas Sebelas Maret Surakarta / UNS

Anggota

 

Saya menyatakan bahwa semua keterangan dalam Curriculum Vitae ini adalah benar, dan apabila terdapat kesalahan, saya bersedia mempertanggungjawabkan.

—–

Yogyakarta,    Maret 2010

Pembuat,

 

Drs. Margono, M.Pd.

NIP. 19610830 198601 1 001



PEDOMAN KIDS ATHLETICS

Author: masmar
12, 02, 10

PEDOMAN KIDS ATHLETICS

(Perlombaan Atletik Untuk Anak SD)

 

1. Sprint / Gawang

Diskripsi                      : Estafet bolak-balik dengan kombinasi sprint dan gawang.

Nama Lomba                : “Kanga’s Escape”

Prosedur                      :

Dua lintasan setiap tim, satu dengan gawang dan satunya tidak. Dua orang dalam tim berdiri di satu sisi dan dua yang lain disisi seberangnya. Peserta pertama start dari start berdiri dan lari 40 meter tanpa gawang. Pada akhir lintasan memberikan gelang estafet (gelang diberikan dibelakang bendera) ke pelari nomor dua  yang meneruskan lari melewati gawang. Pelari kedua juga star dengan posisi berdiri dan lari melewati gawang sampai ujung lintasan da n memberikan gelang estafet ke pelari ketiga. Pelari ketiga lari tanpa gawang dan memberikan ke pelari empat dan seterusnya sampai semua pelari melakukan lari tanpa gawang dan dengan gawang.

Dengan demikian pelari ketiga adalah pelari terakhir melewati gawang dan diambil waktu nya. Gelang estafet dibawa dengan tangan kanan dan diberikan kepada pelari selanjutnya yang menerima juga dengan tangan kanan.

Penilaian.

Ranking dilakukan berdasarkan waktu: Tim pemenang adalah tim yang paling cepat menyelesaikan lari di atas.

Satu kali lari dapat dilakukan oleh sejumlah tim bersamaan tergantung dari jumlah tim dan ketersediaan panitia.

Peralatan:

Setiap lintasan perlu disediakan peralatan sebagai berikut:

1. 1 stopwatch

2. 1 kartu event/pos.

3. 4 gawang (tinggi 50 cm, dan jarak 6 meter antar gawang)

4. 2 tanda/tongkat berbendera

5. 1 gelang estafet

Gambar :

 

2. Lompat Jauh dari berdiri.

Diskripsi                      : Lompat dengan dua kaki kedepan dari posisi squat.

Nama Lomba                : “Loncat katak”

Prosedur                      :

Dari garis star seorang peserta melakukan “loncat katak” tiga kali berturut-turut dengan bertumpu dan mendarat dua kaki. Petugas memberi tanda bagian tubuh yang terdekat dari garis start (tumit). Bila peserta jatuh ke belakang maka tandanya adalah pada tangan yang dekat dengan garis start. Titik pendaratan peserta pertama adalah titik awal lompat peserta kedua dan seterusnya.

Lomba diselesaikan setelah anggota regu terakhir meloncat dan mendarat serta diberi tanda pada pendaratannya.

Gerakan ini dilakukan dua kali, dan hasil terbaik yang digunakan.

 

Penilaian.

Setiap anggota tim berlomba, dan jumlah jarak yang dicapai oleh 4 peserta anggota tim adalah hasilnya.

Pengukuran dilakukan sampai pada 1 cm.

 

Peralatan:

Setiap tim memerlukan peralatan sebagai berikut::

1. 1 meteran

2. Alat penanda.

3. 1 kartu lomba.

 

Figure

 

 

 

 

 

3. Lempar Lembing Anak.

Diskripsi                      : Lempar satu tangan untuk mencapai jarak dengan lembing anak.

Nama lomba                 : “Lempar Turbo”

 

Prosedur:

Lempar lembing anak-anak diawali dengan awalan 5 meter, Setelah melakukan awalan pendek peserta melempar lembing anak ke area lemparan dengan dibatasi garis lempar. Setiap peserta melakukan dua lemparan.

 Keamanan        :  Karena keamanan cukup rawan dalam lempar lembing maka hanya petugas yang boleh berada  di area pendaratan lemparan.

Sangat terlarang melempar balik lembing kearah batas garis lempar. .

 

Penilaian :

Setiap lemparan diukur dengan memberi tanda yang ditarik 90 derajad kearah garis batas lempar  dan dicatat per interval 25 cm. Bila lembing jatuh diantara/tengah garis 25 cm maka dibulatkan ke atas. Jumlah jarak terbaik dari dua lemparan masing-masing anggota tim merupakan hasil prestasi tim.

 

Peralatan :

Peralatan yang diperlukan:

1. 2 lembing anak (Lembing Turbo)

2. Garis ukur yang telah dikalibrasi dengan meteran.

3. Kartu lomba.

 

Gambar :

 

 

 

 

 

 

4. Sprint, Gawang dan Slalom.

Diskripsi                      : Estafet dengan kombinasi sprint, gawang dan slalom.

Nama Lomba                : “Formula 1”

 

Prosedur          :

Keliling lintasan sekitar 80 meter yang dibagi menjadi area lari/sprint, lari gawang, dan slalom (lihat gambar). Gelang estafet digunakan sebagai alat perpindahan. Setiap peserta harus mulai dengan roll depan atau samping di atas matras. 

Setiap peserta harus melakukan lintasan secara lengkap dan memberikan gelang kepada peserta selanjutnya. Sekali star dapat dilakukan sampai enam tim bersama-sama. 

 

Penilaian          :

Rangking dilakukan dengan melihat waktu yang dicatat setiap tim. Demikian juga dengan grup-grup selanjutnya, sesuai dengan rangking waktu..

 

Peralatan          :

Peralatan yang dibutuhkan       :

1. 9 gawang.

2. 10 tongkat/tiang slalom (jarak 1 m tiap tiang)

3. 3 busa/matras

4. Sekitar 30 kerucut/tanda.

5. 1 stopwatch

6. 1 Kartu lomba.

 

Gambar                        :

 

 

 

 

 

WASIT DAN PETUGAS LAPANGAN

 

  1. Koordinator / Meeting Direector                         : 1 orang
  2. Wakil Meeting Director                           : 1 orang
  3. Pencatat Hasil Umum/score board         : 2 orang
  4. Petugas Pos                                         : 4 pos @ 2 orang  – jumlah 8 orang
  5. Pemandu tim                                                     : sejumlah tim
  6. Anouncer                                                          : 1 orang
  7. Peralatan                                                          : 3 orang

 

Technical Delegate        : 2 orang


SISTEM PENILAIAN

 

Hasil tim tiap pos lomba

Urutan tim

Tim dengan nilai total terbanyak sebagai juara.

 

Scoreboard

 

Nama Tim

Sprint & Gawang

Lompat

Lempar

Formula 1

Total Rank
Hasil Rank Point Hasil Rank Point Hasil Rank Point Hasil Rank Point
                             
                             
                             
                             
                             
                             
                             
                             
                             
                             
                             
                             
                             

 

 

BLANGKO 1.

SPRINT DAN GAWANG

 

 

TIM

WAKTU 1

WAKTU 2

WAKTU TERBAIK

       
       
       
       
       
       
       
       
       

 

 

 

 

 

 

BLANGKO 2.

LOMPAT JAUH

 

 

TIM

JARAK 1

JARAK 2

JARAK TERBAIK

       
       
       
       
       
       
       
       
       

 

 

 

 

 

 

BLANGKO 3.

LEMPAR LEMBING

 

 

 

NAMA ANGGOTA TIM

JARAK 1

JARAK 2

JARAK TERBAIK

       
       
       
       

 

 

Jumlah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BLANGKO 4.

FORMULA 1

 

 

TIM

WAKTU

   
   
   
   
   
   
   
   
   

 

 

 

Wasit dan Petugas Lapangan

 

  1. Koordinator / Meeting Direector                         : 1 orang
  2. Wakil Meeting Director                           : 1 orang

10.  Pencatat Hasil Umum/score board         : 2 orang

11.  Petugas Pos                                                     : 4 pos @ 2 orang  – jumlah 8 orang

12.  Pemandu tim                                                     : sejumlah tim

13.  Anouncer                                                          : 1 orang

14.  Peralatan                                                          : 3 orang

 

——



12, 02, 10

Tulisan ini sudah dimuat di Majalah Ilmiah “Olahraga”, diterbitkan oleh FPOK IKIP Yogyakarta,

Edisi Nomor 2, Tahun I, Desember 1995

 

 

OLYMPIADE: PEKAN OLAHRAGA TERBESAR YANG

BERMULA DARI LOMBA SATU NOMOR

 

Oleh:

Margono

Dosen FIK Univesitas Negeri Yogyakarta

 

Abstrak

                        Olympiade/Olympic merupakan pekan olahraga multi event terbesar hingga saat ini, dipelopori oleh Baron Pierre de Coubertin, seorang tokoh pendidikan dan sejarawan dari Perancis.

                        Aktivitas tersebut diilhami oleh kegiatan yang dilaksanakan bangsa Yunani kuno dengan nama yang sama, berisi perlombaan dan pertandingan olahraga serta kegiatan-kegiatan yang bersifat relijius. Tahun 776 BC dianggap sebagai saat pertama kali Olympic kuno digelar, di Olympia, dengan hanya satu nomor olahraga yang dilombakan, yaitu lari Stade. Pekan Olahraga ini akhirnya menjadi pekan olahraga yang terbesar pada masanya, dengan nomor pertandingan yang terus berkembang. Mahadewa Zeus sebagai penguasa dunia dan sorga dipuja pada pekan olahraga ini.

                        Tulisan berikut mencoba menjawab beberapa masalah yang berkaitan dengan awal Olympic kuno dilaksanakan. Juga, alasan mengapa Zeus sebagai mahadewa yang dipuja bangsa Hollos. Yang terakhir perjalanan Olympic dari pekan satu nomor, menjadi pekan akbar multi-events.

 

Pendahuluan

            Susi Susanti dan Alan Budikusuma telah mewujudkan impian KONI Pusat yang mencanangkan era emas dalam peran sertanya di Olympic games Barcelona tahun 1992. Perjalanan panjang sejak tahun 1952, di Olympic Helsinki telah berbuah manis. Teramat manis, bahkan. Dua emas, dua perak, dan satu perunggu, telah menempatkan Indonesia di urutan ke-24, naik dua belas tingkat dibandingkan empat tahun sebelumnya, saat trio pemanah putri meraih medali perak di Olympic Seoul.

Pada pekan olahraga paling akbar yang diikuti oleh 173 negara, dengan 25 cabang olahraga yang dipertandingkan dan dilombakan, lagu Indonesia Raya berkumandang dua kali. Sekembalinya mereka ke tanah air disambut meriah, dan, dikalungkanlah bintang kehormatan bagi putra-putri terbaik Indonesia. Berbagai hadiah dan penghargaan pun mengalir deras.

Tidak pelak lagi pekan olahraga yang satu ini menyita begitu banyak perhatian. Jutaan bahkan puluhan juga manusia yang menyaksikan secara langsung maupun yang melalui liputan media massa senantiasa terpesona oleh kehebatan para atlet, juga pestanya. Setiap penyelenggaraannya, selalu melibatkan atlet-atlet terbaik dan “kerabat”nya, seperti hotel-penginapan, media cetak dan elektronik, transpotasi, secuity, para pejabat, para artis, restaurant-catering, medis, souvenir, konveksi, guide, bank, wasit-juri, dan sebagainya. Yang kesemuanya dalam skala besar, raksasa. Sungguh suatu kerja maha raksasa, yang perlu kemampuan profesional untuk dapat mengelolanya dengan baik.

Dengan segala kebesarannya, pekan olahaga paling akbat se-jagad, Olympic, telah digelar secara ajeg setiap empat tahun, dengan cabang pertandingan dan perlombaan yang makin berkembang. Perjalanannya menjadi pekan olahraga yang serba “paling” memang tidak mulus. Ada aib, seperti kasus pemboikotan oleh beberapa negara anggota IOC yang biasanya mengirimkan dutanya untuk berpartisipasi. Yang paling menonjol adalah pada Olympic di Moscow tahun 1980 dan di Los Angeles tahun 1984; atau tidak terlaksananya games tahun 1916, 1940 dan 1944 karena saat itu tengah berkecamuk perang dunia; juga terjadinya serangan teroris pada saat Olympic di Muenchen-Jeman tahun 1972; serta masalah-masalah lainnya. Yang senantiasa muncul pada pekan olahraga akbat ini, doping misalnya, juga merupakan noda yang tak pernah pupus, tetapi kebesaannya tetap diakui.

Olympic modern yang dapat tewujud pada tahun 1896 bekat kepeloporan Baron Pierre de Coubertin, seorang sarjana sejarah dan ahli pendidikan yang lahir di Paris pada hari pertama tahun 1863. Baron yang meninggal tahun 1937 di Jenewa, tertarik menghidupkan kembali Olympic karena keterpesonaannya pada semangat Olympic kuno yang pernah dilakukan bangsa Hollos-Yunani selama lebih dari sebelas abad, dari 776 BC sampai dengan akhir abad ke-4 AD (Ensiklopedia Indonesia, 1980:713; The Encyclopedia of Sport, 1963:707). Inti dari gagasan Baron adalah, jika dunia memiliki pengertian bersama dari sesama bangsa, pasti akan terjamin perdamaian dunia yang hakiki.

Tulisan berikut mencoba membahas apa yang melatarbelakangi dilaksanakannya Olympic kuno, sehingga mampu “menyihir” seorang Baron Pierre de Coubertin untuk menghidupkannya lagi. Tinjauan dai sudut pandang sejarah maupun dai mitologi, serta perkembangannya dari pekan olahraga satu nomor perlombaan hingga menjadi pekan olahraga yang multi events; juga yang khas, macam Pentathlon dan Hoplite race

 

Zeus Mahadewa

Menurut mitos masyarakat Yunani kuno (Kennedy, 1971:3), dewa Zeus dan Cronus sebagai mahadewa bangsa Yunani bertarung di puncak gunung Olympus untuk menentukan siapa yang berhak memiliki dan mengatur alam semesta. Olympus sebagai arena adu keperwiraan merupakan gunung tertinggi di Yunani, 2917 meter, yang sepanjang tahun puncaknya selalu tertutup salju.

Pertempuran perebutan kekuasaan antara dewa Zeus versus Cronus, yang sebenarnya ayahnya sendiri terjadi dalam  peristiwa “Titanomachy”. Dikisahkan, sebelumnya Cronus telah mengetahui dia akan dikalahkan oleh anaknya sendiri, maka semua anaknya ditelan, kecuali Zeus yang dapat diselamatkan Rhea, ibunya. Setelah Zeus dewasa ramalan pun terbukti, dia mengalahkan Cronus. Peristiwa ini sebenarnya merupakan “karma”, karena kekuasaan Cronus didapat setelah mengkudeta orang tuanya, dewa Uranus (isterinya, Gaea). Kemenangannya itu diperoleh dengan bantuan saudara-saudaranya: Iapethus, Mnemosyne, Phoebe, Tethys, Themis, dan Rhea yang kemudian menjadi isterinya (Ensiklopedi Indonesia, 1980:718: Ensiklopedi Umum, 1987:1112).

Setelah memperoleh kemenangan Zeus membagi-bagi kekuasaan dengan saudara dan anak-anaknya. Seperti diungkap oleh Van Dalen (1961:43), sebagai berikut:

Twelve major gods formed the Olympic council that guided the destinies of Hellenic people:

01 Zeus Supreme god of all things.
02 Poseidon The god of the sea and sender of the tempests.
03 Appolo The god of light and truth and the patron of the gymnastic games.
04 Ares The god of war.
05 Athena The protective goddess of the city of Athena.
06 Hephaetus The god of fire.
07 Dionysus The god of nature.
08 Aphrodite The goddess of harvest.
09 Demeter The goddess of harvest.
10 Hestia The goddess of home.
11 Hermes The god of commerce.
12 Artemis The goddes of the chase.

 

Zeus yang berarti angkasa, menguasai sorga dan dunia, mengatur cuaca, memiliki kesaktian mengeluarkan guntur dan halilintar untuk menjalankan kekuasaannya (Ensiklopedia Indonesia, 1980:2432-2433; Ensiklopedi Umum, 1987:1189).

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Dewa Zeus, sebagai dewa ayah lambang kekuasaan dan hukum, diceritakan berputra 140.

(Sumber: Ensiklopedi Indonesia, 1980:2433).

 

Sebagai dewa utama, Zeus menerima penghormatan dari bangsa Yunani, dan, itu diwujudkan dalam bentuk (salah satunya) pekan olahraga Olympic. Bertempat di Olympia, yang terkenal juga sebagai pusat keagamaan dimana terdapat kuil Zeus di Altis. Inilah yang menjadi sasaran atau tujuan pertama dan utama dari pekan Olympic serta kegiatan-kegiatan yang bersifat religius pada saat itu, penghormatan kepada Zeus (Encyclopedia of World Art, 1962:926; Harahap, 1970). Sasaran lain adalah kehormatan bagi atlet-atlet, yang berhak membangun patung dirinya sendiri dalam bangunan di Olympia; serta persahabatan antara bangsa-bangsa. Sasaran terakhir inilah yang sekarang dijadikan tujuan pelaksanaan Olympic modern. Sasaran terakhir tersebut mengingat bahwa pada saat itu Yunani terdiri atas suku-suku bangsa yang saling curiga dan seringkali terjadi peperangan yang berkepanjangan.

Pelaksanaan Olympic kuno pertama kali, dianggap dimulai tahun 776 BC, dan dapat diselenggarakan secara rutin setiap empat tahun sekali selama lebih dari 1100 tahun, yang terakhir dilaksanakan tahun 392 AD. Olympic memiliki arti satuan waktu di Yunani kuno yang lamanya empat tahun. Ada tiga raja yang merupakan pendukung utama pelaksanaan Olympic kuno, yaitu: Cleosthenes dari Pisa, Lycurgus dari Sparta, dan Iphitus dari Ellis (Encyclopedia of Sport, 1963:705; Ensiklopedi Indonesia, 1980:1522). Banyak yang masih percaya bahwa Olympic dimulai lebih awal dari waktu tersebut, ada yang menyebut angka tahun 1453 BC. Bukti yang mendukung pernyataan ini sementara belum cukup kuat. Juga ada pendapat seperti yang dikutip Harsuki (1988:2), bahwa games pertama yang diorganisir dengan baik oleh orang Yunani telah diadakan kira-kira pada abad ke-9 BC. Tidak disebut secara tegas games yang mana, karena ada beberapa games yang pernah dilakukan oleh bangsa Yunani. Tiga games yang cukup terkenal, selain Olympic adalah Phitia, Nemea dan Isthmia.

Belum adanya kesepakatan tentang kapan sebenarnya dimulai Olympic kuno yang pertama kali seperti diungkapkan oleh Zeigler (1979:34), sebagai berikut: “Though there is disagreement regarding the date of the first reorganized games, all authors agree that from 776 BC. The Olympic games were every fourth year until their abolition by the Roman Emperor Theodosius in AD 393”.

Sedangkan menurut Kennedy (1971:3), berdasarkan catatan sejarah, orang pertama yang tampil sebagai juara Olympic adalah Coroebus. Dia memenangkan lomba lari di Olympia, lebih dari 27 abad yang lalu. Untuk menandai kejayaannya sebuah mahkota daun olive diletakkan di kepalanya. Perlu diingat bahwa pada awalnya, hingga ratusan tahun, hanya kaum pria saja yang diperbolehkan tampil, dan, mereka dalam keadaan gumnos (telanjang).

Telah dikemukakan, bahwa Olympic kuno serta kegiatan-kegiatan yang bersifat religius yang utama adalah untuk menghormati Zeus. Salah satu bentuknya adalah dengan mengurbankan seekor babi yang dilakukan oleh orang suci menjelang pelaksanaan games, di samping itu dipersembahkan juga seekor domba hitam untuk menghormati Pelops. Pertanyaan tentunya muncul, siapakah Pelops, sehingga dia begitu dihormati oleh bangsa Yunani kuno?

 

Hippodameia, yang Jelita

Untuk mengetahui siapa Pelops, pelu diawali tentang kisah seorang raja yang memerintah di wilayah Olympia pada suatu masa. Penguasa tesebut  adalah raja Oenomaus, yang memiliki seorang putri cantik jelita, Hippodameia namanya. Banyak pelama datang, tetapi raja membuat sayembaa yang bebahaya dan tidak adil.

Si pelamar dengan mengendarai chariot membawa sang puteri dan raja akan mengejar dengan chariot pula, bila berhasil lepas dari kejaran sang raja, maka si pelamar berhak memiliki Hippodameia. Bila sang raja berhasil mengejarnya, pedangnya akan menghabisi riwayat si pelamat. Sudah banyak pria mencoba meraih mimpinya menyunting si jelita, tetapi sang raja memporakporandakan impian mereka. Seperti dikatakan oleh Kennedy (1971:4), “Thirteen times had tried to win Hippodameia, and Oenomaus had killed each of them”.

 

 

 

 

 

Gambar. Chariot, kereta kuda beroda dua.

(Sumber: Kennedy, 1971:116)

Pria ke-14 muncul, bernama Pelops, pemuda gagah, tampan, pemberani, serta cerdik. Dia menggunakan kecerdikannya (kelicikannya?) untuk memenangkan sayembara. Sebelum sayembara dimulai, Pelops menyuap seorang pegawai untuk merusak roda chariot yang akan dikendarai sang raja dalam sayembara.

Perlombaan dimulai, chariot yang dikendarai Pelops yang membawa serta si puteri segera dipacu kencang. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, raja Oenomaus hampir dapat menyusul. Pelops merasa was-was, apakah siasatnya tidak berhasil. Tiba-tiba sebuah roda chariot sang raja terlepas, Oenomaus jatuh, lehernya patah dan meninggal . Dengan demikian Pelops dinyatakan sebagai pemenang serta berhak atas Hippodameia. Di tempat ini pulalah diselenggarakan Olympic games untuk menghormati keberhasilannya. Seperti dikemukakan oleh Kennedy (1971:4), “Thus Pelops won Hippodameia in chariot race at Olympia, and in same field he establises the Olympic games in honor of his success”.

 

Lari Stade: 200 Yards

Di depan telah sedikit disinggung, bahwa Coroebus tampil sebagai juara yang pertama kali namanya dicatat dalam sejarah Olympic kuno, pada lomba lai. Nomor lari tersebut adalah lari Stade, yang berjarak tempuh + 200 yards, sepanjang stadion.

Seperti halnya  pernyataan bahwa Olympic kuno diawali tahun 776 BC yang belum disepakati semua pakar sejarah, demikian pula tentang perkembangan secara kronologis cabang-cabang yang dilombakan dan dipertandingkan. Akan tetapi banyak penulis/pakar sejarah olahraga yang menyetujui urutan secara kronologis yang tersebut dibawah ini, seperti diungkapkan oleh Zeigler (1979:35), seperti berikut:

Although there are slight disagreement with respect to when some events instituted, most writers agree with the following chronological list of events as the added to the Olympic games:

01

Stade

776 BC

02

Diaulos

724 BC

03

Dolichos

720 BC

04

Pentathlon

708 BC

05

Wrestling

708 BC

06

Boxing

688 BC

07

Pancration

648 BC

08

Hoplite race

520 BC

09

Two mule chariot race

492 BC

10

Horse riding

488 BC

11

Footrace combination

488 BC

12

Two horse chariot race

400 BC

13

Contests for herald trumpeters

388 BC

14

Four colt chariot race

376 BC

15

Two colt chariot race

260 BC

16

Colt race

248 BC

17

Pancration for boys

200 BC

 

Berdasarkan daftar yang tersusun secara kronologis tersebut dapat diketahui, lari Stade menjadi satu-satunya nomor yang dilombakan hingga Olympic ke-13. Hal ini dapat dihitung dengan mudah karena Olympic kuno dilaksanakan setiap empat tahun sekali. Barulah pada pelaksanaan Olympic ke-14 ditambah dengan lari Diaulos, lari denan jarak dua kali lari Stade, artinya jarak tempuh + 400 yards. Pada Olympic ke-15 menjadi tiga nomor yang dilombakan, dengan dilaksanakannya lari jarak jauh, Dolichos. Ada sumber yang menyebutkan bahwa Dolichos menempuh jarak minimal tujuh kali lari stade, seperti ditulis United States Olympic Committee yang dikutip Yama Agni (1982:46). Tetapi Zeigler (1979:34)  mengemukakan bahwa Dolichos, adalah lomba lari jarak jauh dengan menempuh jarak tidak pasti.

Pentathlon yang diselenggarakan mulai tahunn 708 BC, sesuai dengan namanya, penta (= lima) dan athlon (= perlombaan, pertandingan), maka yang dilombakan/ dipertandingkan terdiri atas lima nomor yang khas. Zeigler menuliskan (1979:335), “Pentathlon, which included the long jump, the discus, the javelin, the footrace (stade), and wrestling”.

Adapun pelaksanaannya menurut US Olympic Committee yang dikutip Yama Agni (1982:47) adalah sebagai berikut: “In the pentathlon, thos who jumped a certain distance qualified for the spear throwing; the four best then sprinted the length of the stadium, the three best then threw the discus, and the two best then engaged in a wrestling match to the finish”.

Ada lima tahap/urutan dalam pelaksanaan pentathlon kuno yaitu sebagai berikut:

I

Lompat jauh Semua peserta mengikuti, dan dengan kualifikasi.

II

Lempar lembing Semua peserta yang lolos kualifikasi lompat jauh.

III

Lari stade Sejumlah empat orang terbaik setelah lempar lembing.

IV

Lempar cakram Sejumlah tiga orang terbaik setelah lomba lari stade.

V

Gulat Dua orang terbaik setelah lempar cakra, berhadapan, dan pemenangnya dinyatakan sebagai juara.

 

 Teknik pelaksanaannya sangat berbeda bila dibandingkan dengan lomba nomor gabungan yang sekarang dikenal. Misalnya pada nomor gabungan dalam atletik, ada panca lomba, sapta lomba, dasa lomba, dengan setiap peserta melakukan semua nomor yang dilombakan, dan masing-masing nomor ada skor/nilainya untuk kemudian dijumlahkan. Pada Triathlon modern, yang terdiri atas nomor lari, renang, dan balap sepeda, memiliki cara penghitungan yang tersendiri.

Juga apabila dibandingkan dengan panca lomba modern, yang terdiri atas: (1) berkuda dengan 15 rintangan, (2) renang sejauh 300 meter, (3) menembak, (4)  anggar, dan (5) lari. Nampaknya sekilas tidak ada hubungannya dengan nomor-nomor pada panca lomba kuno, akan tetapi ide nomor-nomor tersebut juga berasal dari sejarah Yunani, saat seorang kurir yang mendapat berbagai rintangan dalam perjalanannya ketika melaksanakan tugas.

Pancration yang mulai dipertandingka tahun 648 BC, gabungan antara tinju dan gulat, merupakan nomor yang paling kasar dan berbahaya, serta sering mengakibatkan kematian para atletnya. Seperti diungkapkan Kennedy (1971:6), “The prancratium, a combination of boxing and wretling, resulted in several deaths”.

Sedangkan Hoplite race merupakan lomba lari dengan membawa senjata dengan berpakaian perang, yang mulai dilaksanakan pada tahun 520 BC pada Olympic ke-65. Apabila dilihat dari jarak yang ditempuh sama dengan lari Diaulos, yaitu + 400 yards.

Di samping nomor-nomor perlombaan  dan pertandingan olahraga tersebut, nampak menonjol adanya suatu kontes seni yang mulai dilaksanakan pada tahun 388 BC, yaitu Contests for herald and trumpeters.

Apabila daftar nomor yang dilombakan dan dipertandingkan pada Olympic kuno yang ditulis secara kronologis oleh Zeigler tersebut dicermati, akan dapat dibuat suatu klasifikasi (apabila dapat disebut demikian). Pertama, adanya nomor lari, yang terdiri atas lari jarak pendek, menengah dan jauh. Hal ini mengingat ada tiga nomor, yaitu Stade ( + 200 yards), Diaulos (+ 400 yards), dan Dolichos (yang disebut sebagai lari jarak jauh). Memang tidak sesuai apabila dibandingkan dengan pembagian seperti pada nomor-nomo lari dalam pengertian atletik masa kini. Dalam kontek ini kiranya dapat diterima. Kemudian adanya nomor beladiri, ada tinju, gulat, serta yang spesifik adalah gabungan keduanya, Pancration. Ada nomor berkuda, yang terdiri atas pacuan kuda, dan pacuan kereta kuda. Lalu ada nomor gabungan, pentathlon, yang empat nomornya merupakan nomor-nomor dalam atletik modern, walaupun secara teknis pelaksanaannya berbeda, sedang yang satu nomor, gulat, sebagai nomor beladiri.

 

Penutup

Berdasarkan pembahasan di depan, jika dihitung dari awal Olympic dilaksanakan, tahun 776 BC dengan hanya satu nomor yang dilombakan, lari Stade, sampai tahun 200 BC, diperlukan waktu lebih dari 5½ (lima setengah) abad untuk menjadikan Olympic suatu pekan olahraga akbar yang multi events. Olympic kuno berlangsung lebih dari sebelas abad,dari tahun 776 sebelum Masehi sampai dengan abad ke-4 Masehi. Dalam hal usia, kiranya belum perlu dibandingkan dengan Olympic modern, yang usianya baru hampir satu abad. Suatu perjalanan yang amat panjang, jika dihitung berdasarkan usia manusia.

 

Daftar pustaka

Encyclopedia of World Art. (1962). USA, New York: Mc. Grawhill Book Company Incorporation.

Ensiklopedia Indonesia. (1980). Jakarta-Indonesia: Penerbit Buku Ichtiar-Van Hove.

FKN Harahap. (1978). “Beberapa Segi dalam Persoalan Olahraga Sepanjang Masa”. Jakarta: Majalah Prisma nomor 4 bulan Mei 1978.

Harsuki. (1988). Olympic Movement Dewasa Ini. Jakarta: Olympic Solidarity Regional Basketball Coaching Course.

Kennedy, Raymond. (1971). The Story of Olympic Games. New York: Washington Square Press.

Kieran, John and Arthur Daley. (1961). The Story of Olympic Games 776 BC – 1960 AD. Revised Edition. New York: JB Lippicott Company.

Menke, Frank G. (1963). The Encyclopedia of Sport. Third Revised Edition. New York: AS Barnes and Company.

Van Dalen, DB., et all. (1961). A World History of Physical Education (Cultural, Philosophical, Comparative). Fourth edition. New York: Englewood Cliffs, Prentice Hall Inc.

Yama Agni. (1982). “Pekan Olahraga Olympis”. Cakrawala Pendidikan. Volume 11,  nomor 6. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.

Zeigler, Earle F. (1979). History of Physical Education and Sport. New York: Prentice Hall Incorporation, Englewood Cliffs.

 

—–



PEDOMAN PKL IKORA

Author: masmar
12, 02, 10

SUDAH DISUSUN EDISI REVISI (TAHUN 2010), YANG SEBENTAR LAGI AKAN DITERBITKAN.

 

PEDOMAN

PRAKTIK KERJA LAPANGAN  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI ILMU KEOLAHRAGAAN

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2005

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

                                                                                                                                 Halaman

HALAMAN JUDUL  …………………………………………………………………      i

KATA PENGANTAR  ……………………………………………………………….      ii

DAFTAR ISI  …………………………………………………………………………    iii

DAFTAR LAMPIRAN  ………………………………………………………………    iv

TIM PENYUSUN  ……………………………………………………………………     v

 

  1. Dasar Pemikiran  …………………………………………………………………..
  2. Tujuan Umum PKL  ………………………………………………………………
  3. Tujuan Khusus PKL  ……………………………………………………………..
  4. Manfaat PKL  …………………………………………………………………….
  5. Status PKL  ………………………………………………………………………
  6. Tempat PKL  ……………………………………………………………………..
  7. Materi PKL  ………………………………………………………………………
  8. Waktu PKL  ……………………………………………………………………….
  9. Pembimbing  ……………………………………………………………………..
  10. Penilaian PKL  ……………………………………………………………………
  11. Nilai Akhir  ……………………………………………………………………….

 

LAMPIRAN  …………………………………………………………………………

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR LAMPIRAN

 

                                                                                                                                 Halaman

1.  Sistematika Laporan PKL  …………………………………………………………

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TIM PENYUSUN

BUKU PEDOMAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

TAHUN 2005

 

 

Penanggung Jawab                           : Panggung Sutapa, M.S.

                                                            (Kaprodi Ikora)

 

Ketua                                                : Suryanto, M.Kes.

 

Anggota                                              1. Yustinus Sukarmin, M.S.

                                                            2. Margono, M..Pd.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A.  Dasar Pemikiran

Program Studi Ilmu Keolahragaan (Prodi Ikora) merupakan program studi S1 Nonkependidikan di Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yang menyiapkan dan menghasilkan tenaga profesional  dalam bidang olahraga kesehatan, khususnya terapi dan rehabilitasi fisik, dan kebugaran. Di dalam menyiapkan tenaga profesional, Prodi Ikora memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan kepada mahasiswa tentang profesi di bidang olahraga kesehatan melalui praktik kerja lapangan (PKL).

Dalam kegiatan PKL mahasiswa diterjunkan  di pusat kebugaran, pusat terapi rehabilitasi fisik, sekolah luar biasa (SLB) dalam jangka waktu tertentu. Di tempat PKL mahasiswa diwajibkan mengamati, mengenal, dan mempraktikkan semua kompetensi di bidang olahraga kesehatan. Pengalaman yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal mahasiswa memasuki dunia kerja sebagai tenaga kerja di bidang olahraga kesehatan yang memiliki keterampilan, keahlian, dan tanggung jawab (profesional). 

 

B.  Tujuan Umum PKL

PKL bertujuan agar mahasiswa memperoleh pengalaman sebagai bekal untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja di bidang olahraga kesehatan yang profesional, yaitu memiliki pengetahuan, keterampilan, tanggung-jawab, kesejawatan, serta  sikap yang diperlukan dalam profesinya.

 

  1. C.      Tujuan Khusus PKL

PKL Prodi Ikora mempunyai tujuan khusus sebagai berikut:

  1. Memberikan pengalaman kepada mahasiswa tentang profesi yang akan ditekuni.
  2. Menjalin kerja sama dengan instansi pengguna jasa.
  3. Menyiapkan mahasiswa agar mampu bekerja  mandiri.

 

 

 

D.  Manfaat PKL

            PKL diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap mahasiswa, sekolah atau instansi, dan Prodi Ikora.

1.   Mahasiswa

  1. Mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan bekal yang diperoleh selama kuliah ke dalam kegiatan nyata di masyarakat.
  2. Mendewasakan cara berpikir dan meningkatkan daya penalaran dalam melakukan penelaahan, perumusan, dan pemecahan masalah kesehatan melalui olahraga yang ada di masyarakat.
  3. Mengenal dan mengetahui secara langsung kegiatan olahraga untuk kesehatan di masyarakat.
  4. Memperdalam pengertian, pemahaman, dan penghayatan tentang pelaksanaan olahraga untuk kesehatan di masyarakat.
  5. Sekolah/Instansi
    1. Mendapatkan inovasi dalam kegiatan olahraga untuk kesehatan.
    2. Memperoleh bantuan tenaga dan pikiran dalam mengelola kegiatan olahraga untuk kesehatan.
    3. Prodi Ikora
      1. Memperoleh masukan tentang perkembangan pelaksanaan PKL, sehingga kurikulum, metode dan pengelolaan proses pembelajaran di Prodi Ikora dapat lebih disesuaikan dengan tuntutan zaman/kebutuhan masyarakat.
      2. Memperoleh masukan tentang berbagai kasus kesehatan yang dapat dipakai sebagai bahan pengembangan penelitian.
      3. Memperluas dan meningkatkan jalinan kerja sama dengan instansi terkait.

 

E. Status PKL

     Status PKL Prodi Ikora adalah sebagai berikut:

  1. PKL merupakan mata kuliah wajib lulus bagi mahasiswa Prodi Ikora.

2.   PKL terdiri atas PKL I dan PKL II, yang masing-masing memiliki bobot 2 SKS dan 4 SKS.

3.    PKL I diselenggarakan pada semester VI, sedangkan PKL II diselenggarakan pada semester VII.

 

F. Tempat PKL

             Dalam pelaksanaan PKL, mahasiswa ditempatkan di pusat kebugaran jasmani, rumah sakit, pusat terapi dan rehabilitasi fisik, dan pusat rehabilitasi penyandang cacat di Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

G. Materi PKL

  1. PKL I

              Materi PKL I berupa observasi lapangan dan magang. Observasi lapangan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa untuk memperoleh gambaran tentang situasi dan kondisi, karakteristik, dan norma yang berlaku di tempat PKL. Magang adalah kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa dengan cara mengikuti pola kerja sesuai dengan aturan dalam sistem kerja yang sebenarnya.

           Dalam PKL I mahasiswa wajib mengikuti salah satu dari dua konsentrasi keahlian, yaitu: (a) terapi dan rehabilitasi, atau (b) kebugaran. Sebelum mengikuti PKL I mahasiswa terlebih dahulu diwajibkan mengikuti pembekalan materi tiap-tiap keahlian.

  1. PKL II

            PKL II merupakan kerja mandiri di bawah bimbingan dari pembimbing dalam (pembimbing dari Fakultas, yaitu: dosen) dan pembimbing luar (pembimbing dari tempat yang digunakan PKL, yaitu: guru/instruktur/konsultan). Pada kegiatan ini mahasiswa diberi kesempatan untuk menghadapi dan menangani siswa/anggota/members/klien/kelayan dengan  menyusun program, melaksanakan program, dan mengevaluasi program.

            Secara rinci kegiatan yang harus dilakukan oleh mahasiswa dalam PKL II meliputi:             

  1. Melakukan pengukuran awal.
  2. Merancang atau membuat program (menyesuaikan tempat atau lokasi).
  3. Melaksanakan program.
  4. Memonitor pelaksanaan program.
  5. Mengevaluasi program dan pelaksanaan program.

         Pada akhir kegiatan PKL, mahasiswa diwajibkan menyusun laporan. 

 

H.   Waktu PKL

PKL dilaksanakan dengan sistem blok waktu, artinya mahasiswa harus berada di tempat praktik sesuai dengan jam kerja yang berlaku dan disesuaikan dengan jadwal tempat praktik. Pembagian waktu tersebut seperti terlihat pada tabel berikut ini:

 

PKL  I

No.                  Kegiatan

Bulan I

Bulan II

1

2

3

4

1

2

3

4

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Pembekalan 

Penerjunan

Pelaksanaan PKL

Penyusunan PKL

Penarikan

Penilaian

x

 

x

x

 

 

X

 

 

x

 

 

x

 

 

x

x

 

 

x

x

 

 

 

 

x

x

 

 

PKL  II

No.

Kegiatan

Bulan I

`Bulan II

Bulan III

Bulan III

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1. 

2.

3.

4.

5.

6.

Pembekalan 

Penerjunan

Pelaksanaan PKL

Penyusunan Laporan

Penarikan

Penilaian

x

 

x

x

 

 

x

 

 

x

 

 

x

 

 

x

 

 

X

 

 

x

 

 

x

 

 

x

 

 

x

 

 

x

 

 

x

x

 

 

x

x

 

 

x

x

 

 

 

 

x

x

 

 

 

 

  1. I.         Pembimbing

Pembimbing PKL I dan II terdiri atas satu orang pembimbing dalam  dan satu orang pembimbing luar. Penempatan  pembimbing dalam dan mahasiswa PKL diatur oleh Prodi Ikora di bawah koordinasi ketua PKL.

Pembimbing dalam, pembimbing luar, dan penanggung jawab lokasi (Kepala Sekolah/Manajer mempunyai tugas sebagai berikut:

  1. Pembimbing Dalam
    1. Menyerahkan mahasiswa pada awal masa praktik ke tempat praktik.
    2. Membimbing mahasiswa secara individu maupun secara kelompok dalam merencanakan kegiatan PKL.
    3. Bersama pembimbing luar mengawasi dan mengevaluasi mahasiswa.
    4. Bersama pembimbing luar mengadakan diskusi dan membahas hasil praktik yang baru saja dilakukan, mempertimbangkan nilai-nilai sebelumnya, dan memberikan bimbingan dalam membuat laporan.
    5. Menandatangani presensi bimbingan pada kartu bimbingan praktik yang telah disediakan oleh mahasiswa.
  2. Pembimbing Luar
    1. Memberikan informasi kepada mahasiswa tentang bidang garapan yang menjadi tanggung jawabnya.
    2. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengadakan observasi dan melakukan kegiatan yang menjadi bidang garapannya.
    3. Memeriksa program yang akan dilakukan mahasiswa.
    4. Bersama pembimbing dalam mengawasi dan mengevaluasi mahasiswa.
    5. Menandatangani presensi bimbingan pada kartu bimbingan praktik yang telah disediakan oleh mahasiswa.
  3. Penanggung Jawab Lokasi
    1. Merencanakan dan menyelenggarakan acara orientasi.
    2. Merencanakan, menyelenggarakan, dan mengkoordinasikan kegiatan bimbing an dan pengelolaan kegiatan dalam rangka PKL.
      1. Memberikan bimbingan dan evaluasi dalam pelaksanaan PKL.

 

J.   Penilaian PKL

  1. Penilaian selama Proses PKL
  1. Pembimbing luar memberikan nilai,  meliputi:

1)        Kompetensi  profesional.

2)        Kompetensi personal.

3)        Kompetensi sosial.

  1. Pembimbing dalam memberikan nilai, meliputi :

1)                                       Kompetensi profesional.

2)                                       Kompetensi personal.

3)                                       Kompetensi sosial.

4)                                       Laporan.

  1. Sifat Penilaian
  1. Menyeluruh, artinya penilaian meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap mahasiswa.
  2. Kontinu, artinya penilaian dilakukan secara terus-menerus dari awal sampai akhir kegiatan.
  3. Membimbing, artinya penilaian harus dapat memperbaiki hal-hal yang kurang, sedangkan yang sudah baik dtingkatkan.
  4. Objektif, maksudnya penilaian dilakukan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. 
  1. Sasaran Penilaian

Penilaian diarahkan kepada ketercapaian tiga kompetensi dasar, yaitu kompetensi profesional, kompetensi personal, dan kompetensi sosial. Adapun indikator tiap-tiap kompetensi sebagai berikut:

  1. Indikator kompetensi profesional:

1)        Penyusunan program kerja.

2)        Pelaksanaan program kerja.

  1. Indikator kompetensi personal:

1)        Penampilan (cara berdiri, berjalan, duduk, menanggapi/merespon, dan menjelaskan).

2)        Kemampuan berkomunikasi.

3)        Kepribadian.

4)        Tanggung jawab (menjiwai, menerima, melaksanakan).

5)        Kedisiplinan.

  1. Indikator kompetensi  sosial:

1)        Perhatian terhadap members.

2)        Pelayanan terhadap members sebagai “raja”.

3)        Keterbukaan terhadap kritik.

 

  1. Standar Nilai
A  =  86 – 100 B-  =  66 – 70
A- =  80 – 85 C+ =  64 – 65
B+ =  75 – 79 C   =  56 – 63
B   =  71 – 74 D   =    0 – 55

 

K.  Nilai Akhir

Nilai Akhir (NA) adalah hasil dua kali jumlah skor (nilai) pembimbing luar dan skor (nilai) pembimbing dalam dibagi tiga.

 

                     2 (Total Nilai Pembimbing Luar + Total Nilai  Pembimbing Dalam)

      NA =    _______________________________________________________­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­ 

                                                                          4

 

 

 

                          Nilai Komp. Profesi + Nilai Komp. Personal + Nilai Komp. Sosial

      TNPL  =     _____________________________________________________

                                                                        3 

 

 

                   Nilai Komp. Profesi + Nilai Komp. Personal + Nilai Komp. Sosial + (2 x  Nilai  Lap)

TNPD=  __________________________________________________________

                                                                        4

 

 

Keterangan:

NA       = Nilai Akhir

TNPL  = Total Nilai Pembimbing Lapangan  

TNPD  = Total Nilai Pembimbing Dosen

 

                                                                        Yogyakarta,   4  Juli  2005

 

                                                                        Kaprodi Ikora,

 

 

 

 

                                                                        Panggung Sutapa, M.S.

                                                                        NIP  131572379  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SISTEMATIKA LAPORAN PKL

 

 

                                                                                                                           Halaman

 

 

RINGKASAN/ABSTRAK …………………………………………………….…      ii

 

TIM PELAKSANA ………………………………………………………………      iii

 

KATA PENGANTAR   …………………………………………………………       iv

 

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………        v

 

DAFTAR TABEL ………………………………………………………………       vi

 

DAFTAR GAMBAR …………………………………………………………..       vii

 

DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………..      viii

 

 

PENDAHULUAN …………………………………………………………. 

Menjelaskan tentang analisis situasi, tujuan, dan manfaat PKL.

 

PEMBAHASAN ……………………………………………………………

  1. Penyusunan Program.
    1. Pelaksanaan Program.
    2. Hasil Pelaksanaan PKL.

 

PENUTUP ………………………………………………………………….

A.   Kesimpulan.

B.   Saran.

 

KEPUSTAKAAN ………………………………………………………….

LAMPIRAN ……………………………………………………………….



LARI MARATHON

Author: masmar
11, 02, 10

Tulisan ini sudah dimuat di Majalah Ilmiah Kependidikan “Cakrawala Pendidikan”,

IKIP Yogyakarta, edisi Nomor 1, Tahun XI, Februari 1992

 

Oleh:

Margono

Dosen FIK Universitas Negeri Yogyakarta

 

Abstrak

                        Lari Marathon merupakan nomor atletik yang paling populer di antara lari yang lain karena nilai historisnya. Profesor Michael Breal yang mengusulkan kepada Baron Pierre de Coubertin agar nomor ini dilombakan pada Olympic Games pertama tahun 1896, karena respeknya terhadap Pheidippiddes. ‘the famous Athenian runner’.

                        Spiridon Loues adalah orang pertama yang namanya tercatat dalam sejarah sebagai juara lari Marathon Olympic Games. Kisah suksesnya yang dramatis tak pernah menjemukan untuk disimak. Cerita tentang Pheidippides dengan berbagai versinya dari sudut sejarah akan pembaca temui pada tulisan berikut, di samping satu versi dongeng.

 

Pendahuluan

            Lomba lari jalanan menjadi nomor atletik yang menarik akhir-akhir ini, baik tingkat nasional maupun internasional. Hal ini didukung dengan banyaknya lomba lari jalanan di berbagai negara, disertai gengsinya masing-masing.

            Dengan daya tarik utama adalah hadiah berupa uang, lomba jenis ini semakin memikat banyak atlet. Tentunya tanpa maksud meniadakan daya pikat yang lain. Di Indonesia nomor lari jenis ini yang paling bergensi adalah “Borobudur 10 K”, yang dikondangkan sebagai “The Richest Run of the World”. Yang pada mulanya diawali dengan “Bali 10 K”, yang dipromosikan sebagai “The Paradise Run”. Nama besarnya semakin menjadi dengan keikutsertaan para pelari kaliber dunia. Beberapa nama kondang, seperti: Marc Nenow, Arturo Barios, John Ngugi, Brahim Boutayeb, Alberto Salazar, Rob de Castela, di kelompok pria; dan Liz Linch, Grete Waitz, Ingrid Kristiansen, Liza Martin, Jill Hunter, Pricillia Welch, Lyn Jennings, nancy Tinnary, di kelompok wanita.

            Sebelum berbagai lombar lari “Ten Kilometers” kondang, telah populer lebih dahulu lari jalanan jarak jauh, yaitu lari Marathon. Menurut Peraturan Perlombaan dan AD-ART PB PASI 1989 pasal 165 (1989:102), yang termasuk lari jalanan (jalan raya) bagi pria dan wanita adalah: 15 km, 20 km, ½ Marathon (= 21,098 km), 25 km, 30 km, dan Marathon (= 42,195 km).

Para juara lomba lari Marathon adalah manusia yang memiliki daya tahan luar biasa. Walaupun berbagai lomba lari spektakuler muncul, seperti lomba lari ratusan kilometer, lomba lari melintasi gurun pasir, lari gunung, tetapi lari Marathon tetap memiliki kharisma tersendiri.  Juga yang unik, macam Triathlon, lomba yang menggabungkan antara adu lari, renang, dan bersepeda. Triathlon berasal dari ide guyonan seorang Kapten angkatan laut AS, John Collins (Tempo, nomor 25, XVI).

Walaupun lari Marathon mulai dilombakan pada Olympic modern pertama di Athena, tetapi jarak tempuh yang 42,195 km baru dibakukan pada tahun 1908 saat Olympic di selenggarakan di London, dan John Hayes dari AS muncul sebagai juara dengan catatan prestasi 2 jam 55 menit 18,4 detik (Encyclopedia of Sport, 1963:70).

Karena kemajuan teknologi, antara lain, prestasi para atlet Marathon pun semakin baik. Di Seoul,  pada Olympic 1988, Gelindo Bordin asal Italia mengukir prestasi 2:10.32.  Walau pada Olympic sebelumnya ada yang lebih jawara karena kemampuannya menembus waktu di bawah dua jam sepuluh menit, yaitu Carlos Lopez dari Portugal dengan catatan waktu 2:09.27. Dan, Waldemar Cierpinski dengan 2:09.55. Pelari yang disebut terakhir, yang berasal dari Jerman Timur ini mencatat prestasi emas dengan dua kali muncul sebagai juara lari Marathon Olympic 1976 dan 1980; menyamai rekor Abebe Bikila asal Ethiopia, tahun 1960 dan 1964 (The Encyclopedia of Sport, 1963:712; MP edisi Sept-Okt 1988).

 

Sang Profesor dan Baron   

Pertarungan perebutan mahkota sebagai “manusiang paling tahan di dunia” ini tidak akan pernah ada jika tidak terlahir seorang profesor Michael Breal, yang memiliki ide melombakan lari Marathon sebagai nomor puncak pada Olympic Modern yang diprakarsai oleh Baron Pierre de Coubertin.

Mengapa Profesor Michael Breal antusias mengadakan/melombakan lari Marathon pada pekan olahraga Olympic, inilah salah satu pertanyaan yang akan dijawab pada tulisan berikut. Dengan tiga versi, yang menampilkan Pheidippides sebagai super star-nya. Juga kisah dramatis seorang juara lari Marathon modern yang pertama, Spiridon Loues.

 

Kepatuhan Seorang Pheidippides

Pada pekan olahraga Olympic (kuno), tidak ada lomba lari Marathon. Ada perlombaan lari jarak jauh yang disebut Dolichos, berjarak minimal tujuh kali stade sampai dengan 24 kali stade. Satu stade sejauh lebih kurang 200 yards (Earle F Zeigler, 1979:34; Van Dalen, 1961:61). Nomor ini populer setelah selama puluhan tahun sebelumnya lari Stade dan Diaulos dilombakan pada Olympic (kuno).

Menurut sejarah Yunani Purba, ada peristiwa heroik yang terjadi di lembah Marathon. Perang antara Yunani melawan Persia Purba dari awal sampai akhir berlangsung selama 21 tahun, dari 500 BC hingga 471 BC. Di dalam masa perang itu Persia dengan armadanya yang kuat berkali-kali mengadakan penyerbuan ke Yunani. Tiga penyerbuan besar-besaran yang pernah dilancarkan ialah: pertama tahun 492 BC dipimpin Mardonis, menantu raja Darius; kedua 490 BC di bawah pimpinan laksamana Datis; dan ketiga pada tahun 480 BC dengan pimpinan raja Xerxes. Penyerbuan kedualah yang menimbulkan peristiwa bersejarah dengan pertempuran di Marathon. Demikianlah diungkapkan Yama Agni (Cakrawala Pendidikan, 1978) yang mengutip dari buku Algemeen Mythologisch Woordenboek, tulisan JW Gerretsen.

Dengan pimpinan laksamana Datis pasukan Persia menyeberangi laut Aegea dengan tiada mendapat rintangan yang berarti. Lalu menuju ke pulau Euboea, dan menduduki kota Eretria. Kemudian menyeberang lagi menuju daratan Attica, dan mendarat sesudah tikungan di pantai timur dusun Marathon.

Dapat dibayangkan bagaimana kekhawatiran penduduk Athena karena Marathon jaraknya hanya sekitar enam jam perjalanan atau sekitar 40 km dari Athena. Di samping kekuatan pasukan Yunani di kota hanya 12.000 orang. Suatu jumlah yang kecil dibandingkan dengan tentara Persia yang 25.000 orang, terdiri atas pasukan kavaleri dan pemanah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar. Peta Yunani Besar (Sumber: Sejarah Filsafat Yunani, Dr. K. Bertens, 1979:13).

 

Di pihak Athena, beberapa pimpinan menganjurkan pertahanan diadakan di dalam kota, secara defensi di belakang pintu-pintu yang tertutup dan tembok-tembok yang telah diperkuat. Akan tetapi, Miltiades sebagai jenderal tentara Athena tidak sependapat, ia menghendaki pertempuran terbuka jauh dari kota. Maka, diperintahkanlah anak buahnya menuju lembah Marathon, yang jaraknya beberapa kilometer dari dusun Marathon. Miltiades mengatur siasat penghadangan, menanti iring-iringan Datis dan pasukannya yang mulai bergerak menuju Athena.

Pertempuran seru terjadi di lembah itu. Meskipun jumlah tentara Persia merupakan kelipatan pasukan Athena, tetapi karena siasan penghadangan Miltiades sama sekali tidak diduga oleh Datis, maka pertempuran yang meluas sampai ke dusun bahkan ke pantai Marathon itu berakhir dengan kemenangan pihak Athena.

Kemenangan pasukan Athena merupakan surprise yang luar biasa, juga bagi Miltiades, maka pimpinan pasukan Athena itu mengutus Pheidippides, “The famous Athenian runner”, untuk menyampaikan berita kemenangan kepada pimpinan negara (R. Kennedy, 1971:8).

Meskipun Pheidippides sebagai tentara telah bertempur sepanjang hari, dia segera menanggalkan pakaian tempur, perisai dan senjatanya. Dimulailah lari Marathon-nya yang bersejarah, perjalanan panjang menuju Athena. Sekian mil telah dilalui, kakinya mulai lukan, pecah-pecah, dan berdarah, tenggorokkannya terasa sakit untuk bernapas. Rasanya tidak kuat lagi untuk melangkah, hanya kaena mengingat tugasnya amat penting, Pheidippides memaksakan diri terus mengayunkan langkah, bahkan kadang-kadang masih sempat pula berteriak dengan suara serak: “kita menang, bergembiralah, kita menang”. Penduduk sedang bersembunyi mendengar teriakannya, mereka berhamburan keluar. Berkat tekadnya yang luar biasa akhirnya sampai juga di tempat yang dituju,  Acropolis sudah tampak dihadapannya. Dengan terhuyung-huyung ia mengarahkan langkahnya ke bagian kota yang menurut perkiraannya Themitocles dan negarawan lainnya sedang berkumpul. Pheidippides mengabarkan kemenangan pasukan Athena: “Rejoice: We conquer!”. Itulah suara terakhirnya, yang begitu membahagiakan seluruh warga Yunani. Setelah itu dia jatuh dan gugur. Seorang  pahlawan telah tiada (R. Kennedy, 1971:8; J. Kieran and Daley, 1961:18).

 

Pheidippides yang Super

Selain kisah Pheidippides yang telah disebutkan, ada suatu versi yang diungkapkan Grombach dalam “The 1964 Olympic Guide”, sebagai berikut:

“… then landed at Marathon, a plain approximately twenty six miles from Athens. Pheidippides, an Olympic champion, was sent as a courier to try to get help from Sparta. According to the story, he ran, swam rivers, climbed mountains for a days without rest and succeeded in persuading the Spartans to some to the aid of Athens”.

Apabila kita cermati rangkaian kalimat tersebut, ada suatu hal yang sangat luar biasa. Yakni, kemampuan Pheidippides si kurir berhari-hari berlari, berenang menyeberangi sungai, mendaki gunung-gunung menuju ke Sparta, tanpa istirahat. Manusia biasa tak akan mampu melakukan hal tersebut, mengingat jarak Athena ke Sparta sekitar 2.000 km. Keluarbiasaan ini merupakan kelemahan dari apa yang diungkap oleh Grombach.

Yang berikut disebutkan bahwa Pheidippides adalah “an Olympic champion”, padahal menurut arsip yang terdapat di Altis, Olympia, namanya tidak tercantum sebagai juara. Baik pada Olympic purba 492 BC yang ke-72 atau tahun 496 BC yang ke-71. Kalau sebagai ‘The famous Athenian runner” mungkin saja, karena seorang pelari terkenal belum tentu seorang juara, seperti yang dikemukakan J. Kieran dan A. Daley dalam “The Story of Olympic Games”, juga oleh Raymond Kennedy.

Kemudian diungkapkan pula, setelah Pheidippides sampai di Sparta, pihak Sparta bersedia membantu melawan pasukan Persia yang menyerbu Athena. Menurut catatan pada penyerbuan kedua pada tahun 490 BC ini, Sparta tidak memberi bantuan. Pada tahun 480 BC saat Persia mengadakan penyerbuan besar ketiga kalinya, pihak Sparta membantu, bahkan memimpin pertahanan Athena-Yunani.

Ada satu versi lagi cerita kepahlawanan Pheidippides. Pada saat pertempuran berkecamuk, dia dibantu oleh dewa Pan, yakni dewa hutan dan padang rumput. Dewa ini sebagai penguasa dan pelindung binatang dan ternak, yang berciri: bertanduk, berjenggot, berhidung bengkok, dan memiliki sepasang kaki seperti kaki kambing. Kekalahan pasukan Persia di bawah pimpinan Datis, tidak hanya karena melawan tentara Athena pimpinan Miltiades, tetapi juga karena ketakutan menghadapi dewa Pan yang berpenampilan mengerikan dan galak. Kesediaan dewa Pan membantu pasukan Athena disebabkan juga banyak orang Athena yang telah melupakannya, tidak menghargai lagi sebagaimana dewa-dewa lain.

Apabila dilihat dari sudut sejarah, kiranya kisah Pheidippides yang dikemukakan pertama lebih dapat diakui kebenarannya dibandingkan dengan dua versi yang lain. Keberatan-keberatan pada versi yang kedua telah disebutkan. Sedangkan versi yang ketiga lebih condong ke arah dongeng.

Kenyataan bahwa Pheidippides adalah warga yang patuh, ulet dan pemberani, serta pernah lari dari Marathon ke Athena, dan gugur sebagai pahlawan inilah yang membuat Michael Breal kagum padanya. Kekaguman dan rasa hormat yang menggerakkan hati sang profesor sehingga menyarankan kepada Baron agar pada penyelenggaraan Olympic games modern pertama tahun 1896 dilombakan nomor lari Marathon. Hal itu terwujud dan menjadi tradisi  dalam Olympic hingga sekarang.    

 

Spiridon Loues, si Ceking

Atas perjuangan Baron Pierre de Coubertin yang mulai tahun 1892 menyampaikan proposal Olympic Games I pada pertemuan “Athletic Sport”, dan pada tahun 1894 pada suatu “Athletic Congress”, pekan olahraga Olympic (modern) dapat digelarkan 6 April 1896, yang dibuka secara resmi oleh raja George I dari Yunani. Tepatnya di stadion Averroff, yang diambil dari nama seorang pedagang asal Alexandria-Egypt, yang memberikan bantuan uang sebesar satu juga drachmas kepada Olympic Committee, untuk pembangunan stadion pualam yang berkapasitas 50.000 orang (The Encyclopedia of Sport, 1963:707; R Kennedy, 1971:14; Ensiklopedia Indonesia, 1980:713).

Selama satu minggu warga Yunani dengan setia menyaksikan Olympic, tetapi kekecewaan yang didapat karena tiada satu nomor pun dimenankan atlet mereka. Para supporter Yunani benar-benar sedih, yang setiap saat dipaksa melihat kekalahan para jagonya (R Kennedy,1971:16). Akan tetapi, itulah kenyataan. Tuan rumah benar-benar haus kemenangan, ingin menyaksikan jagonya menempati tahta juara pertama.

Pada nomor lari marathon, dahaga mereka terpuasi. Lari Marathon menempuh jarak hampir sama dengan yang pernah dilakukan Pheidippides kira-kira 24 abad sebelumnya, tepatnya 2386 tahun (490 BC – 1896 AD). Nomor lari ini mengambil start di Marathon dan finis di stadion Averroff, jaraknya sekitar 26 mil. Ada 25 pelari yang mengikuti, salah satu diantaranya Spiridon Loues, si penggembala biri-biri warga Yunani, yang berperawakan kurus kecil.

Dalam The Story of The Olympic Games, R Kennedy menuliskan (1971:16), bahwa “Spiridon was a dreamer, like many men who live or work alone, apart from other man”. Dia melakukan kegiatan yang bersifat relijius menjelang lomba. “In the last two days before the race, Spiridon, instead of practicing his running, prayed to God to help him”.

Di antara para peserta terdapat: Lemursiaux pelari dari Perancis juara III lari 1500 meter; Arthur Blake, dari AS juara II lari yang sama; juga pelari Australia, juara lari 800 dan 1500 meter.

Telah disiapkan pasukan Yunani di sepanjang rute dari Marathon ke Athena, termasuk juga sepasukan berkuda yang siap mengikuti para pelari dan memberikan pertolongan seperlunya. Para petani dan warga setempat di sepanjang jalan memberi semangat serta menawarkan makanan-minuman. Menjelang mil ke18, Arthur Blake memimpin, tetapi setelah itu langkahnya semakin lemah, berhenti dan jatuh. Kabar buruk bagi warga Amerika. Sebaliknya, Spiridon Loues tetap berlari dengan langkah-langkah mantap. Langkah yang menjanjikan kemenangan.

Perjalanan yang harus ditempuh kira-kira 4of Greece mil lagi, Spiridon mengambil alih pimpinan. Berita tersiar cepat ke seluruh penonton. Terlihatlah Spiridon siap memasuki pintu gerbang stadion, sebagai yang pertama, dan “Prince Constantine and Prince George of Greece quickly left their seats and went to the gate and waited for Loues to appear. The little Greek athlete came into the stadium and ran to the l  finish line with Prince Constantine on one side of him and Prince George, 6 feet 5 inches tall, on the order side”. (R. Kennedy, 1971:18).

Demikianlah, Loues lari di antara dua Prince Yunani. Dan yang lebih melengkapi suka cita warya Yunani adalah “Two other Greeks, Vasilakos and Belokas, finished second and third”.

Setelah mengalami banyak kekecewaan, kemenangan di nomor lari Marathon benar-benar sangat membahagiakan dan membanggakan. Spiridon Loues laksana air sejuk menyiram warga Yunani yang sedang kehausan. Benar-benar sulit membayangkan suasana saat itu.

 

Penutup

Lari Marathon mulai dilombakan sejak Olympic modern I, tahun 1896 di Athena-Yunani, atas usul Profesor Michael Breal. Jarak tempuhnya yang 42,195 km ditetapkan tahun 1908 saat Olympic dilaksanakan di London, sebelumnya pada Olympic I sampai dengan III jarak tempuhnya berubah-ubah.

Atlet yang tercatat namanya sebagai juara lari Marathon pada Olympic Games I adalah Spiridon Loues dengan catatan waktu 2 jam 58 menit 50 detik. Kisah tentang Pheidippides, “The Famous Athenian Runner”, yang lari dari Marathon ke Athena untuk mengabarkan kemenangan perang melawan Persia tahun 490 BC, dianggap yang melatarbelakangi dilombakannya lari Marathon.

Ada hal-hal yang perlu dikaji lebih dalam tentang sejarah (olahraga) bangsa-bangsa kuno, khususnya, karena kadang terdapat informasi yang belum sama dari berbagai sumber yang ada.

 

Daftar pustaka

Bertens, K. 1979. Sejarah Filsafat Yunani. Edisi kedua. Yogyakarta: Penerbitan Yayasan Kanisius.

Ensiklopedia Indonesia. 1980. Jakarta-Indonesia: Penerbit Buku Ichtiar-Van Hove.

Grombach, John V. 1964. The 1964 Olympic Guide. New York: The Hearst Coorporation, 595 Hight Avenue, 10019.

Kennedy, Raymond. 1971. The Story of Olympic Games. New York: Washington Square Press.

Kieran, John and Arthur Daley. 1961. The Story of Olympic Games 776 BC – 1960 AD. Revised Edition. New York: JB Lippicott Company.

Menke, Frank G. 1963. The Encyclopedia of Sport. Third Revised Edition. New York: AS Barnes and Company.

Minggu Pagi. Edisi September-Oktoer 1988.

PB PASI. Peraturan Perlombaan dan AD-ART 1989.

Tempo. Nomor 25 tahun XVI, 16 Agustus 1986. “Triathlon”

Van Dalen, DB., et all. 1961. A World History of Physical Education (Cultural, Philosophical, Comparative). Fourth edition. New York: Englewood Cliffs, Prentice Hall Inc.

Yama Agni. 1982. “Pekan Olahraga Olympis”. Cakrawala Pendidikan. Volume 11,  nomor 6. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.

Zeigler, Earle F. 1979. History of Physical Education and Sport. New York: Prentice Hall Incorporation, Englewood Cliffs.

 

—–



Dimuat di: Majalah Media KORPRI D I Yogyakarta, nomor 8, tahun IV, 1991.

Oleh: Margono

Dosen FIK Universitas Negeri Yogyakarta

 

Banyaknya obat yang beredar di pasaran bebas memudahkan masyarakat untuk memperolehnya, sehingga berkembanglah praktek pengobatan sendiri (self medication/self treatment). Kemudahan dalam memperoleh obat, di satu sisi dapat dianggap sebagai segi yang menguntungkan. Tetapi di sisi lain, bisa merupakan sesuatu yang merugikan dan sekaligus membahayakan, karena sulit dalam pengawasan oleh pihak berwajib.

Pada kenyataannya masih cukup banyak masyarakat yang memiliki pandangan, bahwa obat merupakan suatu zat yang selalu baik bagi tubuh. Tidak demikian sesungguhnya. Setiap zat yang dipergunakan oleh manusia mempunyai pengaruh yang baik dan buruk sekaligus. Walaupun obat memang merupakan zat yang terpilih. Obat adalah zat-zat yang diketahui khasiatnya dan selain itu telah diketahui pula akibat-akibat buruknya, biar pun dalam persentase kecil.

Kata kunci: Obat, self medication, dosis, plasebo.

 

1. Obat = Racun

….

2. Ada yang Lewat Dubur

…..

3. Dosis Letal = Kematian

…..

4. Sifatnya Spesifik Individual

…..

5. ADME nya Bayi

…..

6. Yang Pro dan Kontra

…..

7.  Plasebo, yang Menyenangkan

…..

8. Sebagai Malaikat

…..

—–

Sumber Bacaan

YP Jokosuyono. (1979). Obat dan Masalahnya. Yogyakarta: Penerbit Yayasan Kanisius.

Tan Hoan Tjay dan Kirana Raharja. (1978). Obat-Obat Penting (Khasiat dan Penggunaannya). Edisi ke-3 cetakan         pertama.

Moh. Anief. (1984). Penggolongan Obat (Berdasarkan Khasiat dan Penggunaannya). Yogyakarta: Gajah Mada University Press.