LARI MARATHON

Author: masmar
11, 02, 10

Tulisan ini sudah dimuat di Majalah Ilmiah Kependidikan “Cakrawala Pendidikan”,

IKIP Yogyakarta, edisi Nomor 1, Tahun XI, Februari 1992

 

Oleh:

Margono

Dosen FIK Universitas Negeri Yogyakarta

 

Abstrak

                        Lari Marathon merupakan nomor atletik yang paling populer di antara lari yang lain karena nilai historisnya. Profesor Michael Breal yang mengusulkan kepada Baron Pierre de Coubertin agar nomor ini dilombakan pada Olympic Games pertama tahun 1896, karena respeknya terhadap Pheidippiddes. ‘the famous Athenian runner’.

                        Spiridon Loues adalah orang pertama yang namanya tercatat dalam sejarah sebagai juara lari Marathon Olympic Games. Kisah suksesnya yang dramatis tak pernah menjemukan untuk disimak. Cerita tentang Pheidippides dengan berbagai versinya dari sudut sejarah akan pembaca temui pada tulisan berikut, di samping satu versi dongeng.

 

Pendahuluan

            Lomba lari jalanan menjadi nomor atletik yang menarik akhir-akhir ini, baik tingkat nasional maupun internasional. Hal ini didukung dengan banyaknya lomba lari jalanan di berbagai negara, disertai gengsinya masing-masing.

            Dengan daya tarik utama adalah hadiah berupa uang, lomba jenis ini semakin memikat banyak atlet. Tentunya tanpa maksud meniadakan daya pikat yang lain. Di Indonesia nomor lari jenis ini yang paling bergensi adalah “Borobudur 10 K”, yang dikondangkan sebagai “The Richest Run of the World”. Yang pada mulanya diawali dengan “Bali 10 K”, yang dipromosikan sebagai “The Paradise Run”. Nama besarnya semakin menjadi dengan keikutsertaan para pelari kaliber dunia. Beberapa nama kondang, seperti: Marc Nenow, Arturo Barios, John Ngugi, Brahim Boutayeb, Alberto Salazar, Rob de Castela, di kelompok pria; dan Liz Linch, Grete Waitz, Ingrid Kristiansen, Liza Martin, Jill Hunter, Pricillia Welch, Lyn Jennings, nancy Tinnary, di kelompok wanita.

            Sebelum berbagai lombar lari “Ten Kilometers” kondang, telah populer lebih dahulu lari jalanan jarak jauh, yaitu lari Marathon. Menurut Peraturan Perlombaan dan AD-ART PB PASI 1989 pasal 165 (1989:102), yang termasuk lari jalanan (jalan raya) bagi pria dan wanita adalah: 15 km, 20 km, ½ Marathon (= 21,098 km), 25 km, 30 km, dan Marathon (= 42,195 km).

Para juara lomba lari Marathon adalah manusia yang memiliki daya tahan luar biasa. Walaupun berbagai lomba lari spektakuler muncul, seperti lomba lari ratusan kilometer, lomba lari melintasi gurun pasir, lari gunung, tetapi lari Marathon tetap memiliki kharisma tersendiri.  Juga yang unik, macam Triathlon, lomba yang menggabungkan antara adu lari, renang, dan bersepeda. Triathlon berasal dari ide guyonan seorang Kapten angkatan laut AS, John Collins (Tempo, nomor 25, XVI).

Walaupun lari Marathon mulai dilombakan pada Olympic modern pertama di Athena, tetapi jarak tempuh yang 42,195 km baru dibakukan pada tahun 1908 saat Olympic di selenggarakan di London, dan John Hayes dari AS muncul sebagai juara dengan catatan prestasi 2 jam 55 menit 18,4 detik (Encyclopedia of Sport, 1963:70).

Karena kemajuan teknologi, antara lain, prestasi para atlet Marathon pun semakin baik. Di Seoul,  pada Olympic 1988, Gelindo Bordin asal Italia mengukir prestasi 2:10.32.  Walau pada Olympic sebelumnya ada yang lebih jawara karena kemampuannya menembus waktu di bawah dua jam sepuluh menit, yaitu Carlos Lopez dari Portugal dengan catatan waktu 2:09.27. Dan, Waldemar Cierpinski dengan 2:09.55. Pelari yang disebut terakhir, yang berasal dari Jerman Timur ini mencatat prestasi emas dengan dua kali muncul sebagai juara lari Marathon Olympic 1976 dan 1980; menyamai rekor Abebe Bikila asal Ethiopia, tahun 1960 dan 1964 (The Encyclopedia of Sport, 1963:712; MP edisi Sept-Okt 1988).

 

Sang Profesor dan Baron   

Pertarungan perebutan mahkota sebagai “manusiang paling tahan di dunia” ini tidak akan pernah ada jika tidak terlahir seorang profesor Michael Breal, yang memiliki ide melombakan lari Marathon sebagai nomor puncak pada Olympic Modern yang diprakarsai oleh Baron Pierre de Coubertin.

Mengapa Profesor Michael Breal antusias mengadakan/melombakan lari Marathon pada pekan olahraga Olympic, inilah salah satu pertanyaan yang akan dijawab pada tulisan berikut. Dengan tiga versi, yang menampilkan Pheidippides sebagai super star-nya. Juga kisah dramatis seorang juara lari Marathon modern yang pertama, Spiridon Loues.

 

Kepatuhan Seorang Pheidippides

Pada pekan olahraga Olympic (kuno), tidak ada lomba lari Marathon. Ada perlombaan lari jarak jauh yang disebut Dolichos, berjarak minimal tujuh kali stade sampai dengan 24 kali stade. Satu stade sejauh lebih kurang 200 yards (Earle F Zeigler, 1979:34; Van Dalen, 1961:61). Nomor ini populer setelah selama puluhan tahun sebelumnya lari Stade dan Diaulos dilombakan pada Olympic (kuno).

Menurut sejarah Yunani Purba, ada peristiwa heroik yang terjadi di lembah Marathon. Perang antara Yunani melawan Persia Purba dari awal sampai akhir berlangsung selama 21 tahun, dari 500 BC hingga 471 BC. Di dalam masa perang itu Persia dengan armadanya yang kuat berkali-kali mengadakan penyerbuan ke Yunani. Tiga penyerbuan besar-besaran yang pernah dilancarkan ialah: pertama tahun 492 BC dipimpin Mardonis, menantu raja Darius; kedua 490 BC di bawah pimpinan laksamana Datis; dan ketiga pada tahun 480 BC dengan pimpinan raja Xerxes. Penyerbuan kedualah yang menimbulkan peristiwa bersejarah dengan pertempuran di Marathon. Demikianlah diungkapkan Yama Agni (Cakrawala Pendidikan, 1978) yang mengutip dari buku Algemeen Mythologisch Woordenboek, tulisan JW Gerretsen.

Dengan pimpinan laksamana Datis pasukan Persia menyeberangi laut Aegea dengan tiada mendapat rintangan yang berarti. Lalu menuju ke pulau Euboea, dan menduduki kota Eretria. Kemudian menyeberang lagi menuju daratan Attica, dan mendarat sesudah tikungan di pantai timur dusun Marathon.

Dapat dibayangkan bagaimana kekhawatiran penduduk Athena karena Marathon jaraknya hanya sekitar enam jam perjalanan atau sekitar 40 km dari Athena. Di samping kekuatan pasukan Yunani di kota hanya 12.000 orang. Suatu jumlah yang kecil dibandingkan dengan tentara Persia yang 25.000 orang, terdiri atas pasukan kavaleri dan pemanah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar. Peta Yunani Besar (Sumber: Sejarah Filsafat Yunani, Dr. K. Bertens, 1979:13).

 

Di pihak Athena, beberapa pimpinan menganjurkan pertahanan diadakan di dalam kota, secara defensi di belakang pintu-pintu yang tertutup dan tembok-tembok yang telah diperkuat. Akan tetapi, Miltiades sebagai jenderal tentara Athena tidak sependapat, ia menghendaki pertempuran terbuka jauh dari kota. Maka, diperintahkanlah anak buahnya menuju lembah Marathon, yang jaraknya beberapa kilometer dari dusun Marathon. Miltiades mengatur siasat penghadangan, menanti iring-iringan Datis dan pasukannya yang mulai bergerak menuju Athena.

Pertempuran seru terjadi di lembah itu. Meskipun jumlah tentara Persia merupakan kelipatan pasukan Athena, tetapi karena siasan penghadangan Miltiades sama sekali tidak diduga oleh Datis, maka pertempuran yang meluas sampai ke dusun bahkan ke pantai Marathon itu berakhir dengan kemenangan pihak Athena.

Kemenangan pasukan Athena merupakan surprise yang luar biasa, juga bagi Miltiades, maka pimpinan pasukan Athena itu mengutus Pheidippides, “The famous Athenian runner”, untuk menyampaikan berita kemenangan kepada pimpinan negara (R. Kennedy, 1971:8).

Meskipun Pheidippides sebagai tentara telah bertempur sepanjang hari, dia segera menanggalkan pakaian tempur, perisai dan senjatanya. Dimulailah lari Marathon-nya yang bersejarah, perjalanan panjang menuju Athena. Sekian mil telah dilalui, kakinya mulai lukan, pecah-pecah, dan berdarah, tenggorokkannya terasa sakit untuk bernapas. Rasanya tidak kuat lagi untuk melangkah, hanya kaena mengingat tugasnya amat penting, Pheidippides memaksakan diri terus mengayunkan langkah, bahkan kadang-kadang masih sempat pula berteriak dengan suara serak: “kita menang, bergembiralah, kita menang”. Penduduk sedang bersembunyi mendengar teriakannya, mereka berhamburan keluar. Berkat tekadnya yang luar biasa akhirnya sampai juga di tempat yang dituju,  Acropolis sudah tampak dihadapannya. Dengan terhuyung-huyung ia mengarahkan langkahnya ke bagian kota yang menurut perkiraannya Themitocles dan negarawan lainnya sedang berkumpul. Pheidippides mengabarkan kemenangan pasukan Athena: “Rejoice: We conquer!”. Itulah suara terakhirnya, yang begitu membahagiakan seluruh warga Yunani. Setelah itu dia jatuh dan gugur. Seorang  pahlawan telah tiada (R. Kennedy, 1971:8; J. Kieran and Daley, 1961:18).

 

Pheidippides yang Super

Selain kisah Pheidippides yang telah disebutkan, ada suatu versi yang diungkapkan Grombach dalam “The 1964 Olympic Guide”, sebagai berikut:

“… then landed at Marathon, a plain approximately twenty six miles from Athens. Pheidippides, an Olympic champion, was sent as a courier to try to get help from Sparta. According to the story, he ran, swam rivers, climbed mountains for a days without rest and succeeded in persuading the Spartans to some to the aid of Athens”.

Apabila kita cermati rangkaian kalimat tersebut, ada suatu hal yang sangat luar biasa. Yakni, kemampuan Pheidippides si kurir berhari-hari berlari, berenang menyeberangi sungai, mendaki gunung-gunung menuju ke Sparta, tanpa istirahat. Manusia biasa tak akan mampu melakukan hal tersebut, mengingat jarak Athena ke Sparta sekitar 2.000 km. Keluarbiasaan ini merupakan kelemahan dari apa yang diungkap oleh Grombach.

Yang berikut disebutkan bahwa Pheidippides adalah “an Olympic champion”, padahal menurut arsip yang terdapat di Altis, Olympia, namanya tidak tercantum sebagai juara. Baik pada Olympic purba 492 BC yang ke-72 atau tahun 496 BC yang ke-71. Kalau sebagai ‘The famous Athenian runner” mungkin saja, karena seorang pelari terkenal belum tentu seorang juara, seperti yang dikemukakan J. Kieran dan A. Daley dalam “The Story of Olympic Games”, juga oleh Raymond Kennedy.

Kemudian diungkapkan pula, setelah Pheidippides sampai di Sparta, pihak Sparta bersedia membantu melawan pasukan Persia yang menyerbu Athena. Menurut catatan pada penyerbuan kedua pada tahun 490 BC ini, Sparta tidak memberi bantuan. Pada tahun 480 BC saat Persia mengadakan penyerbuan besar ketiga kalinya, pihak Sparta membantu, bahkan memimpin pertahanan Athena-Yunani.

Ada satu versi lagi cerita kepahlawanan Pheidippides. Pada saat pertempuran berkecamuk, dia dibantu oleh dewa Pan, yakni dewa hutan dan padang rumput. Dewa ini sebagai penguasa dan pelindung binatang dan ternak, yang berciri: bertanduk, berjenggot, berhidung bengkok, dan memiliki sepasang kaki seperti kaki kambing. Kekalahan pasukan Persia di bawah pimpinan Datis, tidak hanya karena melawan tentara Athena pimpinan Miltiades, tetapi juga karena ketakutan menghadapi dewa Pan yang berpenampilan mengerikan dan galak. Kesediaan dewa Pan membantu pasukan Athena disebabkan juga banyak orang Athena yang telah melupakannya, tidak menghargai lagi sebagaimana dewa-dewa lain.

Apabila dilihat dari sudut sejarah, kiranya kisah Pheidippides yang dikemukakan pertama lebih dapat diakui kebenarannya dibandingkan dengan dua versi yang lain. Keberatan-keberatan pada versi yang kedua telah disebutkan. Sedangkan versi yang ketiga lebih condong ke arah dongeng.

Kenyataan bahwa Pheidippides adalah warga yang patuh, ulet dan pemberani, serta pernah lari dari Marathon ke Athena, dan gugur sebagai pahlawan inilah yang membuat Michael Breal kagum padanya. Kekaguman dan rasa hormat yang menggerakkan hati sang profesor sehingga menyarankan kepada Baron agar pada penyelenggaraan Olympic games modern pertama tahun 1896 dilombakan nomor lari Marathon. Hal itu terwujud dan menjadi tradisi  dalam Olympic hingga sekarang.    

 

Spiridon Loues, si Ceking

Atas perjuangan Baron Pierre de Coubertin yang mulai tahun 1892 menyampaikan proposal Olympic Games I pada pertemuan “Athletic Sport”, dan pada tahun 1894 pada suatu “Athletic Congress”, pekan olahraga Olympic (modern) dapat digelarkan 6 April 1896, yang dibuka secara resmi oleh raja George I dari Yunani. Tepatnya di stadion Averroff, yang diambil dari nama seorang pedagang asal Alexandria-Egypt, yang memberikan bantuan uang sebesar satu juga drachmas kepada Olympic Committee, untuk pembangunan stadion pualam yang berkapasitas 50.000 orang (The Encyclopedia of Sport, 1963:707; R Kennedy, 1971:14; Ensiklopedia Indonesia, 1980:713).

Selama satu minggu warga Yunani dengan setia menyaksikan Olympic, tetapi kekecewaan yang didapat karena tiada satu nomor pun dimenankan atlet mereka. Para supporter Yunani benar-benar sedih, yang setiap saat dipaksa melihat kekalahan para jagonya (R Kennedy,1971:16). Akan tetapi, itulah kenyataan. Tuan rumah benar-benar haus kemenangan, ingin menyaksikan jagonya menempati tahta juara pertama.

Pada nomor lari marathon, dahaga mereka terpuasi. Lari Marathon menempuh jarak hampir sama dengan yang pernah dilakukan Pheidippides kira-kira 24 abad sebelumnya, tepatnya 2386 tahun (490 BC – 1896 AD). Nomor lari ini mengambil start di Marathon dan finis di stadion Averroff, jaraknya sekitar 26 mil. Ada 25 pelari yang mengikuti, salah satu diantaranya Spiridon Loues, si penggembala biri-biri warga Yunani, yang berperawakan kurus kecil.

Dalam The Story of The Olympic Games, R Kennedy menuliskan (1971:16), bahwa “Spiridon was a dreamer, like many men who live or work alone, apart from other man”. Dia melakukan kegiatan yang bersifat relijius menjelang lomba. “In the last two days before the race, Spiridon, instead of practicing his running, prayed to God to help him”.

Di antara para peserta terdapat: Lemursiaux pelari dari Perancis juara III lari 1500 meter; Arthur Blake, dari AS juara II lari yang sama; juga pelari Australia, juara lari 800 dan 1500 meter.

Telah disiapkan pasukan Yunani di sepanjang rute dari Marathon ke Athena, termasuk juga sepasukan berkuda yang siap mengikuti para pelari dan memberikan pertolongan seperlunya. Para petani dan warga setempat di sepanjang jalan memberi semangat serta menawarkan makanan-minuman. Menjelang mil ke18, Arthur Blake memimpin, tetapi setelah itu langkahnya semakin lemah, berhenti dan jatuh. Kabar buruk bagi warga Amerika. Sebaliknya, Spiridon Loues tetap berlari dengan langkah-langkah mantap. Langkah yang menjanjikan kemenangan.

Perjalanan yang harus ditempuh kira-kira 4of Greece mil lagi, Spiridon mengambil alih pimpinan. Berita tersiar cepat ke seluruh penonton. Terlihatlah Spiridon siap memasuki pintu gerbang stadion, sebagai yang pertama, dan “Prince Constantine and Prince George of Greece quickly left their seats and went to the gate and waited for Loues to appear. The little Greek athlete came into the stadium and ran to the l  finish line with Prince Constantine on one side of him and Prince George, 6 feet 5 inches tall, on the order side”. (R. Kennedy, 1971:18).

Demikianlah, Loues lari di antara dua Prince Yunani. Dan yang lebih melengkapi suka cita warya Yunani adalah “Two other Greeks, Vasilakos and Belokas, finished second and third”.

Setelah mengalami banyak kekecewaan, kemenangan di nomor lari Marathon benar-benar sangat membahagiakan dan membanggakan. Spiridon Loues laksana air sejuk menyiram warga Yunani yang sedang kehausan. Benar-benar sulit membayangkan suasana saat itu.

 

Penutup

Lari Marathon mulai dilombakan sejak Olympic modern I, tahun 1896 di Athena-Yunani, atas usul Profesor Michael Breal. Jarak tempuhnya yang 42,195 km ditetapkan tahun 1908 saat Olympic dilaksanakan di London, sebelumnya pada Olympic I sampai dengan III jarak tempuhnya berubah-ubah.

Atlet yang tercatat namanya sebagai juara lari Marathon pada Olympic Games I adalah Spiridon Loues dengan catatan waktu 2 jam 58 menit 50 detik. Kisah tentang Pheidippides, “The Famous Athenian Runner”, yang lari dari Marathon ke Athena untuk mengabarkan kemenangan perang melawan Persia tahun 490 BC, dianggap yang melatarbelakangi dilombakannya lari Marathon.

Ada hal-hal yang perlu dikaji lebih dalam tentang sejarah (olahraga) bangsa-bangsa kuno, khususnya, karena kadang terdapat informasi yang belum sama dari berbagai sumber yang ada.

 

Daftar pustaka

Bertens, K. 1979. Sejarah Filsafat Yunani. Edisi kedua. Yogyakarta: Penerbitan Yayasan Kanisius.

Ensiklopedia Indonesia. 1980. Jakarta-Indonesia: Penerbit Buku Ichtiar-Van Hove.

Grombach, John V. 1964. The 1964 Olympic Guide. New York: The Hearst Coorporation, 595 Hight Avenue, 10019.

Kennedy, Raymond. 1971. The Story of Olympic Games. New York: Washington Square Press.

Kieran, John and Arthur Daley. 1961. The Story of Olympic Games 776 BC – 1960 AD. Revised Edition. New York: JB Lippicott Company.

Menke, Frank G. 1963. The Encyclopedia of Sport. Third Revised Edition. New York: AS Barnes and Company.

Minggu Pagi. Edisi September-Oktoer 1988.

PB PASI. Peraturan Perlombaan dan AD-ART 1989.

Tempo. Nomor 25 tahun XVI, 16 Agustus 1986. “Triathlon”

Van Dalen, DB., et all. 1961. A World History of Physical Education (Cultural, Philosophical, Comparative). Fourth edition. New York: Englewood Cliffs, Prentice Hall Inc.

Yama Agni. 1982. “Pekan Olahraga Olympis”. Cakrawala Pendidikan. Volume 11,  nomor 6. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.

Zeigler, Earle F. 1979. History of Physical Education and Sport. New York: Prentice Hall Incorporation, Englewood Cliffs.

 

—–




Leave a Reply


eight + = 13