DESKRIPSI DIRI

Author: masmar
12, 02, 10

 

 

INSTRUMEN SERTIFIKASI DOSEN

Deskripsi Diri

 

 

IDENTITAS DOSEN

 

1. Nama Dosen yang Diusulkan

:

Drs. Margono, M.Pd.
2. NIP/NIK/NRP

:

19610830 198601 1 001
3. Perguruan Tinggi Pengusul

:

Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
4. Nomor Peserta

:

091103817610164
5. Rumpun/Bidang Ilmu yang Disertifikasi

:

Sejarah Olahraga

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

2009


BAGIAN I

 

Deskripsikan dengan jelas apa saja yang telah Anda lakukan yang dapat dianggap sebagai prestasi dan/atau kontribusi bagi pelaksanaan dan pengembangan Tridharma Perguruan Tinggi, yang berkenaan dengan hal-hal berikut. Deskripsi ini perlu dilengkapi dengan contoh nyata yang Saudara alami/lakukan dalam kehidupan profesional sebagai dosen.

 

 

 

  1. A.   Pengembangan Kualitas Pembelajaran (usaha dan dampak perubahan)

 

Jelaskan usaha-usaha Saudara dalam usaha meningkatkan kualitas pembelajaran dan bagaimana dampaknya! Berikan contoh nyata yang Saudara alami dalam kehidupan profesional sebagai dosen

 

Deskripsi: 

 

Mata kuliah teori yang sejak awal saya ampu adalah Sejarah Olahraga. Sejarah bermakna peristiwa masa lampau yang benar-benar terjadi, dan sangat biasa disajikan secara kronologis. Bermula dari peristiwa yang sangat lampau dan semakin ke depan, ke masa yang semakin kini. Pada masa awal sebagai dosen, pada masa awal menjadi pengampu mata kuliah Sejarah Olahraga, maka metode ceramah sangat saya kedepankan. Bak seorang pendongeng profesional, saya hapalkan semua nama orang, semua tempat, saya ceritakan alur kisah dari awal hingga akhir, hingga jam kuliah berakhir. Saya, pada masa itu sangat bangga, karena merasa menjadi pencerita yang handal, yang mempesona para mahasiswa. Saya merasa hebat, karena tidak ada bagian kisah yang tercecer. Tibalah masa ujian. Hasil atau nilai yang diperoleh para mahasiswa, jauh dari harapan. Nilai A relatif sedikit diraih mahasiswa. Apa yang salah??

Ternyata para mahasiswa saat kuliah saya berikan, menjadi pendengar, tetapi sebagian besar tidak dapat memahami dengan baik. Hal ini terbukti, hasil akhir yang tidak sesuai dengan harapan saya.

Maka kiranya perlu langkah-langkah nyata untuk meningkatkan pemahaman para mahasiswa, yang akan berdampak pada peningkatan nilai akhir.

Upaya tersebut adalah pembuatan buku pegangan kuliah dan pemanfaatan media (laptop dan LCD). Dua langkah tersebut saya lakukan, dalam waktu hampir bersamaan. Artinya saat saya mulai menyusun buku, maka LCD juga sudah saya manfaatkan.

Dalam perkuliahan pun ada perubahan. Sebelumnya saya mendominasi kelas, maka sekarang para mahasiswa saya paksa untuk aktif di kelas. Ada diskusi kelompok, ada presentasi secara periodik, sehingga memaksa para mahasiswa senantiasa siap.

Strategi perkuliahan pun berkembang. Yang semula dominan kronologis, sekarang lebih bervariasi, misalnya dengan strategi tematik saat ada event penting diselenggarakan. Juga penggunaan strategi atau model regresif, maupun strategi garis perkembangan khusus. Berbagai macam strategi saya gunakan sesuai dengan keperluan.

Dampaknya adalah, para mahasiswa menjadi lebih aktif di kelas. Mahasiswa memiliki bekal saat di dalam ruang kelas, karena sudah diberikan kewajiban membaca buku pada bab yang akan dibicarakan. Ada plus lagi, mahasiswa ‘terpaksa’ harus belajar menulis (berupa resume) apa yang sudah dipelajari. Khusus untuk tugas membuat resume, hanya pada topik tertentu saja.     

Kelas menjadi lebih hidup, karena terjadi dialog yang positif. Mahasiswa seringkali sudah dapat memecahkan masalah yang didiskusikan di kelas. Dengan kondisi kelas yang semacam ini, maka saya selaku dosen, juga harus senantiasa meningkatkan atau memperkaya pengetahuan. Tentunya hal ini karena mudahnya mengakses pengetahuan lewat internet. Hasil akhir setelah ujian semester, banyak mahasiswa yang mampu meraih nilai A. Hal ini bermakna, mahasiswa semakin memiliki pemahaman yang baik. Harapan lebih jauh, mahasiswa tidak akan melupakan hakekat belajar sejarah, yaitu menjadi insan yang ‘wise’ atau bijaksana.

 

 

 

 

  1. B.   Pengembangan Keilmuan/Keahlian Pokok (produktivitas dan makna karya ilmiah)

 

Jelaskan produk karya-karya ilmiah yang telah Saudara hasilkan, baik dalam bentuk buku, penelitian, jurnal ilmiah, makalah yang dipresentasikan (dalam forum ilmiah), hak paten, hak cipta, artikel dalam media masa dan bagaimana keterkaitannya (makna karya) dengan pengembangan keilmuan Saudara! Berikan judul karya ilmiah Saudara dan yang menerbitkan/mempublikasikannya!

 

Deskripsi:

 

Tahun 2000 saya lulus S-2 program studi Pendidikan Olahraga. Pilihan prodi ini sangat tepat sesuai dengan S-1 saya di prodi Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, dan sekarang di Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UNY. Pada saat kuliah dulu, maka membaca banyak menjadi wajib, dan menulis banyak juga menjadi wajib. Kuliah menjadi seperti langkah me-recharge aktivitas yang memang saya senangi, membaca dan menulis. Dengan menulis, saya berkeyakinan sudah ikut sedikit mencerdaskan masyarakat pembaca.  

Sejak tahun-tahun awal menjadi dosen, tahun 1980-an, saya sudah mulai menulis. Ada majalah ilmiah populer terbitan IKIP Yogyakarta (sekarang UNY), namanya “Warta IKIP Yogyakarta” yang menjadi langganan tulisan saya. Beberapa tahun saya sempat dipilih menjadi salah seorang anggota dewan redaksi.

Tahun 1987, tulisan saya berjudul “Olahraga Lari sebagai Alternatif Mencapai Tingkat Kesegaran Jasmani yang Memadai” dimuat di Jurnal Ilmiah “Cakrawala Pendidikan” terbitan IKIP Yogyakarta. Jurnal ini terbit setiap catur wulan. Setelah dimuat yang pertama tersebut, saya hampir setiap tahun menulis di Jurnal ini. Pada tahun 2000-an, jurnal ini terakreditasi, dan saya menjadi salah seorang anggota dewan penyunting, selama beberapa tahun.

Pada tahun 1990-an (khususnya tahun 1991-1993), saya aktif menulis di majalah “Media KORPRI” diterbikan Pemda propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang terbit setiap catur wulan. Tulisan pertama di media ini adalah “Self Medication: Suatu Tindakan yang Perlu Kehati-hatian.”

Tahun 1995, fakultas mulai menerbitkan jurnal dengan nama “Olahraga”. Mulai tahun tersebut saya sudah menjadi salah seorang anggota dewan penyunting. Sejak tahun 2007, saya dipercaya menjadi sekretaris penyunting. Di awal kehidupan jurnal ini, sebagian besar tulisan dihasilkan oleh para penyunting, yang nota bene dosen FIK UNY. Sekarang sudah banyak penulis dari luar FIK UNY yang menyumbangkan karyanya. Tulisan saya yang pertama di jurnal ini, pada tahun 1995 berjudul “Olympiade: Pekan Olahraga Multi Event Terbesar Bermula Dari Satu Nomor.” Setelah tahun tersebut, paling tidak satu atau dua tahun sekali saya tetap mengisi.

Tahun 2005, jurusan PKR FIK UNY, tempat saya berada, menerbitkan jurnal ilmiah bernama “MEDIKORA”. Saya menjadi salah seorang anggota dewan penyunting. Tulisan saya yang pertama di media ini berjudul “Lari Gawang: Sebuah Kajian Teknik.”

Tahun yang sama, jurusan POR FIK UNY juga menerbitkan jurnal ilmiah dengan nama “Jurnal Pendidikan Jasmani Indonsia”. Tulisan pertama saya di media ini berupa tinjauan buku dengan judul “Tinjauan Buku: Pendidikan Jasmani untuk Kehidupan.””

Di samping itu saya juga pernah menulis beberapa kali di Mingguan “Minggu Pagi” yang merupakan group harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta. Tulisan pertama saya dimuat tahun 1990-an, berjudul “Biarkan Anak Anda Berlari, Melompat, dan Memanjat.”

Untuk buku yang sudah saya tulis, terutama adalah buku pegangan mahasiswa untuk mata kuliah yang hingga saat ini masih saya ampu, yaitu: Sejarah Olahraga, Azas dan Landasan Pendidikan Jasmani, Dasar-dasar Atletik, serta Filsafat Olahraga yang masih dalam tahap penyempurnaan. Khusus buku Filsafat Olahraga, ditulis bersama-sama oleh sebuah tim. Buku terakhir yang baru saja saya selesaikan (bersama dua rekan sejawat) adalah buku pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan untuk tingkat SD (jilid 1-6) dan untuk SMP (jilid 1-3). Di samping itu ada dua buku (dikerjakan secara tim) yang dibiayai oleh Ditjen Pemuda dan Olahaga serta Kemenegpora, yaitu Pedoman Festival Olahraga Anak, Pedoman Penggunaan Peralatan Olahraga Anak, serta Pedoman Pembuatan Peralatan Olahraga Anak. 

Beberapa penelitian yang pernah saya lakukan, berkaitan dengan masalah fair play (baik dalam hal pemahaman guru maupun penerapannya di berbagai tingkat pendidikan SD-SMA), fungsi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Penjasorkes, strategi dan metode pembelajaran mata kuliah tertentu, kesegaran jasmani, gizi. Penelitian tersebut dibiayai oleh UNY. Pernah menjadi anggota tim dalam penelitian pengembangan peralatan olahraga anak, yang dibiayai oleh Kemenegpora. Penelitian yang paling akhir, Juni 2009, membantu pengambilan data (dengan observasi dan wawancara) tentang dampak FIPOB di Sumatera Utara. FIPOB adalah Festival Internasional Pemuda Olahraga Bahari. Penelitian ini dibiayai oleh Kemenegpora.

Beberapa makalah yang saya nilai penting untuk disampaikan yaitu saat konferensi internasional di Bandung dan Yogyakarta. Judulnya masing-masing adalah: “Comic as an Effective Media for Teaching Fair Play among Children” dan “The Ladder-Snake Game and Physical Education.” Kedua makalah tersebut merupakan makalah pendamping dalam International Conference on Sport and Sustainable Development, tahun 2003 di Yogyakarta; serta The Third International Conference of Asian Society for Physical Education and Sport (ASPES).  

Di samping karya dalam bentuk tulisan, saya dan beberapa rekan sejawat, juga pernah membuat rekaman dalam bentuk VCD, yaitu: Cara Pelaksanaan Festival Olahraga Anak, Cara Pembuatan Peralatan Olahraga Anak, serta Cara Penggunaan Peralatan Olahraga Anak. Recording VCD ini dibiayai oleh Kemenegpora. Berbagai VCD tersebut didistribusikan, bersama dengan buku, kepada para guru Penjasorkes SD saat diadakan sosialisasi (sesuai dengan topik) di berbagai daerah.

 

Berbagai hasil tulisan tersebut, baik berupa artikel, buku, penelitian, makalah senantiasa mendapat tanggapan dari berbagai pihak, terutama rekan se profesi. Hal ini akan memacu diri saya untuk senantiasa berusaha tidak ketinggalan informasi. Dan, senantiasa membuka diri untuk diajak berdialog berkaitan dengan bidang keilmuan yang ditulis. Dan, tentunya akan memperkaya khasanah keilmuan serta sangat mendukung dalam melaksanakan tugas perkuliahan.

  

 

 

 

  1. C.   Peningkatan Kualitas Manajemen/Pengelolaan Institusi (pengelolaan, implementasi kebijakan, dan dukungan institusi)

 

Jelaskan upaya-upaya keterlibatan Saudara dalam pengembangan manajemen (pengelolaan) pada unit kerja di perguruan tinggi Saudara, bagaimana implementasi dan dukungan institusi Sdr! Berikan contoh nyata yang Saudara lakukan dalam kehidupan profesional sebagai dosen!

 

Deskripsi:

Di tingkat universitas, saya sebagai salah satu anggota tim inti KKN Masyarakat senantiasa harus melakukan berbagai upaya, baik keluar maupun ke dalam. Upaya keluar misalnya adalah menjaga agar ikatan yang baik dengan pihak Desa, Kecamatan, atau Kabupaten/Kota tetap terjaga dengan harmonis. Mengapa? Supaya penerjunan mahasiswa KKN dapat berjalan dengan baik sesuai rencana, dan dapat diterima secara formal, yang nantinya akan berdampak pada pelaksanaan KKN di masyarakat. Upaya ke dalam, senantiasa memperbaiki administrasi agar pelaksanaan KKN di masyarakat berlangsung sesuai dengan rencana. Secara periodik, tim KKN mengadakan kunjungan/monitoring di lokasi KKN. Selanjutnya mengadakan evaluasi untuk perbaikan KKN yang akan datang. Evaluasi dilakukan secara internal dan eksternal. Evaluasi eksternal dengan mengundang pihak yang ditempati KKN, yaitu Pemerintah Desa, Kecamatan, serta Kabupaten atau Kota.

Tim Inti KKN harus mampu bertindak mewakili lembaga, yaitu Universitas, dalam praktek KKN di masyarakat. Misalnya saat KKN Mandiri dilaksanakan di Kabupaten Banyumas, Tim Inti KKN mempersiapkan dari awal hingga akhir. Persiapan awal, yaitu pembekalan (tempat, waktu, pembicara, dsb), sampai penentuan lokasi, penerjunan, kunjungan DPL KKN, pemantauan atau monitoring tim inti KKN. Sedangkan yang akhir adalah penarikan,  ujian KKN, serta penilaian. Semua hal tersebut harus dipersiapkan oleh tim inti KKN.

Di tingkat fakultas, saya sebagai sekretaris jurnal ilmiah “Olahraga” merupakan ujung tombak untuk keberlangsungan penerbitan. Langkah yang selama ini saya lakukan adalah menjaga tetap terjaga komunikasi yang baik dengan berbagai pihak yang merupakan partner. Partner dalam hal ini adalah sebagai bisa sejawat/seprofesi yang menjadi penulis artikel, penerbit atau percetakan, juga rekan-rekan di dewan penyunting. Penulis artikel berasal dari berbagai lembaga, baik perguruan tinggi maupun sekolah-sekolah.

Di tingkat jurusan, saya menjadi salah satu Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) PKL. PKL atau Praktek Kerja Lapangan merupakan mata kuliah dimana mahasiswa harus berhubungan dengan pihak luar, sesuai dengan bidang konsentrasi yang dipilih. Tempat PKL yang selama ini digunakan adalah Fitness centre, hotel, SLB, sekolah anak berkebutuhan khusus. Saya harus ikut berusaha untuk tetap menjaga hubungan baik dengan pihak yang ditempati, agar kerja sama dapat berlangsung selama waktu yang dibutuhkan. Di samping itu dimungkinkan ada kerja sama dalam berbagai aktivitas yang berkaitan dengan lembaga.   

 

 

 

  1. D.   Peningkatan Kualitas Kegiatan Mahasiswa (perubahan pengelolaan, implementasi kebijakan, dan dukungan institusi)

 

 

 

Jelaskan upaya-upaya keterlibatan Saudara dalam kegiatan kemahasiswaan, bagaimana implementasinya dan dukungan institusi Sdr! Berikan contoh nyata keterlibatan Saudara dalam kehidupan profesional sebagai dosen.

 

 

Deskripsi:

 

Saya sering melibatkan mahasiswa dalam kegiatan PPM, penelitian, kejuaraan, atau kegiatan lain. Dalam kegiatan PPM yang melibatkan banyak peserta, saya (atau tepatnya kami, tim) selalu melibatkan mahasiswa untuk membantu. Bentuk bantuan dari mahasiswa berupa: sebagai panitia yang mempersiapkan segala keperluan, menjadi moderator, membantu sebagai tutor dalam hal peragaan. Dalam kegiatan penelitian, para mahasiswa dapat membantu dalam hal penyebaran angket, rekapitulasi hasil, dan yang berhubungan dengan administrasi. Dalam kegiatan kejuaraan (cabang Atletik), para mahasiswa dapat membantu menjadi panitia, juri. Mahasiswa dapat membantu kejuaraan Atletik di berbagai tingkat, dari antar siswa SD hingga SMA, bahkan antar mahasiswa. Pada waktu stadion Atletik UNY dijadikan ajang kejuaraan Atletik Yunior, banyak mahasiswa ditugaskan menjadi panitia. Pada waktu saya dipercaya untuk mengkoordinir rekaman VCD tentang penggunaan peralatan olahraga anak dan pembuatan peralatan olahraga anak, saya melibatkan banyak mahasiswa untuk ikut berperan serta. Bentuk bantuan para mahasiswa adalah menjadi model, memberi contoh atau demonstrasi gerakan, membimbing anak-anak SD yang menjadi model, mengatur susunan alat-perlengkapan yang diperlukan, dan sebagainya.   

Saya sebagai dosen pembimbing akademik senantiasa membuka diri untuk menerima permasalahan yang dialami mahasiswa. Waktu bimbingan dapat saya katakan tidak terbatas. Dimana pun dan kapan pun mahasiswa dapat mengajak dialog. Tentunya selama saya sendiri tidak ada aktivitas yang harus dilakukan segera. Bahkan, dialog lewat media seperti hp atau e-mail pun dapat mereka lakukan. Permasalahan yang muncul bisa tak terbatas. Kedekatan hubungan yang saya bangun dengan para mahasiswa, harapannya memberikan dampak yang positif untuk kelancaran studi mereka, dan, nilai plus yang lain.  

Sebagai pembimbing skripsi, hubungan yang saya bangun tidak beda dengan sebagai pembimbing akademik. Hanya, memang seringkali lebih spesifik ke arah penyelesaian penyusunan skripsi. Pemberian motivasi untuk terus berusaha dan maju, dalam kedua hal tersebut sama-sama diperlukan. Penekanan pada penegakan kejujuran akademik sangat saya tekankan pada para mahasiswa. Hal ini mengingat pula jiwa dari olahraga ialah penegakan fair play, yang harus dimulai sejak dini.

 

 

 

 

  1. E.    Peningkatan Pengabdian kepada Masyarakat (kegiatan dan implementasi perubahan, serta dukungan masyarakat)

 

 

Jelaskan upaya-upaya keterlibatan Saudara dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, bagaimana implementasi, dan dukungan masyarakat! Berikan contoh nyata keterlibatan Saudara dalam kehidupan profesional sebagai dosen.

 

Deskripsi:

 

Saya bersama tim, mengadakan kegiatan pengabdian pada masyarakat tentang bolabasket mini kepada guru penjasorkes SD se-kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, D I Yogyakarta. Jumlah peserta lebih dari 60 orang, dilakukan selama 3 hari. Para peserta tidak dipungut biaya sepeser pun. Biaya kegiatan dari dana LPM UNY.

Saya bersama tim, mengadakan kejuaraan atletik siswa SMP se-kecamatan Naggulan, Kabupaten Kulonprogo.

Saya dan teman-teman sejawat beberapa kali mengadakan Kejuaraan Trilomba Atletik antar siswa SD tingkat kecamatan. Nomor yang dilombakan, yaitu lari 60 meter, lompat jauh, dan tolak peluru. Dalam pelaksanaannya, petugas pertandingan dan juri adalah para guru sendiri. Para guru diberi pelatihan terlebih dahulu supaya mereka terampil. Isi pelatihan berupa hal-hal administrasi maupun cara penjurian.

Dengan diberikan pelatihan terlebih dahulu, para guru penjasorkes nantinya akan memiliki bekal menyelenggarakan sendiri apabila diperlukan.

Saya beberapa kali menjadi koordinator bersama beberapa teman sejawat, dalam acara Lomba Gerak Jalan dalam rangka musim giling PG Madukismo Yogyakarta. Lomba dilakukan secara beregu, melibatkan seluruh latihan masyarakat umum dan lembaga. Jumlah peserta lomba seringkali lebih dari 100 regu. Lomba biasanya menempuh jarak antara 5 – 7 km, start dan finish di pabrik gula Madukismo. Peserta dibedakan antara tim putra dan putri.

Saya beberapa kali menjadi tutor untuk kegiatan pengenalan Festival Olahraga Anak SD, di beberapa kabupaten.

Saya bebeapa kali menjadi tutor dalam kegiatan Pelatihan Cara Pembuatan Peralatan Olahraga Anak dan  Cara Penggunaan Peralatan Olahraga Anak. Kegiatan semacam ini dilakukan selama beberapa hari pada waktu-waktu guru agak senggang dari kegiatan rutin mengajar. Pelatihan ini menurut saya cukup penting. Mengapa? Karena keterbatasan dana di sekolah untuk membeli peralatan olahraga anak, yang harganya relatif mahal. Maka, sedikit kreatif dan mau berusaha akan dapat meningkatkan mutu pembelajaran penjasor di sekolah. 

 

 


BAGIAN II

 

Sebagai anggota komunitas sosial, berikan deskripsi diri Anda sendiri pada aspek-aspek berikut.

 

 

 

  1. F.    Karakter pribadi dalam berbagai situasi dan kondisi (kendali diri, kesabaran, ekspresi perasaan, rasionalitas)

 

 

Jelaskan karakter/kepribadian Saudara yang menggambarkan kemampuan pengendalian diri, kesabaran, empati, dan rasionalitas pada berbagai situasi! Berikan contoh nyata yang Saudara alami dalam kehidupan profesional sebagai dosen!

 

 

Deskripsi:

 

Bapak saya (almarhum), seorang pekerja tangguh, tanpa kenal mengeluh. Sosok yang tidak pernah marah untuk hal-hal sepele. Ibu saya, seorang yang sangat bersahaja, tidak mengenal pemakaian lipstick dari muda hingga sekarang.

Pesan beliau berdua sangat simpel, “Yen wis oleh gawean, sing temen lan jujur.” Sebuah pesan sederhana, dari orangtua yang sederhana. Maka, saya tidak akan menjabarkan dengan panjang lebar. Artinya, ya simpel juga, bekerja harus dilandasi dengan kesungguhan dan kejujuran.

Saya sebagai anak ketiga dari enam bersaudara, dari keluarga sederhana. Maka mudah ditangkap makna keseharian hidup waktu itu, selalu antri. Antri untuk mandi, antri untuk makan, antri untuk cuci piring, antri untuk seterika pakaian, antri untuk yang lain-lain. Bersedia antri itu artinya belajar kesabaran dan mengendalikan diri.

Cara berpikir rasional secara simpel pun telah ditanamkan sejak awal. Kalau bangun kesiangan, maka mandi paling akhir, atau bahkan tidak mandi, sarapan tergesa-gesa, atau tidak sarapan, sekolah terlambat.

Menjadi dosen di FIK, ternyata dituntut untuk memiliki kesabaran, kemampuan mengendalikan diri, dan tentu saja berpikir rasional. Mahasiswa yang jago olahraga atau olahragawan seringkali ‘nakal’ atau ‘ngetes’ dosennya. Nah, disinilah ilmu sabar dan kemampuan mengendalikan diri serta rasional itu sangat berguna. Selama menjadi dosen, baik saat mengajar teori di kelas maupun praktek di lapangan, saya tidak pernah marah sampai tidak terkendali.

Saya pernah juga marah di hadapan mahasiswa atau para mahasiswa yang sangat bandel atau sangat mengganggu perkuliahan, tetapi masih di bawah kendali. Kemarahan saya ekspresikan, masih dalam kesadaran utuh. 

Pernah suatu ketika, memiliki kelas yang luar biasa susah untuk diatur dalam perkuliahan praktek Atletik. Ini terjadi pada tahun 2001. Artinya saat itu saya sudah menjadi dosen memasuki tahun ke-15. Lapangan dan alat-perlengkapan sudah saya siapkan, para mahasiswa saya minta siap. Tetapi apa yang terjadi? Mereka tetap kacau, semaunya sendiri. Perlu diketahui, ini pertemuan yang ke-5. Saya marah, karena mereka sangat mengecewakan. Tetapi saya tidak meledakkan kemarahan di lapangan. Kelas praktek saya bubarkan, mereka saya suruh masuk ruang kelas. Selama hampir 80 menit, saya menjadi juru nasehat. Tidak ada materi atletik hari itu. Yang ada hanya nasehat dan nasehat, dari orangtua yang sayang kepada anak-anaknya, yang saat itu baru bandel-bandelnya. 

Pertemuan minggu berikutnya, sungguh ada perubahan yang sangat membahagiakan. Mereka menjadi kelas yang kondusif untuk pembelajaran. Tidak ada marah lagi. Tidak ada dendam antara saya dan mahasiswa.

Saya tinggal di Perumahan sudah lebih dari 10 tahun, di wilayah Sleman, Yogyakarta. Sejak menempati rumah baru, saya menjadi seksi olahraga di tingkat RW. Sebagai orang yang mengetahui apa itu olahraga, maka sudah sepantasnya meluruskan warga yang memiliki pengertian salah tentang olahraga. Mencegah perselisihan di lapangan olahraga, mencegah perkelahian di arena olahraga, dan menenangkan teman-teman yang tegang siap ‘tempur’ dalam arti berkelahi adalah kewajiban saya. Sungguh, yang demikian dapat saya lakukan selama saya menjadi seksi olahraga di wilayah saya. Perselisihan tidak sampai merembet ke perkelahian atau permusuhan antar wilayah. Semua dapat diselesaikan dengan cara membangun komunikasi yang baik dan seimbang.

 

 

 

  1. G.   Etos kerja (semangat, target kerja, disiplin, ketangguhan)

 

Jelaskan etos kerja yang meliputi semangat, target kerja, disiplin, dan ketangguhan Saudara menghadapi masalah! Berikan contoh nyata yang Saudara lakukan/alami dalam kehidupan profesional sebagai dosen!

 

Deskripsi:

 

Pada saat saya kuliah S-2 di UNNES Semarang, tahun 1998, sekolah tiga anak kami secara berurutan adalah SMP, SD, dan TK nol kecil. Di rumah kami tidak ada pembantu rumah tangga. Artinya? Semua pekerjaan kami lakukan bersama-sama. Jam kuliah mulai dari siang atau sore hari sampai malam pk. 21.00 wib., apabila diisi penuh.

Anak bungsu kami tidak dapat saya tinggal lama, maka pukul berapa pun kuliah selesai, saya pasti pulang ke Yogya. Naik motor sendiri, atau naik kendaraan umum. Sampai rumah lebih sering sudah ganti hari, artinya, sudah lewat tengah malam. Pagi hari mengantar dua anak ke sekolah. Agak siang mengantar anak bungsu yang TK nol kecil. Setelah anak bungsu pulang sekolah, barulah saya siap untuk berangkat kuliah ke UNNES. Demikian berlangsung tiga semester.

Niat yang saya tanamkan pada diri sendiri, semua harus berjalan dengan baik, keluarga dan kuliah. Juga dalam hidup bermasyarakat.

Anak-anak sekolahnya lancar, keluarga tetap sehat. Dan, kuliah S-2 saya pun selesai dalam waktu yang tidak lama.

Pada saat kuliah sudah di penghujung selesai, ada undangan untuk mengikuti sertifikasi pelatih atletik tingkat dasar PB PASI, dan dilanjutkan level I IAAF (bila lulus yang tingkat dasar). Ini kesempatan besar, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dengan ilmu-ilmu terbaru, dan yang paling penting, sesuai dengan mata kuliah yang saya ampu, Atletik. Dan, bila dapat lulus artinya adalah pengakuan akan kemampuan saya di dunia atletik. Tetapi waktunya bertabrakan dengan saat-saat akhir kuliah S-2, tesis hampir selesai. Padahal waktu sertifikasi bersambung menjadi lebih dari 3 minggu. Berpikir, dan saya putuskan, ikut dengan segenap hati. Target, harus lulus sampai level I. Tidak boleh tanggung-tanggung. Artinya, tesis terganggu sejenak. Mengapa? Karena jadwal sertifikasi dari pagi hingga sore. Berjalanlah semua dengan kehendakMU. Sertifikasi saya ikuti dengan niat utuh. Sabtu dan Minggu libur, saya pergunakan untuk meneruskan penulisan tesis, bila perlu konsultasi ke dosen pembimbing. Dua dosen pembimbing saya, satu di Solo-Jawa Tengah, dan di Semarang-Jawa Tengah.

Waktu berlalu dengan pasti. Tibalah pengumuman sertifikasi, saat upacara penutupan. Langsung diumumkan oleh Mr. Gunther Lange wakil dari IAAF, yang sekaligus sebagai tutor. Hasil, Margono, saya, dinyatakan lulus. Dan, yang membanggakan, saya berada di peringkat pertama mengungguli teman-teman dosen dari berbagai daerah.

Kemudian hanya selang bulan, saya ujian tesis, dan lulus. 

Pada waktu hari krida, saya sempatkan bermain tenis di kampus. Pada waktu hari agak luang saya sempatkan bermain bulutangkis di perumahan. Hal ini wajib saya lakukan untuk menjaga kondisi fisik agar tetap terjaga kebugarannya.

Alhamdullilah, hingga saat ini saya tetap diberi kesehatan. Masih dapat bermain tenis dua atau tiga kali seminggu. Kalau mengajar praktek Atletik, saya masih dapat memberi contoh atau demonstrasi teknik-teknik gerakan.

Dalam memberi kuliah, jumlah pertemuan minimal harus dapat saya lampaui. Tugas yang saya berikan kepada para mahasiswa, mid semester, ujian semester, harus saya koreksi. Saya harus mematok target, pengumpulan nilai tidak boleh terlambat. Dan, itu semua hingga hari ini dapat saya lakukan.

 

 

 

 

  1. H.   Integritas Diri (kejujuran, keteguhan pada prinsip, konsistensi, tanggung jawab dan keteladanan)

 

 

Jelaskan integritas Saudara dalam kaitannya dengan kejujuran, keteguhan prinsip, konsistensi, tanggung jawab, dan keteladanan yang dapat ditunjukkan di lingkungan Saudara! Berikan contoh nyata yang Saudara alami dalam kehidupan profesional sebagai dosen!

 

Deskripsi:

 

Satu kata, satu perbuatan. Sesuatu yang sangat mudah diucapkan, tetapi seringkali sangat sulit untuk dikerjakan.

Peristiwa ini berawal dari kesanggupan menjadi dosen pembimbing lapangan (DPL) KKN Mandiri di Kabupaten Banyumas-Jawa Tengah, yang diselenggarakan pada semester genap tahun 2009 ini. Kesanggupan itu muncul karena posisi saya sebagai salah satu tim inti KKN UNY. Mengapa? Karena sebagian teman tim inti keberatan kalau harus membimbing di luar propinsi. Jarak yang jauh, sehingga harus berkorban banyak  waktu dan tenaga. Saya menyanggupi, dengan pertimbangan, bahwa harus ada yang bersedia diantara anggota tim inti KKN. Di samping itu, karena masih punya hari Sabtu dan Minggu yang tidak ada jadwal reguler, maka menurut perhitungan masih bisa melakukan kunjungan setiap bulan sekali.

Sesaat setelah memberikan materi pembekalan, menjelang penerjunan di lokasi, saya sampaikan kontrak kerja sebagai DPL KKN Mandiri kepada para mahasiswa. Saya akan datang saat penerjunan ke lokasi di kantor kecamatan. Saya akan mengadakan kunjungan setiap bulan sekali, minimal. Saya akan mengadakan ujian saat mahasiswa masih di lokasi KKN, sehingga setelah penarikan, mahasiswa sudah tidak ada masalah lagi dengan KKN. Saya akan hadir di kantor kelurahan atau kecamatan saat upacara penarikan mahasiswa dari lokasi.

Janji pertama dapat saya penuhi dengan nyaman. Janji kedua, kunjungan setiap bulan sekali dapat saya penuhi. Tibalah janji ketiga dan keempat, saya akan menguji dan upacara penarikan mahasiswa dari lokasi.

Ada tugas lain yang juga sudah saya sanggupi harus dilaksanakan. Pergi ke Medan-Sumatera Utara selama 10 hari. Artinya? Saya hanya punya waktu sangat singkat sampai di Yogyakarta menjelang penarikan KKN di Banyumas-Jawa Tengah. Bagaimana harus saya lakukan? Perhitungannya begini, upacara penarikan hari Sabtu, 20 Juni 2009 (bersamaan pengambilan hasil kelulusan anak saya yang  SMP). Saya pulang dari Medan sampai Yogyakarta hari Jumat pagi. Untuk dapat menguji dan upacara penarikan, saya harus sampai Banyumas Jumat sore atau malam. Jumat malam begadangan membaca laporan KKN, untuk diujikan Sabtu pagi sebelum upacara penarikan. Artinya, saya sangat kurang istirahat.

Dan, saya putuskan, itulah yang akan saya lakukan.

Hari Jumat pukul 09.00 wib. saya sampai di Yogyakarta.  Siang harinya, pukul 14.00 berangkat ke Banyumas, naik bus. Sampai di Banyumas kira-kira pukul 18.00. Istirahat sebentar, makan malam. Dilanjutkan membaca laporan KKN sebanyak 20 buah, membuat daftar pertanyaan untuk diujikan, hingga pukul 02.30 wib. Tidur sebentar. Pukul 05.30 bangun. Sarapan dan pukul 07.30 sampai di posko KKN untuk menguji para mahasiswa yang telah siap menunggu. Pukul 11.30 dilaksanakan upacara penarikan KKN di kantor kelurahan.

Apa yang telah saya katakan kepada para mahasiswa, telah saya laksanakan dengan maksimal usaha saya. Padahal, aturan dimungkinkan, mahasiswa diuji seminggu setelah penarikan di kampus UNY. Hanya kalau langkah ini saya lakukan, maka saya merasa menjadi orang yang egois. Mengubah apa yang telah saya katakan, dengan alasan sangat pribadi.

 

 

  1. I.    Keterbukaan terhadap kritik, saran, dan pendapat orang lain (penyikapan, penerimaan)

 

 

 

Bagaimana Saudara menyikapi kritik, saran dan pendapat orang lain? Berikan contoh nyata yang Saudara alami dalam kehidupan profesional sebagai dosen!

 

Deskripsi:

 

Dengan kesadaran, bahwa manusia tidak ada yang sempurna, maka sudah selayaknya jika bersedia menerima kritik, saran dan pendapat dari orang lain. Saya sebagai dosen, dituntut harus dapat mengembangkan sikap yang objektif. Kritik, saran dan pendapat dari orang lain harus menjadi pertimbangan apabila memang objektif dan mengandung kebenaran. Yang dimaksud dengan orang lain disini termasuk dari mahasiswa, yang nota bene, adalah murid saya.

Kritik, saran dan pendapat yang disampaikan secara langsung dan santun cara penyampaiannya akan sangat saya pertimbangkan. Karena yang demikian ini, bagi saya, adalah bukti yang bersangkutan adalah benar-benar sahabat yang baik. Sebagai sahabat, tentunya menginginkan sahabatnya menjadi orang yang baik. Tetapi kalau sampai ke telinga saya dari kasak-kusuk, maka yang demikian tidak akan saya tanggapi dengan serius.

Saya sulit untuk marah apalagi memarahi mahasiswa. Pada suatu ketika seorang mahasiswa datang menghampiri saya, setelah selesai memberi kuliah. “Bapak, mestinya bapak menegur atau menasehati dia yang sering datang terlambat. Karena akan menimbulkan rasa yang tidak enak, bagi kami, kalau bapak membiarkannya saja,” katanya dengan pelan tetapi jelas.

Saya mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Saya renungkan beberapa saat. Dan, saya putuskan untuk mengikuti apa yang dikatakan mahasiswa tersebut, pada pertemuan yang berikutnya. Mengapa? Karena saya merasakan benarnya apa yang disampaikan mahasiswa tersebut.   

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. J.    Peran sosial (kemampuan kerja sama, kemampuan komunikasi)

 

 

Bagaimana kemampuan Saudara dalam menjalin kerjasama dan berkomunikasi dengan teman sejawat, staf administrasi, atasan, mahasiswa, dan masyarakat? Berikan contoh nyata yang Saudara alami dalam kehidupan profesional sebagai dosen!

 

Deskripsi:

 

Di lingkungan masyarakat, dari awal tahun 1990-an hingga 2000 menjadi sekretaris Pengda PELTI D I Yogyakarta, kiranya menjadi indikator, bahwa saya dapat diterima di organisasi tenis tingkat daerah ini. Saat masih menjadi pengurus, di Yogyakarta, kegiatan pertenisan cukup sibuk. (Sekarang pun dunia pertenisan di Yogyakartya, juga masih sibuk). Setiap ada event, dari tingkat propinsi maupun kabupaten seringkali ikut berperan serta. Juga event untuk anak-anak hingga veteran.

Setiap event diselenggarakan, selalu terjadi komunikasi dengan sesama pengurus, pemerintah, sponsor, dan tentunya dengan para petenis. Waktu hampir 10 tahun, kiranya waktu yang cukup panjang, dan, saya dapat diterima oleh lingkungan pertenisan di Yogyakarta. Artinya, saya menilai diri saya dapat bekerja sama, dan memiliki kemampuan komunikasi yang memadai.

Di tingkat Universitas, selama satu periode (4 tahun) menjadi atau terpilih menjadi anggota Badan Pemeriksa Koperasi Universitas. Badan Pemeriksa jumlahnya hanya 3 (tiga) orang. Asumsi saya, saya dipilih karena dinilai dapat dipercaya oleh anggota koperasi. Di samping itu, pilihan itu disetujui oleh pimpinan atau atasan.

Saat menjadi anggota badan pemeriksa koperasi, senantiasa berkomunikasi dan bekerja sama dengan anggota tim yang lain. Juga dengan para pengurus koperasi. Bahkan, komunikasi dengan para anggota biasa. Hal ini sangat perlu karena posisi sebagai pemeriksa seringkali riskan untuk ‘bermusuhan’ dengan pengurus koperasi, atau dengan anggota biasa.

Di tingkat fakultas, pernah dua kali menjadi pengurus inti koperasi fakultas. Artinya apa? Saya merasa dipercaya dapat mengerjakan tugas sosial, dan dinilai mampu berhubungan baik dengan segala lapisan. Baik dosen maupun karyawan.

Masih di tingkat fakultas, tahun 2003-2008 menjadi sekretaris klub tenis fakultas. Tugas klub mengkoordinir latihan, pertandingan antar fakultas, pertandingan antar perguruan tinggi, juga pertandingan-pertandingan persahabatan. Dalam melaksanakan tugas, senantiasa harus berhubungan/berkomunikasi dengan banyak pihak. Baik di lingkungan fakultas, universitas, baik dosen maupun karyawan, juga para mahasiswa yang membantu kegiatan pertenisan. Juga, berhubungan dengan masyarakat sekitar, misalnya catering, keamanan, parkir, jasa transportasi, jasa hotel, dan sebagainya.    

 

 

 

 

  1. K.   Orisinalitas (kreativitas dan inovasi)

 

 

Jelaskan kemampuan Saudara dalam menemukan dan menerjemahkan ide-ide baru untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas dalam berbagai aspek pekerjaan Saudara! Berikan contoh nyata yang Saudara alami dalam kehidupan profesional sebagai dosen!

 

Deskripsi:

 

Saat menyusun tesis, permasalahan yang saya angkat belum pernah ada peneliti lain yang pernah menggarapnya. Sejauh upaya yang saya lakukan lewat perpustakaan dan internet, tidak saya temukan. Hal ini sesuai dengan niat awal saya, untuk tidak mengikuti hal-hal klasik atau permasalahan yang terlalu umum untuk digarap. Bagi saya hal semacam ini merupakan bentuk kreativitas dan langkah inovasi, karena saya harus berpikir keras menggarapnya.

Dalam mengajar saya berusaha untuk tetap kreatif dan inovatif. Kreativitas itu misalnya dalam hal memilih metode agar tidak membosankan mahasiswa, tentu saja dengan  mempertimbangkan situasi, kondisi, karakterisitik mahasiswa, media pembelajaran yang ada, serta hal-hal lain yang mempengaruhi. Dengan materi yang sama, apabila disajikan di kelas yang berbeda, bisa jadimemerlukan metode yang berbeda. Hal semacam inilah yang senanatiasa harus dipahami.

Sumber-sumber belajar yang relevan, baru, menarik, dan dinilai berguna, harus senantiasa diusahakan. Penilaian secara objektif merupakan hal yang wajib diusahakan. Kriteria penilaian yang jelas dan harus benar-benar dipahami oleh para mahasiswa.

Orisinalitas dapat diajarkan kepada mahasiswa, misalnya dengan tugas mendadak yang harus diselesaikan di kelas. Bisa secara individual maupun kelompok. Bentuk tugas misalnya mahasiswa atau kelompok mahasiswa diberi permasalahan atau kasus, dan mereka harus memberikan solusinya, dalam waktu tertentu. Dengan demikian mereka akan berpikir keras, karena tidak sempat mencari sumber di luar.

—–

 

Deskripsi diri ini saya buat dengan sesungguhnya dan jika diperlukan saya bersedia untuk menyampaikan bukti-bukti terkait.

 

 

Yogyakarta,    Juni 2009

 

                                                                                Dosen Yang Diusulkan,

 

 

 

 

                                                                                 Drs. Margono, M.Pd.

                                                                                NIP. 19610830 198601 1 001

 

——




Leave a Reply


five + 3 =