Archive for the 'Sejarah Olahraga Internasioal' Category

12, 02, 10

Tulisan ini sudah dimuat di Majalah Ilmiah “Olahraga”, diterbitkan oleh FPOK IKIP Yogyakarta,

Edisi Nomor 2, Tahun I, Desember 1995

 

 

OLYMPIADE: PEKAN OLAHRAGA TERBESAR YANG

BERMULA DARI LOMBA SATU NOMOR

 

Oleh:

Margono

Dosen FIK Univesitas Negeri Yogyakarta

 

Abstrak

                        Olympiade/Olympic merupakan pekan olahraga multi event terbesar hingga saat ini, dipelopori oleh Baron Pierre de Coubertin, seorang tokoh pendidikan dan sejarawan dari Perancis.

                        Aktivitas tersebut diilhami oleh kegiatan yang dilaksanakan bangsa Yunani kuno dengan nama yang sama, berisi perlombaan dan pertandingan olahraga serta kegiatan-kegiatan yang bersifat relijius. Tahun 776 BC dianggap sebagai saat pertama kali Olympic kuno digelar, di Olympia, dengan hanya satu nomor olahraga yang dilombakan, yaitu lari Stade. Pekan Olahraga ini akhirnya menjadi pekan olahraga yang terbesar pada masanya, dengan nomor pertandingan yang terus berkembang. Mahadewa Zeus sebagai penguasa dunia dan sorga dipuja pada pekan olahraga ini.

                        Tulisan berikut mencoba menjawab beberapa masalah yang berkaitan dengan awal Olympic kuno dilaksanakan. Juga, alasan mengapa Zeus sebagai mahadewa yang dipuja bangsa Hollos. Yang terakhir perjalanan Olympic dari pekan satu nomor, menjadi pekan akbar multi-events.

 

Pendahuluan

            Susi Susanti dan Alan Budikusuma telah mewujudkan impian KONI Pusat yang mencanangkan era emas dalam peran sertanya di Olympic games Barcelona tahun 1992. Perjalanan panjang sejak tahun 1952, di Olympic Helsinki telah berbuah manis. Teramat manis, bahkan. Dua emas, dua perak, dan satu perunggu, telah menempatkan Indonesia di urutan ke-24, naik dua belas tingkat dibandingkan empat tahun sebelumnya, saat trio pemanah putri meraih medali perak di Olympic Seoul.

Pada pekan olahraga paling akbar yang diikuti oleh 173 negara, dengan 25 cabang olahraga yang dipertandingkan dan dilombakan, lagu Indonesia Raya berkumandang dua kali. Sekembalinya mereka ke tanah air disambut meriah, dan, dikalungkanlah bintang kehormatan bagi putra-putri terbaik Indonesia. Berbagai hadiah dan penghargaan pun mengalir deras.

Tidak pelak lagi pekan olahraga yang satu ini menyita begitu banyak perhatian. Jutaan bahkan puluhan juga manusia yang menyaksikan secara langsung maupun yang melalui liputan media massa senantiasa terpesona oleh kehebatan para atlet, juga pestanya. Setiap penyelenggaraannya, selalu melibatkan atlet-atlet terbaik dan “kerabat”nya, seperti hotel-penginapan, media cetak dan elektronik, transpotasi, secuity, para pejabat, para artis, restaurant-catering, medis, souvenir, konveksi, guide, bank, wasit-juri, dan sebagainya. Yang kesemuanya dalam skala besar, raksasa. Sungguh suatu kerja maha raksasa, yang perlu kemampuan profesional untuk dapat mengelolanya dengan baik.

Dengan segala kebesarannya, pekan olahaga paling akbat se-jagad, Olympic, telah digelar secara ajeg setiap empat tahun, dengan cabang pertandingan dan perlombaan yang makin berkembang. Perjalanannya menjadi pekan olahraga yang serba “paling” memang tidak mulus. Ada aib, seperti kasus pemboikotan oleh beberapa negara anggota IOC yang biasanya mengirimkan dutanya untuk berpartisipasi. Yang paling menonjol adalah pada Olympic di Moscow tahun 1980 dan di Los Angeles tahun 1984; atau tidak terlaksananya games tahun 1916, 1940 dan 1944 karena saat itu tengah berkecamuk perang dunia; juga terjadinya serangan teroris pada saat Olympic di Muenchen-Jeman tahun 1972; serta masalah-masalah lainnya. Yang senantiasa muncul pada pekan olahraga akbat ini, doping misalnya, juga merupakan noda yang tak pernah pupus, tetapi kebesaannya tetap diakui.

Olympic modern yang dapat tewujud pada tahun 1896 bekat kepeloporan Baron Pierre de Coubertin, seorang sarjana sejarah dan ahli pendidikan yang lahir di Paris pada hari pertama tahun 1863. Baron yang meninggal tahun 1937 di Jenewa, tertarik menghidupkan kembali Olympic karena keterpesonaannya pada semangat Olympic kuno yang pernah dilakukan bangsa Hollos-Yunani selama lebih dari sebelas abad, dari 776 BC sampai dengan akhir abad ke-4 AD (Ensiklopedia Indonesia, 1980:713; The Encyclopedia of Sport, 1963:707). Inti dari gagasan Baron adalah, jika dunia memiliki pengertian bersama dari sesama bangsa, pasti akan terjamin perdamaian dunia yang hakiki.

Tulisan berikut mencoba membahas apa yang melatarbelakangi dilaksanakannya Olympic kuno, sehingga mampu “menyihir” seorang Baron Pierre de Coubertin untuk menghidupkannya lagi. Tinjauan dai sudut pandang sejarah maupun dai mitologi, serta perkembangannya dari pekan olahraga satu nomor perlombaan hingga menjadi pekan olahraga yang multi events; juga yang khas, macam Pentathlon dan Hoplite race

 

Zeus Mahadewa

Menurut mitos masyarakat Yunani kuno (Kennedy, 1971:3), dewa Zeus dan Cronus sebagai mahadewa bangsa Yunani bertarung di puncak gunung Olympus untuk menentukan siapa yang berhak memiliki dan mengatur alam semesta. Olympus sebagai arena adu keperwiraan merupakan gunung tertinggi di Yunani, 2917 meter, yang sepanjang tahun puncaknya selalu tertutup salju.

Pertempuran perebutan kekuasaan antara dewa Zeus versus Cronus, yang sebenarnya ayahnya sendiri terjadi dalam  peristiwa “Titanomachy”. Dikisahkan, sebelumnya Cronus telah mengetahui dia akan dikalahkan oleh anaknya sendiri, maka semua anaknya ditelan, kecuali Zeus yang dapat diselamatkan Rhea, ibunya. Setelah Zeus dewasa ramalan pun terbukti, dia mengalahkan Cronus. Peristiwa ini sebenarnya merupakan “karma”, karena kekuasaan Cronus didapat setelah mengkudeta orang tuanya, dewa Uranus (isterinya, Gaea). Kemenangannya itu diperoleh dengan bantuan saudara-saudaranya: Iapethus, Mnemosyne, Phoebe, Tethys, Themis, dan Rhea yang kemudian menjadi isterinya (Ensiklopedi Indonesia, 1980:718: Ensiklopedi Umum, 1987:1112).

Setelah memperoleh kemenangan Zeus membagi-bagi kekuasaan dengan saudara dan anak-anaknya. Seperti diungkap oleh Van Dalen (1961:43), sebagai berikut:

Twelve major gods formed the Olympic council that guided the destinies of Hellenic people:

01 Zeus Supreme god of all things.
02 Poseidon The god of the sea and sender of the tempests.
03 Appolo The god of light and truth and the patron of the gymnastic games.
04 Ares The god of war.
05 Athena The protective goddess of the city of Athena.
06 Hephaetus The god of fire.
07 Dionysus The god of nature.
08 Aphrodite The goddess of harvest.
09 Demeter The goddess of harvest.
10 Hestia The goddess of home.
11 Hermes The god of commerce.
12 Artemis The goddes of the chase.

 

Zeus yang berarti angkasa, menguasai sorga dan dunia, mengatur cuaca, memiliki kesaktian mengeluarkan guntur dan halilintar untuk menjalankan kekuasaannya (Ensiklopedia Indonesia, 1980:2432-2433; Ensiklopedi Umum, 1987:1189).

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Dewa Zeus, sebagai dewa ayah lambang kekuasaan dan hukum, diceritakan berputra 140.

(Sumber: Ensiklopedi Indonesia, 1980:2433).

 

Sebagai dewa utama, Zeus menerima penghormatan dari bangsa Yunani, dan, itu diwujudkan dalam bentuk (salah satunya) pekan olahraga Olympic. Bertempat di Olympia, yang terkenal juga sebagai pusat keagamaan dimana terdapat kuil Zeus di Altis. Inilah yang menjadi sasaran atau tujuan pertama dan utama dari pekan Olympic serta kegiatan-kegiatan yang bersifat religius pada saat itu, penghormatan kepada Zeus (Encyclopedia of World Art, 1962:926; Harahap, 1970). Sasaran lain adalah kehormatan bagi atlet-atlet, yang berhak membangun patung dirinya sendiri dalam bangunan di Olympia; serta persahabatan antara bangsa-bangsa. Sasaran terakhir inilah yang sekarang dijadikan tujuan pelaksanaan Olympic modern. Sasaran terakhir tersebut mengingat bahwa pada saat itu Yunani terdiri atas suku-suku bangsa yang saling curiga dan seringkali terjadi peperangan yang berkepanjangan.

Pelaksanaan Olympic kuno pertama kali, dianggap dimulai tahun 776 BC, dan dapat diselenggarakan secara rutin setiap empat tahun sekali selama lebih dari 1100 tahun, yang terakhir dilaksanakan tahun 392 AD. Olympic memiliki arti satuan waktu di Yunani kuno yang lamanya empat tahun. Ada tiga raja yang merupakan pendukung utama pelaksanaan Olympic kuno, yaitu: Cleosthenes dari Pisa, Lycurgus dari Sparta, dan Iphitus dari Ellis (Encyclopedia of Sport, 1963:705; Ensiklopedi Indonesia, 1980:1522). Banyak yang masih percaya bahwa Olympic dimulai lebih awal dari waktu tersebut, ada yang menyebut angka tahun 1453 BC. Bukti yang mendukung pernyataan ini sementara belum cukup kuat. Juga ada pendapat seperti yang dikutip Harsuki (1988:2), bahwa games pertama yang diorganisir dengan baik oleh orang Yunani telah diadakan kira-kira pada abad ke-9 BC. Tidak disebut secara tegas games yang mana, karena ada beberapa games yang pernah dilakukan oleh bangsa Yunani. Tiga games yang cukup terkenal, selain Olympic adalah Phitia, Nemea dan Isthmia.

Belum adanya kesepakatan tentang kapan sebenarnya dimulai Olympic kuno yang pertama kali seperti diungkapkan oleh Zeigler (1979:34), sebagai berikut: “Though there is disagreement regarding the date of the first reorganized games, all authors agree that from 776 BC. The Olympic games were every fourth year until their abolition by the Roman Emperor Theodosius in AD 393”.

Sedangkan menurut Kennedy (1971:3), berdasarkan catatan sejarah, orang pertama yang tampil sebagai juara Olympic adalah Coroebus. Dia memenangkan lomba lari di Olympia, lebih dari 27 abad yang lalu. Untuk menandai kejayaannya sebuah mahkota daun olive diletakkan di kepalanya. Perlu diingat bahwa pada awalnya, hingga ratusan tahun, hanya kaum pria saja yang diperbolehkan tampil, dan, mereka dalam keadaan gumnos (telanjang).

Telah dikemukakan, bahwa Olympic kuno serta kegiatan-kegiatan yang bersifat religius yang utama adalah untuk menghormati Zeus. Salah satu bentuknya adalah dengan mengurbankan seekor babi yang dilakukan oleh orang suci menjelang pelaksanaan games, di samping itu dipersembahkan juga seekor domba hitam untuk menghormati Pelops. Pertanyaan tentunya muncul, siapakah Pelops, sehingga dia begitu dihormati oleh bangsa Yunani kuno?

 

Hippodameia, yang Jelita

Untuk mengetahui siapa Pelops, pelu diawali tentang kisah seorang raja yang memerintah di wilayah Olympia pada suatu masa. Penguasa tesebut  adalah raja Oenomaus, yang memiliki seorang putri cantik jelita, Hippodameia namanya. Banyak pelama datang, tetapi raja membuat sayembaa yang bebahaya dan tidak adil.

Si pelamar dengan mengendarai chariot membawa sang puteri dan raja akan mengejar dengan chariot pula, bila berhasil lepas dari kejaran sang raja, maka si pelamar berhak memiliki Hippodameia. Bila sang raja berhasil mengejarnya, pedangnya akan menghabisi riwayat si pelamat. Sudah banyak pria mencoba meraih mimpinya menyunting si jelita, tetapi sang raja memporakporandakan impian mereka. Seperti dikatakan oleh Kennedy (1971:4), “Thirteen times had tried to win Hippodameia, and Oenomaus had killed each of them”.

 

 

 

 

 

Gambar. Chariot, kereta kuda beroda dua.

(Sumber: Kennedy, 1971:116)

Pria ke-14 muncul, bernama Pelops, pemuda gagah, tampan, pemberani, serta cerdik. Dia menggunakan kecerdikannya (kelicikannya?) untuk memenangkan sayembara. Sebelum sayembara dimulai, Pelops menyuap seorang pegawai untuk merusak roda chariot yang akan dikendarai sang raja dalam sayembara.

Perlombaan dimulai, chariot yang dikendarai Pelops yang membawa serta si puteri segera dipacu kencang. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, raja Oenomaus hampir dapat menyusul. Pelops merasa was-was, apakah siasatnya tidak berhasil. Tiba-tiba sebuah roda chariot sang raja terlepas, Oenomaus jatuh, lehernya patah dan meninggal . Dengan demikian Pelops dinyatakan sebagai pemenang serta berhak atas Hippodameia. Di tempat ini pulalah diselenggarakan Olympic games untuk menghormati keberhasilannya. Seperti dikemukakan oleh Kennedy (1971:4), “Thus Pelops won Hippodameia in chariot race at Olympia, and in same field he establises the Olympic games in honor of his success”.

 

Lari Stade: 200 Yards

Di depan telah sedikit disinggung, bahwa Coroebus tampil sebagai juara yang pertama kali namanya dicatat dalam sejarah Olympic kuno, pada lomba lai. Nomor lari tersebut adalah lari Stade, yang berjarak tempuh + 200 yards, sepanjang stadion.

Seperti halnya  pernyataan bahwa Olympic kuno diawali tahun 776 BC yang belum disepakati semua pakar sejarah, demikian pula tentang perkembangan secara kronologis cabang-cabang yang dilombakan dan dipertandingkan. Akan tetapi banyak penulis/pakar sejarah olahraga yang menyetujui urutan secara kronologis yang tersebut dibawah ini, seperti diungkapkan oleh Zeigler (1979:35), seperti berikut:

Although there are slight disagreement with respect to when some events instituted, most writers agree with the following chronological list of events as the added to the Olympic games:

01

Stade

776 BC

02

Diaulos

724 BC

03

Dolichos

720 BC

04

Pentathlon

708 BC

05

Wrestling

708 BC

06

Boxing

688 BC

07

Pancration

648 BC

08

Hoplite race

520 BC

09

Two mule chariot race

492 BC

10

Horse riding

488 BC

11

Footrace combination

488 BC

12

Two horse chariot race

400 BC

13

Contests for herald trumpeters

388 BC

14

Four colt chariot race

376 BC

15

Two colt chariot race

260 BC

16

Colt race

248 BC

17

Pancration for boys

200 BC

 

Berdasarkan daftar yang tersusun secara kronologis tersebut dapat diketahui, lari Stade menjadi satu-satunya nomor yang dilombakan hingga Olympic ke-13. Hal ini dapat dihitung dengan mudah karena Olympic kuno dilaksanakan setiap empat tahun sekali. Barulah pada pelaksanaan Olympic ke-14 ditambah dengan lari Diaulos, lari denan jarak dua kali lari Stade, artinya jarak tempuh + 400 yards. Pada Olympic ke-15 menjadi tiga nomor yang dilombakan, dengan dilaksanakannya lari jarak jauh, Dolichos. Ada sumber yang menyebutkan bahwa Dolichos menempuh jarak minimal tujuh kali lari stade, seperti ditulis United States Olympic Committee yang dikutip Yama Agni (1982:46). Tetapi Zeigler (1979:34)  mengemukakan bahwa Dolichos, adalah lomba lari jarak jauh dengan menempuh jarak tidak pasti.

Pentathlon yang diselenggarakan mulai tahunn 708 BC, sesuai dengan namanya, penta (= lima) dan athlon (= perlombaan, pertandingan), maka yang dilombakan/ dipertandingkan terdiri atas lima nomor yang khas. Zeigler menuliskan (1979:335), “Pentathlon, which included the long jump, the discus, the javelin, the footrace (stade), and wrestling”.

Adapun pelaksanaannya menurut US Olympic Committee yang dikutip Yama Agni (1982:47) adalah sebagai berikut: “In the pentathlon, thos who jumped a certain distance qualified for the spear throwing; the four best then sprinted the length of the stadium, the three best then threw the discus, and the two best then engaged in a wrestling match to the finish”.

Ada lima tahap/urutan dalam pelaksanaan pentathlon kuno yaitu sebagai berikut:

I

Lompat jauh Semua peserta mengikuti, dan dengan kualifikasi.

II

Lempar lembing Semua peserta yang lolos kualifikasi lompat jauh.

III

Lari stade Sejumlah empat orang terbaik setelah lempar lembing.

IV

Lempar cakram Sejumlah tiga orang terbaik setelah lomba lari stade.

V

Gulat Dua orang terbaik setelah lempar cakra, berhadapan, dan pemenangnya dinyatakan sebagai juara.

 

 Teknik pelaksanaannya sangat berbeda bila dibandingkan dengan lomba nomor gabungan yang sekarang dikenal. Misalnya pada nomor gabungan dalam atletik, ada panca lomba, sapta lomba, dasa lomba, dengan setiap peserta melakukan semua nomor yang dilombakan, dan masing-masing nomor ada skor/nilainya untuk kemudian dijumlahkan. Pada Triathlon modern, yang terdiri atas nomor lari, renang, dan balap sepeda, memiliki cara penghitungan yang tersendiri.

Juga apabila dibandingkan dengan panca lomba modern, yang terdiri atas: (1) berkuda dengan 15 rintangan, (2) renang sejauh 300 meter, (3) menembak, (4)  anggar, dan (5) lari. Nampaknya sekilas tidak ada hubungannya dengan nomor-nomor pada panca lomba kuno, akan tetapi ide nomor-nomor tersebut juga berasal dari sejarah Yunani, saat seorang kurir yang mendapat berbagai rintangan dalam perjalanannya ketika melaksanakan tugas.

Pancration yang mulai dipertandingka tahun 648 BC, gabungan antara tinju dan gulat, merupakan nomor yang paling kasar dan berbahaya, serta sering mengakibatkan kematian para atletnya. Seperti diungkapkan Kennedy (1971:6), “The prancratium, a combination of boxing and wretling, resulted in several deaths”.

Sedangkan Hoplite race merupakan lomba lari dengan membawa senjata dengan berpakaian perang, yang mulai dilaksanakan pada tahun 520 BC pada Olympic ke-65. Apabila dilihat dari jarak yang ditempuh sama dengan lari Diaulos, yaitu + 400 yards.

Di samping nomor-nomor perlombaan  dan pertandingan olahraga tersebut, nampak menonjol adanya suatu kontes seni yang mulai dilaksanakan pada tahun 388 BC, yaitu Contests for herald and trumpeters.

Apabila daftar nomor yang dilombakan dan dipertandingkan pada Olympic kuno yang ditulis secara kronologis oleh Zeigler tersebut dicermati, akan dapat dibuat suatu klasifikasi (apabila dapat disebut demikian). Pertama, adanya nomor lari, yang terdiri atas lari jarak pendek, menengah dan jauh. Hal ini mengingat ada tiga nomor, yaitu Stade ( + 200 yards), Diaulos (+ 400 yards), dan Dolichos (yang disebut sebagai lari jarak jauh). Memang tidak sesuai apabila dibandingkan dengan pembagian seperti pada nomor-nomo lari dalam pengertian atletik masa kini. Dalam kontek ini kiranya dapat diterima. Kemudian adanya nomor beladiri, ada tinju, gulat, serta yang spesifik adalah gabungan keduanya, Pancration. Ada nomor berkuda, yang terdiri atas pacuan kuda, dan pacuan kereta kuda. Lalu ada nomor gabungan, pentathlon, yang empat nomornya merupakan nomor-nomor dalam atletik modern, walaupun secara teknis pelaksanaannya berbeda, sedang yang satu nomor, gulat, sebagai nomor beladiri.

 

Penutup

Berdasarkan pembahasan di depan, jika dihitung dari awal Olympic dilaksanakan, tahun 776 BC dengan hanya satu nomor yang dilombakan, lari Stade, sampai tahun 200 BC, diperlukan waktu lebih dari 5½ (lima setengah) abad untuk menjadikan Olympic suatu pekan olahraga akbar yang multi events. Olympic kuno berlangsung lebih dari sebelas abad,dari tahun 776 sebelum Masehi sampai dengan abad ke-4 Masehi. Dalam hal usia, kiranya belum perlu dibandingkan dengan Olympic modern, yang usianya baru hampir satu abad. Suatu perjalanan yang amat panjang, jika dihitung berdasarkan usia manusia.

 

Daftar pustaka

Encyclopedia of World Art. (1962). USA, New York: Mc. Grawhill Book Company Incorporation.

Ensiklopedia Indonesia. (1980). Jakarta-Indonesia: Penerbit Buku Ichtiar-Van Hove.

FKN Harahap. (1978). “Beberapa Segi dalam Persoalan Olahraga Sepanjang Masa”. Jakarta: Majalah Prisma nomor 4 bulan Mei 1978.

Harsuki. (1988). Olympic Movement Dewasa Ini. Jakarta: Olympic Solidarity Regional Basketball Coaching Course.

Kennedy, Raymond. (1971). The Story of Olympic Games. New York: Washington Square Press.

Kieran, John and Arthur Daley. (1961). The Story of Olympic Games 776 BC – 1960 AD. Revised Edition. New York: JB Lippicott Company.

Menke, Frank G. (1963). The Encyclopedia of Sport. Third Revised Edition. New York: AS Barnes and Company.

Van Dalen, DB., et all. (1961). A World History of Physical Education (Cultural, Philosophical, Comparative). Fourth edition. New York: Englewood Cliffs, Prentice Hall Inc.

Yama Agni. (1982). “Pekan Olahraga Olympis”. Cakrawala Pendidikan. Volume 11,  nomor 6. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.

Zeigler, Earle F. (1979). History of Physical Education and Sport. New York: Prentice Hall Incorporation, Englewood Cliffs.

 

—–



LARI MARATHON

Author: masmar
11, 02, 10

Tulisan ini sudah dimuat di Majalah Ilmiah Kependidikan “Cakrawala Pendidikan”,

IKIP Yogyakarta, edisi Nomor 1, Tahun XI, Februari 1992

 

Oleh:

Margono

Dosen FIK Universitas Negeri Yogyakarta

 

Abstrak

                        Lari Marathon merupakan nomor atletik yang paling populer di antara lari yang lain karena nilai historisnya. Profesor Michael Breal yang mengusulkan kepada Baron Pierre de Coubertin agar nomor ini dilombakan pada Olympic Games pertama tahun 1896, karena respeknya terhadap Pheidippiddes. ‘the famous Athenian runner’.

                        Spiridon Loues adalah orang pertama yang namanya tercatat dalam sejarah sebagai juara lari Marathon Olympic Games. Kisah suksesnya yang dramatis tak pernah menjemukan untuk disimak. Cerita tentang Pheidippides dengan berbagai versinya dari sudut sejarah akan pembaca temui pada tulisan berikut, di samping satu versi dongeng.

 

Pendahuluan

            Lomba lari jalanan menjadi nomor atletik yang menarik akhir-akhir ini, baik tingkat nasional maupun internasional. Hal ini didukung dengan banyaknya lomba lari jalanan di berbagai negara, disertai gengsinya masing-masing.

            Dengan daya tarik utama adalah hadiah berupa uang, lomba jenis ini semakin memikat banyak atlet. Tentunya tanpa maksud meniadakan daya pikat yang lain. Di Indonesia nomor lari jenis ini yang paling bergensi adalah “Borobudur 10 K”, yang dikondangkan sebagai “The Richest Run of the World”. Yang pada mulanya diawali dengan “Bali 10 K”, yang dipromosikan sebagai “The Paradise Run”. Nama besarnya semakin menjadi dengan keikutsertaan para pelari kaliber dunia. Beberapa nama kondang, seperti: Marc Nenow, Arturo Barios, John Ngugi, Brahim Boutayeb, Alberto Salazar, Rob de Castela, di kelompok pria; dan Liz Linch, Grete Waitz, Ingrid Kristiansen, Liza Martin, Jill Hunter, Pricillia Welch, Lyn Jennings, nancy Tinnary, di kelompok wanita.

            Sebelum berbagai lombar lari “Ten Kilometers” kondang, telah populer lebih dahulu lari jalanan jarak jauh, yaitu lari Marathon. Menurut Peraturan Perlombaan dan AD-ART PB PASI 1989 pasal 165 (1989:102), yang termasuk lari jalanan (jalan raya) bagi pria dan wanita adalah: 15 km, 20 km, ½ Marathon (= 21,098 km), 25 km, 30 km, dan Marathon (= 42,195 km).

Para juara lomba lari Marathon adalah manusia yang memiliki daya tahan luar biasa. Walaupun berbagai lomba lari spektakuler muncul, seperti lomba lari ratusan kilometer, lomba lari melintasi gurun pasir, lari gunung, tetapi lari Marathon tetap memiliki kharisma tersendiri.  Juga yang unik, macam Triathlon, lomba yang menggabungkan antara adu lari, renang, dan bersepeda. Triathlon berasal dari ide guyonan seorang Kapten angkatan laut AS, John Collins (Tempo, nomor 25, XVI).

Walaupun lari Marathon mulai dilombakan pada Olympic modern pertama di Athena, tetapi jarak tempuh yang 42,195 km baru dibakukan pada tahun 1908 saat Olympic di selenggarakan di London, dan John Hayes dari AS muncul sebagai juara dengan catatan prestasi 2 jam 55 menit 18,4 detik (Encyclopedia of Sport, 1963:70).

Karena kemajuan teknologi, antara lain, prestasi para atlet Marathon pun semakin baik. Di Seoul,  pada Olympic 1988, Gelindo Bordin asal Italia mengukir prestasi 2:10.32.  Walau pada Olympic sebelumnya ada yang lebih jawara karena kemampuannya menembus waktu di bawah dua jam sepuluh menit, yaitu Carlos Lopez dari Portugal dengan catatan waktu 2:09.27. Dan, Waldemar Cierpinski dengan 2:09.55. Pelari yang disebut terakhir, yang berasal dari Jerman Timur ini mencatat prestasi emas dengan dua kali muncul sebagai juara lari Marathon Olympic 1976 dan 1980; menyamai rekor Abebe Bikila asal Ethiopia, tahun 1960 dan 1964 (The Encyclopedia of Sport, 1963:712; MP edisi Sept-Okt 1988).

 

Sang Profesor dan Baron   

Pertarungan perebutan mahkota sebagai “manusiang paling tahan di dunia” ini tidak akan pernah ada jika tidak terlahir seorang profesor Michael Breal, yang memiliki ide melombakan lari Marathon sebagai nomor puncak pada Olympic Modern yang diprakarsai oleh Baron Pierre de Coubertin.

Mengapa Profesor Michael Breal antusias mengadakan/melombakan lari Marathon pada pekan olahraga Olympic, inilah salah satu pertanyaan yang akan dijawab pada tulisan berikut. Dengan tiga versi, yang menampilkan Pheidippides sebagai super star-nya. Juga kisah dramatis seorang juara lari Marathon modern yang pertama, Spiridon Loues.

 

Kepatuhan Seorang Pheidippides

Pada pekan olahraga Olympic (kuno), tidak ada lomba lari Marathon. Ada perlombaan lari jarak jauh yang disebut Dolichos, berjarak minimal tujuh kali stade sampai dengan 24 kali stade. Satu stade sejauh lebih kurang 200 yards (Earle F Zeigler, 1979:34; Van Dalen, 1961:61). Nomor ini populer setelah selama puluhan tahun sebelumnya lari Stade dan Diaulos dilombakan pada Olympic (kuno).

Menurut sejarah Yunani Purba, ada peristiwa heroik yang terjadi di lembah Marathon. Perang antara Yunani melawan Persia Purba dari awal sampai akhir berlangsung selama 21 tahun, dari 500 BC hingga 471 BC. Di dalam masa perang itu Persia dengan armadanya yang kuat berkali-kali mengadakan penyerbuan ke Yunani. Tiga penyerbuan besar-besaran yang pernah dilancarkan ialah: pertama tahun 492 BC dipimpin Mardonis, menantu raja Darius; kedua 490 BC di bawah pimpinan laksamana Datis; dan ketiga pada tahun 480 BC dengan pimpinan raja Xerxes. Penyerbuan kedualah yang menimbulkan peristiwa bersejarah dengan pertempuran di Marathon. Demikianlah diungkapkan Yama Agni (Cakrawala Pendidikan, 1978) yang mengutip dari buku Algemeen Mythologisch Woordenboek, tulisan JW Gerretsen.

Dengan pimpinan laksamana Datis pasukan Persia menyeberangi laut Aegea dengan tiada mendapat rintangan yang berarti. Lalu menuju ke pulau Euboea, dan menduduki kota Eretria. Kemudian menyeberang lagi menuju daratan Attica, dan mendarat sesudah tikungan di pantai timur dusun Marathon.

Dapat dibayangkan bagaimana kekhawatiran penduduk Athena karena Marathon jaraknya hanya sekitar enam jam perjalanan atau sekitar 40 km dari Athena. Di samping kekuatan pasukan Yunani di kota hanya 12.000 orang. Suatu jumlah yang kecil dibandingkan dengan tentara Persia yang 25.000 orang, terdiri atas pasukan kavaleri dan pemanah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar. Peta Yunani Besar (Sumber: Sejarah Filsafat Yunani, Dr. K. Bertens, 1979:13).

 

Di pihak Athena, beberapa pimpinan menganjurkan pertahanan diadakan di dalam kota, secara defensi di belakang pintu-pintu yang tertutup dan tembok-tembok yang telah diperkuat. Akan tetapi, Miltiades sebagai jenderal tentara Athena tidak sependapat, ia menghendaki pertempuran terbuka jauh dari kota. Maka, diperintahkanlah anak buahnya menuju lembah Marathon, yang jaraknya beberapa kilometer dari dusun Marathon. Miltiades mengatur siasat penghadangan, menanti iring-iringan Datis dan pasukannya yang mulai bergerak menuju Athena.

Pertempuran seru terjadi di lembah itu. Meskipun jumlah tentara Persia merupakan kelipatan pasukan Athena, tetapi karena siasan penghadangan Miltiades sama sekali tidak diduga oleh Datis, maka pertempuran yang meluas sampai ke dusun bahkan ke pantai Marathon itu berakhir dengan kemenangan pihak Athena.

Kemenangan pasukan Athena merupakan surprise yang luar biasa, juga bagi Miltiades, maka pimpinan pasukan Athena itu mengutus Pheidippides, “The famous Athenian runner”, untuk menyampaikan berita kemenangan kepada pimpinan negara (R. Kennedy, 1971:8).

Meskipun Pheidippides sebagai tentara telah bertempur sepanjang hari, dia segera menanggalkan pakaian tempur, perisai dan senjatanya. Dimulailah lari Marathon-nya yang bersejarah, perjalanan panjang menuju Athena. Sekian mil telah dilalui, kakinya mulai lukan, pecah-pecah, dan berdarah, tenggorokkannya terasa sakit untuk bernapas. Rasanya tidak kuat lagi untuk melangkah, hanya kaena mengingat tugasnya amat penting, Pheidippides memaksakan diri terus mengayunkan langkah, bahkan kadang-kadang masih sempat pula berteriak dengan suara serak: “kita menang, bergembiralah, kita menang”. Penduduk sedang bersembunyi mendengar teriakannya, mereka berhamburan keluar. Berkat tekadnya yang luar biasa akhirnya sampai juga di tempat yang dituju,  Acropolis sudah tampak dihadapannya. Dengan terhuyung-huyung ia mengarahkan langkahnya ke bagian kota yang menurut perkiraannya Themitocles dan negarawan lainnya sedang berkumpul. Pheidippides mengabarkan kemenangan pasukan Athena: “Rejoice: We conquer!”. Itulah suara terakhirnya, yang begitu membahagiakan seluruh warga Yunani. Setelah itu dia jatuh dan gugur. Seorang  pahlawan telah tiada (R. Kennedy, 1971:8; J. Kieran and Daley, 1961:18).

 

Pheidippides yang Super

Selain kisah Pheidippides yang telah disebutkan, ada suatu versi yang diungkapkan Grombach dalam “The 1964 Olympic Guide”, sebagai berikut:

“… then landed at Marathon, a plain approximately twenty six miles from Athens. Pheidippides, an Olympic champion, was sent as a courier to try to get help from Sparta. According to the story, he ran, swam rivers, climbed mountains for a days without rest and succeeded in persuading the Spartans to some to the aid of Athens”.

Apabila kita cermati rangkaian kalimat tersebut, ada suatu hal yang sangat luar biasa. Yakni, kemampuan Pheidippides si kurir berhari-hari berlari, berenang menyeberangi sungai, mendaki gunung-gunung menuju ke Sparta, tanpa istirahat. Manusia biasa tak akan mampu melakukan hal tersebut, mengingat jarak Athena ke Sparta sekitar 2.000 km. Keluarbiasaan ini merupakan kelemahan dari apa yang diungkap oleh Grombach.

Yang berikut disebutkan bahwa Pheidippides adalah “an Olympic champion”, padahal menurut arsip yang terdapat di Altis, Olympia, namanya tidak tercantum sebagai juara. Baik pada Olympic purba 492 BC yang ke-72 atau tahun 496 BC yang ke-71. Kalau sebagai ‘The famous Athenian runner” mungkin saja, karena seorang pelari terkenal belum tentu seorang juara, seperti yang dikemukakan J. Kieran dan A. Daley dalam “The Story of Olympic Games”, juga oleh Raymond Kennedy.

Kemudian diungkapkan pula, setelah Pheidippides sampai di Sparta, pihak Sparta bersedia membantu melawan pasukan Persia yang menyerbu Athena. Menurut catatan pada penyerbuan kedua pada tahun 490 BC ini, Sparta tidak memberi bantuan. Pada tahun 480 BC saat Persia mengadakan penyerbuan besar ketiga kalinya, pihak Sparta membantu, bahkan memimpin pertahanan Athena-Yunani.

Ada satu versi lagi cerita kepahlawanan Pheidippides. Pada saat pertempuran berkecamuk, dia dibantu oleh dewa Pan, yakni dewa hutan dan padang rumput. Dewa ini sebagai penguasa dan pelindung binatang dan ternak, yang berciri: bertanduk, berjenggot, berhidung bengkok, dan memiliki sepasang kaki seperti kaki kambing. Kekalahan pasukan Persia di bawah pimpinan Datis, tidak hanya karena melawan tentara Athena pimpinan Miltiades, tetapi juga karena ketakutan menghadapi dewa Pan yang berpenampilan mengerikan dan galak. Kesediaan dewa Pan membantu pasukan Athena disebabkan juga banyak orang Athena yang telah melupakannya, tidak menghargai lagi sebagaimana dewa-dewa lain.

Apabila dilihat dari sudut sejarah, kiranya kisah Pheidippides yang dikemukakan pertama lebih dapat diakui kebenarannya dibandingkan dengan dua versi yang lain. Keberatan-keberatan pada versi yang kedua telah disebutkan. Sedangkan versi yang ketiga lebih condong ke arah dongeng.

Kenyataan bahwa Pheidippides adalah warga yang patuh, ulet dan pemberani, serta pernah lari dari Marathon ke Athena, dan gugur sebagai pahlawan inilah yang membuat Michael Breal kagum padanya. Kekaguman dan rasa hormat yang menggerakkan hati sang profesor sehingga menyarankan kepada Baron agar pada penyelenggaraan Olympic games modern pertama tahun 1896 dilombakan nomor lari Marathon. Hal itu terwujud dan menjadi tradisi  dalam Olympic hingga sekarang.    

 

Spiridon Loues, si Ceking

Atas perjuangan Baron Pierre de Coubertin yang mulai tahun 1892 menyampaikan proposal Olympic Games I pada pertemuan “Athletic Sport”, dan pada tahun 1894 pada suatu “Athletic Congress”, pekan olahraga Olympic (modern) dapat digelarkan 6 April 1896, yang dibuka secara resmi oleh raja George I dari Yunani. Tepatnya di stadion Averroff, yang diambil dari nama seorang pedagang asal Alexandria-Egypt, yang memberikan bantuan uang sebesar satu juga drachmas kepada Olympic Committee, untuk pembangunan stadion pualam yang berkapasitas 50.000 orang (The Encyclopedia of Sport, 1963:707; R Kennedy, 1971:14; Ensiklopedia Indonesia, 1980:713).

Selama satu minggu warga Yunani dengan setia menyaksikan Olympic, tetapi kekecewaan yang didapat karena tiada satu nomor pun dimenankan atlet mereka. Para supporter Yunani benar-benar sedih, yang setiap saat dipaksa melihat kekalahan para jagonya (R Kennedy,1971:16). Akan tetapi, itulah kenyataan. Tuan rumah benar-benar haus kemenangan, ingin menyaksikan jagonya menempati tahta juara pertama.

Pada nomor lari marathon, dahaga mereka terpuasi. Lari Marathon menempuh jarak hampir sama dengan yang pernah dilakukan Pheidippides kira-kira 24 abad sebelumnya, tepatnya 2386 tahun (490 BC – 1896 AD). Nomor lari ini mengambil start di Marathon dan finis di stadion Averroff, jaraknya sekitar 26 mil. Ada 25 pelari yang mengikuti, salah satu diantaranya Spiridon Loues, si penggembala biri-biri warga Yunani, yang berperawakan kurus kecil.

Dalam The Story of The Olympic Games, R Kennedy menuliskan (1971:16), bahwa “Spiridon was a dreamer, like many men who live or work alone, apart from other man”. Dia melakukan kegiatan yang bersifat relijius menjelang lomba. “In the last two days before the race, Spiridon, instead of practicing his running, prayed to God to help him”.

Di antara para peserta terdapat: Lemursiaux pelari dari Perancis juara III lari 1500 meter; Arthur Blake, dari AS juara II lari yang sama; juga pelari Australia, juara lari 800 dan 1500 meter.

Telah disiapkan pasukan Yunani di sepanjang rute dari Marathon ke Athena, termasuk juga sepasukan berkuda yang siap mengikuti para pelari dan memberikan pertolongan seperlunya. Para petani dan warga setempat di sepanjang jalan memberi semangat serta menawarkan makanan-minuman. Menjelang mil ke18, Arthur Blake memimpin, tetapi setelah itu langkahnya semakin lemah, berhenti dan jatuh. Kabar buruk bagi warga Amerika. Sebaliknya, Spiridon Loues tetap berlari dengan langkah-langkah mantap. Langkah yang menjanjikan kemenangan.

Perjalanan yang harus ditempuh kira-kira 4of Greece mil lagi, Spiridon mengambil alih pimpinan. Berita tersiar cepat ke seluruh penonton. Terlihatlah Spiridon siap memasuki pintu gerbang stadion, sebagai yang pertama, dan “Prince Constantine and Prince George of Greece quickly left their seats and went to the gate and waited for Loues to appear. The little Greek athlete came into the stadium and ran to the l  finish line with Prince Constantine on one side of him and Prince George, 6 feet 5 inches tall, on the order side”. (R. Kennedy, 1971:18).

Demikianlah, Loues lari di antara dua Prince Yunani. Dan yang lebih melengkapi suka cita warya Yunani adalah “Two other Greeks, Vasilakos and Belokas, finished second and third”.

Setelah mengalami banyak kekecewaan, kemenangan di nomor lari Marathon benar-benar sangat membahagiakan dan membanggakan. Spiridon Loues laksana air sejuk menyiram warga Yunani yang sedang kehausan. Benar-benar sulit membayangkan suasana saat itu.

 

Penutup

Lari Marathon mulai dilombakan sejak Olympic modern I, tahun 1896 di Athena-Yunani, atas usul Profesor Michael Breal. Jarak tempuhnya yang 42,195 km ditetapkan tahun 1908 saat Olympic dilaksanakan di London, sebelumnya pada Olympic I sampai dengan III jarak tempuhnya berubah-ubah.

Atlet yang tercatat namanya sebagai juara lari Marathon pada Olympic Games I adalah Spiridon Loues dengan catatan waktu 2 jam 58 menit 50 detik. Kisah tentang Pheidippides, “The Famous Athenian Runner”, yang lari dari Marathon ke Athena untuk mengabarkan kemenangan perang melawan Persia tahun 490 BC, dianggap yang melatarbelakangi dilombakannya lari Marathon.

Ada hal-hal yang perlu dikaji lebih dalam tentang sejarah (olahraga) bangsa-bangsa kuno, khususnya, karena kadang terdapat informasi yang belum sama dari berbagai sumber yang ada.

 

Daftar pustaka

Bertens, K. 1979. Sejarah Filsafat Yunani. Edisi kedua. Yogyakarta: Penerbitan Yayasan Kanisius.

Ensiklopedia Indonesia. 1980. Jakarta-Indonesia: Penerbit Buku Ichtiar-Van Hove.

Grombach, John V. 1964. The 1964 Olympic Guide. New York: The Hearst Coorporation, 595 Hight Avenue, 10019.

Kennedy, Raymond. 1971. The Story of Olympic Games. New York: Washington Square Press.

Kieran, John and Arthur Daley. 1961. The Story of Olympic Games 776 BC – 1960 AD. Revised Edition. New York: JB Lippicott Company.

Menke, Frank G. 1963. The Encyclopedia of Sport. Third Revised Edition. New York: AS Barnes and Company.

Minggu Pagi. Edisi September-Oktoer 1988.

PB PASI. Peraturan Perlombaan dan AD-ART 1989.

Tempo. Nomor 25 tahun XVI, 16 Agustus 1986. “Triathlon”

Van Dalen, DB., et all. 1961. A World History of Physical Education (Cultural, Philosophical, Comparative). Fourth edition. New York: Englewood Cliffs, Prentice Hall Inc.

Yama Agni. 1982. “Pekan Olahraga Olympis”. Cakrawala Pendidikan. Volume 11,  nomor 6. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.

Zeigler, Earle F. 1979. History of Physical Education and Sport. New York: Prentice Hall Incorporation, Englewood Cliffs.

 

—–



Dimuat di: Cakrawala Pendidikan (Majalah Ilmiah Kependidikan), edisi nomor 2, tahun X, Juni 1991.

Diterbitkan oleh: PPM IKIP Yogyakarta.

Oleh: Margono

Dosen FIK Universitas Negeri Yogyakarta

Baron Pierre de Coubertin telah dikenal dunia sebagai “Bapak Olympiade”, yang lahir 1 Januari 1863 di Paris. Tokoh yang tidak kenal menyerah, berjuang agar Olympic Games dapat dilaksanakan oleh bangsa Hollos Yunani. Setelah proposal Olympic Games I diajukan pada pertemuan “Athletic Sport” di Paris tahun 1892, dan, disusul perjuangannya pada “Athletic Congress” tahun 1894, serta rangkaian upayanya mencari pendukung. Olympiade (modern) pertama dapat direalisir pada tahun 1896, di Athena-Yunani.

Tahun 776 BC, dianggap sebagai saat pertama kali Olympic (kuno) diselenggarakan, di dewa Olympia-Yunani, dengan hanya satu nomor olahraga yang dilombakan, yaitu lari Stadia. Dan  Coroebus adalah  atlet pertama kali tercatat sebagai juara Olympiade, dengan hadiah sebuah mahkota daun olive. Mahadewa Zeus yang bersemayam di puncak gunung Olympus, sebagai mahadewa penguasa dunia dan sorga dipuja pada pekan Olahraga ini.

Tulisan berikut akan mencoba menjawab pertanyaan tentang wanita-wanita pelaku sejarah pekan Olahraga Olympic (kuno) . Pertama, siapa wanita yang pertama kali tercatat sebagai juara Olympic. Juga, peristiwa apa yang melatarbelakangi, sehingga kaum hawa diperbolehkan berpartisipasi dalam pekan olahraga ini. Serta siapakah wanita yang pertama kali berani melanggar ketentuan Olympic (kuno), dengan ikut serta berpartisipasi.

Kata-kata kunci: Olympic games, sejarah olahraga.



Dimuat di: Cakrawala Pendidikan (Majalah Ilmiah Kependidikan), edisi no. 1, tahun XI, Februari 1992;

Diterbitkan oleh: LPM IKIP Yogyakarta

Oleh: Margono

Dosen FIK Universitas Negeri Yogyakarta

Lari Marathon merupakan nomor atletik yang paling populer diantara lari jalanan lain, karena nilai historisnya. Profesor Michael Breal yang mengusulkan kepada Baron Pierre de Cubertin agar nomor ini dilombakan pada Olympic Games pertama tahun 1896, karena respeknya terhadap Pheidippides, “The Famous Athenian Runner.”

Spiridon Loues adalah orang pertama yang namanya tercatat dalam sejarah sebagai juara lari Marathon Olympic Games. Kisah suksesnya yang dramatis tak pernah menjemukan untuk disimak.

Cerita tentang Pheidippides dengan berbagai versinya, dari sudut sejarah maupun versi dongeng, akan pembaca temui pada tulisan berikut.

Kata-kata Kunci: lari Marathon, atletik, sejarah olahraga.



Dimuat di: Olahraga (Majalah Ilmiah), edisi nomor 1, volume 12, tahun XII, April 2006. Diterbitkan oleh: FIK UNY.

Oleh: Margono

Dosen FIK Universitas Negeri Yogyakarta

Lari Marathon merupakan nomor atletik paling populer dibandingkan dengan nomor lari jalanan lain, kemungkinan karena nilai historis yang melatarbelakanginya.Profesor Michael Breal yang mengusulkan kepada Baron Pierre de Coubertin agar nomor ini dilombakan pada Olympic Games I tahun 1896, karena rasa hormatnya terhadap perjuangan prajurit tangguh dari Athena, Pehidippides, yang juga “The Famous Athenian Runner”.

Spiridon Loues adalah orang pertama yang namanya tercatat dalam sejarah sebagai juara lari Marathon pada Olympic Games. Kisah suksesnya yang dramatis tak pernah menjemukan untuk disimak. Panjang jarak yang harus ditempuh dalam lari Marathon dari Olympic I, II, III dan IV berbeda-beda. Pada Olympic ke-empat, ditetapkan jarak tempuh 42.194 meter, dan, jarak tempuh ini dibakukan hingga sekarang.

Pertanyaan mengapa jarak tempuh lari jauh terpopuler ini tidak dapat standart dari awal pelaksanaan Olympic Games, coba dianalisis dalam tulisan ini.

Kata-kata kunci: Lari Marathon, sejarah olahraga, Olympic games.