« | Home

PEMBELAJARAN SENI RUPA TRADISIONAL DALAM KTSP

By martono | December 29, 2009

PENGEMBANGAN  PEMBELAJARAN SENI RUPA TRADISIONAL DALAM KURIKULUM SATUAN PENDIDIKAN

Oleh: Martono

(Jurdik Seni Rupa FBS UNY, HP 08156886807, email: martonouny@yahoo.com)

Mengawali tulisan ini mari kita renungkan pernyataan Tilaar (1999:177) mengatakan bahwa pendidikan nasional dewasa ini telah terpisah dari kebudayaan, baik kebudayaan daerah maupun kebudayaan nasional. Hal ini perlu diintegrasikan kembali sehingga pendidikan betul-betul hidup, dihidupi, dan menghidupi kebudayaan. Sesungguhnya pendidikan adalah proses sosialisasi, enkulturasi, dan internalisasi yang harus dilakukan melalui pembelajaran untuk membangun apresiasi dan kreasi peserta didik. Pembelajaran apresiasi seni rupa tradisi dapat dilakukan dengan sosialisasi, enkulturasi, dan internalisasi nilai-nilai seni pada peserta didik. Suatu istilah yang sering digunakan oleh para ahli sosiologi atau ilmu sosial lainnya, sosialisasi adalah untuk memberikan pemahaman tentang proses pengalihan pengetahuan, ide-ide, sikap, dan tingkah laku dari satu generasi ke generasi berikut­nya. Proses sosialisasi dapat dimulai dari keluarga, teman bermain, pendidikan for­mal, pendidikan luar sekolah, dan pergaulan di masyarakat. Proses ini oleh para ahli antropologi disebut proses enkulturasi, sedangkan penjiwaan dari proses tersebut sam­pai membentuk pengetahuan dan perilaku sehingga anak mampu mandiri dinama­­kan proses internalisasi.

Enkulturasi adalah proses pembudayaan, hal ini akan tampak jelas pada pendidikan huma­niora, seperti seni, kesusastraan, tari, musik yang berbentuk ekspresi kreatif. Pengembangan kreativitas perlu dibina seawal mungkin agar menjadi manusia-manusia yang berbudaya. Internalisasi adalah proses penghayatan, proses penguasaan secara mendalam yang berlangsung melalui latihan, pengolahan, pemikiran atau bentuk penghadiran tertentu lainnya. Oleh karena itu, proses internalisasi bersifat pribadi, proses ini dilakukan dalam pengembangan diri melalui belajar dari orang lain, orang tua, dan guru dalam situasi tertentu sesuai dengan kapasitas fisik dan kejiwaanya. Dengan demikian, proses internalisasi diperlukan bagi setiap anak atau individu dalam bentuk identitas maupun jati diri. Dalam kontek seni budaya dan keterampilan seni tradisi kita merupakan salah satu puncak-puncak budaya di setiap daerah yang menjadi jati diri bangsa kita. Hal ini menjadi dasar dan sekaligus sebagai peluang yang dimungkinkan pendidikan mempertimbangkan kembali membelajarkan seni tradisi kita kepada peserta didik sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat dan perkembangan global sekarang ini.

Pendidikan sebagai proses kebudayaan dan melakukan proses interaksi  terjadi tranformasi budaya dari generasi tua, yaitu guru kepada generasi muda, yaitu peserta didik. Tilaar (1999: 9) mengatakan bahwa pendidikan adalah suatu proses yang menaburkan benih-benih budaya dan peradaban manusia yang hidup dan dihadapi oleh nilai-nilai atau visi yang berkembang atau dikembangkan di dalam suatu masyarakat. Hal ini yang dinamakan pendidikan sebagai suatu proses pembudayaan. Bagaimanakah manusia yang berbudaya itu? Manusia berbudaya adalah manusia yang dapat dinilai dari kinerjanya, dipandang dari dimensi pengetahuan, cara ber­pikir, sikap, perilaku, cara kerja, melihat dan menanggapi serta memecahkan masalah (Djohar 1999:128). Jika pendidikan sebagai suatu proses yang menghasilkan manusia berbudaya, proses pembelajaran merupakan bentuk operasional penebaran budaya kepada peserta didik di dalam aktivitas sosial yang disebut kelas. Berbagai kemampuan manusia diperoleh melalui proses pendidikan. Dengan demikian, pen­didikan adalah proses kebudayaan.

Konsep pendidikan berwawasan budaya yang disampaikan Djohar sejalan dengan konsep mata pelajaran seni budaya dan keterampilan, menuntut peserta didik yang belajar seni memiliki kinerja seperti seniman, dan peserta didik yang belajar sains memiliki kinerja seperti saintis. Hanya pada orang yang memiliki budaya seni yang mampu menghasilkan seni, dan hanya pada mereka yang memiliki budaya ilmu yang mampu menghasilkan ilmu. Untuk mewujudkan budaya seni dan budaya ilmu pada peserta didik, perlu diasimilasikan dengan proses seni atau proses sains dalam proses belajarnya. Ki Hajar menyebut proses belajar harus diasimilasikan yang artinya menjadi satu. Asimilasi membuat sesuatu menjadi baru bukan meniru belaka tetapi mengolah atau memodifikasi menjadi baru. Sosialisasi nilai budaya melalui kegiatan pembelajaran dengan cara asimilasi lebih memiliki makna dan kekuatan bagi peserta didik. Agar terjadi proses sosialisasi, enkulturasi, dan inter­nalisasi budaya pada peserta didik dengan baik, perlu dilibatkan langsung dengan proses nilai-nilai budaya secara langsung.

Para ahli pendidikan dan antropologi sepakat menyatakan bahwa budaya adalah dasar ter­bentuknya kepribadian manusia. Dari budaya terbentuk identitas seseorang, masya­rakat, dan suatu bangsa. Bagaimana proses pendidikan dapat membentuk insan-insan yang berbudaya yang mampu mengembangkan dan menyambung budaya masyarakat dan bangsanya. Pendidik dan peserta didik sebagai pelaku aktif harus selalu mencari dan mengembangkan budaya melalui proses yang disebut pembelajaran. Kelas sebagai tempat terjadinya proses kebudayaan harus dikondisikan agar tranfer budaya tersebut dapat berjalan dengan baik. Peningkatan motivasi mengajar dan motivasi belajar harus terus dikembangkan dengan berbagai strategi pembelajaran agar proses pembudayaan dapat berjalan dengan baik dan wajar. Tanpa kesadaran, tanggung jawab, dan kerja keras proses pembudayaan melalui pembelajaran tersebut tidak akan berjalan dengan baik.
Dalam pembelajaran seni secara eksplisit dalam program pembelajaran di satuan pendidikan kita memang belum nampak, tetapi bisa kita lihat dalam sejarah budaya yang panjang di Indonesia yang menghasilkan produk budaya seni rupa tradisi yang monumental seperti Borobudur, rumah adat, keris, batik, uikiran, perak dan sebagainya. Hasil budaya itu tidak/bukan dibelajarkan dan tidak dibudayakan di sekolah formal tetapi dibelajarkan dan dibudayakan di pendidikan informal dalam keluarga, nonformal dalam masyarakat yang dibimbing oleh seorang pakar profesional yang disebut “Empu, perajin, tukang”. Proses alih budaya, alih teknologi, alih nilai dan kinerja melalui melakukan langsung pada aktivitas nyata dengan sepenuh hati dan pikirannya. Para cantrik atau siswa yang belajar melakukan aktivitas fisik dan mental berdasarkan dengan kesadaran penuh tidak dengan keterpaksaan seperti layaknya kebanyakan siswa belajar di sekolah formal.

Pola pembelajaran yang dilakukan oleh empu kepada cantrik adalah proses pembelajaran informal yang cukup bagus untuk menanamkan budaya pengetahuan dan keterampilan vokasional kepada generasi penerusnya. Di sini terjadi pembelajaran seni melalui budaya seni dan kinerja seni secara profesional dan dilakukan oleh pakar seni yang aktif dan produktif, sehingga melahirkan budaya seni dan kompetensi seni yang utuh dan menyatu dalam kehidupan empu dan cantriknya. Jika kita melihat dalam tradisi Agama Hindu di Bali antara melaksanakan ibadah agama dengan kegiatan berkesenian sulit dibedakan karena keduanya dilakukan secara totalitas bahwa melakukan segala sesuatu adalah ibadah, berbakti, dan persembahan kepada yang Maha Kuasa. Ketika membelajarkan apresiasi seni mereka diajak ke musium, melihat produk budaya yang dihasilkan generasi pendahulu. Mereka ingin membelajarkan seni diajak ke pameran seni, pertunjukan seni mengamati secara langsung dan pada saatnya nanti mereka akan diajari seni seperti apa yang menjadi minatnya. Bukan seperangkat kemasan seni yang harus diajarkan untuk semua siswa, baik suka maupun tidak suka seperti yang terjadi selama ini di sekolah formal.

Perkembangan Pendidikan Di Indonesia

Pendidikan di Indonesia sekarang telah memasuki era perubahan besar. Era pertama dintadai bahwa pendidikan adalah milik masyarakat yang menyatu dalam lembaga-lembaga keagamaan, surau, masjid, pesantren, sekolah minggu, dan lain-lain, sebagai pengembangan lebih luas fungsi masjid, gereja, pura, dan wihara menjadi lembaga pendidikan. Era kedua pendidikan sebagai program pemerintah dan dikelola secara sentralistik, baik perencanaan, pendanaan, maupun berbagai kebijakan kurikulum, dan pembinaan sumberdaya daya pendidikan lainnya, sehingga lahirlah kurikulum seni rupa menambal pakaian. Selanjutnya lahirlah UUSPN no 2 Tahun 1989 telah memperkuat sentralisasi tersebut, tidak hanya pada standar kualitas, tetapi juga pada standarisasi kurikulum, metode, dan evaluasi belajar. Era ketiga desentralisasi pendidikan sebagai bagian dari bentuk otonomi daerah, sekolah diberikan kewenangan penuh mengembangkan pendidikan sesuai dengan konteks potensi budaya dan lingkungan setempat.  Pada era KTSP ini sekolah diberikan kewenangan penuh untuk mengembangkan pembelajaran seni rupa daerah setempat dalam kerangka untuk mengembangkan apresiasi peserta didik, pelestarian, dan pengembangan seni budaya daerah setempat. Harapan akhir dari semua perubahan pendidikan itu adalah terwujudnya manusia terampil, profesional dibidangnya, manusia yang berbudaya yang mampu mengubah dan menjadi­kan dirinya menjadi lebih baik. Manusia berbudaya menurut Tilaar (1999) adalah seorang yang menguasai dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai budaya, khususnya nilai-nilai etis dan moral yang hidup dalam kebudayaan tersebut. Semua itu harus diupayakan bersama dididik bersama di semua situasi dan kondisi agar semua komponen masyarakat menjadi baik dan terdidik.

Kebudayaan dalam berproses melibatkan semua komponen yang saling terkait satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Antara seniman, penikmat, masyarakat penyangga, pendidikan, dan kebudayaan mempunyai hubungan yang sangat erat. Pendidikan tidak terlepas dari kebudayaan dan hanya dapat terlaksana dalam suatu masyarakat. Dengan demikian, tidak ada proses pen­didikan tanpa kebudayaan dan tanpa masyarakat. Sebaliknya, tidak ada suatu  ke­budayaan dalam pengertian suatu proses tanpa pendidikan. Pendidikan dan kebudayaan hanya dapat terjadi dalam hubungan antar manusia dalam suatu masyarakat tertentu. Dalam pengertian kebudayaan terkandung tiga aspek penting, yaitu 1) ke­budayaan dialihkan dari satu generasi ke generasi lainnya, kebudayaan sebagai wa­ri­san tradisi sosial; 2) kebudayaan dipelajari; dan 3) kebudayaan dihayati dan dimiliki ber­sama oleh masyarakat pendukungnya (Parsons, 1994). Dalam penger­tian itu kebudayaan sebagai model pengetahuan, nilai-nilai, dan kepercayaan yang senantiasa terjadi melalui proses pendidikan. Disadari atau tidak proses pendidikan itu berjalan secara alamiah di masyarakat pendukungnya. Transfer pengetahuan dapat terjadi di dalam keluarga, di masyarakat melalui pembelajaran non formal, maupun di lembaga formal. Seni rupa tradisi kita berkembang subur justru melalui pendidikan informal dan nonformal. Di situ terjadi proses pembelajaran melalui learning by doing, sistem nyantrik, dan belajar sambil bekerja berjalan dengan baik dan menghasilkan berbagai produk keterampilan seni yang luar biasa.

Seniman, guru, pekerja seni yang lain melaksanakan proses pendidikan bukan sekedar tranformasi nilai-nilai kebudayaan saja, tetapi mencipta, mengubah, memperbarui, memeperkaya, bahkan dapat mematikan kebuda­ya­an itu sendiri. Hal ini berarti bahwa pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan. Pendidikan yang tidak berakar dari kebudayaan sendiri akan terlempar oleh derasnya arus globalisasi. Proses pendidikan hendaknya sesuai dengan kebuda­ya­an peserta didik. Pendidikan akan berjalan dengan lebih mudah jika dilaksanakan melalui kerangka budaya peserta didik, yang mampu melibatkan banyak pihak (orang tua, keluarga, dan masyarakat) sebagai pelaku budaya dan mampu menjaga kesinambungan budaya tempat penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan. Pada situasi sekarang keberadaan seni tradisi kita mulai kurang diminati generasi muda, ditinggalkan generasi penerus, mereka lebih menyukai budaya pop baik dari budaya sendiri maupun budaya dari luar. Kondisi semacam ini secara tidak sadar akan kehilangan jati diri bangsa kita sendiri. Oleh sebab itu, perlu mengemas materi seni tradisi menjadi budaya pop sesuai dengan perkembangan anak, tuntutan zaman, dan kebutuhan masyarakat, dengan catatan tetap berakar budaya bangsa kita. Suatu kenyataan yang tidak dapat dielekan justru generasi muda yang belajar seni tradisi kita adalah generasi muda dari mancanegara melalui jalur pendidikan formal dan non formal. Sekarang budaya tradisi kita mulai bertebaran dan tumbuh baik di manca negara. Jika terjadi suatu kasus seperti di Malaysia mengeklem budaya Indonesia (batik, reog, tari pendet) menjadi budaya mereka itu salah satu dampak dari globalisasi budaya. Justru yang ironis adalah pemilik budaya asli kurang peduli untuk mengembangkan dan melestarikan, tetapi kalau digunakan orang lain mereka marah. Siapakah yang bersalah dalam kasus ini.

Mengemas Seni Rupa tradisional dalam kurikulum satuan pendidikan

Usaha pemerintah untuk mengembangkan pendidikan di Indonesia telah diupayakan secara maksimal seperti yang tercantum dalam PP nomor 20 tahun 2003. Sesuai dengan peraturan pemerintah itu pendidikan di Indonesia menerapkan kurikulum berbasis kompetensi, pendidikan berbasis kompetensi, dan pembelajaran berbasis kompetensi. Dalam proses belajar itu peserta didik dikondisikan belajar dengan seperangkat kompetensi bukan segudang hafalan kognitif yang kurang mengubah perilaku kreatif, adapatif, dan produktif peserta didik. Dalam pendidikan seni budaya, muatan seni budaya sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia  Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan tidak hanya terdapat dalam satu mata pelajaran karena budaya itu sendiri meliputi segala aspek kehidupan.  Dalam mata pelajaran Seni Budaya, aspek budaya tidak dibahas secara tersendiri tetapi terintegrasi dengan seni.  Karena itu, mata pelajaran Seni Budaya pada dasarnya merupakan pendidikan seni yang berbasis budaya, atau dengan kata lain pembelajaran seni dengan pendekatan budaya. Diknas telah mengemas pendidikan seni menjadi Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan diberikan  di sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Konsep pendidikan seni budaya diberikan di sekolah karena keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan peserta didik. Pembelajaran seni di sekolah dikemas dalam pembelajaran apresiasi dan kreasi. Pembelajaran seni di sekolah disiapkan untuk pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan belajar berekspresi dan belajar berkreasi melalui penciptaan seni. Pembelajaran seni di sekolah disiapkan untuk pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan belajar berekspresi dan belajar berkreasi melalui penciptaan seni. Rohidi (2000:67) mengatakan bahwa pendidikan estetik adalah pendidikan yang akan membawa kebanggaan dan keagungan jasmaniah dan rohaniah. Oleh karena itu, seharusnya seni menjadi dasar pendidikan. Pendidikan estetis menurut KH dewantoro(2004:323) dimaksudkan untuk menghaluskan perasaan terhadap segala benda lahir yang bersifat indah. Pembelajaran seni memberikan wawasan dasar estetik yang luas agar tamatan mampu beradaptasi dengan pekerjaan atau kegiatan seni yang lebih luas.

Pembelajaran seni budaya bermuara pada pembelajaran apresiasi yang dilakukan dengan proses apresiasi dan kreasi. Pembelajaran seni diberikan kepada peserta didik  melalui pendekatan: “belajar dengan seni,” “belajar melalui seni” dan “belajar tentang seni.” Peran pendidikan seni ini tidak dapat diberikan oleh mata pelajaran lain. Kompetensi seni sebagai subjek, sarana pembelajaran, dan sekaligus sebagai tujuan pendidikan seni. Ideal memang kalau dihayati pernyataan itu, tetapi bagaimana dengan kenyataan yang sebenarnya pelaksanaan pembelajaran seni di sekolah. Pernyataan itu hendaknya jangan hanya sebagai slogan dan belum didukung oleh berbagai faktor yang penting misalnya kompetensi guru masih belum memadahi, sarana pendukung belum sesuai, dan dalam konteks pelaksanaan pembelajaran masih jauh dari yang diharapkan. Sebagai solusi mari semua pendidik seni mulai mereformasi diri dan melepaskan dari belenggu rutinitas ketidakmajuan dan meningkatkan kompetensi untuk mengembangkan pendidikan seni ke masa depan yang lebih baik. Jatidiri bangsa Indonesia terletak pada tradisi seni budaya yang adi luhung harus tetap dilestarikan dan dikembangkan melalui pendidikan, pembelajaran, dan pelatihan, agar seni rupa tradisonal tiap derah di Indonesia tetap unggul dan diunggulkan di percaturan seni budaya di dunia.

Pendidikan Seni Budaya  dan keterampilan dalam standar isi dalam kurikulum satuan pendidikan diberikan di sekolah memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural.  Multilingual yang dimaksud di sini adalah bahwa pendidikan seni bermakna untuk pengembangan kemampuan mengekspresikan diri secara kreatif dengan berbagai cara dan media. Pengekspresian diri itu dapat berupa bahasa rupa yang menghasilkan goresan, ciptaan bentuk karya rupa yang kreatif. Ekspresi dengan bahasa bunyi lahirlah seni musik dan suara yang indah. Dengan bahasa gerak tubuh dapat mengekspresikan diri menjadi tarian yang khas dan indah. Ekspresi dengan peran atau acting menghasilkan seorang aktor yang tangguh. Selanjutnya memilik kreativitas dapat mengekpresikan diri memadukan dari semua bahasa ekspresi menghasilkan seni alternatif yang kreatif, inovatif yang harus terus dikembangkan.

Pendidikan seni bersifat multidimensional  hal ini bermakna bagi pengembangan beragam kompetensi peserta didik yang meliputi membangun konsepsi  seperti (pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi), melalui prinsip ini berarti membangun kecerdasan dan mengembangkan aspek kognitif peserta didik. Pendidikan seni mengembangkan apresiasi, dan  kreasi dengan cara memadukan secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika, sehingga menghasilkan karya cipta yang unggul. Pendidikan seni di sekolah umum bermuara pada aspek apresiasi, baik melalui membaca, mengamati, keterlibatan berkreasi seni, dan kegiatan lain yang membangun sikap siswa untuk memiliki kepekaan, perhargaan, dan pemahaman tentang seni.

Sifat pendidikan seni yang multikultural mengandung makna pendidikan seni harus mampu menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan apresiasi terhadap beragam budaya Nusantara dan mancanegara.  Hal ini merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup berdampingan secara beradab, harmonis, serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk. Prinsip multikultural telah dimiliki dan tumbuh berkembang dengan baik pada  bangsa ini sejak berabad abad lamanya. Kalau kemudian timbul perpecahan karena ditumpangi oleh kepentingan tertentu yang mengakibatkan perpecahan bangsa. Pada konsep pendidikan multikultural hendaknya dapat merajut kembali rasa persatuan, toleransi, dan apresiasi beragam budaya nasional yang diikat oleh Bhineka Tunggal Ika. Pendidikan seni budaya dan keterampilan yang dikemas dalam kurikulum berbasis kompetensi dalam bentuk KTSP berupaya untuk mengangangkat kembali seni rupa tradisi kita dalam pembelajaran seni di pendidikan formal. Beragamnya seni rupa tradisi di setiap daerah perlu dikenalkan kepada peserta didik sebagai upaya pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural dirumuskan sebagai studi tentang keanekaragaman  kultural, hak asasi manusia, dan penghapusan berbagai prasangka demi membangun kehidupan masyarakat yang adil dan tentram. Pendidikan multikultural membangun kesadaran kebanggaan seseorang atas bangsa dan kebudayaanya. Dalam pendidikan multikultural dapat  dapat mengembangkan model menurut Gorski menjadi tiga taransformasi, (1) tranformasi diri, (2) Transformasi sekolah dan proses belajar mengajar, (3) Transformasi masyarakat (Mahfud 2006:15). Pendidikan kultur yaitu pendidikan yang mempertinggi nilai kemanusiaan( KH Dewantoro 2004:324). Pendidikan seni harus memikirkan pelestarian dan pengembangan budaya tradisi nusantara melalui pembelajaran di kelas. Indonesia di mata dunia adalah unggul dalam seni budaya tradisi untuk itu perlu dijaga eksisitensinya melalui kurikulum dan pembelajaran seni di sekolah yang benar.

Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan memiliki peranan dalam pembentukan pribadi peserta didik yang harmonis dengan memperhatikan kebutuhan perkembangan anak dalam mencapai multikecerdasan  yang terdiri atas kecerdasan intrapersonal,  interpersonal, visual spasial, musikal, linguistik, logik matematik, naturalis serta kecerdasan adversitas, kecerdasan kreativitas, kecerdasan spiritual dan moral, dan kecerdasan emosional.  Semua bidang seni, rupa, musik, tari, dan teater memiliki kekhasan tersendiri sesuai dengan kaidah keilmuan masing-masing.  Dalam pendidikan seni budaya, aktivitas berkesenian harus menampung kekhasan tersebut yang diwujudkan dalam pemberian pengalaman mengembangkan konsepsi, apresiasi, dan kreasi.  Semua ini diperoleh melalui upaya eksplorasi elemen, prinsip, proses, dan teknik berkarya dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. Hal itu diperjelas secara operasional dalam Standar Isi sebagai pedoman penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) Salah satu contoh dalam Standar Kompetensi apreasiasi dan kreaasi selanjutnya dijabarkan dalam Kompetensi dasar yang berbunyi sebagai berikut: “Menampilkan sikap apresiatif terhadap  keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni rupa terapan daerah setempat, Nusantara, dan mancanegara”. Dalam kompetensi itu menunjukan bahwa pendidikan kita telah mengenalkan seni daerah setempat, Nusantara dan manca negara. Dari kompetensi dasar tersebut pendidikan kita telah mulai membangun kesadaran para lulusan untuk mengenal multikultural bangsa Indonesia sampai macanegara agar lulusan memiliki rasa dan sikap apresiasi dan penghargaan terhadap keragaman budaya. Kompetensi Dasar yang lain sebagai contoh berbunyi: “Menampilkan sikap apresiatif terhadap  keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni kriya Mancanegara”. Menampilkan sikap apresiatif terhadap  keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni rupa modern/kontemporer”. Secara koseptual materi tersebut dikemas melalui mata pelajaran seni budaya dan keterampilan hendaknya menjadikan perhatian satuan pendidikan dan para guru untuk dapat melaksanakan pembelajaran seni yang sebaik-baiknya untuk mewujudkan konsep kurikulum ideal yang dikembangkan pemerintah tersebut. Yang menjadi pertanyaan apakah guru siap melakukan pembelajaran seni seperti yang diamanatkan dalam standar isi?

Mata pelajaran Seni Budaya dan keteramiplan (dalam Standar Isi) bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: (1) Memahami konsep dan pentingnya seni budaya, (2) Menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya, (3) Menampilkan kreativitas melalui seni budaya, (4) Menampilkan peran serta dalam seni budaya dalam tingkat lokal, regional, maupun global. Guru dapat mengembangkan pembelajaran seni sesuai kemampuan dan kondisi sekolah dan daerah. Guru dapat mengambil prioritas seni yang mana yang dipilih untuk menunjang pembentukan pengalaman estetik peserta didik dan pembangunan budaya daerahnya.

Depdiknas memberikan nama mata pelajaran seni (rupa, musik, tari, dan teater) dengan kemasan nama seni budaya harapanya pembelajaran seni dengan pendekatan budaya. Seni harus dibelajarkan kepada anak didik melalui budaya peserta didik di mana mereka tinggal. Dalam tulisan ini diajukan sebuah pemikiran pembelajaran kontekstual dengan penggunaan metode pembelajaran seni yang relevan dalam pendidikan seni yang multikultural yang diambil dari konsep pembelajaran kontekstual dan lifeskills. Dalam pandangan penulis berbicara tentang multilingual, multidimesi, dan multikultural memang membicarakan dimensi manusia dan budaya yang sangat luas. Dengan pendekatan kontekstual tersebut dapat menyentuh esensi pembelajaran seni yang sebenarnya. Akar budaya atau seni Indonesia adalah seni tradisi. Pembelajaran seni tradisi selain yang dikembangkan para empu dengan sistem nyantrik, dimana peserta didik dikondisikan dan diasimilasikan dalam dalam suasana aktivitas seni yang sebenarnya. Peserta didik harus belajar batik melalui membatik, belajar mengukir melalui kegiatan memngukir, belajar melukis dengan melukis. Demikian juga sistem pembelajaran yang dikembangkan pendidikan nonformal dengan nama kursus, peserta didik diajari keterampilan seni yang praktis dan kontekstual sesuai kebutuhan dan perkembangan seni yang dibutuhkan di masyarakat. Pendidikan seni baik lewat nyantrik, magang, praktik industri, praktik kerja lapangan pada prinsipnya adalah belajar pengetahuan dan keterampilan seni agar menguasai kompetensi yang memadahi sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan seni di masyarakat.

Bagaimana mengemas materi seni rupa tradisional dam pembelajaran di kelas? Sejalan dengan itu, seperti yang dikemukakan Kneller (dalam Pidarta, 1997:160) bahwa dalam pengembangan kebudayaan meliputi tiga unsur, pertama, originasi yaitu suatu penemuan baru yang dapat menggeser suatu penemuan yang lama. Kedua, difusi yaitu pembentukan budaya baru akibat percampuran budaya baru dengan budaya lama. Ketiga, reinterpretasi yaitu perubahan kebudayaan akibat terjadinya modifikasi kebudayaan yang telah ada agar sesuai dengan keadaan zaman. Sesuai pernyataan itu, guru sebagai pendidik seni diberikan kewenangan untuk membelajarakan seni melalui, mengamati, meniru, dan memodifikasi materi seni sesuai dengan kubutuhan anak dan perkembangan kebutuhan masyarakat. Materi pembelajaran yang bersifat teoritik sebaiknya tidak diberikan secara terpisah melainkan diberikan secara terpadu dengan materi kegiatan apresiatif maupun berkarya seni. Materi pelajaran praktik berkarya seni kerajinan menekankan pada aspek proses dan hasil. Sehingga pembelajaran lebih menekankan pada usaha membentuk pemahaman dan mengungkapkan gagasan kreatif. Pada dasarnya jika proses dilakukan dengan prosedur yang benar, baik, logis akan menghasilkan produk karya seni rupa yang baik pula. Pembelajaran seni rupa tardisional (kerajinan) yang lebih profesional penguasaan bidang tertentu misalnya kerajinan ( batik, kayu, bambu), sekolah dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran melalui muatan lokal kerajinan atau pengembangan diri (ektrakurikuler) kerajinan sesuai pilihan peserta didik.

Pembelajaran seni budaya dan keterampilan dengan model apapun hendaknya harus menggunakan strategi tatap muka dan memberikan pengalaman belajar learning by doing. Strategi tatap muka adalah bentuk kegiatan interaksi aktif guru dan siswa dengan bentuk atau cara diskusi, presentasi, tanya jawab, demontrasi, dan lain-lain yang dapat mengaktifkan dan mengefektifkan komunikasi guru dan siswa untuk menanamkan nilai-nilai humanistik kepada peserta didik. Kegiatan interaksi aktif dapat di dalam kelas, di laboratorium, di lapangan dan sebagainya di mana proses transfer pengetahuan dan keterampilan dilakukan. Pembelajaran seni rupa daerah setempat harus dapat memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan pada diri siswa, untuk dapat diterima dan menyenangkan pada peserta didik perlu modifikasi materi ajar yang sesuai perkembangan anak. Pengalaman belajar adalah sebuah kegiatan siswa berinteraksi dengan bahan ajar untuk menguasai kompetensi tertentu baik secara mandiri maupun trstruktur di bawah bimbingan guru. Bagaimana siswa menguasai pengetahuan dan keterampilan seni melalui berinteraksi dengan bahan ajar. Dalam proses tatap muka maupun pengalaman belajar guru berfungsi sebagai fasilitator dan motivator bagi siswanya, bukan pemberi materi pelajaran. Dalam proses itu bagaimana guru membimbing, menanamkan nilai-nilai, disiplin, tanggung jawab agar siswa dapat berkembang dengan baik.

Pembelajaran seni budaya dan keterampilan dalam kurikulum KBK terdiri atas pembelajaran kreasi dan apresiasi. Pembelajaran kreasi atau berkarya seni bertujuan untuk menghasilkan karya. Aktivitas berkarya dilakukan melalui kegiatan belajar keterampilan seni dengan berbagai pendekatan. Belajar seni rupa tradisional yang sering disebut kerajinan sepereti batik, ukir, anyam, gerabah  dapat dilakukan dengan menggunakan metode 3 N ( Niteni, Nirokake, lan Nambahi) yang digunakan dalam pembelajaran di Tamasiswa oleh Ki Hajar Dewantoro. Metode 3 N  dalam bahasa Indonesia 3 M (Mengamati, Meniru, dan Mengembangkan). Demikian juga penggunaan metode yang mirip bahkan secara esensi sama seperti yang disampaikan Mudrajad Kuncoro (2009) untuk memotivasi perajin dalam mengembangkan industri kreatif dengan metode ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi). Belajar apapun dimulai dengan niteni atau mengamati objek apalagi belajar seni rupa tradisi lokal daerah setempat. Peserta didik mengkonstruksi pengetahuan untuk membangun konsepsi. Setelah konsep terbentuk pada pikiran peserta didik selanjutnya dilakukan proses keterampilan dengan cara meniru. Belajar keterampilan apapun pada tingkat yang  paling rendah dan sederhana adalah dimulai dari meniru. Setelah penguasaan keterampilan dasar dikuasai dengan niteni dan meniru, selanjutnya peserta didik masuk pada tahapan mengembangkan atau memodifikasi. Pada tataran mengembangkan atau memodifikasi ini peserta didik harus mengembangkan kreativitas dengan melakukan pencarian secara terus menerus melalui inquairy, questioning, modeling, learning comunity, problem solving, dan individual learning seperti prinsip pembelajaran kontekstual. Belajar memodifikasi atau mengembangkan dapat dilakukan dengan  ekplorasi dan eksperimen dalam mengolah gagasan (konsep), bentuk, dan media, teknik, dengan mengambil unsur dari berbagai bentuk seni (tradisi maupun kreasi baru), baik sebagai kegiatan individual maupun kegiatan kelompok. Pembelajaran berkarya atau produktif perlu diciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan sehingga dapat memotivasi siswa dalam berkarya. Memberikan kebebasan kepada siswa untuk menentukan pilihannya agar anak dapat berkreasi dengan baik.  Peran guru dalam proses berkarya sebagai fasilitator dan mitra belajar siswa. Sebagai fasilitator dan mitra belajar peserta didik harus dapat membimbing dan memotivasi belajar siswa baik belajar berkreasi maupun apresiasi dengan baik.

Untuk dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik perlu mengemas materi ajar seni rupa tradisi daerah setempat dengan cara dikembangkan atau disederhanakan sesuai perkembangan anak pada jenjang pendidikan tertentu. Misalnya untuk anak SMP harus belajar batik tradisional motif kawung jangan disamakan dengan perajin membuat batik motif kawung, mereka tiap kali melihat itu sudah tidak tertarik. Tugas guru mengemas dan memodifikasi materi motif kawung menjadi sederhana dan mudah dikerjakan anak tanpa mengurangi makna dan prinsip-prinsip kerja batik tradisional. Guru mengenalkan perkembangan batik, fungsi batik, alat batik seperti canting, wajan, bahan batik seperti malam, kain, dan warna. Guru juga menjelaskan dan mempraktikan cara pemakaian bahan dan alat batik sama dengan yang dikerjakan oleh perajin batik. Guru mengajarkan cara membuat topeng kepada anak SMP misalnya dijelaskan cara menyederhanakan, mengembangkan, sehingga anak menjadi senang dengan topeng atau budaya tradisi daerah setempat yang lainnya. Demikian seterusnya guru sangat menentukan keberhasilan lulusan dalam mengapresiasi, menghayati dan mencitai seni budayanya sendiri. Pendidik harus kreatif mengemas materi kerajinan daerah setempat ke dalam pembelajaran di kelas sesuai dengan perkembangan anak dan kebutuhan masyarakat. Jika kemasan materi ajar disamakan persis dengan apa yang ada di dunia perajin mungkin anak kurang tertarik, tetapi jika dimodifikasi sesuai dengan konteks perkembangan dan kebutuhan anak akan lebih menarik.

Pembelajaran apresiasi bertujuan untuk mengembangkan kesadaran, pengalaman, dan penghargaan terhadap proses berkarya dan hasil karya seni. Kegiatan apresiasi dapat dilakukan melalui pengamatan, melakukan percobaan, diskusi, dan pembahasan hasil karya seni. Hasil karya kerajinan sebagai objek kegiatan apresiasi tersebut dapat dalam bentuk karya siswa, foto karya seniman, produk perajin, gambar, rekaman, dan pameran hasil karya. Pengamatan karya bertujuan untuk memperoleh pengalaman estetik melalui pencerapan nilai-nilai instrinsik pada bentuk atau komposisi karya seni untuk membangun konsepsi peserta didik. Pembahasan karya seni bertujuan untuk mendapatkan kesadaran dan pemahaman tentang penciptaan karya, berdasarkan telaah tentang perajin, seniman, latar belakang penciptaan, tujuan penciptaannya.

Pembelajaran apresiasi dapat dilakukan dengan penyajian karya meliputi kegiatan penyajian lisan dalam diskusi kelas dan pameran baik dalam lingkup kelas, sekolah, maupun masyarakat. Diskusi kelas bertujuan untuk menampilkan, mempresentasikan, dialog tentang hasil karya dan proses kreatif  yang dilakukan siswa. Kegiatan diskusi ini dapat pula dipadukan dengan kegiatan penyajian lisan. Penyajian tulis dalam bentuk mendiskripsikan hasil karya seni. Penyajian dalam bentuk pameran karya dalam lingkup kelas bertujuan untuk menampilkan hasil karya kreasi siswa dalam rangka apresiasi di lingkungan siswa sekelas, sekolah, atau pada masyarakat umumnya. Pembelajaran apresiasi dapat pula sebagai pembelajaran kritik seni. Peserta didik diajak untuk memahami proses penciptaan seni produk seni dan kerajinan tradisional melalui kegiatan mendeskripsikan karya seni dan kerajinan secara kritis dari apa yang diamati. Peserta didik dapat melakukan analisis terhadap karya seni dengan membedah komposisi, proporsi, tekture, dan keindahan karya dengan cermat. Kegiatan intepretasi dengan cara memberikan keputusan hasil deskripsi dan analisis bahwa karya seni tersebut memiliki bobot  atau kurang berbobot berdasarkan hasil analisis secara objektif. Tingkatan terakhir dari proses kritik adalah memberikan keputusan evaluasi untuk menentukan bahwa karya seni tersebut memang indah, berbobot atau kurang bermutu dan memberikan rekomendasi untuk menindak lanjuti dalam kerangka untuk membangun dan memperbaiki proses dan hasil karya. Pembelajaran seni budaya dan keterampilan dibedakan menjadi pembelajaran apresiatif dan pembelajaran kreasi atau produktif. Pembelajaran apresiatif meliputi  apresiasi proses dan hasil karya. Pembelajaran apresiasi di sekolah dapat dimulai dari apresiasi karya ciptaan siswa, karya ciptaan orang lain baik tradisional maupun modern.

Pelaksanaan pembelajaran seni budaya dan  keterampilan di sekolah alternatif yang dapat dilaksanakan sesuai konteks dan kemampuan sekolah atau daerah sebagai berikut: Sekolah yang memiliki guru seni dan keterampilan yang lengkap dapat melaksanakan pembelajaran seni dan keterampilan secara terpisah sesuai bidangnya. Siswa diberikan kebebesan memilih bidang seni budaya dan keterampilan tertentu sesuai minatnya. Untuk pelaksanaan pembelajaran terpadu (misalnya kerajinan dengan elektronika) dapat dilaksanakan berkerja sama dalam bentuk pembelajaran bertim untuk melaksanakan pembelajaran model tertentu, sehingga menghasilkan karya kerajinan dengan sentuhan teknologi. Karya tersebut dapat berbentuk robot, kendaraan tradisional, boneka tradisional yang dapat digerakan oleh tenaga listrik baik arus lemah maupun kuat. Sekolah yang hanya memiliki satu guru bidang seni/keterampilan tertentu, guru tersebut melaksanakan pembelajaran sesuai dengan bidangnya, tetapi juga diharapkan mengajarkan bidang seni dan keterampilan yang lain menurut kemampuannya untuk memberikan wawasan apreasiasi kepada peserta didik. Sekolah yang belum memiliki guru seni dan keterampilan dapat dipegang oleh guru mata pelajaran lain yang memiliki minat dan kemampuan pada bidang seni dan keterampilan tertentu.

Demikian sumbangan pemikiran penulis, dengan mengemas pembelajaran seni rupa tradisional (kerajinan) dengan menggunakan metode 3 N, 3 M atau ATM untuk pengembangan kompetensi apresiasi dan kreasi peserta didik. semoga dapat ikut memberikan sumbangan pemikiran pendidikan seni budaya dan keterampilan di persekolahan di Indonesia untuk masyarakat yang pluralisme multikultural. Pendidikan seni harus mampu membangung apresiasi, kreasi, dan toleransi terhadap keragaman budaya bangsa. Harapan akhir pendidikan seni budaya di sekolah di seluruh nusantara ini mampu membelajarkan seni tradisi nusantara dengan baik sesuai kemampuan sekolah dan daerah, sehingga konsep ideal yang dikembangkan Diknas melalui kurikulum berbasis kompetensi dapat terwujud dengan baik.

Daftar Pustaka

Depsiknas. (1997). Ketrampilan menjelang 2020 untuk era global. Jakarta

Diknas.(2000). Standar Isi. Jakarta: BSNP

Dimyati. (1999). Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Djelantik A.A.M. (1999). Estetika sebuah pengantar. Bandung: MSPI

Djojonegoro Wardiman.(1998). Pengembangan sumber daya manusia melalui SMK. Jakarta: Depdikbud

Djohar. (1999). Reformasi dan masa depan pendidikan di Indonesia. Yogyakarta: IKIP

Kedaulatan Rakyat. Minggu 18 Oktober 2009 hal. 24. Industri kreatif solusi saat global.

Lansing, M.Kenneth. Art, artists, and art education. New york: Mc Graw-Hill Book Company

Mattil, Edward. (1971). Meaning in craft. New Jersey: Prentice Hall

Mulyasa. 2003. Kurikulum berbasis kompetensi, konsep, karakteristik, dan implementasinya. Bandung: Rosda.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Pidarta Made. (1997). Landasan kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Rohidi Rohendi Tjetjep. (2000). Kesenian dalam pendekatan kebudayaan. Bandung: STISI  Press

____________________.  (1994). Pendekatan sistem sosial budaya dalam pendidikan. Semarang: IKIP Press

Tauchid Muh. 2004. Karya Ki H. Dewantoro, bagian pertama, Pendidikan. Yogyakarta: Majelis luhur Tamansiswa

Tilaar HAR. (1999). Pendidikan, kebudayaan, dan masyarakat madani Indonesia. Bandung: Remaja Rosda Karya

____________ (1999). Beberapa agenda reformasi pendidikan nasional dalam perspektif abad 21. Magelang : Tera Indonesia

UU Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Winkel WS. (1987). Psikologi pengajaran. Jakarta: Gramedia

Biodata

Nama: Drs Martono, M.Pd lahir di Jepara 18 April 1959, Pendidikan S1 Pendidikan Seni Rupa IKIP Yogyakarta, S2 Pendidikan Teknologi Kejuruan PPs UNY, S3 Pengkajian Seni Rupa PPs ISI Yogyakarta (belum lulus). Bidang keahlian mengajar pendidikan seni rupa dan kriya. Pengalaman mengajar di Jurdik seni rupa FBS UNY, PGTK, PGSD, dan Program Akta 4. Karya ilmiah dan penelitian yang pernah dilakukan, topeng dalam perkembangan budaya, estetika kerajinan, kerajinan antara terdisi versus modern, pembelajaran dasar kekriyaan, pembelajaran berbasis kompetensi, strategi pembelajaran seni lukis anak usia dini, pewarnaan serat alami dengan warna alami, penelitian hibah bersaing, dosen muda. Bidang pengabdian masyarakat Tim pengembang kurikulum SMP Dir. P.SMP Jakarta, Asesor BAN-PT, Tim pengembang instrumen penilaian buku SMK oleh BSNP Jakarta, Asesor sertifikasi guru, dan pengabdian insidental di bidang pendidikan dan kerajinan.
Kembali ke atas

Topics: Uncategorized | 2 Comments »

2 Responses to “PEMBELAJARAN SENI RUPA TRADISIONAL DALAM KTSP”

  1. suyono Says:
    January 13th, 2010 at 9:51 pm

    Assalammualaikum Wr. Wb.
    Pak Martono apa kabar… saya alumni Jurusan Seni Rupa UNY Pak… angkatan 94.
    Sekarang ngajar di SMPN 5 Sekayu kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan.
    Tulisan yang sarat manfaat Pak, terima kasih…
    Salam buat dosen-dosen Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan UNY Pak…
    Sukses untuk Anda…
    Wassalammualaikum Wr. Wb.

  2. herlin farida Says:
    July 23rd, 2010 at 9:34 pm

    terima kasih pembahasannya, artikel ini akan sangat membantu dalam penulisan skripsi saya.

Comments


+ six = 14

Layouts by BestWpThemeZ..