Media Pembelajaran Huruf Braille
Didalam http://pustaka.ut.ac.id/learning.php? tentang Pengantar Pendidikan Luar Biasa disebutkan bahwa Tunanetra sebagaimana orang awas lainnya, membutuhkan pendidikan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Oleh karena adanya gangguan penglihatan, Tunanetra membutuhkan layanan khusus untuk merehabilitasi kelainannya, yang meliputi: latihan membaca dan menulis huruf Braille, penggunaan tongkat, orientasi dan mobilitas, serta latihan visual/fungsional penglihatan. Sedangkan strategi pembelajaran bagi tunanetra; pada dasarnya sama dengan strategi pembelajaran bagi orang awas, hanya dalam pelaksanaannya memerlukan modifikasi sehingga pesan atau materi pelajaran yang disampaikan dapat diterima/ditangkap oleh tunanetra melalui indera-indera yang masih berfungsi.
Media Pembelajaran yang diterapkan pada anak-anak tunanetra di beberapa Sekolah Luar Biasa (SLB) meliputi: alat bantu menulis huruf Braille (reglet, pen dan mesin ketik Braille); alat bantu membaca huruf Braille (papan huruf dan optacon); alat bantu berhitung (cubaritma, abacus/sempoa, speech calculator), serta alat bantu yang bersifat audio seperti tape-recorder.
Khusus Alat bantu membaca huruf Braille adalah alat bantu pembelajaran untuk mengenal huruf Braille alat ini biasa disebut pantule singkatan dari Papan Tulis Braille. Alat ini terdiri dari paku-paku yang dapat ditempel pada papan sehingga membentuk kombinasi huruf Braille, seperti laci atau kotak peti, terbuat dari papan dengan lubang-lubang tempat memasukkan pin-pin logam. Salah satu kelemahan Pantule ada pada pinnya yang terlepas dari papannya, sehingga kerap hilang. Selain itu, ukurannya yang relatif besar dan terbuat dari papan membuatnya berat untuk dibawa-bawa.
Posted in Uncategorized
October 14th, 2008 at 1:00 pm
ya kalo dengan alat pantule emang sulit untuk dibawa bawa. tapi skarang kan dah ada papan kecil,… hmmm bunda lupa namanya apa. tapi fungsinya sama. dan itu yang bunda pakai buat proses pembelajaran balqiz, putri bunda yang penyandang tunanetra. salam hangat dari kami
October 24th, 2008 at 11:07 am
Assalamualikum,
terimakasih bunda tentang responnya, rencana media pembelajaran yang saya buat adalah di kemas seperti mainan, nanti anak akan dapat belajr sendiri dengan media ini, ia mengatur sendiri bentuk tonjolan huruf braille kemudian menekan tombol aktivasi (enter) dan keluar suara sesuai dengan tonjolan hurf braille yang diatur oleh sianak. doain lancar ya bu, sekarang baru menggunakan komputer, tahun besok insya Allah saya kemas dalam bentuk yang lebih kecil.
Salam
March 22nd, 2009 at 7:43 pm
Nama sy mira, berusia 28th & ibu dr 2 org anak. Anak pertama sy berumur 5th & dr lahir dia sdh tdk dpt melihat. Di usianya skr dia msh blm mampu berjalan, berkomunikasi pun tdk selancar anak normal seusianya. Smp dg skr dia blm bersekolah di SLB manapun. Sbg seorg ibu sy mempy. Impian kelak anak sy menjadi “helen keller” dr indonesia. Sy ingin mendapat informasi bgm sy hrs memulai mengajari putri sy ini. Sy tinggal di surabaya. Sy ucpkan terima kasih u bantuan yg sy dptkan.
March 23rd, 2009 at 9:44 am
Ibu mira, saya ikut prihatin, namun jangan bersedih dan putus asa, ibu bisa sharing di blog roll saya dengan klik Alibata atau Klik alamat berikut http://www.allaboutbalqiz.blogspot.com/ .
November 5th, 2009 at 7:16 am
ibu mira,siapa pun orangtua tentu berharap demikian, mumpung ananda masih 5 tahun sesegera diberikan stimulasi awal, misal : konsep2 diri tentang struktur tubuh, posisi, arah dsbnya. Jika anak sejak lahir mengalami gangg penglihatan tentu konsep2 anak msh nol (orientasi), sehingga memudahkan anak dalam mobilitas (bergerak). Setiap hr atau saat berikan konsep sederhana. Misal : konsep kanan kiri, benda-benda sekitar. jadi kita harus greteh….selamat mencoba ibu…tentu iringan do’a ananda selalu berkembang…yakinlah banyak anak yg gangg penglihatan jadi orang sukses. amin