Waktu ke waktu

- Perjalanan 18-22th (tahun 1998-2002).

- Perjalanan Tahun Pertama Kuliah di Yogya (1998-1999).

- Periode kedua kuliah hingga lulus (1999-2002).

- Aktifitas Mahasiswa di Kampus (1999-2002).

- Perjalanan 15-18th (tahun 1995-1998).

- Perjalanan usia 0-15th (sekitar tahun 1979-1995).

Semoga ada ibrahnya

- Perjalanan 18-22th (tahun 1998-2002).

Yogyakarta berhati nyaman. Hijrah (boyongan, red) ke Yogya. Ya inilah peristiwa yang mengguncangkan hati penulis, seorang ustad muda sebut saja Bapak Ali Hamidi walo sejatinya berbekal ilmu peternakan universitas jendral sudirman (unsoed,r ed) tetapi pemahaman beliau tentang ke-islaman layak dipertimbangkan bagi para lulus IAIN sekaligus. Ya pemahaman islam yang menyeluruh dan totalitas dari pribadi beliau yang sangat mengguncangkan dada penulis. Saat itu beliau sudah berkeluarga dengan sumber penghasilan sebagai wira swasta membuka rental komputer di daerah sruweng, purwokerto yang tentunya bisa dibayangkan hasilnya. Tetapi karena kefahamannya yang luar biasa terhadap makna islam, beliau kemudian mendukung penulis untuk berangkat ke Yogya untuk atas nama “kuliah”.

Pak Ali Hamidi mo mengantarkan ke Yogya sembari beliau kulakan komputer ke Yogya dan ternyata beliau punya adik yang sedang kuliah di Teknik Elektro UGM. Sebab lain beliau mo mengantar adalah karena penulis telah bercurhat ke beliau bahwa kondisi ekonomi orangtua penulis tidak memungkinkan untuk penulis kuliah. Bahkan kejadian komentar-komentar pesimistis dari para tetangga di desa penulis terulang sebagaimana saat penulis akan sekolah di STM Telkom. Komentar ketidak mampuan ekonomi hingga menyarankan harus menjual sawah terulang lagi oleh para tetangga penulis di kampung halaman.

Akhirnya dengan langkah yang ikhlas Pak Ali Hamidi mengantarkan penulis sampai ke kampus IKIP negeri Yogyakarta saat itu (UNY, red).  Perjalanan dari purwokerto ke Yogya saat itu pertamakalinya dilakukan oleh penulis menggunakan kereta api ekonomi jurusan Purwokerto-Solo, tepatnya sekitar bulan pertengahan bulan Juli 1998. Di kereta api Pak Ali dengan sabar membimbing dan menyemangati penulis untuk tetap menatap masa depan.  Hingga tak terasa perjalana menggunakan kereta api sekitar 4 jam purowkerto-yogya, turun di stasiun lempuyangan. Oh rupanya Pak Ali dah punya teman lama di UNY, sehingga beliau dengan entengnya menuju UNY. Di UNY pertama kali datang, bertepatan dengan waktu solat duhur, sehingga kamipun menuju ke masjid kampus, masjid Al Mujahidin yang kelak menjadi kawah candra dimuka penulis.

Selepas solat duhur, penulis ditemukan oleh Pak Ali dengan teman lamanya, teman kecilnya di daerah pantura yaitu Pak Sutriyono (mas tri, red) yang saat itu juga masih menjadi mahasiswa UNY. Di situlah Pak Ali memasrahkan penulis ke mas Tri. Penulis melihat bagaimana Pak Ali memasrahakan penulis seperti seoran Bapak memasrahkan anaknya ke seorang kyai untuk mondok pesantren di pensantren kyai tersebut, luar biasa…Singkat cerita prosesi pasrah dan serah terima selese. Pak Ali adalah diantara pahlawan hidup yang pernah penulis jumpai, ketika beliau berpamit ke penulis, beliau tidak sekedar titip agar penulis menjaga semangat dah ruhiyah saja, tetapi beliau juga menitipkan sejumalh rupiah ke penulis untuk bekal awal kuliah…luar biasa…

Ya, modal dengkul melangkah ke Jogya. Mas Tri, sebagai orang yg dititipi Pak Ali, ternyata berfikir keras agar penulis bisa hidup dan tentunya bisa kuliah di Jogja. Beliau melihat, saat itu di awal-awal kuliah tampaknya base campe para aktivis kampus di belakang masjid Al Mujahidin nampaknya kurang cocok bagi penulis, ini menurut pendangan mas Tri. Ya singkat cerita kemudian penulis dicarikan tempat yang sangat representative dan kondusif yang memenuhi syarat dengan segala kondisi yang penulis hadapi saat itu. Itulah pahlawan hidup yang lagi-lagi penulis jumpai saat awal-awal menginjakkan kakinya di bumi jogja.

Perjalanan Tahun Pertama Kuliah di Yogya (1998-1999).
Mas Tri, kemudian menempatkan penulis untuk sementara waktu di masjid kampus, masjid Al Mujahidin bersama dengan para aktifis kampus yang lain. Selama kurang lebih 50 hari berada di masjid kampus yang dibelakangnya ada beberapa kamar untuk cukup merebahkan badan, penulis di awal-awal menghirup udara jogja mencoba melihat kondisi Jogja. Penulis pernah jumpa selepas solat isa, ternyata ada mahasiswa baru juga yang hampir sama kondisinya tetapi dia bernasib baik dapat menyewa kamar kos. Dia bernama Hafidz, yang kemudian hari Hafidz menjadi temen seperjuangan penulis hingga lulus. Hafidz ternyata seirama dengan penulis, di awal kuliah dia ingin sekali meringankan beban orang tuanya, dengan cara berdikari.
Akhirnya penulis dengan hafidz mencoba untuk melangkahkan kakinya bersama, hafidz rupanya telah datang ke Jogja terlebih dulu dan menguasai medan lebih awal beberapa hari daripada penulis. Hafidz mengajak penulis untuk berjualan koran. Caranya adalah mengambil koran bersumber dari agen di kompleks bundera UGM saat itu, kemudian penulis menjajakan korannya tepat di pertigaan jalan kolombo dan gejayan, tepat di depan kampus IKIP Negeri Yogya saat itu. Bakda subuh penulis berangkat dengan hafidz ke bunderan UGM hingga waktu kuliah berlangsung kira-kira pukul 7.
Perjalanan sebagai penjaja koran tidak berlangsung lama, karena kemudian Mas Tri, sebagai pegangan hidup pertama dari penulis ternyata telah mendesain dengan desain kehidupan yang luar biasa bagi penulis. Bagaimana desain Mas Tri untuk penulis.
Ya Mas Tri mengatakan, bahwa saya sebagai mahasiswa baru harus menggenjot IPK setinggi-tinggi mungkin sebelum nanti dipersiapkan sebagai seorang aktifis kampus tentunya Mas Tri tidak lupa kalo kehidupan saya perlu sampingan bekerja selain kuliah. Karenanya kemudian Mas Tri memutuskan bahwa penulis kurang cocok tinggal di masjid Kampus yang suhunya adalah suhu aktifis yang sudah siap berlaga di medan juang. Akhirnya penulis sama Mas Tri diboyong ke tempat yang sangat representative dan kondusif untuk memupuk tujuan hidupnya di awal kuliah. Ya tempat itu adalah mihrab kedua bagi penulis selama hidup di Jogja setelah masjid kampus UNY. Hingga hari ini, tempat itu adalah mihrab penulis bila penulis berada di Yogya.
Tepatnya tanggal 21 September 1998, penulis diboyong oleh Mas Tri ke Masjid Al Amien…ya masjid kampung di utara ringroad utara yang cukup tenang untuk belajar tentang kehidupan bagi penulis. Tepatnya masjid ini berlokasi di dusun Sambisari Joho RT 08 RW 60 Condongcatur Depok Sleman. Di masjid ini penulis dititipkan sama Mas Tri ke pahlawan kehidupan berikutnya bagi penulis yaitu seorang ustad muda saat itu, dialah Mas Darul…bernama lengkap Mas Darul Falah. Yah saat itu Mas Darul falah adalah pengantin baru yang baru dikarunia seorang anak Yusuf namanya. Di Masjid Al Amin, penulis bertemu shahabat sejati, dialah Murjono yang ternyata juga mahasiswa IKIP Negeri Yogya juga saat itu. Murjono saat itu angkatan 1996 tahun masuk ke IKIPnya lebih senior 2 tahun daripada penulis. Rupanya Murjono ini adalah seorang aktifis dakwah kampus juga yang nasib secara ekonomi tidak terlalu jauh dengan penulis…Ya memang konon Al Amin adalah tempat para mahasiswa yang kelas bawah yang tidak mampu menyewa kamar kos. Konon sebelum penulis dan Murjono, sudah ada beberapa generasi khadimat (pembantu, red) masjid yang menempati kamar kecil bercampur dapur dan gudang masjid saat itu. Termasuk diantaranya adalah Mas Darul juga pernah menduduki posisi khadimat Al Amin, kemudian ada Mas Ansori (dari brebes, mahasiswa IAIN Yogya), kemudian ada mas Adi (mahasiswa IKIP Yogya). Ya,itu sekilas orang-orang yang pernah mengabdi sebagai khadimat (pembantu, red) rumah Allah Al Amin.
Bersama Murjono (Pak Murjono, red) saat itu penulis panggil beliau sebagai penghormatan seniornya, atau biasa Bu Adi lebih senang memanggil beliau dengan sebutan mas Murjono. Bu Adi adalah Ibu pertama bagi penulis di Jogja. Murjono orangnya tinggi dan menawan sehingga hampir beberapa pemudi sambisari terkesima melihat beliau. Murjono, santun dan lemah lembut orangnya, memang selaras dengan daerah asalnya yang asli Jogja tepatnya di daerah samigaluh kulonprogo.
Di Al Amin, penulis mulai mengembangkan bakatnya sebagai guru dengan mangajar taman pendidikan al quran Al Amin.
Bersama dengan Murjono, penulis banyak belajar dari beliau bagaimana berinteraksi dengan orang Jogja. Wajar, penulis berasal dari daerah yang logat berbicaranya ngapak-ngapak. Bagaimana menyajikan makanan dan minuman di majelis pengajian Bapak-bapak dan Ibu-ibu dan masih banyak lagi ilmu yang penulis dapatkan dari Murjono ini. Termasuk diantaranya adalah belajar mengendarai motor. Dulu saat di purwokerto penulis pernah belajar mengendarai motor, tapi karena belum ada paksaan sehingga motivasi belajar rendah.

Periode kedua kuliah hingga lulus (1999-2002).
Berbeda saat hidup di Al Amin, penulis mau tidak mau dipaksa untuk menjemput pembicara menggunakan motor, sehingga extra keras belajar motor. Walo pernah kejadian menarik, saat itu penulis belum pandai mengendarai vespa milik Haji Mochlar (Pak Mochlar, red) orang terkaya di kampung Joho ini. Saat menjemput pembicara menggunakan vespa tersebut, tepat berada di depan rumah Pak Mochlar, ada jembatan dan jalan naik dari luar sambisari masuk kampung sambisari. Tiba-tiba vespa agak mlorot (meluncur sedikit ke belakang, red), kemudian ustad yang dijemput saat itu adalah Bapak H. Matori, mengatakan hei mas sampeyan baru pake vespa ya, akhirnya dengan sangat malu mengatakan dengan sebenarnya dan H. Matori akhirnya meminta agar beliau saja yang di depan (mengendarai) vespa…ya anak kampung yang baru pegang vespa…harus belajar dan belajar terus…
Murjono orangnya ulet, selain kuliah, ternyata beliau juga mencari sambilan kerja dengan privat mengajar anak-anak di kampung sambisari tersebut. Yang pada akhirnya nanti pekerjaan ini digantikan oleh penulis.
Berbeda dengan penulis, tampaknya berinteraksi dengan dunia kursus perlu kesabaran. Penulis mencoba berkonsultasi dengan Mas Darul dan Bapak H Mochlar yang saat menjabat sebagai Ketua Takmir (pengurus, red) Masjid Al Amin. Akhirnya penulis mendapat masukan untuk bisa bekerja di pabrik tempe-nya H.Mochlar tersebut. Ya di pabrik tempe inilah penulis mulai belajar tentang bisnis yang menjanjikan dengan menjalani sebagai agent dan pengecer tempe ke warung-warung makan di sekitar jogja.
Memang menjanjikan, penulis dijanjikan oleh Ibu H. MOchlar selaku manajer marketing di perusahaan tempe tersebut dan juga selaku istri dari H. Mochlar, bahwa dari hasil penjualan tempe, penulis akan mendapat keuntungan 10 % (sepuluh persen). Ya coba bayangkan kalo sehari bisa menjual tempe hingga enampuluh ribu rupiah makan penulis mendapat upah enam ribu rupiah. Dan perlu diingat, konsumsi tempe ini tidak ada liburnya sehingga hampir setiap hari penulis mendapat masukan dari sini.
Murjono, tampaknya Allah lebih mencintai beliau, tampaknya beliau rajin berpuasa dan kadang terlambat makan sehingga mendapat cobaan sakit tifus yang akut dan pada akhirnya beliau lebih dulu dipanggil oleh yang Kuasa, tepatnya pada saat itu hari Sabtu malam ahad di rumah sakit Bethesda Yogya pukul 10 malam. Saat itu penulis baru menginjak semester tiga, sehingga praktis penulis pernah selama satu tahun menjalani kehidupan bersama sang syahid Murjono insyAllah di Al Amin.

Ya perjalanan dengan Murjono yang menyenangkan, tiap pagi sering pergantian tugas, kadang penulis yang menyapu dalaman masjid, Murjono yang menyapu halaman luar masjid dan atau sebaliknya. Selepas membersihkan masjid, biasanya Bu Adi memanggil makan pagi bersama keluarganya. Atau kadang Bu Adi memberikan sepiring sayur dan lauknya untuk penulis dan Murjono di dapur masjid. Tetapi perjalanan dengan sang syahid insyAllah, cuma berlangsung kuranglebih satu tahun.
Ya di Al Amin, penulis berjumpa dengan orang-orang berjiwa pahlawan. Selain Murjono, penulis juga berjumpa dengan Bu Adi dan keluarga. Ya Bu Adi dan keluarga inilah yang banyak menopang dan membantu penulis baik secara immaterial maupun material, kadang keluarga ini sering mengundang makan penulis dan teman-teman khadimat Al Amin. Keluarga Bu Adi nampak elegan dan bersahaja. Rumah Bu Adi berada tepat di sebelah selatan masjid Al Amin, dapur rumah beliau kadang juga berfungsi sebagai dapur masjid saat pengajian rabu malam di masjid Al Amin. Penulis juga bertemu dengan keluarga Mas Darul Falah dengan istrinya yaitu Mba Umi Munawaroh. Keluarga mas Darul Falah adalah keluarga mudah yang penuh energik dan daiah. Penulis banyak belajar tentang apa itu keluarga dari mas Darul ini. Mas darul juga tidak jarang mengundang penulis dan temen-temen khadimat masjid untk makan di rumahnya, biasanya mas darul mengundang setelah selesai sholat jumat. Bahkan penulis sudah menganggap mas darul ini sebagai kakak sendiri, rumah beliau tepat berada di sebalah utara masjid Al Amin.
Di Al Amin, inipulah penulis belajar menjadi kepala sekolah untuk taman pendidikan alquran (TPA) pada kurun waktu 2000-2003. Ya mengelola TPA bak mengelola sebuah sekolah betulan. Di tahun 2000 inilah TPA Al Amin membentuk kepengurusan TPA yang pada waktu itu dipilihlah Ibu Purwanti Marjoko sebagai Direktur TPA dan Ibu Jamilah Rubimin sebagai bendahara. Ibu Purwanti adalah tokoh masyarakat di sambisari yang juga Ketua darmawanita PKK di sambisari saat itu. Pilihan yang tepat rasanya menjadikan beliau sebagai pimpinan TPA, walau sejatinya beliau tanpa background pendidikan pengajaran. Ya tapi pelindungan dan aktivasi masyarakat terhadap TPA itu yang diharapkan dari beliau. Walhasil, saat itu TPA Al Amin hingga dapat membuka tiga kelas bahkan sampai kelas besar bakda maghrib. TPA Al Amin juga saat itu mampu mendatangkan ustad dari luar (Silaruhim Pecinta Anak, SPA dan semisalnya) dengan memberikan honor kepada ustad yang dari luar tersebut.
Orang besar selanjutnya yang pernah penulis jumpai adalah H. Mochlar, ya beliau adalah tipology bisnisman sukses yang pernah penulis jumpai dan berinteraksi secara langsung. Bisnisnya adalah pabrik tempe, tetapi tempa Pak Mochlar sudah mendapat jaminan mutu dan kesehatan dari dokter-dokter di Jogja sehingga hampir sebagian rumah sakit di jogja mengkonsumsi tempe H.Mochlar.
Ya, saat itu tahun 1998-2001 H. Mochlar menjabat sebagai ketua takmir (pengurus, red) masjid Al Amin. Tentunya sudah bisa dibayangkan kalo orang-orang yang berada di sekitar H.Mochlar akan sering merasakan sebagian hasil bisnis tempenya, termasuk penulis. Selain penulis bekerja sebagai pengecer tempe ke warung-warung makan di wilayah jogja yang tentunya bersaing dengan pengecer lainnya. Penulis juga sering mendapat bantuan material dari keluarga H.Mochlar. Ya,keluarga ini bergelimang dengan harta. Mobil saja ada mobil untuk pabrik, mobil untuk keluarga, mobil untuk jagong penganten. Penulis dapat mengatakan keluarga berlimpah harta, karena hampir setiap hari saat itu kalo Bapak H.Mochlar ke mesjid untuk solat maghrib kemudian beliau selalu menanyakan kepada penulis dan temen-temen khadimat, pertanyaan yang selalu ditunggu-tunggu adalah sudah makan apa belum?Kalau kami tidak merasa malu makan kami akan jawab belum. Saat itu yang sering menjawab malu adalah Murjono, wajar beliau orang jogja. Menu makan di rumah H.Mochlar saat itu cuma dua pilihan, kalo tidak telur ya daging baik ayam maupun kambing dan sapi atau ikan. Ya rizki yang tidak diduga-duga dan jarang didapatkan oleh mahasiswa saat itu, hampir setiap malam dapat menikmati menu ala orang mewah. Sekali lagi, penulis bersukur ini semata karena pengabidan kepada rumah Allah Al Amin.
Dengan kemurahan hatinya, Ibu H.Mochlar sering menjatah penulis dan temen-temen khadimat masjid dengan jatah mie instan satu kerdus dan beras 25kg setiap bulannya. Atau bahkan saat itu Ibu H.Mochlar menjamin, tidak harus menunggu satu bulan, yang penting kalau stock mie instan dan beras habis dipersilakan mengambil lagi di rumah H.Mochlar. Ya itulah beberapa jasa keluarga H.Mochlar kepada penulis dan tentunya temen-temen khadimat lain saat itu.
Perjalanan sebagai pengecer tempe, biasanya penulis lakukan disesuaikan dengan jam kuliah, tanpa menghiraukan request dari pelanggan. Oh ya, sebagai modal untuk mengantarkan tempe, H.Mochlar memberikan modal sepedal ontel yang antik dan unik. Sepeda ini penulis pake hingga kuliah bahkan hingga menjadi dosen di almamaternya, dan kemudian sepeda ini habis dimakan truk di ring road utara yang saat itu di bawa oleh keponakan Pak Adi yang kemudian di tinggal begitu saja di ringroad utara, ya sekali lagi alhamdulillah dan jazakumullah kepada H.Mochlar yang telah memberikan modal bagi penulis.
Sebelum adzan subuh biasanya penulis sudah mengambil tempe di rumah H.Mochlar dah di bawa ke depan masjid. Setelah solat subuh, penulis bergegas mengantarkan tempe ini ke tempat yang merequest tempe pagi hari. Selese mengantar tempe di pagi hari, penulis biasanya melakukan bersih-bersih masjid. Beruntung saat Murjono masih sehat, tugas kebersihan masjid bisa share, tetapi sepeninggal Murjono tugas ini kemudian penulis lakukan single man one show. Hampir satu semester lebih penulis mencari pengganti sebagai temen khadimat.
Bagi pelanggan tempe yang merequest tempe di sore hari, biasanya penulis mengantarkan sebelum solat asar, karene selepas solat asar biasanya untuk mengajar taman pendidikan alquran Al Amin. Dan bagi pelanggan yang request tempe malam hari, biasanya penulis mengantarnya selepas solat isa. Ya tentunya waktu untuk mencari sedikit uang ini tidak boleh mengorban waktu untuk menimba ilmu yang lain.
Alhamdulillah satu semester berjalan lancar, penulis punya budaya, bila ujian semester datang maka penulis memohon libur kepada Ibu H.Mochlar untuk tidak bekerja sehingga minta digantikan oleh karyawan yang lain. Dan penulis fokus untuk ujian semesteran. Hal ini penulis lakukan dengan sadar bahwa tujuan ke Jogja adalah kuliah, sementara bekerja hanyalah batu loncatan. Wal hasil, alhamdulillah pada semester pertama index prestasi (IP, red) penulis mencapai 3.70/4.0. Ya saat itu penulis hanya menduduki posisi kedua tertinggi karena temen penulis yaitu saudara Izzudin mencapai IP:4.0/4.0. Dalam hati penulis, ya wajar teman-teman lain fokus kuliah sementara penulis fokus kuliah hanya saat ujian semesteran saja.
Tidak jarang penulis terlambat mendatangi perkuliahan di kampus karena harus membereskan dulu tugas kebersihan masjid setelah selesai mengantar tempe ke pelanggan. Tetapi penulis punya prinsip, terlambat masih lebih baik daripada tidak datang kuliah. Dari kebiasaan terlambat ini penulis sadar betul ketika sudah menjadi dosen kemudian selalu menanyakan kalo ada mahasiswanya terlambat datang kuliah apa sebab yang membuat keterlambatannya.

Aktifitas Mahasiswa di Kampus (1999-2002)

Selain aktifitas mencari tambahan biaya kuliah dan kuliah itu sendiri, penulis juga tidak mau ketinggalan dengan aktifitas mahasiswa di kampus. Semenjak awal penulis menyadari betul, aktifitas mana yang sesuai dengan kondisi waktu penulis. Akhirnya penulis memutuskan aktif di kerohanian Islam, yang tentunya di dalamnya banyak orang-orang yang akan lebih toleran dengan waktu penulis. Ya penulis pernah menjadi kepla bidang kaderisasi di kerohanian fakultas teknik saat itu bernama Jama’ah Muslim Al Mustofa (JMM,red) pada tahun 1999-2000. Pada tahun berikutnya 2000-2001 penulis dinobatkan sebagai ketua JMM yang kemudian pada masa kepengurusan penulis, JMM bermetamorfose menjadi Keluarga Muslim Al Mustoda (KMM, red). Pada tahun 2000 ini penulis pernah mencoba aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa yaitu bidang kesejahteraan mahasiswa, tetapi nampaknya pola dan kerja penulis kurang sesuai dengan kondisi dan suhu di BEM. Wajar dengan kepadatan ekstra waktu penulis menjadikan penulis harus memilih. Di tahun 2001 penulis juga pernah menjadi juara 1 lomba karya tulis ilmiah tingkat fakultas teknik saat itu timnya adalah saudara supriyadi dan budirahmani, tetapi kemudian saat maju ke tingkat universitas harus puas dengan hanya menjadi juara 2 untuk bidang IPA, yang saat itu juara 1-nya dari Fakultas MIPA. Ya paling tidak pernah ikut lomba karya ilmiah.
Setelah lulus sebagai ketua KMM, penulis dikukuhkan sebagai ketua tim tutorial pendidikan agama Islam tingkat universitas (2001-2002), yang sebelumnya penulis menjadi koordinator tingkat fakultas. Ya sekali lagi harus mamanage waktu dengan arif dan bijak.
Di akhir tahun 2001 penulis pernah mencoba untuk mendaftar sebagai mahasiswa (santri,red) di Lembaga dakwah dan lughatul arabiyah (Ldata, red) tepatnya berkampus di pesantren Darul Qur’an, Lempongan Yogyakarta. Yah, LData adalah lembaga yang menyelenggarakan kursus setingkat Diploma tingkat satu untuk bahasa arab. Di LData penulis masuk kelas advance, tetapi sayangnya dengan kesibukan di Al Amin, di Kampus dan mencari biaya tambahan kuliah, penulis dengan terpaksa di-drop out oleh mundir LData saat itu adalah Ust Ahmad Khudori, Lc yang dikemudian hari penulis sering rapat bareng dalam forum-forum dakwah Jogja. Mohon maaf Ust Khudori, penulis telah membuat dan mencoreng ma’had LData dengan prestasi santri yang sering absen dan bolos…
Fokus…ya itulah kata yang selalu ada dalam benak penulis, di tengah-tengah kesibukan menjadi santri LData, menjadi ketua tim tutorial PAI tingkat unversitas, dan segudang aktifitas lain, pada tanggal 21 Mei 2002 tepatnya hari selasa penulis dapat menyelesaikan skripsi S1-nya dan dinyatakan lulus pada hari itu dengan pendadaran di depan penguji. Ya hari itu penulis adalah lulusan pertama di antara teman-teman angkatan 1998 di jurusan teknik elektro UNY saat itu, dua hari berikutnya ada seorang kawan jurusan elektro yaitu Elok Faikoh mengikuti sidang pendadaran S1-nya.
Alhamdulillah walau dengan segudang aktifitas yang cukup menguras konsentrasi, penulis dapat lulus pertama diantara teman-teman satu angkatannya. Dan saat itu penulis sebagai pemegang rekor tercepat lulus 3 tahun 9 bulan bagi jurusan teknik elektro UNY karena sebelumnya belum pernah ada alumni elektro UNY yang dapat lulus di bawah empat tahun masa kuliah. Ya sekali lagi maha besar Allah yang mengatur segala aktifitas hamba-Nya.
Tapi tampaknya Allah berkehendak ingin mengistirahatkan penulis sejenak. Setelah ujian skripsi, penulis mendapat cobaan sakit tifus cukup lama hingga sampai kurus sekali, bahkan ketika orang-orang hebat al Amin menengok ke kampung Balapulang, ada yang nyeletuk berkata, jangan sampai penulis mengikuti jejak pendahulu khadimat al amin (Murjono, red) yang meninggal gara-gara tifus. Ya penyakit terkenal bagi mahasiswa yang telat makan atau bahkan gak ada yg dimakan. Sakit tifus ini hingga sampai tiga bulan, penulis terkapar di atas ranjang. Yang membuat penulis semangat untuk sembuh adalah karena di satu ranjang itu, ayah penulis juga sakit yang akut juga. Masya Allah anak dan bapak mendapat cobaan yang sama, sakit di atas ranjang. Undangan wisuda datang, inilah obat mujarab penulis untuk semangat menjadi sehat, sudah berobat kemana-mana, ternyata Allah memberi obat kesembuhan dari obat yang berasal dari Puskesmas di kampung penulis. Ya Allah maha pemberi sehat hambanya.
Bulan september tanggal tgl 17 tahun 2002, penulis wisuda untuk S1-nya. Di tengah kegembiraan wisudanya, yang saat itu di temani oleh dua orang kakaknya (Kang Wasnadi, dan Kang Said, red). Saat ikut menemani wisuda di tingkat Fakultas, Kang Wasnadi sempat kaget, karena disuruh maju menemani saya untuk menerima penghargaan sebagai wisudawan terbaik di jurusan teknik elektro, karena mendapat IPK tertinggi saat itu. Setelah turun dari panggung, Kang Said menyeletuk ke penulis dengan ungkapannya, Khair…(panggilan akrab penulis di keluarga,red) ternyata kamu bisa sekolah ya…Ya inilah ungkapan kegembiraan orang kampung yang tidak pernah lulus SD sekalipun terhadap adiknya yang telah wisuda S1.
Waktu itu kemudian penulis berganti membalas ke Kang Said, ya alhamdulillah Kang, penulis bisa lulus sekolah S1 dengan tanpa menjual sawah serta apapun milik orang tua di kampung. Bahkan penulis gak pernah cerita bagaimana kehidupan penulis di Yogya kepada lingkungan keluarga besar penulis. Walaupun ada beberapa teman SMP penulis yang kuliah di sebuah universitas swasta terkenal di Yogya.
Saat wisuda di tingkat fakultas, Ketua jurusan Elektro UNY saat itu Bapak Imam Mustholiq Musamma, MPd., menyentil ke penulis. Beliau menanyakan rencana ke depan penulis akan kemana. Penulis dengan insting dan rasa percaya diri, menyampaikan seandainya di Jogja ada peluang maka kemungkinan akan berkarir di Jogja.
Setelah wisuda, penulis masih melanjutkan goresan sejarahnya di Jogja. Dengan mengajar di bimbingan komputer saat itu hanya menggantikan seorang kawan yang kuwalahan jam mengajarnya. Selain itu penulis juga masih menjadi tutor PAI untuk kampus wates, yang saat itu jarang sekali ada tutor yang berkenan untuk menjadi tutor di kampus wates. Penulis dengan sabar menjadi tutor PAI di kampus wates berkat semangat dari inspirator seorang mba senior dari jurusan PPKN yaitu Mba Sartini. Mba Sartini ini subhanallah orangnya semangat sekali, kalopun orangnya ditakdirkan pendek fisiknya sehingga belum bisa naik motor, tetapi beliau selalu hadir di kampus wates dengan naik angkutan umum. Penulis sempat juga akan mengajar di SMK Piri di daerah utara pasar colombo condongcatur. Namun kemudian rizki Allah berkata lain.
Ya itulah insting penulis, ternyata betul, di bulan Oktober tahun yang sama 2002, seorang kawan yang belum lulus di jurusan teknik elektro memberikan kabar bahwa penulis dicari-cari oleh pihak jurusan teknik elektro. Ya penulis sudah berdebar-debar terkait dengan nasib dapurnya. Saat menghadap Bapak Imam Mustholiq di Jurusan almamaternya, Pak Imam menyodorkan informasi lowongan CPNS dosen…Allahu akbar, rizki yang tidak diduga-duga.
Akhirnya setelah melalui proses rekrutmen dan test CPNS, penulis kemudian mendapat kesempatan untuk menjadi abdi negara sebagai staf pengajar di jurusan almamaternya.

Perjalanan 15-18th (tahun 1995-1998).

Perjalanan saat ini adalah era petualangan penulis merambah antar kota. Dilatar belakangi oleh beberapa rizki yang telah diterima penulis di antaranya saat penulis menamatkan SMPN 1 Balapulang mendapat nilai yang cukup memuaskan yaitu nilai ebtanas murni (NEM)  dengan nilai matematika  saat SMP adalah 10.00 dari 10.00. Kebetulan pada saat itu SMPN 1 Balapulang yang sebelumnya belum pernah diperhitungkan ditingkat kabupaten Tegal, saat itulah SMPN1 Balapulang mulai masuk peringkat 5 di tingkat kabupaten (kalo tidak salah).

Hobi matematika juga terlihat semenjak lulus dari SDN o4 Balapulang wetan yang konon sekarang namanya dah berubah (lupa urutannya krn dah lama tidak menengok) tetapi yg masih terekam adalah bahwa SD itu terletak di samping sawah di sebelah timur desa Balapulang Wetan. Saat SD, nilai matematika NEM penulis juga hampir mendekati sempurna. Dari situlah kemudian penulis didorong oleh kawan-kawanya untuk mendaftar di STM Telkom Sandhy Putra Purwokerto, saat itu th 1995 hingga 1998. Bulan Juni 1995 pertama kalinya penulis berpindah ke kota dari desa yang sangat hijau.

Sejarah masuknya penulis ke STM Telkom purwokerto adalah  karena kurang tepatnya orientasi dalam menuntut ilmu, yaitu pemahaman lulus sekolah harus jadi pekerja. Kenyataannya setelah lulus STM kemudian takdir lain sesuai dengan harapannya. Penulis mulai tersadarkan dengan konsep pencarian ilmu adalah saat mengenyam pendidikan di yogyakarta, sebuah kota pendidikan. Saat akan masuk ke STM telkom, yang saat itu terkenal sebagai STM swasta yang sangat mahal dengan biaya SPP saat itu tahun 1995 per bulannya adalah Rp 34.500, 00. Ukuran yang sangat mahal untuk orang tua penulis yang hanya petani klutuk (buruh, red). Oleh karena itu banyak tetangga penulis di kampung saat itu mengomentari penulis dengan swara-swara pesimistis. Diantara kalimat-kalimatnya, “Din apa bapakmu mampu mbiayai sekolah di STM telkom…”  Tetangga yang lain berkata,”Din…kowe kalo mau bisa sekolah di STM Telkom maka bapakmu harus menjual sawahnya..”Bahkan ada seorang kawan Bapak di mejelis yasinan malam jum’atan berkata di forum umum saat itu…”Pak Sidin kalo mo anaknya sekolah di STM telkom maka harus menjual sawahnya..” Kalimat-kalimat itulah yang menjadikan motivasi bagi penulis untuk bisa masuk dan berjuang di STM telkom. Alhamdulillah hingga saat lulus STM, sawah orang tua penulis masih utuh. Berbekal doa dan semangat itulah penulis berjuang.

Saat itu jarak Balapulang ke purwokerto dapat ditempuh dengan angkutan umum sekitar 2 jam perjalanan dengan armada bus yang terkenal saat itu adalah kurnia (nampaknya saat ini masih eksis juga armada ini). Saat itupulah penulis mulai terbuka dengan pola kehidupan yang berbaur dengan masyarakat luar. Secara kebetulan murid-murid di STM Telkom purwokert o saat itu berasal dari berbagai daerah di seluruh jawa. Alhamdulillah usia 15 thn penulis bisa menemukan berbagai macam tipe kehidupan dari berbagai daerah.

Di awal kehidupanya di purwokerto, penulis hidup di sebuah kost-kost. Namun kemudian, kebiasaan di daerah asal yang lekat dengan nuansa agamis menjadikan penulis kurang beradaptasi dengan kost-kost. Akhirnya hanya sekitar 6 bulan saja menjalani kehidupan di kost, kemudian penulis mencoba untk hidup di sebuah ma’had saat itu masih bernama ma’had at taqwa. Ma’had ini terletak di jantung kota purwokerto tepatnya di daerah kebondalem tepat di depan pasaraya super ekonomi (SE, red) dan rita.

Di ma’had inilah penulis mulai belajar berorganisasi secara formal dengan pernah menjadi ketua ikatan santri ma’had at taqwa (ISMA). Secara formal juga penulis pernah menjadi ketua kerohaniaan islam (rohis) STM Telkom purwokerto. Di ma’had ini juga penulis terbuka dari kejumudan dalam nuansa agamisnya sehingga mampu memahami keberagamaan dalam kehidupan keagamaan dan sosial.

Dalam usia masa-masa STM inilah, berlangsung sekitar tahun 1995 hingga 1998, penulis juga mulai belajar orasi.  Dipandu oleh pengurus Ma’ahad At taqwa saat itu yaitu di masjid At Taqwa, yang pada saat itu menjadi masjid di jantung kota Purwokerto. Setelah penyelenggaraan solat isa dan subuh berjama’ah, ikatan santri ma’had at taqwa menyelenggarakan kultum (ceramah, red) yang para muballighnya tidak lain adalah para santrinya sendiri. Untuk upgrading orasi, ISMA mengadakan latihan pidato sepekan dua kali dengan pengantar pidato adalah bahasa indonesia dan arab saat itu.

Hari demi hari, penulis lalui hingga akhirnya tibalah pertengahan tahun 1998, tepatnya bulan mei 1998. Tempo yang menggetarkan bagi masyarakat Indonesia yaitu moment reformasi untuk tegaknya pemerintah Indonesia. Penulis dinyatakan lulus STM saat itu. Tampaknya harapan untuk jadi pegawai telkom saat itu sudah tidak sekuat saat masuk STM, dikarenakan krisis yang sedang melanda saat itu. Pun harapan setelah tamat STM untuk segera kerja pupus bersama krisis ekonomi saat itu. Masih beruntung PT Telkom saat itu melakukan rekrutmen untuk 10 orang lulusan terbaik dengan cara menjaring dari rangking 1-20 peringkat. Harapan seketika muncul, karena penulis masuk dalam urutan tersebut. Tetapi takdir berbicara lain, sang Ibu tercinta meneteskan air mata dengan deras, ketika menerima surat dari PT Telkom yang menyatakan penulis belum bisa bergabung dengan PT Telkom saat itu. Yah…saat itulah penulis sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa menuntut ilmu haruslah benar iktikadnya yaitu menjauhkan dari kebodohan, bukan sekedar untuk mencari ijazah ataupun pekerjaan. Yah menuntut ilmu adalah upaya jihadul akbar (perjuangan besar, red) yang niatnya adalah untuk mencetak generasi yang siap menyongsong peradaban. Eng..ing… eng…Tahun 1998, tahun reformasi untuk penulis dan untuk bangsa Indonesia tercinta.

Oleh karena itulah, saat itu penulis beriktikad untuk mengasah dirinya lebih tajam dengan belajar kembali…ya penulis tancap gas belajar agar bisa diterima di perguruan tinggi negeri (PTN), karena PTN secara finansial akan lebih mudah terjangkau dan masih murah meriah saat itu. Penulis menyadari kemampuannya betul, yg hanya lulus STM secara realita kebanyakan lulusan STM minimalis dalam hal matematika, fisika apalagi biologi dan kimia yang tidak pernah diajarkan di STM karena kurikulumnya berbeda dengan SMA. Akhirnya penulis tertarik dengan IKIP negeri Yogyakarta saat itu (UNY, red). Dengan pilihan jurusan yang masih linear saat STM yaitu teknik elektro.

Waktu antara pengumuman lulus STM dengan pendaftaran UMPTN berlangsung lama sekitar 3-4 bulan sekitar bulan mei hingga juli 1998, penulis yang saat itu masih malu-malu kucing pulang ke kampung karena menanggung beban yang sangat berat, lulusan STM telkom yang konon lulusannya langsung diterima di PT telkom harus menunggu ketidak jelasan nasib bahkan menganggur. Akhir waktu itu penulis gunakan untuk ikut sebagai kernet penjual mie ayam gerobak di SMEA Veteran purwokerto saat itu. Penulis mau tidak mau harus melepas kebesaran bajunya sebagai lulusan STM telkom dengan mendorong gerobak mie ayam milik bang mahfud (adik dari ust Machful, mundir ma’had at taqwa purwokerto saat itu). Dan akhirnya tibalah saat pengumuman penerimaan PTN. Hingga penulis boyongan ke Yogya.

Perjalanan usia 0-15th (sekitar tahun 1979-1995).

Perjalanan hidup ini hanya sekedar share pengalaman hidup.

Dilahirkan awal era 80-an saat orba sedang mula meniti karirnya, tepatnya di sebelah masjid di pelosok desa Balapulang Wetan, Kab. Tegal Jawa Tengah, dilahirkan dari rahim mulia seorang Ibunda Wari binti Kasim.  Di usia yang cukup hijau, secara kultural belajar dengan alam sekitar bersama sang ayah Samsudin (alm) bin Wajad  di pematang sawah berlokasi di tetangga desa tepatnya di dusun Mangir Desa Balapulang Kulon. Seorang ayah yang walo sudah cukup senja usianya, karena kebetulan penulis ditakdirkan lahir sebagai anak ke-10 dari sepuluh bersaudara. Tetapi sang ayah sangat optimis menatap masa depan penulis, walo mungkin sang ayah belum pernah atau bahkan tidak pernah merasakan traktiran penulis, karena saat penulis lulus wisuda S1, sang ayah telah dijemput oleh Yang Maha Kuasa.

Semenjak usia delapan tahun, penulis pagi hari berkutat dengan balajar di sekolah dasar umum dan sore harinya belajar ke-Islaman di Madrasah Tasywiriyah bermula dari tingkat diniyah awaliyah hingga dinniyah wustho selama enam tahun. Selain secara formal, secara kebetulan penulis dilahirkan di lingkungan yang cukup kental nuansa keislamannya, sehingga di malam harinya selepas magrib belajar membaca alquran dengan ustadz yang tidak lain adalah paman sendiri yaitu Wa Sayad (paman. red). Kurang lebih berjalan hampir tiga tahun, karena kondisinya yang sudah pada usia senja, Wa Sayad kemudian dipanggil yang Kuasa. Belum fasih belajar alquran dengan pamannya, maka kemudian oleh orang tua dititipkan ke salah seorang ustad di masjid besar di desa Balapulang Wetan untuk memperdalam Alquran. Di masjid Al Fattah inilah penulis belajar alquran secara mendalam yakni selepas solat magrib hingga waktu isa tiba.

Tidak puas belajar alquran di masjid, Bapak menitipkan kembali penulis untuk belajar alquran pada pamannya yang lain, yakni Wa Tholib untuk mengisi waktu sehabis solat isa hingga kurang lebih pukul 9 malam. Penulis mulai belajar kedisiplinan dari Wa Tholib ini karena seandainya terlambat datang saat mengaji maka boleh jadi tangan Wa ini bisa-bisa menempel di kepala penulis. Bahkan Wa yang satu ini mengajarkan penulis untuk memanfaatkan waktu habis subuh sebaik mungkin, sehingga waktu mengajipun ditambah selain bakda isa dan juga karena keterbatasan waktu maka waktu mengaji untk belajar baca kitab barzanji, dibai, safinah dan beberapa pelajaran dasar Islam dilaksanakan bakda subuh. Penulis mulai belajar shalat subuh berjamaah saat program ini bermula.

Dalam lingkungan keluarga, ibu adalah penjual nasi warteg yang menggelar jualannya di depan rumah. Di pagi hari penulis selalu mendapat job untuk membeli daun jati sebagai pembungkus nasi jualannya ibu. Di sore hari, penulis mendapat tugas untuk membeli kayu bakar yang digunakan untuk memasak di esok harinya. Pelajaran yang sangat hangat dan renyah dengan lingkungan alami berlangsung hingga penulis menamatkan pendidikan sekolah menengah pertama (SMP) di SMPN 1 Balapulang.