Desain visual Presentasi Multimedia (Priyanto, 2009)

Buku Desain Visual Presentasi Multimedia yang diterbitkan tahun 2009 membahas enam hal. Bagian pertama membahas komunikasi efektif, media dan perannya dalam pembelajaran, dan peran penyaji atau guru dalam suatu presentasi.

Bagian kedua membahas komunikasi efektif dan prinsip-prinsip visual yang terfokus pada pentingnya visual dalam presentasi untuk mendukung komunikasi efektif. Pembahasan visual mencakup literasi visual, pentingnya simbol visual dan warna terkait dengan penyerapan informasi.

Bagian ketiga berkaitan dengan elemen dasar desain visual, pembahasan elemen visual, elemen verbal, dan kesalahan-kesalahan yang umum terjadi. Bagian ini sudah mulai masuk pada masalah teknis secara general, tetapi bersifat independen terhadap produk perangkat lunak tertentu.

Bagian keempat membahas pola desain pesan yang fokusnya pada desain pesan suatu slide secara individual. Pembahasan diawali dengan konsep tunggal, kesatuan, kesederhanaan, pengaturan tata letak, keseimbangan, warna, serta minimalisasi animasi dan suara.

Bagian kelima menata tampilan dan daya tarik. Selain membahas penyajian pesan pada slide secara individual, bagian ini juga membahas kesatuan rangkaian slide dalam presentasi yang terkait dengan konsistensi dan elemen penambah daya tarik.

Pada bagian akhir, disediakan visual design check list yang dapat digunakan untuk menilai presentasi. Bagian keenam, yang merupakan bagian akhir buku ini, membahas persiapan teknis presentasi. Sesuai dengan judul, bagian ini membahas masalah teknis yang mendukung lima bagian sebelumnya. Masalah teknis berorientasi pada perangkat lunak Microsoft PowerPoint untuk memberi contoh pembuatan dan penggunaan template dan kompresi gambar.

Akhir bagian ini membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan ruang dan beberapa tips pelaksanaan presentasi.

Anda bisa mengunduh buku pada link di atas.
Semoga bermanfaat.

Aplikasi Sistem Pakar untuk Membantu Guru dalam Memilih Jenis Media Pembelajaran

Oleh:
RAS Putra
Priyanto
Universitas Negeri Yogyakarta

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah sistem pakar berbasis android untuk membantu guru dalam memilih jenis media pembelajaran yang diberi nama “Pilih Media”.

Pengembangan perangkat lunak menggunakan metode waterfall. Tahap pengembangan meliputi proses Communication, Planning, Modeling, Construction, dan Deployment.  Pengujian perangkat lunak menggunakan enam dari delapan aspek standar ISO 25010, yaitu: functional suitability, performance efficiency, usability, reliability, maintainability, dan portability.

Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) pengembangan aplikasi telah melalui serangkaian proses pengembangan perangkat lunak. 2) hasil pengujian functional suitability menunjukkan semua fungsi dapat berjalan dengan “Sangat Baik”; hasil pengujian performance efficiency diperoleh waktu rata-rata instalasi aplikasi dengan predikat “Cukup Puas” dan waktu launching aplikasi dengan predikat “Sangat Puas”; hasil pengujian usability sebesar 80,39% atau dengan kategori “Baik”; pengujian reliability aplikasi diperoleh nilai defect density sebesar 0 defect per KLOC
sehingga memenuhi standar McConnel; pengujian aspek maintainability diperoleh nilai rata-rata “Sangat Baik”; pengujian aspek portability memiliki predikat “Sangat Baik”.

Full text available at Journal.student.uny.ac.id/ojs

Membangun Infrastruktur Sosial dalam Pengembangan E-learning

Oleh  Priyanto
Universitas Negeri Yogyakarta
e-mail: priyanto@uny.ac.id

 

Ruang informasi global yang dibentuk oleh teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah menjadi ciri perkembangan masyarakat modern. Selain berpengaruh pada aspek sosial dan ekonomi, TIK juga berpengaruh dalam paradigma pembelajaran di semua tingkat sekolah termasuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Kurikulum 2013 (K13) telah menempatkan TIK sebagai aspek penting dalam pembelajaran, mengingat TIK digunakan di semua mata pelajaran dalam kurikulum 2013. Salah satu peran TIK dalam pembelajaran adalah sebagai penyampai, atau disebut electronic learing (e-learnig). Dalam lingkungan sekolah fisik, e-learning dapat digunakan sebagai campuran maupun (blended) maupun komplemen tatap muka fisik.

Cheng (2005) menyatakan bahwa e-learning merupakan transformasi dari paradigma tradisional yang terikat ruang dan waktu menuju paradigma baru triplization. Paradigma triplization adalah pengembangan contextualized multiple intelligence (CMI) siswa dan proses globalisasi, lokalisasi, dan indivisualisasi dalam pendidikan menjadi aktivitas inti. Artinya, walaupun e-learning berorientasi global, namun tetap memperhatikan aspek lokal dan individu siswa.

Namun demikian, tingkat penerimaan e-learning di negera-negara berkembang khusnya Indonesia masih sangat rendah. Studi yang dilakukan oleh Priyanto (2009:86) menyatakan bahwa adopsi e-learning di Indonesia masih belum memuaskan. Studi lain yang dilakukan oleh Priyanto et al. (2017:5) menyatakan bahwa penggunaan e-learning di SMK di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan skor 18.52 masih berada di bawah level kesiapan (skor 22.4). Di sisi lain, faktor teknologi (kondisi yang memfasilitasi) yaitu: (1) infrastruktur teknologi (perangkat keras, perangkat lunak, dan akses Internet), (2) keterampilan guru, dan (3) konten pembelajaran diigital, ketiganya sudah berada di atas level siap.

Kajian di atas menyiratkan bahwa, sehebat apapun infrastruktur teknologi, belum cukup membawa guru untuk mengadopsi e-learning apabila faktor kultur yang terbentuk oleh lingkungan sosial tidak mendapat perhatian. Hal ini sejalan dengan Bhuasiri et al. (2012:846) yang mengidentifikasi faktor penentu keberhasilan yang memengaruhi penerimaan e-learning di negara berkembang terdiri dari tiga dimensi utama yaitu: dimensi sistem, dimensi personal, dan dimensi lingkungan sosial.

Oleh sebab itu, memperhatikan dimensi sosial dalam pengembangan e-learning dipandang tepat dan sangat beralasan, mengingat faktor utama suksesnya integrasi TIK dalam pembelajaran bukan hanya masalah teknologi, tetapi juga masalah sosial (Yuen, 2011:4). Teknologi hanya merupakan isu sekunder yang menjadi enabler penting (Rosenberg, 2012).

Bostrom & Heinen (1977:25) menyatakan bahwa Sistem Informasi adalah merupakan sitem sosio-teknis yang terdiri dari aspek technology (teknologi), tasks (tugas) , people (manusia), dan structure (struktur). Sementara itu Upadhyaya & Mallik (2013:4) menyatakan bahwa e-learning adalah sistem sosio teknis. Oleh sebab itu pengembangan sistem informasi harus secara utuh mencakup dimensi teknologi dan social secara simultan. Hal ini sesuai dengan pendapat Priyanto (2009:92) yang menyatakan bahwa pengembangan e-learning di Indonesia harus mengembangkan aspek lingkungan sosial sekolah. Hala ini sesuai dengan studi Priyanto et al. (2017:5) yang menyatakan bahwa skor lingkungan sosial di SMK DIY masih rendah (17.52) berada di bawah level kesiapan (22.4). Sementara itu, lingkungan sosial berpengaruh signifikan terhadap persepsi kegunaan dan intensi untuk menggunakan e-learning (Priyanto et al., 2017:7).

Bertolak dari uraian pendapat dan hasil studi di atas, dalam pengembangan e-learning, Priyanto (2017:165-167) menggabungkan relasi empat komponen sosio-teknis menjadi strategi pengembangan, yaitu:

  1. Dimensi StrukturTeknologi adalah tanggung jawab sekolah (atau pemerintah) untuk menyediakan perangkat keras untuk sistem dan pengguna, perangkat lunak sistem, learning management system (LMS), akses internet yang memadai, dan dukungan teknis. Teknologi ini menjadi prasyarat utama untuk e-learning.
  2. Dimensi StrukturTugas, adalah pengembangan konten pembelajaran digital harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
  3. Dimensi TeknologiTugas, menyediakan sistem e-learning yang berkualitas, mudah digunakan, dan fleksibililitas akses.
  4. Dimensi Manusia-Teknologi, adalah mengembangkan keterampilan guru, mencakup ketrampilan dasar dan keterampilan menggunakan LMS untuk pengelolaan kelas virtual (virtual learning environment/VLE).
  5. Dimensi Manusia-Tugas, adalah mengembangkan keterampilan guru dalam mengembangkan konten pembelajaran digital menggunakan content management system (CMS), diversifikasi konten pembelajaran, mengembangkan evaluasi, dan pengelolaannya.
  6. Dimensi Manusia-Struktur, adalah mengembangkan iklim lingkungan sosial sekolah untuk membentuk kultur teknologi. Kultur teknologi yang baik akan mendorong guru untuk menggunakan e-learning, melakukan inovasi, dan menjaga keberlangsungannya.

Membangun infrastruktur sosial adalah membangun hubungan antara manusia dan struktur, yaitu memandang sistem sosial secara utuh dalam pengembangan e-learning. Pengembangan ini dapat dilakukan menggunakan teori institusional yang memberi fokus pada pencapaian legitimasi di mata pemangku kepentingan sosial dan menekankan pentingnya lingkungan kelembagaan sebagai sikap dan perilaku dari para pelaku social.

REFERENSI

Bhuasiri, W., Xaymoungkhoun, O., Zo, H., et al. (2012). Critical success factors for e-learning in developing countries: A comparative analysis between ICT experts and faculty. Computers & Education, 58, 843–855.

Bostrom, Robert P. and Heinen, J. Stephen. (1977). A Socio-Technical Perspective. Part I: The Causes. MIS Quarterly, 1, 3, 17-32.

Cheng, Y.C. (2005). New paradigm for re-engineering education. Netherlands: Springer.

Rosenberg, MJ. (10 January 2012). Marc my words: Ten common mistakes in building an elearning strategy. Diakses pada tanggal 21 Februari 2013, dari http://www.learningsolutionsmag.com/articles/815

Yuen, A.H.K. (2011). Exploring teaching approaches in blended learning [Versi Elektronik]. Research and Practice in Technology Enhanced Learning, 6, 1, 3-23.

Priyanto. (2009). Redesigning E-learning Development in Indonesia. Seamoe Voctech Journal, 9, 1, 85-92.

Priyanto. (2017). E-Learning Sebagai Sistem Sosio-Teknis: Strategi Pengembangan E-Learning di Pendidikan Vokasi untuk Meningkatkan Penerimaan Pengguna. Dalam Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Vokasional (SNPV) 2017: Revitalisasi Lembaga Pendidikan Guru Vokasional (pp. 163-169). Yogyakarta: UNY Press.

Priyanto.,  Sofyan, Herminarto, Surjono, HD. (2017). The Determinants of E-Learning Usage by Teachers of Vocational High Schools in The Yogyakarta Special Region. Jurnal Pendidikan Vokasi, 7, 1, 1-13.

Upadhyaya, K. T. & Mallik, D. (2013). E-Learning as a Socio-Technical System:
An Insight into Factors Influencing its Effectiveness. Business Perspectives and Research, July-December, 1-12.

The Determinants of E-learning Usage by Teachers of Vocational High Schools in The Yogyakarta Special Region

The purpose of the study was to find the determinants of e-learning implementation by teachers of vocational school in the Yogyakarta Special Region. The research objective was achieved by describing the essential influence of social environment and facilitating conditions toward the technology acceptance model of e-learning.

The study was a correlational research one with an ex-post facto approach. The number of research sample was 132 teachers distributed by means of proportional random sampling technique. The primary data source was the teachers’ self report which had been collected by using a questionnaire. The observation and the open-ended interviews were conducted in order to support the primary data. The content validity was assessed by means of expert judgment and the construct validity was calculated by means of Pearson correlation. The reliability was determined by means of Cronbach’s Alpha minimum value namely 0.70.

The data analysis was performed by using path analysis at a significance level of 0.05. The study concluded that the effect of social environment and facilitating conditions to the e-learning usage had been mediated by three main variables of Technology Acceptance Model (TAM), namely perceived usefulness, perceived ease of use, and intention to use.

Keywords: E-learning, technology acceptance model, social environment, facilitating conditions.

Full paper availabbe at Jurnal Pendidikan Vokasi Universitas Negeri Yogyakarta

E-learning sebagai Sistem Sosio-Teknis

E-learning adalah memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebagai penyampai utama dalam pembelajaran. E-learning memberi banyak manfaat dan fleksibilitas dalam pembelajaran. Namun, penerimaan e-learning kenyataannya masih jauh dari harapan bila tidak disebut kegagalan, walaupun infrastruktur teknologi sudah terpenuhi. Hal ini menyiratkan bahwa mengembangkan e-learning seharusnya tidak hanya dipandang dari perspektif teknologi.

Sebagai sistem informasi, e-learning juga harus dipandang dari perspektif sosial yaitu lingkungan dimana teknologi berada. Oleh sebab itu pengembangan e-learning harus menggunakan perspektif sosio-teknis. Dalam hal ini faktor teknologi dan sosial dikembangkan bersama, karena keduanya menjadi satu kesatuan dan memiliki keterkaitan resiprokal.

Model pengembagan organisasi mengonfirmasi bahwa e-learning adalah sistem sosio-teknis. Sistem sosial mengacu pada teori institutional isomorphism yang mencakup tekanan koersif, tekanan mimesis, dan tekanan normatif.

Sistem teknis berkaitan dengan fasilitas teknologi, dukungan teknis, kompatibilitas, dan kompetensi pengguna. Peran sistem sosial dan teknologi dalam penerimaan e-learning digambarkan sebagai anteseden technology acceptance model (TAM).

Kata kunci: e-learning, sistem sosio-teknis, institutional isomorphism, TAM

Klik di sini untuk mengunduh paper lengkap

 

Two-by-Six

DV Cover depanTwo-by-six adalah aturan untuk hubungan antara ukuran layar dan tempat duduk audien(Smaldino et.al, 2008). Artinya, tdak ada audien yang duduk lebih dekat dari dua kali lebar layar atau lebih jauh dari enam kali lebar layar.

Sudahkah kita menerapkan aturan tersebut di ruang kelas atau ruang serba guna yang kita miliki? Bahasan ini ada dalam buku “Desain Visual Presentasi Multimedia”.

Desain visual Presentasi Multimedia

Cover Depan dan Belakang

Cover Depan dan Belakang

Penulis: Priyanto
Penerbit: UNY PRESS Yogyakarta
Tahun: 2009

Untuk sementara buku ini tersedia di:
UNY Press
Jl. Afandi (Gejayan), Gg. Alamanda Kompleks FT UNY
Kampus Karangmalang, Yogyakarta
Telp. (0274) 586168 Ext. 279
E-mail: uny-press@yahoo.com

Buku ini menekankan pada desain visual untuk membuat
presentasi multimedia secara umum.
Contoh kasus yang digunakan adalah Power Point 2007.

Pengantar

Niat utama penulisan buku ini adalah untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Ada empat faktor yang mendorong penyusunan buku Desain Visual Presentasi Multimedia ini.


Pertama, pada saat penulis menjadi peserta dalam presentasi di berbagai kesempatan (kuliah, seminar, rapat kerja), mengetahui banyak peserta yang mengeluhkan kualitas penyajian presentasi. Keluhan tersebut antara lain mengenai sulitnya membaca materi presentasi di layar yang disebabkan oleh padatnya teks, ukuran huruf yang terlalu kecil, dan pemilihan kombinasi warna yang tidak sesuai.

(more…)

Model e-Learning Readiness Sebagai Strategi Pengembangan E-Learning

Paper ini saya presentasikan pada “International Seminar on ICT in Education”
Pada tanggal 13-14 Februari 2009
Diselenggarakan oleh Program Pasca Sarjana UNY

ABSTRAK

Pengembangan e-learning di institusi pendidikan melibatkan banyak faktor dalam organisasi, yaitu infrastruktur teknologi, sumber daya manusia, dan lingkungan yang mencakup kepemimpinan dan kultur. Model e-learning readiness (ELR) merupakan manifestasi dari kesiapan seluruh komponen organisasi untuk mengadopsi e-learning.

Model ELR tidak hanya mengukur tingkat kesiapan institusi untuk mengimplemantasikan e-learning, tetapi yang lebih penting adalah dapat mengungkap faktor atau area mana masih lemah dan memerlukan perbaikan dan area mana sudah dianggap berhasil atau kuat dalam mendukung implementasi e-learning.

Model ELR pada tahap analisis digunakan untuk menyusun dokumen kebutuhan yang menjadi base line untuk tahap desain, pengembangan, dan implementasi. Pada tahap evaluasi, model e-learning readiness digunakan untuk mengukur keberhasilan dan menentukan recycling decission untuk proses perbaikan pada periode berikutnya.

File Presentasi— Makalah lengkap tidak saya sajikan.

Green Computing 2: Stop Global Warming Versi SIAKAD UNY

Catatan: Tulisan saya ini sudah dimuat dan disarikan di Majalah “Computing Channel” Jakarta.

Ringkasan

Perhitungan sederhana pada penggunaan kertas untuk pengisian KRS dan pencetakan KHS pada SIAKAD mulai tahun 2005, UNY menghemat 13.23 pohon setiap tahunnya. Bagaimana angka tersebut bisa diperoleh? Silahkan baca tulisan singkat berikut. Tulisan ini melengkapi tulisan sebelumnya dengan hitungan teknis sederhana.

(more…)

Green Computing: Solusi TI Ramah Lingkungan

Oleh Priyanto (Kedaulatan Rakyat, 19 Mei 2008)

Teknologi, di satu sisi memperbaiki dan mendukung kehidupan manusia, sementara di sisi lain menghancurkan. Teknologi selalu menyatu dengan konsekuensinya, teknologi tidaklah netral, demikian dikatakan Naisbit (1999). Teknologi Informasi (TI) adalah produk kreatif dari imaginasi dan mimpi manusia, keberadaanya telah menjadi bagian integral dari evolusi kultur manusia. Memanfaatkan TI secara efisien namun dengan hasil yang optimal adalah imperatif, untuk menggeser garis resultan konsekuensi agar (cenderung) berada pada sisi positif.

Diperlukan perubahan paradigma dan perilaku agar TI memberi manfaat melampaui biaya yang sudah dikeluarkan untuk investasi dan energi. Manfaat, bukan hanya memberi solusi komputasi, tetapi juga memberi sumbangan positif (baca: menjaga) alam semesta dalam bentuk mengurangi deforestasi atau kerusakan hutan. TI yang merupakan produk hitech memiliki konotasi dengan kota dan modern kok dikaitkan dengan hutan yang lebih dekat dengan “tarsan” dan primitif. Adakah kaitannya? Green computing adalah jawabannya. Meskipun kita jarang (atau bahkan tidak pernah) mendengar, ini bukan istilah baru dalam khasanah TI. Yang jelas, green computing bukan komputasi tarsan atau komputasi primitif, tetapi solusi komputasi modern dan beradab. (more…)