<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Priyanto</title>
	<atom:link href="http://blog.uny.ac.id/priyanto/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.uny.ac.id/priyanto</link>
	<description>ICT for better life</description>
	<lastBuildDate>Fri, 08 Jan 2010 15:14:42 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Logika Digital: TIDAK ADA adalah ADA (by Priyanto)</title>
		<link>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2010/01/08/logika-digital-tidak-ada-adalah-ada-by-priyanto/</link>
		<comments>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2010/01/08/logika-digital-tidak-ada-adalah-ada-by-priyanto/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 15:11:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>priyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.uny.ac.id/priyanto/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Digital berasal dari kata digit yang berarti angka.
Digital hanya mengenal 2 angka (biner) ‘0’ dan ‘1’.
Digital hanya mengenal 2 keadaan ‘0’ (Tidak ada) dan ‘1’ (ada).
Digital hanya mengenal 2 kondisi ‘0’ (Salah) dan ‘1’ (benar).
Digital hanya mengenal 2 jenis kelamin ‘0’ (perempuan) dan ‘1’ (laki-laki)
Digital hanya mengenal 2 warna ‘0’ (Putih) dan ‘1’ (Hitam).
Digital tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000000">Digital berasal dari kata digit yang berarti angka.<br />
Digital hanya mengenal 2 angka (biner) ‘0’ dan ‘1’.<br />
Digital hanya mengenal 2 keadaan ‘0’ (Tidak ada) dan ‘1’ (ada).<br />
Digital hanya mengenal 2 kondisi ‘0’ (Salah) dan ‘1’ (benar).<br />
Digital hanya mengenal 2 jenis kelamin ‘0’ (perempuan) dan ‘1’ (laki-laki)<br />
Digital hanya mengenal 2 warna ‘0’ (Putih) dan ‘1’ (Hitam).<br />
Digital tidak mengenal area ABU-ABU, berarti digital adalah KETEGASAN.</span></p>
<p><span style="color: #000000">Digital adalah KEBENARAN yang mutlak, tidak ada keraguan di dalamnya.<br />
Karena… dalam ilmu elektronik, dasar opearsi digital adalah tabel kebenaran (truth table),<br />
bukan tabel kebetulan (coincidence table).</span></p>
<p><span style="color: #000000">Apakah semua jenis angka memiliki anga NOL?<br />
Ada dua macam angka yang kita kenal sampai sekarang: Angka ROMAWI dan Angka ARAB.<br />
Tahukan mengapa anga Romawi tidak punya angka Nol? Nol berarti tidak ada, sehingga tidak disimbolkan di dalam angka Romawi.<br />
Nol hanya dimiliki oleh angka Arab, untuk menyimbolkan yang tidak ada.</span></p>
<p><span style="color: #000000">Mengapa sesuatu yang tidak ada perlu disimbolkan?<br />
Karena sesuatu yang tidak ada pada hakekatnya adalah ada.<br />
Apa buktinya yang tidak ada itu ada? Karena menempati RUANG dan WAKTU.<br />
Di mana RUANG dan WAKTU yang ditempati tidak ada itu? Di sel memori.<br />
Tidak ada itu ada di RUANG sel memori dan WAKTU komputer hidup.<br />
Tidak ada itu akan tidak ada di RUANG sel memori WAKTU komputer mati.<br />
Tetapi…. tidak ada itu tetap ada di dalam sel memori otak kita, karena kita hidup.</span></p>
<p><span style="color: #000000"><br />
Sehingga…. tidak ada itu pada hakekatnya tetap ada. Ada di dekat kita, ada di dalam diri kita, ada di dalam pikiran kita, ada di sel memori otak kita.  ==Priyanto (08-01-10)</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2010/01/08/logika-digital-tidak-ada-adalah-ada-by-priyanto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Two-by-Six</title>
		<link>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2009/08/31/two-by-six/</link>
		<comments>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2009/08/31/two-by-six/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 16:44:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>priyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[E-Learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.uny.ac.id/priyanto/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[ Two-by-six adalah aturan untuk hubungan antara ukuran layar dan tempat duduk audien(Smaldino et.al, 2008). Artinya, tdak ada audien yang duduk lebih dekat dari dua kali lebar layar atau lebih jauh dari enam kali lebar layar.
Sudahkah kita menerapkan aturan tersebut di ruang kelas atau ruang serba guna yang kita miliki? Bahasan ini ada dalam buku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%"><strong><span lang="SV"> </span></strong><span lang="SV"><strong><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-48" src="http://blog.uny.ac.id/priyanto/files/2009/07/DV-Cover-depan-150x150.jpg" alt="DV Cover depan" width="23" height="30" />Two-by-six</strong> adalah aturan untuk hubungan antara ukuran layar dan tempat duduk audien(</span><span lang="EN-GB">Smaldino <em>et.al</em>, 2008).<span> </span></span><span lang="SV">Artinya, tdak ada audien yang duduk lebih dekat dari <strong>dua</strong> kali <strong>lebar layar</strong> atau lebih jauh dari <strong>enam</strong> kali <strong>lebar layar</strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%"><span lang="SV">Sudahkah kita menerapkan aturan tersebut di ruang kelas atau ruang serba guna yang kita miliki? Bahasan ini ada dalam buku &#8220;Desain Visual Presentasi Multimedia&#8221;.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2009/08/31/two-by-six/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Desain visual Presentasi Multimedia</title>
		<link>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2009/07/01/desain-visual-presentasi-multimedia/</link>
		<comments>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2009/07/01/desain-visual-presentasi-multimedia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 08:39:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>priyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[E-Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Desain Visual Presentasi Multimedia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.uny.ac.id/priyanto/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Priyanto
Penerbit: UNY PRESS Yogyakarta
Tahun: 2009
Untuk sementara buku ini tersedia di:
UNY Press
Jl. Afandi (Gejayan), Gg. Alamanda Kompleks FT UNY
Kampus Karangmalang, Yogyakarta
Telp. (0274) 586168 Ext. 279
E-mail: uny-press@yahoo.com 
Buku ini menekankan pada desain visual untuk membuat
presentasi multimedia secara umum.
Contoh kasus yang digunakan adalah Power Point 2007.
Pengantar

Niat utama penulisan buku ini adalah untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_58" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-58" src="http://blog.uny.ac.id/priyanto/files/2009/08/Cover-DB-300x218.jpg" alt="Cover Depan dan Belakang" width="300" height="218" /><p class="wp-caption-text">Cover Depan dan Belakang</p></div>
<p><strong><em>Penulis: Priyanto<br />
Penerbit: UNY PRESS Yogyakarta<br />
Tahun: 2009</em><br />
<span style="color: #000080">Untuk sementara buku ini tersedia di:<br />
</span><span style="font-weight: normal"><span style="color: #000080">UNY Press<br />
Jl. Afandi (Gejayan), Gg. Alamanda Kompleks FT UNY<br />
Kampus Karangmalang, Yogyakarta<br />
Telp. (0274) 586168 Ext. 279<br />
E-mail: uny-press@yahoo.com </span></span></strong></p>
<p style="text-align: center"><span style="color: #000080"><em>Buku ini menekankan pada desain visual untuk membuat<br />
presentasi multimedia secara umum.<br />
Contoh kasus yang digunakan adalah Power Point 2007.</em></span></p>
<h2><strong>Pengantar<br />
<span style="font-weight: normal;font-size: 15px"><br />
Niat utama penulisan buku ini adalah untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Ada empat faktor yang mendorong penyusunan buku <em>Desain Visual Presentasi Multimedia</em> ini.</span></strong></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt" lang="IN"><br />
Pertama, pada saat penulis menjadi peserta dalam presentasi di berbagai kesempatan (kuliah, seminar, rapat kerja), mengetahui banyak peserta yang mengeluhkan kualitas penyajian presentasi. Keluhan tersebut antara lain mengenai sulitnya membaca materi presentasi di layar yang disebabkan oleh padatnya teks, ukuran huruf yang terlalu kecil, dan pemilihan kombinasi warna yang tidak sesuai.</span></p>
<p><span id="more-40"></span>Kedua, banyak penyaji menggunakan komponen visual (gambar-gambar dan dekorasi) yang tidak mendukung informasi verbal, sehingga tidak ada kesatuan (<em>unity</em>) antara komponen verbal dan visual. Keadaan ini dapat memecah konsentrasi audien dalam menyerap informasi dari penyaji.</p>
<p>Ketiga, berdasarkan pengalaman menjadi pelatih media pembelajaran berbasis teknologi informasi dan <em>e-learning</em>, banyak peserta yang sudah akrab dengan perangkat lunak presentasi (<em>PowerPoint</em>, <em>Flash</em>, dan yang lainnya), tetapi pada umumnya belum memahami kaidah desain visual.</p>
<p>Keempat, saat ini banyak peralaan proyektor multimedia (LCD: <em>liquid crystal display</em> dan DLP: <em>digital light processor</em>) dengan berbagai macam resolusi. Yang menjadi masalah, apabila dihadapkan pada peralatan proyektor LCD atau DLP yang resolusinya lebih rendah dari computer yang digunakan, penyaji sering tidak dapat mengatasi permasalahan yang dihadapinya. Informasi yang tampil di layar proyeksi kadang tidak seindah yang ada di layar komputer. Akibatnya sering ada informasi yang hilang, terutama yang berkaitan dengan warna.</p>
<p>Berdasar keempat faktor yang mendasari penulisan buku ini, penulis menyajikan buku ini dalam enam bagian. Bagian pertama membahas komunikasi efektif, media dan perannya dalam pembelajaran, dan peran penyaji atau guru dalam suatu presentasi.</p>
<p>Bagian kedua membahas komunikasi efektif dan prinsip-prinsip visual yang terfokus pada pentingnya visual dalam presentasi untuk mendukung komunikasi efektif. Pembahasan visual mencakup literasi visual, pentingnya simbol visual dan warna terkait dengan penyerapan informasi.</p>
<p>Bagian ketiga berkaitan dengan elemen dasar desain visual, pembahasan elemen visual, elemen verbal, dan kesalahan-kesalahan yang umum terjadi. Bagian ini sudah mulai masuk pada masalah teknis secara general, tetapi bersifat independen terhadap produk perangkat lunak tertentu.<br />
<span style="font-size: 11pt" lang="IN"><br />
Bagian keempat membahas pola desain pesan yang fokusnya pada desain pesan suatu <em>slide</em> secara individual. Pembahasan diawali dengan konsep tunggal, kesatuan, kesederhanaan, pengaturan tata letak, keseimbangan, warna, serta minimalisasi animasi dan suara.<br />
</span><span style="font-size: 11pt" lang="IN"><br />
Bagian kelima menata tampilan dan daya tarik. Selain membahas penyajian pesan pada <em>slide</em> secara individual, bagian ini juga membahas kesatuan rangkaian <em>slide</em> dalam presentasi yang terkait dengan konsistensi dan elemen penambah daya tarik. Pada bagian akhir, disediakan <em>visual design check list</em> yang dapat digunakan untuk menilai presentasi.<br />
</span><span style="font-size: 11pt" lang="IN"><br />
Bagian keenam, yang merupakan bagian akhir buku ini, membahas persiapan teknis presentasi. Sesuai dengan judul, bagian ini membahas masalah teknis yang mendukung lima bagian sebelumnya. Masalah teknis berorientasi pada perangkat lunak <em>Microsoft PowerPoint</em> untuk memberi contoh pembuatan dan penggunaan <em>template</em> dan kompresi gambar. Akhir bagian ini membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan ruang dan beberapa tips pelaksanaan presentasi.<br />
</span><span style="font-size: 11pt" lang="IN">Terbatasnya halaman dan keterbatasan penulis mungkin menjadikan buku ini jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, penulis berharap para pembaca dapat turut berbagi pengetahuan dan pengalaman melalui kritik dan saran untuk penyempurnaan buku ini.</span></p>
<p>Akhirnya, penulis berharap mudah-mudahan buku yang sederhana ini memberi manfaat bagi rekan-rekan dosen, guru, mahasiswa, dan pembaca umumnya. Amin.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 155.95pt;text-align: justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2009/07/01/desain-visual-presentasi-multimedia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Model e-Learning Readiness Sebagai Strategi Pengembangan E-Learning</title>
		<link>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2009/02/26/model-e-learning-readiness-sebagai-strategi-pengembangan-e-learbibg/</link>
		<comments>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2009/02/26/model-e-learning-readiness-sebagai-strategi-pengembangan-e-learbibg/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 06:28:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>priyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[E-Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[e-learning readiness]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.uny.ac.id/priyanto/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Paper ini saya presentasikan pada &#8220;International Seminar on ICT in Education&#8221;
Pada tanggal 13-14 Februari 2009
Diselenggarakan oleh Program Pasca Sarjana UNY
ABSTRAK
Pengembangan e-learning di institusi pendidikan melibatkan banyak faktor dalam organisasi, yaitu infrastruktur teknologi, sumber daya manusia, dan lingkungan yang mencakup kepemimpinan dan kultur. Model e-learning readiness (ELR) merupakan manifestasi dari kesiapan seluruh komponen organisasi untuk mengadopsi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 6pt;text-align: left"><span>Paper ini saya presentasikan pada &#8220;International Seminar on ICT in Education&#8221;<br />
Pada tanggal 13-14 Februari 2009<br />
Diselenggarakan oleh Program Pasca Sarjana UNY</span></h3>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 6pt;text-align: left"><strong><span>ABSTRAK</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 6pt;text-align: left"><strong></strong><span>Pengembangan e-learning di institusi pendidikan melibatkan banyak faktor dalam organisasi, yaitu infrastruktur teknologi, sumber daya manusia, dan lingkungan yang mencakup kepemimpinan dan kultur.<span> </span>Model <em>e-learning readiness</em> (ELR) merupakan manifestasi dari kesiapan seluruh komponen organisasi untuk mengadopsi e-learning.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 6pt;text-align: left"><span>Model </span><span>ELR</span><span> tidak hanya mengukur tingkat kesiapan institusi untuk mengimplemantasikan e-learning, tetapi yang lebih penting adalah dapat mengungkap faktor atau area mana masih lemah dan memerlukan perbaikan dan area mana sudah dianggap berhasil atau kuat dalam mendukung implementasi e-learning.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 6pt;text-align: left"><span>Model ELR pada tahap analisis digunakan untuk menyusun dokumen kebutuhan yang menjadi <em>base line</em> untuk tahap desain, pengembangan, dan implementasi.<span> </span>Pada tahap evaluasi, model <em>e-learning readiness</em> digunakan untuk mengukur keberhasilan dan menentukan <em>recycling decission</em> untuk proses perbaikan pada periode berikutnya</span><span><span style="font-size: small">.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 6pt;text-align: left"><span><span style="font-size: small">&#8211;<a href="http://blog.uny.ac.id/priyanto/files/2009/08/Model-E-learning-Readiness.pdf" target="_self">File Presentasi</a>&#8211; Makalah lengkap tidak saya sajikan.</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2009/02/26/model-e-learning-readiness-sebagai-strategi-pengembangan-e-learbibg/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Green Computing 2: Stop Global Warming Versi SIAKAD UNY</title>
		<link>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2008/10/14/green-computing-2-studi-penghematan-kertas-di-uny/</link>
		<comments>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2008/10/14/green-computing-2-studi-penghematan-kertas-di-uny/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 08:24:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>priyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Green Computing]]></category>
		<category><![CDATA[hemat kertas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.uny.ac.id/priyanto/2008/10/14/green-computing-2-studi-penghematan-kertas-di-uny/</guid>
		<description><![CDATA[Catatan: Tulisan saya ini sudah dimuat dan disarikan di Majalah &#8220;Computing Channel&#8221; Jakarta.
Ringkasan
Perhitungan sederhana pada penggunaan kertas untuk pengisian KRS dan pencetakan KHS pada SIAKAD mulai tahun 2005, UNY menghemat 13.23 pohon setiap tahunnya. Bagaimana angka tersebut bisa diperoleh? Silahkan baca tulisan singkat berikut. Tulisan ini melengkapi tulisan sebelumnya dengan hitungan teknis sederhana.
Apakah penerapan TI [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Catatan: Tulisan saya ini sudah dimuat dan disarikan di Majalah &#8220;Computing Channel&#8221; Jakarta.</h3>
<p><span style="font-size: small;font-family: Times New Roman"><strong>Ringkasan</strong></span></p>
<p><span style="font-size: small;font-family: Times New Roman"><em>Perhitungan sederhana pada penggunaan kertas untuk pengisian KRS dan pencetakan KHS pada SIAKAD mulai tahun 2005, UNY menghemat 13.23 pohon setiap tahunnya. Bagaimana angka tersebut bisa diperoleh? Silahkan baca tulisan singkat berikut. Tulisan ini melengkapi tulisan sebelumnya dengan hitungan teknis sederhana.</em></span></p>
<p><span style="font-size: small"><span style="font-family: Times New Roman"><span id="more-16"></span>Apakah penerapan TI di UNY telah memberi solusi <em>green computing</em>?  Studi berikut menghitung dari sisi penghematan kertas untuk Sistem Informasi Akademik (SIAKAD) dan hanya terbatas pada transaksi KRS dan KHS saja.</span></span></p>
<p><span style="font-size: small"><span style="font-family: Times New Roman">Saat masih menerapkan sistem <em>hybrid</em>, setiap awal semester mahasiswa mengisi lembar KRS rangkap tiga (ukuran setengah F4).  Pada setiap akhir semester mencetak KHS rangkap empat  (ukuran setengah A4).  Untuk perhitungan digunakan standar kertas yang lebih kecil, ukuran A4. Apabila jumlah mahasiswa aktif adalah 21.000, maka setiap semester diperlukan 73.000 lembar kertas ukuran A4 (147 rim).  Dengan berpedoman pada kertas HVS ukuran A4 gramatur 70 gms, yang setiap lembarnya memiliki berat 4,37 gram, maka berat 1 rim kertas adalah 2,29 kg.  Berarti pada setiap semester diperlukan 321,55 kg (643,09 kg per tahun).</span></span></p>
<p><span style="font-size: small"><span style="font-family: Times New Roman">Sekarang, mahasiswa hanya mengisi KRS satu lembar (ukuran setengah F4), bahkan ada beberapa fakultas yang tidak lagi menggunakan kertas, karena lembar ini hanya digunakan sebagai arsip saja.  Pada setiap akhir semester sudah tidak dilakukan lagi pencetakan KHS, cukup melihat di komputer.  Pencetakan KHS dikakukan hanya jika diperlukan untuk mengurus beasiswa  dan administrasi lainnya.  Analogi dengan perhitungan di atas, pada setiap semester hanya diperlukan 45,94 kg kertas (91,87 kg per tahun).</span></span></p>
<p><span style="font-size: small"><span style="font-family: Times New Roman">Dari perhitungan tersebut diperoleh penghematan 551,22 kg kertas setiap tahunnya. Kemudian bagaimana sumbangan penghematan tersebut terhadap <em>green computing</em>?  Dapat dihitung menggunakan kalkulator kertas milik  <em>Environmental Defense</em> (<em>http://www.edf.org</em>) organisasi lingkungan hidup di Amerika Serikat.  Untuk memproduksi 551,22 kg kertas diperlukan 1,65 ton kayu atau setara dengan 13,23 pohon.  Rentetan penghematan lain adalah 20,92 BTU energi total, 10.514,52 galon air, dan masih ada 13 macam limbah berbahaya lainnya.</span></span></p>
<p><span style="font-size: small;font-family: Times New Roman">===</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2008/10/14/green-computing-2-studi-penghematan-kertas-di-uny/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Green Computing: Solusi TI Ramah Lingkungan</title>
		<link>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2008/05/19/green-computing-solusi-ti-ramah-lingkungan/</link>
		<comments>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2008/05/19/green-computing-solusi-ti-ramah-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 06:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>priyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Green Computing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.uny.ac.id/priyanto/2008/05/19/green-computing-solusi-ti-ramah-lingkungan/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Priyanto (Kedaulatan Rakyat, 19 Mei 2008)

Teknologi, di satu sisi memperbaiki dan mendukung kehidupan manusia, sementara di sisi lain menghancurkan. Teknologi selalu menyatu dengan konsekuensinya, teknologi tidaklah netral, demikian dikatakan Naisbit (1999).  Teknologi Informasi (TI) adalah  produk kreatif dari imaginasi dan mimpi manusia, keberadaanya telah menjadi bagian integral dari evolusi kultur manusia.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Oleh Priyanto</em> (Kedaulatan Rakyat, 19 Mei 2008)<br />
</strong></p>
<p>Teknologi, di satu sisi memperbaiki dan mendukung kehidupan manusia, sementara di sisi lain menghancurkan. Teknologi selalu menyatu dengan konsekuensinya, teknologi tidaklah netral, demikian dikatakan Naisbit (1999).  Teknologi Informasi (TI) adalah  produk kreatif dari imaginasi dan mimpi manusia, keberadaanya telah menjadi bagian integral dari evolusi kultur manusia.  Memanfaatkan TI secara efisien namun dengan hasil yang optimal adalah imperatif, untuk menggeser garis <em>resultan konsekuensi</em> agar (cenderung) berada pada sisi positif.</p>
<p>Diperlukan perubahan paradigma dan perilaku agar TI memberi manfaat melampaui biaya yang sudah dikeluarkan untuk investasi dan energi. Manfaat, bukan hanya memberi solusi komputasi, tetapi juga memberi sumbangan positif (baca: menjaga) alam semesta dalam bentuk mengurangi deforestasi atau kerusakan hutan. TI yang merupakan produk <em>hitech</em> memiliki konotasi dengan kota dan modern <em>kok</em> dikaitkan dengan hutan yang lebih dekat dengan “tarsan” dan primitif. Adakah kaitannya?  <em>Green computing</em> adalah jawabannya. Meskipun kita jarang (atau bahkan tidak pernah) mendengar, ini bukan istilah baru dalam khasanah TI.  Yang jelas, <em>green computing</em> bukan komputasi tarsan atau komputasi primitif, tetapi solusi komputasi modern dan beradab.<span id="more-15"></span></p>
<p>Adalah suatu sifat egois—secara individu ataupun organisasi&#8211; apabila memanfaatkan TI hanya untuk memberi solusi komputasi saja, menerima data dan mengolahnya menjadi informasi sehingga memiliki arti bagi <em>stakeholders</em>. Tetapi apabila <em>stakeholders</em> tersebut hanya berkaitan dengan informasi, dalam konsep <em>green computing</em> disebut <em>shareholders</em>. Konsep <em>green computing</em> mempertimbangkan <em>triple bottom line</em> (3BL)&#8211;manusia, planet, dan profit&#8211; sebagai <em>stakeholders</em> (en.wikiedia.org).  <em>Green computing</em> adalah perilaku menggunakan sumber daya komputasi secara efisien, dengan cara memaksimalkan efisiensi energi, memperpanjang masa pakai perangkat keras, meminimalkan penggunaan kertas, dan beberapa hal teknis lainnya.  Mengacu pada konsep 3BL, pengembangana sistem berbasis TI harus mempertimbangkan seluruh elemen <em>stakeholders</em>, tidak hanya memaksimalkan keuntungan <em>shareholders</em> saja.</p>
<p><em>Green computing</em> telah mampu mencegah deforestasi? Ya, ini nampak dari studi yang dilakukan oleh <em>Javelin Strategy &amp; Research</em> (Shapley, 2007) yang menunjukkan perubahan ke <em>Internet Banking</em> pada 53 persen Bank di Amerika, telah mampu menghemat penebangan 16.5 juta pohon setiap tahunnya.</p>
<p>Bagaimana dengan penerapan TI di UNY? Dari sisi transaksi akademik saja—yang merupakan salah satu dari sejumlah sistem berbasis TI yang tersedia&#8211; mampu mereduksi pemakaian kertas hingga 85,71 persen.  Angka ini  berasal dari reduksi kertas untuk transaksi kartu rencana studi (KRS) hingga 67 persen dan kartu hasil studi (KHS) hingga hampir 100 persen.  Apabila dikonversikan dengan kebutuhan kayu, saat ini UNY hanya memerlukan 2,2 pohon per tahun dibandingkan saaat belum menerapkan TI secara penuh (<em>hybrid</em>) yang memerlukan 15,43 pohon per tahun, berarti menghemat 13,23 pohon setiap tahunnya.</p>
<p>Dua contoh tersebut hanya melihat dari sisi penghematan kertas saja, yang merupakan salah satu dari beberapa komponen <em>green computing</em>.  Pada prinsipnya <em>green computing</em> terkait dengan tiga rangkaian entitas yaitu: perangkat keras, perangkat lunak, dan pengguna (individu dan organisasi).  <strong>Pertama</strong>, dari sisi perangkat keras.  Dapat dipastikan perangkat keras TI (komputer, media menyimpan data, dan monitor), yang diproduksi sekitar pertengahan tahun 1990-an sudah memenuhi syarat <em>green computing</em>. Perangkat keras tersebut sudah memiliki fitur <em>power management</em>, ini bisa kita lihat pada sertifikasi progran <em>Energy Star</em> pada perangkat keras. <em>Energy Star</em> diluncurkan pada tahun 1992 oleh <em>Environmental Protection Agency</em> (EPA) Amerika Serikat, dan direvisi pada Oktober 2006 dengan lebih meningkatkan efisiensi pada perangkat komputer.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, dari sisi perangkat lunak.  Standar industri <em>Anvanved Configuration and Power Interface</em> (ACPI) menetapkan antarmuka pemrograman strandar yang memungkinkan <em>operating system</em> (OS) mengontrol secara langsung penghematan konsumsi daya perangkat keras.  Penghematan ini terjadi ketika OS secara otomatis mematikan periferal seperti monitor dan pengendali <em>hard disk</em> setelah komputer tidak aktif selama periode tertentu,   atau proses <em>hibernate</em> pada komputer laptop. Semua ini akan terjadi kalau pengguna mengaktifkan fitur tersebut.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, dari sisi pengguna yaitu: individu dan organisasi.  Sebenarnya faktor inilah yang menjadi masalah utama dalam mewujudkan <em>green computing</em>, karena menyangkut kepedulian individu (kemampuan dan kamauan)  dan kebijakan organisasi, yang pada gilirannya akan membentuk kultur organisasi.  Dari sisi individu, setiap orang harus memiliki kepedulian untuk mengaktifkan fitur <em>power options</em> yang sudah disediakan pada setiap perangkat komputer yang berada dalam tanggung jawabnya.</p>
<p>Dari sisi organisasi, kebijakan untuk mulai menerapkan <em>less paper</em> untuk semua sistem administrasi yang telah memanfaatkan TI telah memberi  dampak yang cukup besar.  Studi penghematan kertas di UNY pada sistem informasi akademik (SIAKAD) di atas, hanya pada KRS pada awal semester dan KHS pada akhir semester saja.  Angka penghematan tersebut akan jauh lebih besar apabila menghitung penghematan seluruh sistem berbasis TI yang tersedia seperti: sistem pembayaran <em>online</em> di seluruh Indonesia di Bank mitra UNY, sistem <em>e-lettering</em>, jurnal elektronik, video library, <em>e-learning</em>, dan optimalisasi <em>e-mail</em> sebagai sarana komunikasi.</p>
<p>TI UNY yang didukung dengan <em>Giga bits intranet</em> berbasis fiber optik, <em>bandwidth</em> Internet menuju 10 Mbps, 20 antena <em>hotspot</em> di seluruh wilayah kampus, dan <em>virtual private network</em> (VPN) untuk kampus di luar Karangmalang, telah menjadikan ”suh” sehingga UNY menjadi kampus terpadu secara lojik.  Fasilitas ini masih didukung dengan kemampuan <em>disaster recovery</em> untuk menjamin keamanan data.  Adalah suatu bentuk ingkar digital  dan ingkar konsep 3BL, apabila insfrastruktur TI yang sudah tersedia (yang telah mengonsumsi daya listrik) tidak dimanfaatkan secara optimal.</p>
<p>Penerapan TI bukan sekedar faktor penjumlah pada paradigma lama, karena hanya akan menghasilkan paradigma lama yang mahal, mubazir, dan tidak ramah lingkungan.  Tetapi lebih dari itu, TI dipandang sebagai <em>enabler</em> yang memicu dan memacu perubahan evolutif paradigma lama menuju paradigma baru.  Perubahan tersebut terjadi pada individu maupun organisasi yang akan membentuk kultur organisasi modern. (***)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2008/05/19/green-computing-solusi-ti-ramah-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendorong E-learning di Sekolah</title>
		<link>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2008/04/19/mendorong-e-learning-di-smk/</link>
		<comments>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2008/04/19/mendorong-e-learning-di-smk/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Apr 2008 09:45:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>priyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[E-Learning]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kultur]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.uny.ac.id/priyanto/2008/04/19/mendorong-e-learning-di-smk/</guid>
		<description><![CDATA[Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memiliki peran yang sangat penting dalam bidang pendidikan kejuruan, karena TIK dapat menjadi jembatan untuk mengurangi kesenjangan teknologi dan mengurangi kesenjangan informasi. Dalam dunia pendidikan, TIK dapat berfungsi sebagai subjek yang dipelajari, sebagai alat untuk pembelajaran yang disebut electronic learning (e-learning), dan sebagai sumber informasi dan komunikasi.  Namun demikian, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memiliki peran yang sangat penting dalam bidang pendidikan kejuruan, karena TIK dapat menjadi jembatan untuk mengurangi kesenjangan teknologi dan mengurangi kesenjangan informasi. Dalam dunia pendidikan, TIK dapat berfungsi sebagai subjek yang dipelajari, sebagai alat untuk pembelajaran yang disebut <em>electronic learning</em> (e-learning), dan sebagai sumber informasi dan komunikasi.  Namun demikian, keunggulan TIK dan keuntungan yang ditawarkan belum dapat dimanfaatkan secara optimal, bahkan Indonesia cenderung tertinggal. Hal ini terkait dengan beberapa kendala, yang mencakup masalah infrastruktur teknologi dan masalah sumber daya manusia yang terkait dengan faktor sosial dan budaya.<span id="more-6"></span></p>
<p>Dari sisi infrastruktur teknologi, terkait dengan ketersediaan peralatan dan saluran komunikasi. Dari sisi sumber daya manusia terkait dengan ketrampilan TIK dan transformasi paradigma pembelajaran dan budaya, keengganan untuk berubah, sikap negatif guru, dan belum adanya aturan yang mendukung pemanfaatan TIK.</p>
<p>Kendala utama rendahnya pemanfaatan TIK dalam pembelajaran adalah berada di sekolah, dari sisi personal guru yang dipengaruhi oleh lingkungan sekolah.  Sehingga diperlukan solusi untukmenjembatani antara manfat dan kendala yang ada melalui dimensi teknologi dan dimensi sosial budaya.  Pelatihan, pemberian wawasan, dan penghargaan dari sekolah adalah faktor penting dalam mingkatkan implementasi TIK dalam pembelajaran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2008/04/19/mendorong-e-learning-di-smk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Priyanto</title>
		<link>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2008/04/16/hello-world/</link>
		<comments>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2008/04/16/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 07:08:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>priyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[E-Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Priyanto]]></category>
		<category><![CDATA[rekayasa perangkat lunak]]></category>
		<category><![CDATA[Software Engineering]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[
Selamat datang di blok saya.  Di sini saya akan berbagi tentang software engineering &#38; e-learning.
Software Engineering.

Object Oriented Development (OOD) yang mencakup: analysis (OOA), desain (OOD), dan programming (OOP) yang merupakan bidang utama saya.
Software metric mencakup: bagaimana membangun modul program yang memenuhi syarat low-coupling dan high-cohesion (cohesive), sehingga meningkatkan reusability.

E-learning.
Mulai tahun 2000, saya berkecimpung dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://blog.uny.ac.id/priyanto/files/2008/04/wajah-2.JPG" alt="Foto" height="164" width="158" /></p>
<p>Selamat datang di blok saya.  Di sini saya akan berbagi tentang <em>software engineering</em> &amp;<em> e-learning</em>.</p>
<p><font color="#000080"><strong>Software Engineering</strong></font>.</p>
<ul>
<li><strong><em>Object Oriented Development</em></strong> (OOD) yang mencakup: analysis (OOA), desain (OOD), dan programming (OOP) yang merupakan bidang utama saya.</li>
<li><strong><em>Software metric</em></strong> mencakup: bagaimana membangun modul program yang memenuhi syarat <em>low-coupling</em> dan <em>high-cohesion</em> (<em>cohesive</em>), sehingga meningkatkan <em>reusability</em>.</li>
</ul>
<p><font color="#000080"><strong>E-learning</strong></font>.</p>
<p>Mulai tahun 2000, saya berkecimpung dalam pengembangan ICT dalam pembelajaran (e-learning).  Ternyata e-learning tidak sekedar infrastruktur teknologi dan sumber daya manusia, tetapi lebih pada <em>leadership </em>&amp; <em>culture</em>, inilah yang dilupakan orang dalam pengembangan e-learning dan&#8230;. yang paling rumit untuk di<em>garap</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.uny.ac.id/priyanto/2008/04/16/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
