Latar Belakang
Pendekatan pembelajaran IPS Terpadu sering disebut dengan pendekatan interdisipliner. Model pembelajaran terpadu pada hakekatnya merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1996: 9). Model pembelajaran IPS Terpadu mengisyaratkan dilakukannya pemilihan metode pembelajaran yang berorientasi kepada siswa. Dalam konteks yang demikian, maka sudah selayaknya metode pembelajaran ceramah direduksi sedemikian rupa sehingga peran guru bergeser menjadi fasilitator dalam pembelajaran.
Dalam pendekatan terpadu, program pembalajaran disusun dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Implementasi dalam pembelajaran guru dapat memilih model-model integrasi baik berdasarkan topik, berdasarkan potensi utama, dan berdasarkan permasalahan (Depdikbud, 1996: 10). Dengan model pembelajaran yang demikian, diharapkan siswa dapat memahami permasalahan-permasalahan yan ada di masyarakatnya dan dapat memecahkan-nya secara otentik dan holistik. Ini merupakan hal penting untuk mmpersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang baik dalam suasana kehidupan yang demokratis, terbuka, jujur, dan penuh dengan keadilan.
Mengubah paradigma yang sudah demikian kuat dalam pembelajaran memang tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak problem yang kemudian muncul ke permukaan, baik berkaitan dengan guru, peserta didik, maupun sarana-prasarana. Berikut ini akan dielaborasi problematika metode pembelajaran IPS yang berkembang di masyarakat.
Guru
Guru merupakan faktor yang sangat penting dalam pembelajaran. Hal ini disebabkan ia bertindak sebagai orang yang berperan penting dalam menciptakan iklim belajar di kelas. Sebagaimana dinyatakan oleh Mujs dan Reynolds, … identified classroom climate as an important concomitant of pupil achievement both in Europe and United States (Mujs and Reynolds, 2005: 107). Tanpa iklim pembelajaran yang kondusif di dalam kelas, tujuan pembelajaran mustahil dapat dicapai.
Realita yang berkembang di lapangan, guru mempunyai beberapa problema berkaitan dengan pelaksanaan model pembelajaran terpadu. Salah satunya adalah berkaitan dengan tugas mengajar. Guru IPS di SD maupun SMP merupakan guru dengan latar belakang pendidikan sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi dan cabang disiplin ilmu sosial lainnya. Dalam hal ini bagaimana guru IPS mengajar terjadi banyak keragaman. Ada yang mengajar dengan model guru tunggal yang mengajarkan seluruh materi IPS. Ada juga sekolah yang mengembangkan model team teaching. Kedua model ini memang dapat dijadikan referensi bagi sekolah, tentunya dengan mempertimbangkan kelemahan dan kekuatan yang dimilikinya.
Hal lain yang muncul berkaitan dengan faktor guru adalah keengganan untuk merubah metode pembelajaran. Selama ini guru-guru IPS beranggapan bahwa metode ceramah yang mereka kembangkan dalam pembelajaran merupakan metode yang terbaik, efektif, dan efisien. Guru bertindak sebagai sumber dan bahan belajar sehingga ia menyampaikan materi pembelajaran tanpa memperhatikan motivasi, potensi, dan kecenderungan dari siswa.
Mengubah paradigma guru bukanlah agenda akhir yang menjadi tugas kalangan pendidikan. Agenda lainnya adalah meningkatkan profesionalitas guru dalam menjalankan tugasnya. Hal ini disebabkan masih banyak guru yang belum memahami metode pembelajaran apa saja yang pas dan sesuai dengan model pembelajaran terpadu. Untuk itu perlu diadakan upgrading dan pelatihan-pelatihan yang berkelanjutan terutama ditujukan untuk memotivasi guru agar ia bersedia merubah metode pembelajarannya.
Siswa
Keragaman siswa di dalam kelas kadang-kadang juga menjadi kendala dalam pengembangan model pembelajaran terpadu. Karakteristik siswa ini bisa dilihat misalnya dalam motivasi, latar belakang ekonomi, dan kemampuan kognitifnya. Bagi guru, keragaman ini membawa konsekwensi yang substansial dimana ia harus mampu merancang metode pembelajaran yang dapat mengakomodasi semua siswa.
Beberapa metode pembelajaran seperti inquiry, diskusi, dan lain-lain membutuhkan kesiapan siswa. Metode diskusi misalnya mensyaratkan siswa mempunyai pengetahuan awal sehingga ia dapat merumuskan permasalahan, mengajukan pertanyaan, dan menjawab pertanyaan dari siswa lainnya. Pelaksanaan metode diskusi tidak bisa dilakukan tanpa pengetahuan awal siswa sehingga di sini faktor siswa menjadi penghambat. Belum lagi motivasi siswa yang beragam, ada yang tinggi motivasinya untuk belajar, namun ada juga yang sebaliknya.
Dalam hal ini mungkin guru dan semua elemen yang terkait, perlu memotivasi siswa. Hal ini sangat penting, karena motivasi sangat mempengaruhi prestasi siswa. Guru juga perlu memperhatikan perkembangan psikologis siswa.
Sarana dan prasarana
Sarana dan prasarana memegang faktor yang urgen dalam pembelajaran. Tanpa dukungan fasilitas, sarana dan prasarana yang memadai maka strategi pembelajaran yang sudah dirancang guru tidak dapat dilaksanakan secara maksimal. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan keseriusan semua pihak, pemerintah, komite sekolah, dan guru untuk menemukan jalan keluar yang paling realistis.
Sekolah merupakan faktor yang paling bertanggungjawab untuk mengatasi masalah ini. Minimal sekolah harus mengusahakan buku pelajaran dan media alat-alat yang dibutuhkan untuk mendukung pembelajaran. Seperti sudah sering kita dengar dari media massa, masih banyak sekolah yang gedungnya rusah, atapnya bocor, dindingnya hampir roboh, dan lain-lain.
Pada kasus lain masih banyak siswa yang tidak mampu membeli buku pelajaran. Bagaimana guru dapat mengembangkan metode pembelajaran yang berorientasi pada siswa apabila siswa sendiri tidak siap. Oleh karena itu guru mengambil kebijakan dengan menggunakan metode ceramah. Dengan metode tersebut siswa tidak dituntut memiliki buku pelajaran, tetapi cukup buku tulis dan alat tulis.
Dalam kaitannya dengan metode pembelajaran, guru harus mampu membuat terobosan baru yang dapat mengatasi kurangnya fasilitas pembelajaran. Guru dapat membuat media pembelajaran yang murah dan berdayaguna untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif. Guru juga harus dapat memotivasi siswa agar dapat belajar dengan serius dan sungguh-sungguh. Dengan demikian diharapkan guru dapat mengatasi permasalahan kekurangan fasilitas dan sarana dengan arif dan bijaksana.
Penutup
Uraian di atas merupakan sedikit gambaran dan pemikiran tentang problematika pembelajaran IPS yang berkaitan dengan metode yang digunakan oleh guru. Keputusan guru untuk memilih metode pembelajaran sangat dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain: faktor guru, siswa, dan faktor sarana-prasarana.
Akhirnya dibutuhkan keseriusan semua pihak untuk melaksanakan pembelajaran terpadu. Dalam hal ini guru dan sekolah memegang peranan penting. Tanpa keseriusan dan perhatian guru dan sekolah, pembelajaran IPS terpadu mustahil dapat diwujudkan.
Referensi:
Barth, James L. 1990. Methods of Instruction in Social Studies Education. New York: University Press of Americana.
Depdiknas. 2007. Naskah Akademik Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran IPS. Jakarta: Balitbang Depdiknas.
Depdiknas. (tt). Model Pembelajaran Terpadu IPS SMP, Mts, SMPLB. Jakarta: Balitbang Depdiknas.
Jarolimek, John. 1986. Social Studies in Elementary Education. New York: The Macmillan Publishing Company.
Muijs, D. & Reynolds, D. 2005. Effective Teaching: Evidence and Practice. London: Sage Publication Ltd.
by RubasWorld, on August 25 2010 @ 6:29 pm
cheap auto insurance =-P home insurance korz life insurance >:OOO auto insurance quotes kedt affordable auto insurance 8-]