MOS Kreatif

September 3rd, 2016

MENUMBUHKAN KREATIVITAS MOP
Oleh Supardi
Pada minggu-minggu ini berbagai sekolah terutama tingkat SMP/MTs dan SMA/SMK sibuk dengan kegiatan Masa Orientasi Peserta didik baru (MOP). Belum ada dasar hukum yang kuat sebagai panduan pelaksanaan MOP di sekolah, kecuali Keputusan Menteri Pendidikan tentang pembinaan kesiswaan dan berbagai surat edaran Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah maupun Kepala Dinas Pendidikan. Namun demikian MOP telah menjadi menu rutin yang kadang menghantui para peserta didik dan orang tua. Tujuan pelaksanaan MOP adalah untuk melaksanakan pembinaan peserta didik baru dengan mengenalkan berbagai hal baru di sekolah yang akan dijalani. Namun dalam kenyataannya setiap tahun terdapat catatan negatif pelaksanaan MOP.
Sebagian catatan negatif MOP adalah pelaksanaan MOP di luar ketentuan jadwal dan maupun praktik bullying peserta didik senior terhadap yunior. Kasus bullying dalam MOP memang semakin berkurang dengan intensifnya sekolah dalam mengawasi kegiatan MOP. Namun demikian kita tidak boleh lengah, bahwa kesempatan bullying dalam kegiatan MOP selalu dapat terjadi. Bagaimanapun guru pembimbing tidak selalu dapat mengawal setiap rangkaian pelaksanaan MOP, sehingga kita tetap harus hati-hati mendampingi pelaksanaan MOS.
Pelanggaran-pelanggaran kegiatan MOP dapat terjadi dalam bentuk fisik maupun psikis. Kegiatan-kegiatan fisik dalam MOP yang sebenarnya bertujuan untuk melatih kedisiplinan peserta didik kadang melewati batas sebagian anak, sehingga dapat menyebabkan sakit bahkan berujung pada kematian. Perploncoan dalam bentuk fisik mudah dilihat dan dibuktikan, tetapi tekanan dalam bentuk psikis kadang sulit dilihat. Sebagai contoh pemberian tugas yang aneh-aneh oleh senior kepada yunior sering membuat orang tua ikut pusing. Mencari aksesoris yang tidak wajar, sering menyebabkan peserta didik ketakutan akan hukuman yang akan diterima apabila tidak memperoleh. Akibatnya banyak waktu dan tenaga yang digunakan untuk mencari peralatan tersebut. Tekanan ini memang tidak langsung diberikan di sekolah, tetapi terjadi ketika peserta didik mencari peralatan tersebut di luar sekolah.
Berkaca dari masalah di atas, maka sekolah dan masyarakat harus selalu waspada terhadap pelaksanaan MOP. Orang tua harus selalu melakukan dialog intensif dalam mendampingi putra-putrinya sebagai peserta didik baru. Berbagai kesulitan yang dirasa aneh, segera dilaporkan kepada pihak sekolah, sehingga tidak terjadi kejadian yang merugikan. Masyarakat peduli pendidikan seperti Dewan Pendidikan Kota/Kabupaten maupuan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) perlu intensif memantau pelaksanaan MOP. Pemantauan selama ini sudah dilakukan, tetapi perlu ditingkatkan dengan pengaduan online, sehingga memudahkan masyarakat menyampaikan aduan.
Hal terpenting dalam kegiatan MOP adalah untuk mengembangkan kreativitas peserta didik, sehingga kunci keberhasilan MOP adalah bagaimana sekolah mampu mengembangkan MOP sebagai sarana berkreasi peserta didik. Beberapa sekolah di Yogyakarta telah mengolah MOP sebagai media pengembangan proyek kreativitas peserta didik. Sebagai contoh kegiatan yang dilakukan salah satu sekolah di Yogyakarta, dengan memberikan kesempatan peserta didik senior membimbing peserta didik yunior untuk menghasilkan proyek buku, film, dan produk lainnya. Sebagian besar kegiatan tersebut dilakukan di luar sekolah, bahkan menggunakan waktu sampai malam, tetapi tetap aman. Mengapa demikian? Rupanya setiap kelompok yang terdiri dari 2 peserta didik senior (sebagai pembimbing) dan 8 peserta didik yunior menyelesaikan proyek tersebut di salah satu rumah peserta didik yunior yang tinggal di Yogyakarta. Kegiatan ini ternyata mendorong suasana kekeluargaan, menghasilkan proyek berkualitas, dan orang tua tetap merasa aman. Proyek yang dilaksanakan di rumah, membuat orang tua selalu dapat mengawasi kegiatan tersebut. Hasil proyek tersebut kemudian ditampilkan dalam kegiatan pameran di sekolah, sehingga kegiatan MOP sebagai pengembangan kreativitas peserta didik benar-benar dapat terpenuhi. Pembimbingan senior kepada yunior akan lebih bemakna melalui kegiatan proyek bersama.
MOP memang sangat diperlukan, tetapi harus dirancang lebih kreatif. Mudah-mudahan MOP tahun ini jauh lebih kreatif dan tidak terdapat catatan negatif yang merugikan pendidikan di Indonesia. Semoga pula pemerintah segera mengeluarkan panduan yang lebih jelas untuk melaksanakan MOP yang benar-benar mengembangkan kreativitas peserta didik.
——


Dimuat dalam SKH Kedaulatan Rakyat Juli 2014
Supardi .
Kandidat doktor Ilmu Pendidikan Pasca Sarjana UNY, dosen Fakultas Ilmu Sosial UNY,. Email: pardi@uny.ac.id. Atau pardi_uny@yahoo.com.

share your rejeki

September 1st, 2016

handing-over-money

Merdeka!

August 19th, 2010

Merdeka!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Sekali merdeka tetap merdeka!!!!!!!!!!!!

Hello world!

August 19th, 2010

Welcome to Blog.uny.ac.id. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!