REHABILITASI LAHAN BEKAS TAMBANG PASIR DAN BATU DI LERENG MERAPI

REHABILITASI LAHAN BEKAS TAMBANG PASIR DAN BATU DI LERENG MERAPI

Tien Aminatun

Universitas Negeri Yogyakarta

Pendahuluan

Permasalahan lingkungan dewasa ini banyak terkait dengan sumberdaya lahan, yang di dalamnya terdapat sumberdaya tanah dan air.  Air merupakan sumber kehidupan, karena sebagian besar tubuh makhluk hidup, baik tumbuhan, hewan, maupun manusia tersusun atas air. Selain itu, air juga berperan penting dalam berbagai aktivitas manusia, seperti dalam kegiatan domestik, pertanian, perikanan, industri, dan sebagainya. Oleh karena itu, permasalahan lingkungan yang menyangkut ketersediaan dan kualitas air menjadi hal yang urgen untuk segera diatasi melalui berbagai program atau upaya pengelolaan.

Berkaitan dengan permasalahan lingkungan tersebut, sebagai salah satu contoh kasus adalah kegiatan pertambangan galian C (pasir dan batu) di lereng Gunung Merapi, yang termasuk di Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten. Kegiatan pertambangan tersebut apabila telah selesai masa beroperasinya dan tidak segera dilakukan rehabilitasi, maka akan menimbulkan dampak terhadap kerusakan lahan yang sangat mengkhawatirkan. Degradasi lahan ini berakibat pada penurunan kualitas fungsi lahan sebagai area tangkapan air (catchment area), penurunan kesuburan tanah yang berakibat pada penurunan produktivitas lahan, serta penurunan fungsi lahan sebagai tempat tinggal.

PT Tirta Investama merupakan perusahaan penanaman modal asing yang memproduksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dengan merk AQUA. Salah satu pabrik pengolahannya berada di Desa Wangen, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten. Produk air minum dalam kemasan tersebut berasal dari mataair Sigedang dan Kapilaler yang berada di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo. Mengingat bahwa perusahaan ini telah memanfaatkan sumberdaya air dari daerah Klaten, maka PT Tirta Investama membentuk suatu divisi atau bidang yang bertugas melaksanakan konservasi sumberdaya air melalui berbagai program. Program rehabilitasi lahan bekas area pertambangan di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten merupakan salah satu program dari sekian banyak program yang direncanakan. Dalam pelaksanaannya, Bidang Konservasi Sumberdaya Air PT Tirta Investama bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada, dengan menunjuk tim ahli untuk melaksanakan studi pendahuluan, yang meliputi kajian fisik, biotik, maupun sosial- ekonomi dan budaya untuk menentukan rekomendasi pengelolaan. Penulis adalah salah seorang anggota tim studi ini. Tulisan berikut ini hanya merupakan sebagian kecil dari hasil studi yang telah dilakukan oleh tim.

Lahan Kritis dan Pedoman Rehabilitasi

Menurut Purwowidodo (1990), lahan kritis merupakan keadaan lahan yang terbuka sebagai akibat adanya erosi yang berat dan menyebabkan produktivitas pada lahan tersebut menjadi rendah atau suatu keadaan lahan yang terbuka atau tertutupi semak belukar sebagai akibat dari solum tanah yang tipis dengan batuan bermunculan di permukaan tanah akibat tererosi berat dan produktivitas rendah. Jadi, lahan kritis telah mengalami atau dalam proses kerusakan fisik, kimia atau biologi yang akhirnya dapat membahayakan fungsi hidrologi, produksi pertanian, pemukiman dan kehidupan sosial ekonomi dari daerah lingkungan pengaruhnya.

Lahan yang mengalami kerusakan atau kritis harus dipulihkan untuk mengembalikan fungsi lahan sebagai life supporting system bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.  Pemulihan atau perbaikan lahan adalah aktivitas yang dilakukan untuk memperbaiki kualitas lahan pada sebidang lahan untuk mendapatkan keuntungan. Perbaikan lahan mutlak dilakukan agar kualitas lahan dapat terus terjaga dan bermanfaat bagi generasi yang akan datang. Wahono (2002) menjelaskan bahwa rehabilitasi lahan merupakan suatu usaha memperbaiki, memulihkan kembali dan meningkatkan kodisi lahan yang rusak agar dapat berfungsi secara optimal baik sebagai unsur produksi, media pengatur tata air, maupun sebagai unsur perlindungan alam dan lingkungannya.

Pemilihan jenis-jenis tanaman pada berbagai strata mulai dari tingkat pohon, semak, hingga tanaman penutup tanah (cover crop) menjadi hal yang penting dalam kegiatan rehabilitasi lahan. Hal ini memiliki manfaat secara ekologi konservasi maupun manfaat ekonomi dan merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam rehabilitasi lahan kritis pasca penambangan.  Pedoman pelaksanaan rehabilitasi lahan bekas tambang pasir batu di lereng Merapi lebih lanjut dapat mengacu pada Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 1461Kpts11/1999 tentang Pedoman Reklamasi Bekas Tambang Dalam Kawasan Hutan. Tahap-tahap yang dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Penyiapan lahan

Merupakan kegiatan pemilihan atau penentuan lahan yang akan direhabiltasi. Lahan tersebut harus sudah bebas dari aktivitas penambangan

  1. Pengaturan bentuk lahan (landscaping)

Dengan melakukan penimbunan pada bagian-bagian cekungan lahan bekas tambang atau pemerataan lahan, sedangkan pada daerah lereng dibuat teras.

  1. Pengendalian erosi

Tujuan kegiatan ini adalah untuk meminimalkan terjadinya erosi akibat aliran air permukaan. Targetnya adalah kondisi drainage yang baik dan stabil sehingga dapat mengurangi laju erosi pada area yang dilalui aliran air permukaan. Kegiatannya berupa; membuat sarana kendali erosi, seperti guludan, parit dengan mempertimbangkan debit air, jenis material, kesediaan bahan; melakukan penanaman pada dinding drainage; dan melakukan pemeriksaan dan perawatan

  1. Pengelolaan lapisan olah (top soil)

Dilakukan dengan penghamparan top soil, bertujuan untuk mengembalikan top soil untuk media tumbuh tanaman. Targetnya adalah luas area ter-covertop soil sesuai dengan volume top soil yang dipindahkan. Kegiatannya yaitu; penghamparan top soil yang dilakukan sedemikian rupa sehingga jumlah top soil yang ada dapat mencukupi untuk meng-cover luasan lahan dengan ketebalan kurang lebih 10 cm. Untuk membantu memperbaiki struktur tanah dan membantu terbentuknya lapisan tanah yang baru, dilakukan penaburan pupuk kandang dengan dosis 20 ton per hektar.

  1. Revegetasi

Kegiatan revegetasi meliputi penyemaian atau pembelian bibit dan penanaman. Persemaian bertujuan untuk memproduksi benih/bibit berkualitas yang siap untuk ditanam dan mengembangkan jenis-jenis tanaman pioner, endemik dan estitika. Targetnya adalah menyiapkan bibit tanaman yang mampu beradaptasi dengan kondisi di lapangan sehingga dapat diminimalkan tanaman yang mati, dan menyiapkan bibit tanaman sesuai dengan rencana rehabiltasi.

Kegiatan penanaman bertujuan untuk mencegah terjadinya erosi di area rehabilitasi lahan, memulihkan lahan bekas operasional penambangan dengan berbagai jenis tanaman tahunan dan tanaman  lokal yang mempunyai manfaat secara ekologi dan ekonomi. Target dari kegiatan ini adalah tertutupnya permukaan lahan dengan tanaman penutup sesegera mungkin setelah penanaman, menanam tanaman tahunan yang sesuai dengan kondisi lapangan sesegera mungkin setelah kondisi lahan sesuai untuk tumbuh tanaman. Kegiatannya adalah: menanam tanaman penutup lahan dengan tanaman legum, benih pohon cepat tumbuh, dan rumput;  perawatan tanaman, pengendalian hama dan penyakit; menanam tanaman tahunan dengan metoda planting dengan membuat lubang tanamukuran 40 cm x 40 cmx 40cm dengan jarak tanam: 3 x 3 m sampai 3 x 4 meter; pemberian pupuk organik; dan penyulaman tanaman yang mati atau tidak sehat.

  1. Pemeliharaan

Kegiatan pemeliharaan meliputi perawatan dan pemantauan tanaman. Perawatan dilakukan dengan melakukan penyiangan, membersihkan lilitan, pemupukan ulang, pengendalian hama dan penyakit tanaman, serta pencegahan kebakaran. Pemantauan dilakukan terhadap kesuburan tanah dan kesuburan tanaman.

 Penutup

Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuan lahannya dan tanpa ada pengelolaan tanaman yang tepat akan meyebabkan berkurangnya kemampuan lahan tersebut dalam memproduksi hasil pertanian dan mendorong timbulnya lahan kritis. Penggunaan lahan adalah setiap bentuk intervensi manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik material maupun spiritual, yang dapat digolongkan menjadi penggunaan lahan untuk pertanian dan untuk nonpertanian. Salah satu bentuk penggunaan lahan untuk nonpertanian yang banyak menimbulkan lahan kritis adalah aktivitas penambangan. Mengingat pentingnya fungsi lahan bagi sistem pendukung kehidupan (life supporting system), maka kegiatan rehabitasi lahan sangat penting dilakukan dengan mengacu pada pedoman tertentu, salah satunya dengan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 1461Kpts11/1999 tentang Pedoman Reklamasi Bekas Tambang Dalam Kawasan Hutan

Pustaka

Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 1461Kpts11/1999 tentang Pedoman Reklamasi Bekas Tambang Dalam Kawasan Hutan.

Purwowidodo. 1990. Mengenal Tanah Hutan. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor

Wahono. 2002. Budidaya Tanaman Jati (Tectona grandis L). Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kapuas Hulu. Putussibau.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 4 = 1