Daftar Isi
1. Abstract
2. Pembahasan
3. Daftar Pustaka

PEMBELAJARAN PENERJEMAHAN BERBASIS E-LEARNING[1]

Yosa A. Alzuhdy, M.Hum.

Jurdik Bahasa Inggris FBS-UNY

 

 

ABSTRACT

 

To obtain the ability to translate well as a skill needs systematic and controlled practice. The general practice of translation learning usually uses the conventional model which is classical-tutorial due to the fact that the role of teacher is very intensive in explaining the concepts, controlling, evaluating and providing feedback in the learning process to get the maximum result, while ICT (information and communication technology) is used “merely” as a media in delivering the materials.

With such a rapid advancement of ICT, the process of translation teaching-learning should also be conducted using the concept of so-called e-learning to be more flexible, practical, up-to-date, and accessible for the learners anytime and anywhere. This model will be more accommodative for independent learning style and can be adjusted to the ability, opportunity and speed of the learners (individual-adjusted learning) so that the skill of translation they get will be more reliable.

Despite the differences in concept and learning strategies, translation learning in e-learning may imitate and/or adapt the model of learning writing which has been far more developed in the internet.
Key words: translation learning, e-learning, independent learning, writing
Kembali ke atas

PENDAHULUAN

Keterampilan menerjemahkan (teks tertulis) terkait dengan dua (dari empat) keterampilan dasar berbahasa, yaitu membaca dan menulis. Meskipun demikian, pada hakikatnya tidaklah cukup menyimpulkan bahwa apabila seseorang mampu memahami bacaan dalam bahasa Inggris dengan baik dan mampu menulis dalam bahasa Indonesia juga cukup baik, atau sebaliknya, maka orang tersebut akan dapat menerjemahkan dengan baik. Ada beberapa aspek lain yang perlu menjadi perhatian, antara lain pemahaman lintas budaya, efektivitas dan efisiensi kalimat, penguasaan tata bahasa kedua bahasa, dan pemahaman konteks dan situasi, serta pemahaman ragam kebahasaan secara memadai.

Mengajarkan kemampuan menerjemahkan sebagai suatu keterampilan, sebagaimana halnya dengan berbagai keterampilan yang lain, tentu memerlukan banyak latihan, baik secara langsung di bawah bimbingan pengajar maupun secara mandiri di luar kelas (untuk selanjutnya diberi penilaian dan masukan oleh pengajar atau didiskusikan bersama-sama di kelas). Latihan-latihan tersebut bukan hanya untuk melihat bagaimana hasilnya (output), tetapi juga untuk menguasai bagaimana prosesnya untuk dapat mencapai hasil sedemikian itu. Jadi, dalam latihan-latihan ini, perlu dievaluasi bagaimana langkah-langkah yang dilakukan dan bagaimana kualitas hasil yang diperoleh, apa dan di mana masih terdapat kekeliruan, kekurangan atau kelemahan, mengapa hal tersebut bisa terjadi, dan bagaimana strategi untuk mengatasi dan menyelesaikannya, sehingga ke depan nanti kekeliruan, kekurangan, dan kelemahan tadi bisa diatasi dan dihindari agar menjadi semakin baik dan semakin sempurna.

Terkait dengan hal itu, maka dapat dipahami bahwa peranan pengajar dalam proses pembelajaran penerjemahan menjadi sangat dominan. Selain menjadi nara sumber untuk konsep-konsep yang harus diterpkan dalam penerjemahan, pengajar juga harus melihat bagaimana proses latihan berlangsung, dan mengevaluasi bagaimana hasil jadinya. Metode evaluasi sendiri (self-assessment) dan sejawat (peer-to-peer assessment) juga bisa dilakukan, tetapi biasanya tetap memerlukan peran pengajar untuk menjadi pusat rujukan. Oleh karenanya, metode pembelajaran yang lazim digunakan adalah model klasikal-tutorial yang menempatkan pengajar sebagai sentral. Sehingga setiap pembelajar cenderung mendapat kesempatan belajar yang relatif seragam (synchrony), sehingga kurang memperhatikan yang cepat (fast learner) dan yang lambat (slow learner) apakah masing-masing sudah menguasai kompetensi atau sub-skill tertentu secara memadai.

Sejalan dengan kemajuan pesat teknologi yang dapat diimplementasikan dalam sistem pembelajaran, model klasikal-tutorial seperti ini tentu sudah kurang memadai lagi. Meskipun benar bahwa teknologi informasi dan komunikasi sudah digunakan dalam pembelajaran penerjemahan, sayangnya fungsinya masih sangat terbatas, terutama sekedar sebagai media untuk menampaikan materi dalam pembelajaran klasikal tersebut. Bahkan sebagaian, bila tidak sebagian besar, pengajar yang mengampu mata kuliah penerjemahan di Jurdik FBS, masih berpendapat bahwa kegiatan pembelajaran untuk keterampilan penerjemahan harusnya dilakukan secara klasikal-tutorial, karena pembahasan dan penilaian proses penerjemahan maupun hasil penerjemahan yang dilakukan pembelajar harus dilakukan secara langsung oleh pengajar. Lantas bagaimana ICT dapat dimanfaatkan secara optimal dalam pembelajaran penerjemahan? Bagaimana model pembelajaran berbasis e-learning yang relatif dapat mengakomodasi kemampuan pembelajar secara individu (individual-adjusted learning) dan menjadi trend bisa juga dimanfaatkan bagi kemajuan pembelajaran penerjemahan?

PEMBAHASAN

Kegiatan penerjemahan pada hakikatnya adalah memindahkan isi, pesan, atau makna suatu teks dari bahasa sumber ke bahasa sasaran, di mana bentuk bahasa berubah tetapi sedapat mungkin tanpa mengubah isi pesannya (Catford, 1964; Larson, 1984; Bell, 1991; Machali, 2000). Bahasa sumber dan bahasa sasaran dalam kegiatan penerjemahan bisa bermacam-macam (Jacobson, 1959, dalam Hatim dan Munday, 2004: 124-126), yakni bisa dalam satu bahasa (intralingual translation), dua bahasa yang berbeda (bilingual interlingual translation), lebih dari dua bahasa yang berbeda (multilingual interlingual translation), atau bahkan dua bentuk “bahasa” yang berbeda (intersemiotic translation), misalnya dari bentuk lukisan ke gerak tarian, atau dari teks bacaan ke bentuk patung kontemporer. Sederhananya, bentuk penyampaian komunikasinya dapat berubah, tetapi makna atau isi pesannya seharusnya tidak berubah. Larson (1984: 4) menggambarkannya sebagai berikut:

gbr1Gambar 1. Proses Penerjemahan (Larson, 1984)

Skema Larson tersebut dikembangkan oleh Said (1994, dalam Suryawinata & Hariyanto, 2003: 21) untuk menunjukkan kompleksitas yang terjadi dalam proses penerjemahan tersebut, yang mencakup kegiatan yang berlangsung secara internal (dalam pikiran penerjemah) dan ekternal (terlihat secara fisik) sebagai berikut:

gbr2

Gambar 2: Proses penerjemahan Larson, dikembangkan oleh Said

Dalam pembelajaran keterampilan penerjemahan yang dilakukan di Jurdik Bahasa Inggris FBS Universitas Negeri Yogyakarta, pembelajar (mahasiswa) dianggap sudah memiliki kemampuan berbahasa bilingual (Bahasa Indonesia dan Inggris) yang cukup (meskipun seringkali masih kurang memadai) sehingga bisa langsung diberikan pemahaman konsep, strategi, metode, dan kompetensi penerjemahan mulai dari tingkat kata, frase, klausa, kalimat dan konteks. Memang sebenarnya target kompetensi yang diharapkan bukanlah menjadikan mereka sebagai penerjemah yang handal, karena alokasi 2×2 SKS (semester 3 dan 4, sekarang pada Kurikulum baru 2009 ‘dipadatkan’ lagi menjadi hanya 3 SKS pada semester 4) jelas jauh dari cukup untuk sampai ke sana. Mereka hanya dibekali pemahaman dan kompetensi penerjemahan pada tataran yang sederhana dan relatif mudah untuk selanjutnya, bila mereka tertarik untuk fokus ke arah sana, bisa diperdalam dengan mengambil paket konsentrasi di semester 5-6-7 sebanyak 16 SKS. Nababan (1999: 146-147) mengatakan bahwa usaha mendidik calon penerjemah dan alihbahasawan melalui jenjang Strata 1 merupakan usaha yang terlalu idealis karena relatif rendahnya penguasaan mahasiswa kita (di Indonesia) akan bahasa Indonesia, apalagi bahasa Inggris sebagai bahasa asing.

Pembelajaran penerjemahan yang dilakukan secara klasikal-tutorial secara umum masih terasa kurang berhasil, terlihat dari rendahnya kompetensi yang dimiliki para mahasiswa ketika mereka memutuskan mengambil paket konsentrasi penerjemahan di semester-semester selanjutnya. Hasil terjemahan dari banyak mahasiswa masih menunjukkan kelemahan dan kesalahan yang relatif mendasar (terjemahan harfiah, penerjemahan terminologi yang tidak tepat secara konteks, kesalahan penangkapan makna, dan sebagainya) meskipun masih pada tataran kalimat atau paragraph pendek. Tampaknya, kelemahan ini karena sangat terbatasnya paparan (exposure) yang mereka peroleh akan latihan dan praktik penerjemahan selama perkuliahan Translataion I dan II sebelumnya, sehingga konsep, metode, strategi yang diperkenalkan tidak bisa difahami secara mantap, apalagi pada tataran aplikatif dan analitis.

Kelemahan akibat keterbatasan praktik tersebut akan dapat diatasi bila pembelajaran yang diterapkan pada dua semester tersebut mengakomodasi pembelajaran secara mandiri di mana pembelajar dapat melakukan latihan sendiri pada teks-konteks yang sudah dipersiapkan secara baik, secara bertahap, secara memadai dapat menerapkan berbagai konsep-metode-strategi yang dipelajari secara teoritis di kelas. Institusi UNY sebenarnya sudah menyiapkan platform untuk mewadahi kegiatan pembelajaran mandiri tersebut dalam bentuk e-learning, meskipun memang masih terdapat kelemahan di sana-sini sehingga mungkin belum dapat mengakomodasi segala ragam bentuk latihan-quiz-tugas yang diinginkan atau dipersiapkan oleh para pengajar. UNY memiliki dua layanan e-learning yaitu yang berbasis Moodle, bersifat public dan dikelola oleh Puskom dengan nama Be Smart (http://besmart.uny.ac.id) dan yang lain bersifat non-publik (tidak dapat diakses melalui website induk UNY, namun dapat diakses melalui alamat http://dinamika.uny.ac.id. Sayangnya, sampai tahun kelima dari peluncurannya, media e-learning ini masih belum dimanfaatkan secara optimal oleh para dosen meskipun bandwith-nya telah ditingkatkan dari 512 kbps menjadi 20 mbps (Gunawan, 2009: 9-10).

Konsep e-learning, sebagaimana dijelaskan oleh Pym (2001: 1) difahami sebagai pemanfaatan berbagai macam perangkat elektronik khususnya ICT dalam program pembelajaran, sehingga konsep pembelajaran dapat dilaksanakan secara terbuka dan jarak jauh (open and distance learning). Namun berbeda dari apa yang dilaksanakan oleh Universitas Terbuka, misalnya, yang mengirimkan materi pembelajaran dan melakukan komunikasi ke dan dari pembelajar di tempat-tempat yang jauh dalam bentuk bahan cetak melalui pos, e-learning memungkinkan pembelajar mengakses materi dan berkomunikasi, bekerja sama, berdiskusi, dari tempat-tempat yang terpisah secara sendiri-sendiri (asynchronous) maupun bersama-sama (synchronous) melalui perantara media internet. Program e-learning juga dapat melakukan mode pembelajaran “tatap muka” secara tidak langsung, lewat fasilitas forum diskusi, email, atau bahkan e-conference.

Boyce dan Ernest (2002: 3-5) menyatakan bahwa pemanfaatan ICT dalam pembelajaran akan meningkatkan hasil (learning outcomes) secara signifikan, dan menegaskan perlunya penguasaan teknologi seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi yang cenderung menyebabkan perubahan dalam pekerjaan maupun dalam pengorganisasian pekerjaan, sehingga juga akan mengubah kompetensi yang diperlukan. Kompetensi yang dipandang penting dimiliki antara lain:

  • berfikir induktif
  • penguasaan ICT untuk mendukung pekerjaan
  • pengambilan keputusan
  • penanganan situasi dinamis
  • kemampuan bekerja dalam tim
  • kemampuan berkomunikasi

Sementara Pym (2001) dan Wang & Chen (2008) juga menyatakan perlunya menerapkan metode e-learning dalam program pembelajaran keterampilan, antara lain dengan alasan bahwa:

  1. Pemanfaatan teknologi dalam penulisan dan komunikasi secara elektronik merupakan suatu keharusan bahkan kemutlakan dalam aktivitas professional di masa depan, sehingga penggunaan e-learning (email, attachments, downloading dan uploading file, websites, searching) memungkinkan pembelajar untuk dapat sejak dini memaksimalkan kemampuan dalam pemanfaatan teknologi tersebut.
  2. Pembelajaran kolaboratif dapat dilakukan, misalnya antara dua orang yang terpisah secara fisik melakukan tugas/proyek secara bersama melalui komunikasi internet. Atau para pembelajar dapat melakukan self-assessment dan peer-assessment di antara sesi materi-tugas yang diberikan untuk meningkatkan pemahaman keterampilan komprehensif dan/atau mengatasi kekurangan dan kelemahan yang dialami satu sama lain sehingga penguasaan keterampilan menjadi lebih kuat.
  3. Semakin meningkatnya tuntutan pembelajar yang ingin melakukan pembelajaran tanpa harus terikat dengan waktu tertentu di dalam kelas, sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan kegiatan-kegiatan lain yang harus mereka jalani (individual-adjusted learning). Penguasaan materi dan kompetensi juga dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan pembelajar, misalnya dengan melakukan suatu kegiatan latihan secara berulang-ulang sampai mahir, atau melakukan tugas-tugas yang lebih berat baik secara kualitas maupun kuantitas dalam waktu yang relatif lebih singkat, sehingga keterampilan tersebut akan benar-benar bisa dikuasainya.

Permasalahan utama yang kerap dijadikan alasan kurangnya implementasi e-learning dalam pembelajaran adalah kurangnya penguasaan pengguna (baik dosen maupun mahasiswa) tentang ICT. Kendala ini juga sudah dicoba diatasi dengan memberikan pelatihan ICT kepada setiap mahasiswa baru yang masuk ke UNY sejak beberapa tahun terakhir, dan memfasilitasi pelatihan pemanfaatan e-learning Be Smart kepada para dosen UNY secara berkala. Memang perlu kemauan keras dan upaya yang kuat untuk bisa memulai sesuatu yang baru.

Shuttleworth (2001) menyatakan bahwa dalam merancang desain pembelajaran penerjemahan, khususnya bila kegiatan itu untuk mempersiapkan pembelajar yang hendak menjadikan penerjemahan sebagai profesi, atau untuk dapat menghasilkan terjemahan yang bisa dipertanggungjawabkan secara professional, perlu diperhatikan beberapa hal, antara lain: (1) memberikan paparan yang cukup tentang berbagai pendapat berbeda terkait isu-isu penerjemahan yang kontroversial, seperti foreignization (memperkenalkan konsep/ideologi dari luar (asing) kepada pembaca dengan menerjemahkan persis seperti aslinya) dan domestication (menyesuaikan konsep/ideologi asing dari teks asli dalam terjemahan menjadi konsep lokal yang sudah berterima); (2) menyediakan alternatif bagi dikotomi standar dalam penerjemahan, seperti benar dan salah, setia dan tak-setia, terjemahan harfiah dan terjemahan bebas; (3) mendorong pembelajar untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapi secara mandiri dengan model-model strategi pemecahan masalah yang bisa dikembangkan sendiri; (4) memperkenalkan pembelajar pada industri penerjemahan yang semakin tinggi intensitasnya; serta (5) memberikan kesadaran bahwa penerjemahan tidaklah bersifat semata-mata “terserah selera Anda” (ad hoc) maupun subyektif, sehingga tetap harus berpegang pada kaidah-kaidah yang benar dan selalu berusaha melakukan penerjemahan secara kreatif, tetapi tetap jujur. Perhatikan contoh berikut:

“ What is a fish that has no eyes?”

“What is it… a blind fish?”

“ No, it will be a fsh.”

Karena teks sumbernya berupa humor yang menekankan pada aspek kelucuan, dalam hal ini kelucuan itu muncul dari sisi suspense (hal yang tidak kita duga sebagai jawaban) yakni persamaan bunyi kata “eye” (mata) dengan huruf “i” dari kata fish, sehingga menimbulkan “ketekejutan”. Bandingkan beberapa versi terjemahan berikut:

Versi pertama, sama sekali tidak lucu:

“Ikan apa yang tidak mempunyai mata?”

“Apa ya… ikan buta?

“Bukan. Jadinya ‘kan’”

Versi kedua, menimbulkan kelucuan dari aspek yang lain:

“Coba tebak, ikan apa yang tidak mempunyai?

“Tidak mempunyai apa?”

“Ya, pokoknya tidak mempunyai sama sekali”

“Ikan yang sangat melarat?”

“Salah. Ikan yang tidak punya “i” jadinya ya kan.”

Versi ketiga, mengubah fokus konteksnya dengan analogi:

“Wah, haus nih, rasanya. Capek lagi. Mbak, buatkan susu satu gelas ya?

“Pakai es nggak, Mas?

“Wah, mbak ini, susu kalau tidak pakai es trus gimana, Mbak?”

“Ya, susu hangat atau susu panas dong.”

“Salah, Mbak. Susu kalau tidak pakai es jadinya ya “u-u”.”

Perlu diingat pula bahwa dalam hal penerjemahan, seringkali penerjemah harus melakukan strategi modifikasi atau modulasi agar pesan yang harus disampaikan dapat tersampaikan dengan benar dan alami, sesuai dengan kaidah gramatika bahasa sasaran yang digunakan. Dalam hal ini, perlu ditekankan kepada pembelajar bahwa suatu informasi bisa disampaikan dalam berbagai kalimat yang berbeda untuk pesan yang sama. Sehingga tidak ada satu penerjemahan yang “hanya bentuk inilah yang benar, lainnya salah”. Contoh yang sederhana dapat kita lihat pada perubahan dari kalimat aktif menjadi pasif. Pengertiannya secara umum sama, meskipun ada nuansa penekanan yang berbeda, dari sisi Pokok kalimat (Subject). Untuk itu perlu diingatkan bahwa penerjemah perlu menentukan pilihan bentuk mana yang akan digunakannya sebagai hasil terjemahan. Dalam hal ini, pada hakikatnya, penerjemah juga adalah pembuat keputusan (Machali, 2005)

Perhatikan contoh kalimat “Salah satu kunci sukses adalah tidak berputus asa.”

Informasi yang sama bisa disampaikan dalam bahasa Inggris dengan beragam cara yang berbeda, antara lain:

“Salah satu kunci sukses adalah tidak berputus asa.”

  • One important tool for achieving success is eternal trying.
  • It is important not to stop trying if you want to succeed.
  • The attainment of success is dependent on repeated effort.
  • Success can best be attained by never giving up.
  • Continuous effort is a very important aspect of success.

Model-model kalimat seperti ini bisa dimasukkan dalam e-learning dengan analisis dan penjelasannya, sehingga mereka bisa memahami perbedaan dan persamaan konsepnya. Berikan pula beberapa contoh yang kurang tepat dengan penjelasan secukupnya. Sertakan beberapa  kalimat atau ekspresi lain sebagai latihan tambahan, dengan menyediakan kunci jawaban sebagai model. E-learning untuk pembelajaran penerjemahan bisa meniru atau memodifikasi model pembelajaran menulis (writing) yang sudah sangat banyak tersedia dalam e-learning. Dengan pemerian konsep-konsep, langkah-langkah, latihan-latihan disertai contoh-contoh yang baik dan yang kurang baik beserta analisisnya, pembelajar bisa mengembangkan sendiri kemampuan menulisnya. Bila ada kesulitan yang tidak dapat diatasi secara individu ataupun kelompok (peer-discussion), pembelajar bisa meminta penjelasan kepada pengajarnya melalui fasilitas tanya-jawab, forum, email, umpan balik, dan sebagainya.

Memang, dalam kegiatan penerjemahan, di samping membutuhkan keterampilan membaca teks sumber untuk dapat menangkap makna (isi, pesan) secara komprehensif tentu harus memiliki keterampilan menulis untuk merestrukturisasi pesan tersebut ke bahasa sasaran. Seringkali pengungkapan pesan jauh berbeda di antara kedua bahasa yang terlibat, sehingga penerjemah mengalami kesulitan dalam menuangkan pesan tersebut secara wajar dan alami dalam bahasa sasaran, terlebih lagi bila bahasa sasaran bukanlah bahasa ibu penerjemah. Salah satu unsur penting yang sangat membantu dalam restrukturisasi pesan tadi adalah ketersediaan teks sejenis (parallel text) dalam bahasa sasaran yang bisa kita akses. Misalnya, bila teks yang harus diterjemahkan adalah artikel tentang perbankan syariah dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris, maka tugas itu akan lebih mudah dikerjakan bila kita pernah membaca teks-teks tentang Islamic banking terlebih dahulu, sehingga peristilahan yang akan kita gunakan akan terasa lebih alami dan wajar seperti model teks yang sudah pernah kita baca tersebut. Dalam hal ini, sangat sering terjadi kita harus mencari terlebih dahulu teks(-teks) parallel tersebut dari berbagai sumber yang bisa kita akses. Gile (1995: 132-133) menggunakan istilah pemerolehan pengetahuan (knowledge acquisition) yang dibedakan menjadi dua, yaitu informasi linguistik (peristilahan dan gaya selingkung) dan informasi ekstra-linguistik yang antara lain mencakup pemahaman di luar konteks linguistik untuk bisa menentukan bentuk ungkapan yang tepat (misalnya menerjemahkan adik saya dalam Bahasa Indonesia menjadi my brother atau my sister dalam Bahasa Inggris, atau sebaliknya, menerjemahkan my brother dalam Bahasa Inggris menjadi adik saya atau abang saya dalam Bahasa Indonesia).

Lebih lanjut Gile (1995: 134-146) menjelaskan tentang berbagai sumber informasi yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam kegiatan penerjemahan. Sumber-sumber tersebut bisa dibedakan atas sumber manusia dan non-manusia. Sumber manusia antara lain para pakar yang berkompeten di bidangnya, atau praktisi yang telah memiliki pengalaman memadai, atau nara sumber lain yang dipandang dapat menjadi referensi yang handal. Namun dibandingkan dengan sumber manusia, sumber non-manusia relatif lebih mudah diakses, terlebih lagi dengan adanya fasilitas internet yang menyediakan (hampir) segala macam informasi dengan cara yang jauh lebih cepat, lebih lengkap, serta lebih mudah pemerolehannya. Dengan menggunakan search engine kita bisa mendapatkan banyak alternatif sumber informasi atau teks parallel yang kita butuhkan, hanya dalam hitungan detik. Demikian banyaknya informasi yang tersedia sebagai parallel text akan. Dampaknya, pembelajaran penerjemahan lewat e-learning dengan mudah dapat memanfaatkan fasilitas tersebut untuk mempermudah prosesnya, sehingga kegiatan menerjemahkan yang menjadi satu bagian utama pembelajaran akan terasa lebih menyenangkan dan bermakna.  Ini akan meningkatkan motivasi pembelajar untuk terus berlatih dan mempertajam kompetensi penerjemahannya.

PENUTUP

Kemajuan teknologi yang begitu pesat membawa kemudahan dan kepraktisan dalam berbagai bidang, termasuk dalam pendidikan dan pengajaran. Pembelajaran keterampilan penerjemahan lewat internet atau e-learning bukan merupakan sesuatu yang mustahil. Baik pengajar maupun pembelajar perlu menyesuaikan diri dengan sifat-sifat khas model pembelajaran e-learning. Tentu harus ada upaya sungguh-sungguh dan niat yang kuat terutama dari para pengajar untuk dapat merancang format pembelajaran dan bentuk-bentuk kegiatan yang menarik, efektif dan mudah digunakan oleh pembelajar.

Makalah ini lebih bersifat konseptual daripada praktikal. Untuk dapat melihat permasalahan yang dihadapi secara mendalam dan menerapkannya menjadi bentuk implementasi yang siap pakai (ready to use) diperlukan analisis dan studi yang lebih komprehensif. Mungkin penelitian tindakan dapat menjadi tindak lanjut dari makalah ini.
Kembali ke atas

DAFTAR PUSTAKA

Baker. Mona (Editor). 1998. Routledge Encyclopedia or Translation Studies. London and New York: Routledge

Bell, Roger T. 1991. Translation and Translating, Theory and Practice. New York: Longman Inc.

Boyce, Stephen L., dan Mark Ernest. 2002. Information and Communication Technology (ICT) Learning Outcomes. OECS Education Reform Unit, Eastern Caribbean Education Reform Project. http://www.oecs.org/oeru/documents/ICT Learning Outcomes Final.pdf

Catford, J.C. 1974. A Linguistic Theory of Translation: An Essay in Applied Linguistics. Fourth Impression. London: Oxford University Press.

Gile, Daniel. 1995. Basic Concepts and Models for Interpreter and Translator Training. Amsterdam/Philadelphia: John Benjamins Publishing Co.

Gunawan, 2009. Dunia, Indonesia, dan UNY Menyiratkan Keniscayaan Berkembangnya Peran Guru Sebagai Manajer Pembelajaran. Orasi Ilmiah Pelepasan Guru Besar Pensiun. UNY.

Hatim, Basil dan Jeremy Munday. 2004. Translation An Advanced Resource Book. London and New York: Routledge.

Kumar, Swapna dan  Maija Tammelin. 2008. Integrating ICT into Language Learning and Teaching: Guide for Institutions. E-book.  Linz: Johannes Kepler Universitat.

Kussmaul, Paul. 1995. Training the Translator. Amsterdam/Philadelphia: John Benjamins Publishing Co.

Larson, Mildred L. 1984. Meaning-based Translation: A Guide to Cross-Language Equivalence. New York: University Press of America.

Machali, Rochayah. 2000. Pedoman Bagi Penerjemah. Jakarta: Grasindo.

Nababan, M.R. 1999. Teori Menerjemah Bahasa Inggris. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Oshima, Alice dan Ann Hogue. 1999. Writing Academic English. Third Ed. New York: Addison Wesley Longman.

Pym, Anthony. 2001. E-Learning and Translator Training. http://www.tinet.org/~apym /on-line/training/2001_elearning.pd

Suryawinata, Zuchridin dan Sugeng Hariyanto. 2003. Translation: Bahasan Teori dan Penuntun Praktis Penerjemahan. Yogyakarta: Kanisius.

Wang, Li-Chun & Ming-Puu Chen. 2008. Enhancing ICT Skills Learning through Peer Learning: Perspectives of Learning Style and Gender. International Journal of Education and Information Technologies. Issue 1, Volume 2, 2008. http://www.naun.org/journals/educationinformation/eit-40.pdf


[1] Disajikan pada Seminar Nasional Penerapan ICT dalam Pembelajaran, 25 Juli 2009 di Ruang Sidang Utama Rektorat UNY Yogyakarta.
Kembali ke atas

  1.  online said:

    December 30, 2009 @ 5:08 pm

    Ya, mungkin karena itu

  2.  Pharmk928 said:

    March 9, 2010 @ 5:46 pm

    Hello! bgbfbdb interesting bgbfbdb site!

  3.  John979 said:

    April 3, 2010 @ 11:39 pm

    Very nice site! is it yours too

  4.  yrxnmgdzhw said:

    April 17, 2010 @ 10:01 am

    lxqblhyntehuvpo http://yafxwhwgekpccru.com [url=http://vhzrrpzuxlothif.com]vmqzclhfptcndij[/url]

  5.  Pharma204 said:

    May 9, 2010 @ 8:38 pm

    Hello! faceacg interesting faceacg site!

  6.  import business said:

    February 9, 2012 @ 5:33 pm

    It’s really a great and useful piece of information. I am satisfied that you shared this useful info with us. Please keep us up to date like this. Thank you for sharing.

  7.  masters in engineering said:

    February 11, 2012 @ 12:17 pm

    It is better to fail in originality than to succeed in imitation.

  8.  what can i do with a communications degree said:

    February 12, 2012 @ 10:49 pm

    Agree between yourselves (as to the time), quoth Arlotto, and I will make it rain. – Italian Proverb

Post a Comment